Saturday, July 3, 2010

Gender, Seksualitas dan Representasi Media

Resume peserta KGS V hari keempat

Pembahasan awal materi ini adalah refleksi dari kasus vidio ariel, luna dan cut tari.
Fungsi media :
- Menggantikan / to stand in for
- Mewakili / to speak or act on behalf of
- Menghadirkan kembali / to represent

Representasi Queer dalam film pada tahun 2003- 2008 terdapat 20-an film, diantaranya : film panggil aku puspa, tentang dia, dll. Lalu kemudian media menjadi cara untuk memberikan kesadaran masyarakat mengenai queer/ seksualitas kepada masyarakat.

Gayle rubin mengatakan seksualitas adalah politik, ini juga terlihat pada kasus video ariel, luna, dan cut tari . dimana Susilo bambang yudoyono selaku presiden Republik Indonesia tuirut mengomentari kasus tersebut, ini menandai bahwasanya urusan seksualitas adalah urusan yang sangat besar untuk dibahas dan di perbincangkan.

Hall juga mengatakan hal yang sama, sebuah pesan tidak bisa dikontrol oleh produser untuk konsumen, efek akan berbeda bagi penerima pesan karena bersifat kontektual. Sebuah pemaknaan tidak pernah stabil, tidak pernah fix dan tidak akan pernah sama dengan orang yang satu dan yang lain.

Encording / decording adalah makna yang di harapkan oleh produser, cirri khas (image) nya :
- Dominant / hegemoni reading
Produser = konsumen = menerima
- Negosiasi / negosiated reading
Tawar menawar antara produser dan konsumen
- Resistant or oppositional reading

Konsumen menolak produk produser .
Lalu di teruskan dengan nonton film documenter yang berjudul : Renata-Renata dan Waria Dalang, Dilanjutkan dengan Diskusi, dan bagaimana peserta khursus melihat film dan pemaknaannya masing- masing.

sumber: http://www.facebook.com/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-keempat-gender-seksualitas-dan-representasi-media/459883380680

Friday, July 2, 2010

Gender, Seksualitas dan Budaya

Resume peserta KGS V hari ketiga

SESI I

1. Apresiasi fotografi karya Luci Ferrero 1.
Ragam perspektif dari peserta:
- Transgender yang dikejar pemangku adat.
- Gabungan 2 simbol: seksualitas dan agama, erotisme dan kesakralan.
- Relasi laki-laki dan perempuan dalam budaya ngaben di Bali dianggap sebagai kewajaran.
- Ekspresi budaya yang kuat di Bali.

2. Apresiasi fotografi karya Luci Ferrero 2.
Relasi transgender dengan pemangku adat terlihat begitu intim, seolah pemangku adat hendak mencium transgender, dan ekspresi gembira pemangku adat dan penonton. Di sini transgender yang menari diterima sebagai bagian budaya, tapi tidak untuk posisi lain, semisal menjadi pemangku adat atau tokoh masyarakat. Hal yang menarik, pemangku adat lain tergoda mengajak transgender untuk menari.

3. Pembahasan berkembang ke simbol-simbol di dunia. Seperti kiri identik dengan perempuan, kanan identik dengan laki-laki. Sekaligus fakta empirik perubahan istilah transgender menjadi woman transgender (perempuan transgender).

4. Mengulas Suluk Tambangraras (Serat Centhini)
Di Jawa, banyak naskah klasik bernilai sastra tinggi, seperti Suluk Tambangraras atau lebih dikenal dengan nama Serat Centhini, Suluk Gatholoco, dan Suluk Darmogandul. Pembahasan fokus pada Serat Centhini. Naskah ini ditulis pada zaman Pakubuwono V dan terbit pada abad ke-19. Mengangkat beragam aspek kehidupan: politik, sosial, budaya, ekonomi, seksualitas, agama, dan sangkan paraning dumadi (asal-usul kehidupan). Berisi sekitar 4000 halaman dan naskah aslinya ditulis dengan bahasa Jawa. Dalam budaya Jawa, naskah ini ditulis untuk ditembangkan, layaknya Kinanthi atau Asmaradana. Ini bisa dipahami sebagai representasi sastra lisan yang berkembang pesat di Jawa. Uniknya, naskah ini mengundang paradoks: kalangan konservatif menilai begitu kotor sebab sarat adegan bathil yang dituturkan secara eksplisit, sedangkan kalangan moderat menilai begitu luhur sebab menuturkan ragam perspektif kehidupan dengan jujur, apa adanya, dan tidak munafik.

Naskah yang dibahas dalam KGS V: Serat Centhini: Kekasih Yang Tersembunyi terjemahan Elizabeth D.Inandiak dan disunting Ladi Lesmana. Sebelumnya, naskah ini diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Dalam versi bahasa Indonesia, penterjemah melakukan riset untuk memperkaya detail naskah, seperti observasi ke Jogjakarta dan makam Sunan Giri, Gresik. Hasil riset diramu dengan naskah aslinya kemudian diambil saripatinya lalu disajikan dalam buku tersebut.

5. Pak Dede Oetomo membaca nukilan Serat Centhini bab IX: cerita Cebolang.
Ringkasan cerita tersebut seperti ini:
- Cebolang dan Nurwitri diundang Adipati Wirosobo.
- Adipati meminta keduanya dandan perempuan hingga tampak begitu cantik.
- Keduanya menari, membuat Adipati terpesona.
- Adipati melakukan hubungan seks dengan Cebolang dan Nurwitri (Adipati menganal keduanya bergantian).
- Setelah percakapan kromo menjadi ngoko (pertanda relasi abdi dan priyayi bergeser menjadi perkawanan), Adipati minta dipenetrasi anal oleh Cebolang. Tetapi, Adipati kesakitan dan menyuruh keduanya pergi dari Wirosobo.

Cerita lain tentang seksualitas dalam Serat Centhini:
- Relasi warok dan gemblak.
- Dua orang santri melakukan hubungan seksual dengan gaya 69 dan ketika adzan Subuh berkumandang keduanya mandi Junub, wudhu, lalu shalat berjamaah.

Disinggung pula tentang mitos sperma. Sperma dianggap punya kekuatan dan sakti, seperti terjadi di Papua Nugini dan suku Asmat.

6.Analisis Alfred Kinsey:
- Setiap manusia unik.
- Analisis karakter manusia dapat dilakukan secara empirik, yakni metode, ter-/diukur, dan dapat dikalibrasi.

7. Kecenderungan modernisme.
- Modernitas menuntut identitas, artinya cenderung memberi nama pada semua benda.
- Ada muatan positif dan negatif, meskipun sifatnya relatif.

SESI II

1. Pertanyaan: mengapa muncul begitu banyak teori?
Jawaban: untuk menjelaskan dan menafsirkan suatu fenomena.

2. Pola pikir dalam melihat realitas:
- Induktif.
Yaitu melihat kenyataan atau faktanya seperti apa (real)
- Deduktif.
Yaitu berdasarkan peraturan, hukum, dan konsensus yang berlaku di masyarakat.

3. Teori tentang pola pemikiran:
- Teori esensialisme.
Yaitu tidak bisa dibantah lagi kebenarannya.
Contoh: kapan terakhir kali mulutmu dimasuki penis?
- Teori konstruktivisme.
Yaitu bisa dibantah kebenarannya atau perlu ditanyakan ulang.
Contoh: dia mendengar dua lelaki bercinta.

4. Analisis dapat dilakukan dengan 2 pendekatan:
- Etik.
Yaitu terukur dan bisa diseragamkan, tidak menuntut pendapat dari responden, sekedar dicatat dan diamati.
- Emik.
Yaitu melihat dari dalam dan menghayati perasaan responden.

5. Interpretasi budaya (pembacaan ulang).
Budaya merujuk pada pengetahuan, kepercayaan, dan nilai-nilai yang secara umum dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat. Budaya adalah aspek masyarakat yang simbolik dan dipelajari, termasuk bahasa, adat-istiadat, dan konvensi. Budaya diwariskan dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi. Budaya dan struktur sosial dipandang sebagai dua komponen kunci dari masyarakat dan karenanya merupakan konsep dasar sosiologi.

Film The Tlas Bissu
Peserta bersama2 nonton film berjudul The Last Bissu. Sebuah film documenter yang menceritakan sebuah realita budaya tentang waria di suku Bugis, Sulawesi Selatan. Dalam budaya (kuno) suku Bugis ada satu hal menarik yang berhubungan dengan waria, yaitu Bissu. Bissu adalah pendeta suci suku yang pada jaman itu (jaman kerajaan) memiliki posisi yang sangat tinggi dipandang sebagai pengawal raja2. Siapakah yang bisa menjadi bisu? Adalah perempuan atau waria yang terpilih oleh dewa.

Budaya ini berjalan sangat harmonis sampai masa raja2 berganti dengan masa Negara republik, saat raja2 sudah memiliki kekuatan mutlak, muncul kekuatan2 lain misalnya ormas social atau ormas agama. Pada saat inilah waria mendapat gangguan dan dianggap salah sehingga terjadi banyak tindakan dari ormas social atau ormas agama yang merusak keberadaan waria.

Beberapa hal menarik yang dilihat oleh peserta dari film tersebut :
• Dalam budaya Bissu Waria memiliki kesempatan yang sangat besar untuk menjadi Puang Matoa yang memiliki wewenang dan posisi yang sangat tinggi dalam tatanan politik dan sosial.
• Budaya Bissu terganggu sejak terjadinya perubahan sistem politik. Saat raja2 tidak memiliki kekuatan yang besar. Tidak bisa melindungi budaya.
• Hegemoni ajaran2 baru menghancurkan kekayaan budaya.
• Modernisasi menyebabkan pembatasan2 yang merugikan, menimbulkan stigma, penolakan sehingga menghilangkan budaya

Diskusi Kelompok
Peserta dibagi menjadi 4 kelompok yang mendapat topik diskusi yang sama, yaitu mengidentifikasi budaya yang ada di masing2 tempat (asal) kemudian melihat apakah budaya tersebut masih dilakukan atau sudah tidak dilakukan (dilanggar)?
Topik yang diambil oleh 4 kelompok adalah:
1. Tidur Basamo. Sebuah kondisi yang terdapat di kalangan suku minang. Kondisi ini dipengaruhi oleh sistem kekerabatan matrilineal. Disebutkan bahwa rumah2 suku minang sangat dipengaruhi oleh sistem kekerabatan matrilineal, jumlah kamar2 dalam rumah suku minang ditentukan oleh jumlah anak perempuan yang dimiliki keluarga itu. Setiap anak perempuan akan mendapatkan satu kamar sendiri sedangkan anak laki2 akan tinggal (tidur) di sebuah kamar (pondok) bersama2 dengan anak laki-laki dari rumah (keluarga) lain. Inilah yang disebut Tidur Basamo. Budaya Tidur Basami ini sangat memungkinkan terjadinya kontak seksual diantara anak laki-laki yang tinggal (tidur) dalam 1 kamar (pondok) tersebut. Budaya ini terus berjalan sampai saat ini.
2. Sunat Perempuan. Budaya yang syarat dengan penindasan terhadap perempuan, merendahkan nilai perempuan, perempuan dipandang sebagai orang kedua yang selalu harus manut pada penguasa yang berwujud laki-laki. Dalam diskusi ditemukan bahwa budaya sunat perempuan ini masih dialami oleh sebagian besar perempuan2 islam walaupun saat ini ada perempuan yang sudah tidak mengalami ini karena bberapa alasan, misalnya orang tua sadar bahwa sunat perempuan adalah tidak perlu, pemahaman yang lebih baik tentang budaya ini sehingga orang2 ini berani mangatkan tidak, dll.
3. Perempuan dilarang keluar malam. Sebuah pembatasan kepada perempuan yang tidak memiliki alasan yang jelas ini sudah cukup ditinggalkan oleh masyarakat kita dikarenakan pemahaman yang lebih baik tentang perempuan.
4. Fenomena Raja Yogyakarta. Pada kebiasaan (sampai saat ini) raja Yogyakarta adalah seorang laki-laki, belum ada dalam sejarah bahwa raja Yogyakarta adalah seorang perempuan. Ini tertera dalam beberapa kitab kerajaan (tidak diketahui apakah kitab ini masih menjadi acuan baku bagi kerajaan) bahwa raja haruslah seorang laki-laki. Saat ini ada fenomena tentang raja berikutnya, karena raj saat ini (Sultan Hamengkubuwono X) tidak memiliki anak laki-laki. Cukup santer pembicaraan tentang siapakah yang akan menggantikannya? Apakah saudara (adik) laki-laki raja atau anak raja (yang perempuan)? Kita bisa melihat bagaimana politik sangat mengatur dan mempengaruhi ekspresi seseorang dari wacana gender. Kita akan melihat apakah raja saat ini berani memecahkan kebisuan yang berlangsung sampai detik ini? Akankah sebuah terobosan baru akan terjadi dalam babad kerajaan Yogyakarta? bagaimana tanggapan bangsawan dan penguasa apabila raja akhirnya memilih anak perempuannya untuk menggantikannya?

Topik Menarik
Di sela2 pembicaraan yang menarik sekali tentang gender, seksualitas dan budaya ada sebuah pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh salahstu peserta yaitu
”Apakah budaya yang mempengaruhi manusia? Atau sebaliknya?” kemudian fasilitator menjawab memulai dari menuliskan pada selembar plano :

BUDAYA1 > MANUSIA > BUDAYA2
Penjelasan :
Budaya sudah ada sebelum manusia (individu kemudian menjadi kelompok) ada. Sehingga manusia akan dipengaruhi oleh budaya ayang sudah ada tersebut. Kemudian manusia akan menentukan apakah budaya tersebut sesuai dengan dirinya atau tidak. Ketika manusia merasa tidak cocok dengan budaya yang dia jalani, kemungkinan manusia tersebut akan berjuang untuk membentuk (atau mempengaruhi budaya lama) budaya yang baru yang sesuai dengan dia. Membuat sebuah perubahan.

sumber: http://www.facebook.com/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-ketiga-gender-seksualitas-dan-budaya/459882395680

Thursday, July 1, 2010

Kenikmatan Seksual & Teori-teori Sosial.

Resume peserta KGS V hari kedua

Seksualitas Perempuan; Kenikmatan dan Resiko

Kapan mengenal Seks?
- Usia TK
- Usia SD
- Usia SMU
- Usia Kuliah

Media/ Agen:
- Buku
- Majalah
- Film
- Orang Tua
- Korban kekerasan seksual

Apa itu seks?
- Berhubungan badan
- Membuat anak
- Sesuatu yang bersifat kodrat

Bagaimana mengetahui bahwa seks itu Nikmat?
- Masturbasi/Onani (boneka, jari)
- Dengan pasangan (penetrasi anal, ciuman, berpelukan, petting, dll)
- Berimaginasi


Fakta : Banyak pasangan yang tidak melakukan komunikasi tentang kenikmatan seksual pasangannya

Ketertindasan perempuan dalam hubungan seksual, kenapa?
- Interpretasi teks agama
- Struktur budaya/ norma
- Akses informasi
- Intervensi negara
- Kesadaran perempuan

Gayle Rubin :
Seksualitas yang baik (normal, natural) : heteroseksual, marital, monogam, reproduktif, non-komersial.
Seksualitas yang buruk (abnormal, tidak natural) : homoseksualitas, di luar perkawinan, komersial.

Melakukan hubungan seksual sepatutnya berdasarkan keinginan bukan karena paksaan, kewajiban, keharusan, bukan juga karena agama, ekonomi, politik dan yang lainnya, tapi karena kita memiliki kedaulatan atas tubuh kita

TEORI – TEORI SOSIAL
Manusia adalah mahluk hidup unik yang harus dipandang secara utuh karena memiliki perasaan, harapan dan reaksi yang berbeda pada setiap individu. Sifat dasar manusia selalu menyari kebenaran dan pembenara terhadap setiap fenomena kehidupan.

FUNGSI STRUKTURAL
1.Meminta 3 orang peserta untuk maju kedepan dengan komposisi 2 peserta laki-laki dan 1 peserta perempuan dengan posisi duduk seperti pada gambar




SUPER STRUKTUR INFRASTRUKTUR

2. Menjelaskan pada audiens bahwa yang ada dihadapan mereka adalah contoh dari fungsi structural dari masyarakat yang berasumsi bahwa mereka selalu saling menopang, berjalan dengan baik dalam tatanan (order) keteraturan (harmoni) dan didasarkan pada kesepakatan (consensus) bersama dari anggotanya.

3. Menguji kebenaran konsep tersebut dengan cara :
a. Bertanya pada peserta yang berada pada posisi suprastruktur tentang perasaannya saat berada diposisi “atas” serta keinginannya untuk berubah posisi duduk.
Jawaban : nyaman, senang dan tidak ingin berubah posisi
b. Bertanya pada peserta yang berada pada posisi infratruktur tentang perasaannya saat berada diposisi “atas” serta keinginannya untuk berubah posisi duduk
Jawaban : tidak nyaman, merasa terasing dan lemah, ingin berubah posisi menjadi suprastruktur
c. kesimpulan Jawaban dari kedua kelompok tersebut adalah Teori social diatas dapat disimpulkan bahwa sangat tidak sesuai dengan konsep dasar manusia yaitu bahwapada dasarnya manusia adalah mahluk yang selalu berubah sehingga bertentangan dengan konsep order, harmoni dan consensus. Ketidak bersediaan kelompok supratruktur berpindah posisi adalah bentuk dari istilah status quo

4. menjelaskan pada peserta bahwa pada dasarnya manusia mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam memandang suatu hal
a. bertanya pada indivdu dari kelompok suprastruktur tentang posisi vas bunga yang ada disampingnya
jawaban : vas bunga berada di seblah kiri tubuhnya
b. bertanya pada indivdu dari kelompok infrastruktur tentang posisi vas bunga yang ada disampingnya
jawaban : vas bunga berada di seblah kanan tubuhnya
c. bertanya pada audiens apakah jawaban dari dua kelompok tersebut salah/ benar.
d. Kesimpulan dari proses diatas adalah bahwa tidak ada sesuatu didunia ini yang BENAR / SALAH secara mutlak karena segala sesuatu sangat tergantung dari sudut pandang masing-masing kelompok

5.Mengganti posisi vas bunga dengan meminta peserta perempuan. Dengan maksud memasukkan isu seksualitas didalamnya

SUPRASTRUKTUR INFRASTRUKTUR
Hal ini bermaksud untuk memasukan unsure kepentingan dari setiap kelompok yang biasanya akan menimbulkan konflik, maka konflik yang terjadi adalah :
a. Kelompok supratruktural diibaratkan sebagai kelompok heteroseksual, yang mempunyai unsure kepentingan untuk melanjutkan keturunan, serta factor- factor lainnya seperti ekonomi dan politik
b. Kelompok infrastruktur diibaratkan sebagai kelompok homosekual yang juga ingin memiliki perempuan tersebut sebagai bentuk penggunaan haknya sebagai manusia untuk mempunyai pilihan dalam mengekspresikan orientasi seksual

6.MASALAH :
• komposisi kelompok yang tidak seimbang, dalam hal ini kelompok heteroseksual menyebabkan terciptanya posisi menguasai dan dikuasai. Karena jumlahnya yang banyak maka kelompom suprastruktur lebih leluasa dalam membuat aturan sehingga timbul istilah pemaksaan ideology / hegemoni
• selain yang memiliki pendapat dari kelompok suprastruktural adalah SALAH ; hal ini dikenal dengan istilah LOGOSENTRISME

7. menyimpulkan permainan diatas, bahwa setiap manusia mempunyai kekayaan intelektualitas yang tidak berbatas, perbedaan sudut pandang bukanlah sebuah kesalahan. Menjad sebuah kesalahan apabila setiap kelompok selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa pendapatnya yang paling benar.


sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=459879315680#!/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-kedua-kenikmatan-seksual-teori-teori-sosial/459880360680

Wednesday, June 30, 2010

Resume Peserta KGS V Hari Pertama

BODDY MAPING
Proses difasilitasi oleh Sdr. Budi
Mekanisme:
1. Peserta di bagi kedalam 4 kelompok, sesuai dengan warna kartu yang diberikan (warna kartu merah, kuning, hijau, dan biru).
2. Peserta diminta menggambar tubuh dengan menjiplak tubuh dari rekan dikelompoknya.
3. Peserta mengidentifikasi titik-titik rangsangan (organ seks) dan menjelaskan bagaimana melakukan rangsangan terhadap titik-titik dimaksud.

Learning Point:
1. Peserta berani mengeksplorasi bagian tubuhnya.
2. Peserta mampu membedakan apa yang dimaksud dengan organ seksual dan organ reproduksi.

KEANEKARAGAMAN SEKS, GENDER DAN SEKSUALITAS
Dede oetomo

Seks dibedakan dari aspek biologis, gender, dan aspek seksualitas.
Dari aspek biologis bisa ditemukan lebih dari 90 identitas seks
Dari aspek gender, seks mempengaruhi pelabelan atau pemberian identitas gender (yang dikontruksi)

PEMUTARAN FILM
Realita Cinta dan Rock n Roll

Learning Point:
1. Seterotype mengenai identitas gender
2. Konflik keluarga waria
3. Waria dihargai kalau berprestasi
4. Dlsb


sumber: http://www.facebook.com/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-ketiga-gender-seksualitas-dan-budaya/459882395680#!/notes/gaya-nusantara/resume-peserta-kgs-v-hari-pertama-oleh-budi-satria-dan-abied/459879315680

Tuesday, June 22, 2010

AKU BENAR2 PUNYA FANS!


Aku punya fans berat, paparazi tepatnya. Tapi ia tak membawa kamera untuk menjepret sosokku memenuhi keingintahuannya tentangku. Entah ia gunakan alat apa tapi yang pasti ia selalu tau kapan aku ganti nick fesbuk, lalu ia dengan rajin mengumumkan pergantian nick ku itu di status fesbuknya. Padahal, aku tak berteman dengannya. Logikanya, ia harus metani (bahasa jawa: kayak orang lagi nyari kutu) tiap nama/profil picture ku bukan?

Ketika seorang teman dengan terbahak memberitahukan perilaku orang ini padaku, aku ketawa ngakak sengakak-ngakaknya. Apakah tidak ada aktivitas lain, gitu, selain memonitorku? Bikin video porno kek contohnya, secara dah pinter akting manipulatif getho... Atau paling tidak kalau naksir atau ngefans berat ngomong gitu? Wkwkwkwkwkw

Kata dia neh, aku ganti nick biar ga ketauan kedoknya. Kedok mah dikali, munculnya tuh cuma pas musim ujan. Jadi kalo musim tukang tuduh ma tukang fitnah, tuh kedok kagak nongol! Wakakakakak

Syukur seh, berarti dengan begitu membuktikan bahwa ia sangat memperhatikanku. Nah, ntar ditunggu nick fesbukku selanjutnya, jadi elo tuh kudu pantengin fesbukku tiap menit, biar up 2 date getho! Sapa tau ada kejutan, nick qta jd samaan gemana, seru tuh!

Monday, June 21, 2010

KAWAN ATAU LAWAN



Pernahkah Anda bisa membedakan mana kawan mana lawan? Karena disaat yang sama kawan menjadi lawan, dan lawan menjadi kawan. Lalu siapa seteru kita sebenarnya? Kawan atau lawan?

Pernah terjebak diantara keduanya? Atau malah nyaris tak bisa membedakan keduanya. Pemakluman saja, karena manusia pada saat bersamaan dapat menjadi kawan juga lawan. Lalu apakah kan percaya keduanya? Hemat saya, TIDAK. Pastinya selalu akan ada kawan dan lawan, kawan-kawan dan lawan-lawan.

Hmm... Sedang ingin absurd. Efek insomnia, yang jangan dijadikan alasan. Memang sedang ingin absurd!

Sunday, June 6, 2010

EKSISTENSI


Aku teringat kata itu ketika beberapa teman membincangkannya meski dalam konteks berbeda. Kata itu membuatku tergelitik mencari arti. Searching di mbah gugle tentang definisi eksistensi membawaku pada beberapa situs yang salah satunya adalah dibawah ini:

Eksistensi berasal dari kata eksis yang awal mulanya adalah kata dari bahasa Inggris exist yang berarti ada, berwujud. Eksistensi atau pengakuan, -suatu keadaan dimana orang lain mengakui dan menghargai diri kita-, bukan merupakan wujud abstrak atau materi namun selalu dicari dan dikejar oleh manusia.

Aku sebenarnya bukan ingin mencari definisi, hanya penasaran sebenarnya mereka yang berkoar tentang eksistensi melihat dari sudut pandang sebelah mana. Aku memang tak mendapat jawab, satu diantara mereka memang tak mau jawab, namun dua orang lain sengaja aku hanya mengamati ketika tempo hari keduanya perang status fesbuk mengangkat tema tsb.

Apakah ketika seseorang aktif dimana-mana, ia ingin eksis? Menunjukkan eksistensinya. Lalu apa bedanya dengan pamer? Bukankah juga menunjukkan keberadaannya dimana pun? Apa yang menjadi pembatas? Apakah ketika wajah seseorang terpampang dan kreatifitasnya berkibar dimana-mana adalah kepentingan demi eksistensi. Jikalau ya, apa maknanya akan negatif atau positif? Sebab yang terkesan dari cara orang lain mengumandangkan kata itu, terdengar negatif, eksistensi diibaratkan ajang pamer diri. Padahal mungkin tak semuanya seperti itu. Ah, lahir lagi kata baru, prediksi. Belum lagi prediksi dengan tendensi. Ternyata banyak juga buntut eksistensi.

Tapi menurutku eksistensi, terlepas dari negatif atau positif, akan bergantung pada niatan awal. Anggapan orang adalah nomor kesekian, ya aku meyakini itu, sebab apa yang kita akan, tengah, sedang dan ingin lakukan hanya kita yang berniat, menanggung dan menerima hasilnya.

Kalau orang lain menganggap kreatifitas Anda adalah bagian dari eksistensi dan mempunyai preseden buruk di mata mereka, maka pikirkan kembali apakah niatan awal dan tujuan akhir dari eksistensi tsb. Jikalau baik, maka silahkan teruskan! Selamat bereksistensi namun tak larut dalam eksistensialisme.