Monday, August 16, 2010

SAHABAT DIRI SENDIRI



Jadilah dirimu sendiri! Ya, akan percuma menjadi orang lain ibarat tubuh kita tapi perilaku dan pemikiran ingin jadi orang lain, meskipun itu pacar, teman atau sahabat kita. Hmm, teman dan sahabat, adakah bedanya? Tentulah, dan itu tak perlu kujelaskan.

Aku mungkin pernah bercerita bahwa selama hidup aku tak sekalipun punya sahabat. But, that's true! Ketidak pernah percayaan pada orang dan mitos bahwa sahabat adalah orang pertama yang menusukmu dari belakang, mungkin sudah terlampau dalam mencuci otakku. Tetapi tak lantas aku tidak menjadi sahabat bagi orang lain. Aku hanya kebalikannya saja, tidak ingin punya sahabat. Namun akhir-akhir ini aku sudah berjanji tak ingin mematok esensialisme-ku sebagai harga mati. Perubahan adalah hal yang patut dicoba.

Aku lantas mulai membuka ruang untuk bercerita. Ditambah problema juga sedang senang mengitariku. Aku memilih satu dari sekian orang untuk kubagikan keluh kesah dan masalah, pun tawa canda. Ya, aku memang lebih suka membagi tawa, begitupun ucap perempuan itu setiap kali kami bertemu dalam box berisi kata.

Aku memulai menjeda tawa dengan berkisah problema. Aku memilihnya karena aku menilai ia layak. Kecerdasan otak dan bagaimana cara ia memuntahkan pikirannya melalui lisan kuakui memikatku. Aku mulai nyaman bercerita. Hampir setiap saat ledekan, makian, pujian, narsis2an terangkai dan teraduk. Flirting, pengakuan, irama canda dan belahan tawa, sejenak membuatku yakin bahwa aku sedang menemukan sosok sahabat.

Persepsi yang kurasa akan memudar seiring kelunturanku akan keyakinan bahwa ia tak ubahnya teman. Aku mungkin belum bisa membuka nama untuk sahabat. Terlampau banyak berkeluh kesah pun mungkin orang akan bosan, apalagi hanya terkotakkan dalam kata tak bernada tak berwajah.

Sejatinya, meyakini bahwa sahabatku adalah diriku sendiri merupakan hal paling ampuh untuk tak lagi ingin coba-coba melampaui esensialis pribadi. Padahal tak ada trauma, tak ada ketakutan, dan tak ada kehendak untuk menutup diri, namun seperti tengah mencari belahan hati, aku mungkin tak mudah berjodoh menemukan seseorang untuk leluasa bercengkrama. Orang mencariku di kala susah, mencekokiku dengan cerita, dan telingaku dipatenkan untuk terus menerima, memamerkan senyuman dan meregangkan pelukan, namun ketika pilu meraja di kalbuku tak seorang pun sepertinya hendak menyodorkan telinga. Hmm, aku sudah terbiasa!

Saturday, August 14, 2010

KOMUNIKASI



Komunikasi sepertinya kini menjadi obat mujarab yang harus kutelan setiap hari agar terhindar dari ketidaksepahaman. Namun sayangnya, obat mujarab itu raib dari peredaran alias tak ada di toko obat terdekat di kota saya. Mungkin saking banyaknya permintaan hingga stoknya menghilang dari peredaran. Aku sih percaya, banyak orang yang harus mengkonsumsi obat bernama KOMUNIKASI itu.

Aku tak tahu kapan mulanya dan bagaimana persisnya, tapi perlahan hubunganku dengan kamu memburuk. Awalnya, kupikir perbedaan dan perdebatan adalah hal yang wajar, lepas dari tengah sensitif atau tidak. Namun itikad baik meninjau ulang pertemanan yang bagiku tak disusun 2 atau 3 hari itu yang membuatku jauh-jauh untuk berfikir karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tidak, aku menghargai persahabatan kita ketika aku meminta maaf meski aku merasakan sikap dingin dalam sms dan untaian kata yang tidak bernada.

Lalu aku me-remove fesbukmu. Keputusan yang kuyakini bukan karena emosi sesaat. Kau bukan tipe orang yang mudah memaafkan, sejak dulu kuyakini itu. Tapi terkadang aku pun punya ego, ketika usahaku kurasa maksimal, ketika pada puncaknya setiap apa yang kutulis tak kau tanggapi atau sengaja kau lewati tetapi kau menjawab celoteh temanmu yang dibawah kata-kataku. Egoku berkata: "Cukup teman pemaklumanku atasmu!". Jemariku kemudian menekan tanda hapus teman di akunmu, ingat, bukan karena kemarahanku. Aku hanya merasa ketika setiap ucapku tak lagi perlu untuk kau respon ya untuk apalagi kita berkoneksi dalam jejaring soal itu? Terkoneksi atau tidak, kalau memang tak berpengaruh apa-apa bukankah sebaiknya tak perlu terkoneksi?

Maaf teman, aku bukan marah padamu. Ini hanya sudut pandangku yang belum tentu sama denganmu. Kau bilang kau tak sedang ingin berpikir, itu hakmu, tapi kau tak bisa mengharuskan orang lain untuk selajur pemikiran dengan pikiran dan keinginanmu. Aku yakin suatu saat nanti jika kau terfikir bahwa persahabatan tercipta atas dua orang yang berbeda, aku yakin dua orang yang telah mengenal cukup lama walau tanpa pernah saling mendalami karakter masing-masing dengan lebih detil, tetapi percaya bahwa aku tak akan jadi seperti yang kau minta dan begitupun sebaliknya, aku yakin kelak ketika menilik kembali jejak masa lalu, akan dengan senyum kita tersadar bahwa SAHABAT itu lebih bermakna daripada ketidaksepahaman atas dasar komunikasi.

Kau pernah bilang kata-kataku terlalu rumit untuk kau pahami. Tidak, aku tak pakai majas hiperbola ataupun metafora, kata-kataku lugas, tapi jangan bilang kau tak suka kejujuran dan malah lebih suka pengandaian serta basa-basi yang akhirnya menjurus basi? Hmm, inilah aku, inilah gaya bahasaku dan inilah cara bertuturku. Lepas kau suka atau tidak!

Wednesday, August 11, 2010

KEGELISAHAN


Gelisah. Mungkin itu kata yang tepat tentang perasaan dan pemikiran. Konflik adalah makanan sehari-hari dalam hidup. Aku tak memungkiri itu, namun ketika satu persatu dan kadang konflik berbarengan tersaji, mau tak mau otak pun terperas, dan mau tak mau pula hati tergerus.

Masalah melatih kita untuk lebih bisa dewasa dalam berfikir, bersikap dan memahami sesuatu -dan seseorang-. Emosi yang turut terpancing adalah wajar, asal tak membubrahkan lajur hikmah yang harus dicari.

Aku pernah berujar, aku bukan tipikal orang yang suka menjelaskan, meski tak juga membiarkan kesalahpahaman. Aku hanya ingin mengkoreksi apa yang perlu kukoreksi, selebihnya aku hanya akan mengucapkan selamat pada orang-orang yang berkubang dalam asumsi atas diriku.

Mau sebohong apapun kita pada orang lain, tetap tak bisa bohong pada diri sendiri karena hanya diri sendirilah yang tahu apa yang telah dan tidak kita pikir dan lakukan. Kegelisahan pada asumsi orang lain, jelas bukan itu kupikir dan rasakan. Kegelisahan kenapa manusia seringkali memandang sesuatu hanya dari sudut pemikiran saja, seperti tengah menutup mata untuk kemungkinan lain yang mungkin bisa saja luput dari pemikiran.

Kegelisahan ini memang belum dan mungkin tidak akan berakhir. Aku tak akan mencari penyelesaian. Hanya melihat setiap proses berjalan pada lajurnya masing-masing karena otak manusia dibentuk secara individual berbeda dengan yang lain. Menyaksikan otak-otak itu mengorbit dalam iramanya masing-masing.

Memahami bahwa daun tak selamanya hijau, merah tak selamanya darah dan semua tak selamanya semua. Kadang apa yang tersaji di mata bukanlah seperti persepsi aku atau orang lain duga, oleh karenanya dinamika itu akan menjadi indah dalam harmonisasi perbedaan kegelisahan pemikiran atas satu atau seperangkat masalah.

Monday, August 9, 2010

YM - mu


Beberapa hari lalu aku menemukan YM seseorang dari masa lalu sedang online, setelah sekian tahun akun tsb sepertinya -kukira- sudah tak berpenghuni lagi. Aku kemudian tercenung, bukan mengenang si pemilik YM. Hanya sedikit teringat. Telah lama berselang, tetap saja kejadian demi kejadian seperti baru kemarin terjadi. Hanya dengan pemaknaan berbeda. Dulu aku terus dan terus meraba serta mencari bagaimana hal tsb bertemu, bersemai dan berakhir, namun kini aku memandangnya sebagai proses yang telah usai. Berdamai, bahwa yang telah terjadi adalah pembelajaran.

Sunday, August 1, 2010

BREAK SAJA, MUNGKIN


Bagiku, ketika sebuah itikad baik tak disambut, maka sudah tidak ada gunanya dan lebih baik diakhiri.

Aku menilai perbedaan pemikiran adalah sesuatu hal yang wajar karena manusia mempunyai sudut pandang masing-masing, tapi ketika sebuah pertemanan yang terkoyak tak bisa menemukan apa yang dinamakan KESEPAHAMAN, maka ikhlaskan saja kepada tangan sang waktu menjadikannya tak mustahil untuk dikembalikan pada kita.

Kau bilang kau lelah. Sama. Tak ada yang sempurna, aku hanya yakin itu. Break saja, mungkin. Aku dengan pemikiranku. Dan kamu dengan asumsimu.

Tuesday, July 13, 2010

F L I R T I N G


Aku menyukaimu, bahkan sejak belum tau namamu...

Aku menuliskannya di status fesbuk. Untukmu, pemilik mata indah yang sedari awal telah memikatku.

Aku melihatmu ketika awal menjejakkan kaki disana. Tak ada rasa memang, ahahaha tak ada cinta pada pandangan pertama, mungkin kedua atau ketiga hehe. Malamnya, ketika sedang menunggu, aku ingat betul -mungkin kamu juga mengingatnya-, kamu menawariku batang sigaret yang telah lebih dulu kau sulut. Aku menolak, karena aku memang tak merokok. Lalu datang teman2 lain, dan saling berjabat tangan. Kau tampak telah akrab dengan beberapa diantara mereka sedang aku masih asing. Aku menajamkan telinga ketika kau mengucap namamu, tapi lirih. Aku hanya mendengar akhiran nama belakangmu. Saat itulah aku mulai mencuri pandang. Aku menulis pesan pada temanku bahwa teman sekamarnya itu sepertinya lesbian, tapi temanku tak percaya. Percaya atau tidak gaydarku menangkap demikian. Dan benar, kamu lesbian.

Saat makan malam, aku mencoba cair dengan melempar joke2. Maklum, aku kadang canggung di lingkungan baru dan biasanya hanya terdiam menjadi pendengar. Namun teman2 baru ini lumayan pandai melucu, jadi aku terhanyut. Dan aku tak sengaja menubruk matamu, mata yang sepertinya hendak mencari tau. Tatapan itu begitu misterius. Beberapa kali bertabrakan pandang, aku memutuskan bertanya...
"Namamu siapa tadi?" tanyaku ingin memastikan pendengaranku tak salah. Dan jawabanmu mengesalkan.
"Nggak tau!"
"Ow jadi namamu nggak tau, baiklah kupanggil kamu mbak nggak tau ya..."
Kamu menanggapi dingin. Hmm, aku berkesimpulan awal, LESBIAN JAIM. Kamu memang bukan perempuan pertama yang kusuka. Aku telah lebih dulu menancapkan perhatian pada perempuan lain, yang lumayan telah lama kukagumi otaknya. Namun matamu adalah pesona lain.

Hari bergulir, aku kerap memperhatikanmu. Tentu saja tanpa sepengetahuanmu. Di awal perkenalan kamu membuka diri telah berelasi. Sebuah pengakuan yang bagiku menjadi penutup untuk tak memunculkan perasaan apapun padamu.
"Saya tipe setia." Begitu ujarmu. Aku menghargainya.
Aku juga kerap berspekulasi bahwa kamu berelasi dengan salah satu teman disini, melihat keakraban kalian dan kecemburuannya terhadapmu. Aku bahkan menjaga jarak. Aku tipikal orang yang akan menarik diri jika bersinggungan dengan orang yang telah berelasi. Aku nggak pengen terlibat kesalahpahaman, sekecil apapun.

Dan entah sejak kapan perasaan itu mulai muncul. Padahal logikaku sudah jelas2 menyetop tak boleh ada perasaan pada orang yang telah berelasi. Ditambah sikapmu mulai berbeda. Mungkin asumsiku saja, tapi kau mulai menyebar jaringmu mendekat. Ge-er, terserah, tapi aku begitu merasa...

Namun tetap saja, logika dalam otakku mati2an me-warning. Dan bentrokan jelas terjadi. Otak dan hati. Mulai nggak sinkron. Flirting yang kian menjadi. Kebimbangan otak dan hatiku. Semua beradu. Aku mengambil kesimpulan, mungkin kamu memang tukang flirting.

Kian hari keakraban, kedekatan, perhatian, joke, tawa, tatapan, semua kian rancu, namun sebelah hatiku tetap mewanti-wanti: Aku sedang berhadapan dengan pengobrak-abrik hati. Waspadalah, waspadalah!

Sebelum malam truth or dare itu, kamu selalu mengambil duduk dekatku tiap makan, padahal kursi lain tersedia. Aku saja sampe "ketakutan" akan timbul salah paham dengan best friend yang selalu cemburu padamu itu. Dan kamu "sepertinya" berharap akan duduk bersebelahan denganku, tapi tak pernah terkabul. Pernah sekali, itu pun karena seorang teman meminjam laptop yang kupakai, dan aku diharuskan bertukar tempat duduk yang persis di sebelahmu. Namun aku malah tak pernah mencoba menatap mata indah itu. Kebiasaanku lagi! Jika orangnya jauh aku curi2 pandang, tapi kalo ia dekat aku bahkan tak berani menatap.

Ketika alih2 jadi peramal, setelah membaca telapak tangan kiriku, kamu berkata bahwa aku rumit, sensitif dan nggak bisa kecentok. Banyak yang sudah kamu tabur, hingga malam itu...

Menjadi tempat berkumpul para perempuan yang hendak mempersiapkan apa yang akan ditampilkan pada malam akbar. Tak ada ide. Akhirnya malah tercetus ide permainan truth or dare dalam game domikado. Semua setuju. Aku agak riskan, pasti kamu akan mengorekku. Dan kulihat kamu begitu bersemangat ketika akan giliranku kena, tapi meleset... Sampai semua terkorek, hanya aku yang tetap tak kena.

Pemain domikado adalah para perempuan hetero dan lesbian. Konteks pertanyaan seputar seksualitas, mulai dari sejauh mana dalam pacaran, posisi ML yang paling disuka dan bagaimana caranya, dan ada juga yang ternyata hanya pernah berciuman dan sangat tertarik bagaimana cara melakukan masturbasi. Kamu rupanya ahlinya! Kamu mulai bercerita detil bagaimana bermasturbasi. Juga bagaimana posisi ML yang kamu senangi. Aku merasa sepertinya malam itu adalah malam lesbian mengajari heteroseksual tentang seksualitas. Aku menangkap 1 hal, kamu mendengar dengan seksama ketika aku bercerita tentang pengalaman seksualitasku. Sesekali bertanya lebih detil. Suer, ini adalah kali pertama aku ditelanjangi dan menelanjangi seksualitas orang. Dan kami sepertinya tanpa rasa sungkan lepas bercerita, padahal kami baru kenal.

Aku masih ingat kau yang paling awal bertanya padaku: "Gimana tipe perempuan yang kamu suka?". Lalu kau juga bertanya pada saat bagaimana aku akan orgasme. Dan mimik mukamu, benar2 kalau bisa aku malam itu hendak menciummu! Geregetan banget! Diluar konteks, aku untuk pertama kalinya bercerita tentang seksualitas yang tak pernah kuceritakan.
"Disini siapa yang kamu suka?" tanyamu kembali ingin tahu.
Aku sengaja mengulur dan mengalihkan obrolan tapi tetap aku dikejar. Bahkan gilanya kamu mengabsen satu2, membuatku harus menyaring. Dan aku tak bisa mengelak, tetapi aku tak ingin terketahui, aku memutar kata. Gila saja kalau sampai kau tahu! Hingga kamu berkesimpulan bahwa perempuan yang kusuka adalah kamu.

"Dasar tukang flirting!" umpatku dalam hati. Mukanya benar2 penggoda!

Berseling tawa, geli dan teriakan2, malam terus bergulir. Usai saying the truth, kini giliran dare to do something! Kamu kena tantang untuk memelukku 30 detik, dan kau sungguh melakukannya. Benar2 pengobrak-abrik hati! Lalu giliranku, teman2 lain yang sepertinya terpengaruh dengan opini yang kamu giring bahwa perempuan yang kusuka adalah kamu, menyuruhku untuk menciummu. Gila! Dan kau sudah menyorongkan mukamu di depanku. Benar2 gila! Bermain truth or dare, semua harus dilakukan bukan? Lalu aku mengatupkan dua jari di bibirku dan kemudian dua jari itu kusentuhkan ke pipimu. Sebuah ciuman juga, bukan? Meski lewat perantara jemari.

"Wow, romantis banget! Meski lewat jari, tapi itu ciuman romantis!" komentar seorang teman seperti tertakjub2.

Truth or dare malam itu benar2 gila. Perasaanku benar2 sudah dibuat tak bernalar. Logika dan perasaan berperang.

Aku kemudian melunasi hutang pengakuan perasaanku padamu. Meski malam terakhir itu aku sungguh ingin bicara empat mata denganmu, namun kebisuanmu meluruhkanku, sampai pada titik aku benar2 percaya kau tak untuk dimasukkan ke hati.

Aku mungkin telah keliru. Sekian lama masih terlalu hijau untuk tahu dan mencari tahu juga tentang bagaimana memperlakukan dan mendapatkan hati perempuan.

Perahu layar akan mengisi relung kalbuku sebagai senandung pengingatku akanmu. Mata indah itu... (Ge er, terserah! Tapi aku sungguh merasa kau melantunkan lagu itu untukku ketika aku berucap di mobil yang mengantar kita ke peraduan awal masing2 bahwa lagu jawa itu adalah lagu kegemaranku.) Dan bukan kali pertama itu kamu memperuntukkan "sesuatu" padaku, meski kau tak mau “dituduh” melakukan hal tsb untukku dan aku pun jaim mengalihkan apa yang sebenarnya kau lakukan untukku adalah untuk orang lain. Aku hanya bisa menyemai sebait senyum akan semua tentangmu ketika tak secara terurut namun ceceran indah itu tersaji dalam anganku.

I said: "I LOVE U". It is true. You said:"LOVE U 2". Is that true? I guess not. I doubt it.

Tapi kamu menyadarkanku akan satu hal, tentang prinsip yang sejak dulu kujunjung. Menjadi orang yang esensialis, menempatkan benar dan salah pada porsinya. Dilakukan jika benar, dihindari jika salah, itu dulu. Kini kau mengubah persepsiku. Menjadi esensialis, meski terlambat untuk menyadari, ternyata tak memberi keuntungan, pada koridor tertentu tentunya. Oleh karenanya, menjadi bijak memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan harus bisa kulakukan. Bukan mengubah secara keseluruhan, just a part of me, to be better.

Ya, kamu mungkin jago mengobrak-abrik hati, namun selayang mataku menangkap bahwa hati seseorang lebih kau selami ketimbang apa yang terlihat diluar, seperti yang kau utarakan tentang tipe idealmu soal perempuan. Kau boleh memungkiri itu dan aku juga mencoba munafik dengan perasaanku. Hubungan yang aneh, memang. Perasaan yang aneh, memang. Flirting!

Thursday, July 8, 2010

PROSTITUSI, INDUSTRI SEKS DAN PERDAGANGAN MANUSIA

Resume Peserta KGS V hari kedelapan

Pekerja Seks, Prostitusi, dan Industri Seks
Akhir-akhir ini semakin banyak istilah yang digunakan untuk menyebut seseorang yang bekerja sebagai pekerja seks, baik laki-laki, perempuan, maupun waria. Bagi perempuan dipakai istilah pekerja seks, Perempuan yang dilacurkan (Pedila), Pekerja Seks Komersial (PSK), Wanita Tuna Susila (WTS), Wanita Pekerja Seks (WPS), pelacur, lonte, pe’cun, dan lain sebagainya. Pekerja seks laki-laki sering dinamai gigolo, sedangkan bagi pekerja seks laki-laki dengan klien laki-laki disebut kucing. Banyaknya istilah-istilah ini sebenarnya hanya untuk memberikan identitas kepada mereka, sesuai dengan tuntutan modernitas.

Jika kita menyebut kata pelacur, umumnya yang ada didalam benak kita adalah seorang perempuan yang menjadi pekerja seks. Padahal, banyak pula kita temui pelacur laki-laki ataupun waria. Hal ini disebabkan oleh adanya konstruksi sosial bahwa perempuan hanya berfungsi secara reproduktif, yakni sebagai obyek untuk memuaskan nafsu laki-laki, dan memiliki anak untuk mendapatkan keturunan. Sehingga tubuh perempuan sering dinaturalisasikan hanya sebagai alat untuk melahirkan dan harus punya anak. Sedangkan laki-laki banyak dianggap memiliki fungsi produktif, yakni lebih dominan dan berkuasa dalam suatu lingkungan. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya keputusan keluarga yang ada ditangan Ayah, atau hanya laki-laki yang boleh bekerja, dll.

Kegiatan prostitusi sering dilakukan hanya untuk memperoleh uang, guna memenuhi kebutuhan ekonomi, baik bagi diri sendiri maupun keluaarga dari pelaku. Namun, perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks sering diidentikkan sebagai perempuan yang tidak baik-baik, dan dibanding-bandingkan dengan perempuan lainnya yang baik-baik. Pekerja seks perempuan seringkali dikatakan tidak bermoral atau tuna susila.

Kebanyakan, perempuan menjadi pekerja seks karena adanya paksaan untuk masuk ke dalam prostitusi, meskipun sebenarnya hal ini merupakan pilihan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perempuan pekerja seks yang awalnya dijual atau dipaksa untuk melacur, pada akhirnya akan terjerumus dan berdamai dengan statusnya sebagai pekerja seks.

Selama ini disebagian negara menilai pekerja seks sebagai kriminal. Hal inilah yang menguatkan stigma negatif bagi pekerja seks. Seringkali orang lebih suka memberikan stigma bagi pekerja seks, dan melupakan bagaimana seseorang bisa terjerumus dalam prostitusi. Namun, tidak dapat disangkal pula bahwa dibeberapa negara seperti Swedia dan Switserland justru mengkriminalkan pelanggan pekerja seks. Hal ini secara otomatis akan menyulitkan dan menekan jumlah pekerja seks yang ada.

Pekerja seks tidak dapat dipisahkan dengan adanya industri seks. Secara umum, pekerja seks seolah punya otoritas pada dirinya dan memiliki kemampuan untuk memilih. Tapi dalam prakteknya mereka selalu dan masih terikat dalam aturan institusinya, misalnya Bar, atau lokalisasi. Pekerja seks sering dilakukan dengan adanya kontak secara fisik. Sedangkan industri seks tidak secara langssung terjadi kontak fisik. Sebagai contoh, tarian striprease di Bar, phone sex, industri seks video Ariel, Luna Maya dan Cut Tari.

Perempuan yang hanya dianggap memiliki fungsi reproduksi, seringkali menjadi korban dan obyek pemuas nafsu dari laki-laki. Namun demikian, sebenarnya banyak kita temui bahwa perempuan pekerja seks juga melakukan negoisasi dan tawar-menawar dengan kliennya. Sebagian pekerja seks akan menolak hubungan seksual dengan kliennya jika tidak terjadi kesepakatan, misalnya tentang tarif,waktu, dan pemakaian kondom. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja seks juga memiliki kontrol (agency) atas dirinya.

Human Traficking
Krisis global yang terjadi pada tahun 70-an menyebabkan peningkatan jumlah buruh migran di dunia. Di Indonesia pada 90an juga terjadi ekspansi traficking. Sebagai contoh, tiap keluarga di Kabupaten Probolinggo akan memiliki salah satu anggota keluarga yang menjadi TKW. Mereka beranggapan bahwa menjadi TKW akan meningkatkan derajat ekonomi keluarga mereka.

Selama ini yang menjadi korban traficking bukan hanya perempuan saja, juga laki-laki dan anak-anak. Proses dari tracficking diantaranya adalah rekrutmen, pemindahan dan perjanjian kerja. Hal ini sering dilakukan dengan melakukan penipuan, pemaksaan dan pemanfaat posisi rentan oleh pihak-pihak yang melakukan traficking. Traficking ini sendiri sering bertujuan untuk eksploitasi seksual, eksploitasi tenaga, dan lain-lain.

Salah satu pelaku traficking yang terbesar adalah pemerintah sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah juga memiliki peran yang cukup kuat dalam menentukan nasib buruh migran, melalui perjanjian atau kerjasama bilateral dengan negara-negara tetangga, misalnya Malaysia, Brunai, Singapore, Hongkong, dan Arab Saudi. Sebagai contoh, Susilo Bambang Yudhoyono pernah menolak gagasan ILO bahwa korban traficking merupakan tanggung jawab negara. Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah menggagas pengiriman TKI tanpa adanya unit training. Selain itu, ia juga menyetujui adanya usulan bahwa paspor TKI/TKW bisa dipegang oleh majikan. Hal ini menyebabkan penilaian rendah bagi negara tetangga, karena TKI dianggap tidak memiliki skill. Padahal SBY sendiri menargetkan devisa negara sebanyak 167 Triliun rupiah per tahun dari TKI dan TKW.

Di beberapa negara, TKI / TKW dianggap sebagai budak, sehingga diperlakukan tidak manusiawi dan sewenang-wenang oleh majikannya. Banyak TKI yang tidak diperbolehkan keluar rumah atau tidak boleh menjalin relasi dengan lingkungan atau orang lain.

ILO sebagai lembaga dunia dalam hal tenaga kerja pernah mengusulkan konsep social protection. Konsep ini mewajibkan pemerintah untuk memberikan jaminan kepada masyarakat miskin. Namun dalam pelaksanaannya, pemerintah menerapkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat tidak mampu. Padahal konsep BLT ini tidak efektif, mengingat tidak adanya penyaringan terhadap masyarakat yang menerima, dan jumlag BLT yang diberikan terlalu sedikit.

Diskusi Panel dengan Pekerja Seks Perempuan, Kucing, dan Waria
Pada diskusi ini dihadirkan tiga testimoni yakni: pekerja seks perempuan, kucing, waria. Masing-masing pembicara yakni Siska, Ady dan Santi. Mereka menceritakan tentang kisah-kisah hidupnya selama menjadi pekerja seks. Ady dan Santi terjun ke dunia pekerja seks karena di jual, tetapi Siska yang seorang waria terjun dengan sendirinya dalam arti tidak ada paksaan dari luar. Namun saat ini profesi sebagai pekerja seks sangat enjoy dijalani karena memang sudah terbiasa dan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Ady dan Santi menjadi pekerja seks karena kebutuhan ekonomi sedangkan Siska lebih pada pemenuhan kebutuhan seksual/kebutuhan biologis.

Dalam pekerjaannya, mereka juga bisa negoisasi dengan pelanggan yaitu tentang tarif, waktu dan pemakain kondom. Mereka juga akan menolak jika tidak terjadi kesepakatan. Hal ini juga menandakan bahwa mereka mempunyai kuasa atas dirinya. Dalam dunia malam pasti ada aturan-aturan tertentu misalnya di lokalisasi kembang kuning itu ada yang dibilang maknya jadi dia yang membuat peraturan misalnya memakai kondom dan pelicin, tidak boleh gratisan.

Film Ragate Anak
Bahwa pekerja seks itu lebih karena persoalan kemiskinan karena tidak ada akses pemenuhan ekonomi. Perempuan menjadi pemecah batu dan penghasilannya juga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehingga mereka melacur. Di dalam lokalisasi ada kiwir yang tidak bekerja hanya mengandalkan dari pekerja tetapi kiwir lebih berkuasa di tempat itu, sehingga dia membuat aturan-aturan misalnya kalau tidak membayar iuran maka akan dikeluarkan dari lokalisasi dan tidak boleh mangkal lagi. Dan misal kalau pekerja ada yang sakit mereka tidak mau mengurus. Disinilah ada relasi kekuasaan yang timpang.

sumber: http://www.facebook.com/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-kedelapan-prostitusi-industri-seks-dan-perdagangan-man/461374810680