Pyongyang dan Piyungan, sekilas -ingat:hanya sekilas ya!- dua daerah di negara yang berlainan itu -sekali lagi- sekilas hampir sama. Namun bukan karena hal itu aku jadi terkecoh oleh keduanya!
"Aku mau pindah ke Pyongyang habis lebaran!" cetusmu beberapa waktu lalu.
Awalnya, kukira itu hanya sebuah candaan darimu. Maklum, seperti si kecil, kamu juga termasuk sering "ngerjain" aku. Namun ketika aku melihat status facebook yang memajang kepergianmu ke ibukota Korea serta isi tanggapanmu atas komentar teman terhadap statusmu itu. Lantas kupikir kamu memang tak main-main. Ditambah kegigihanmu bersikukuh tentang alasan kepergianmu untuk ikut suami yang bertugas disana, kian menambah keyakinan diatas ketidakyakinanku. Pasalnya, kadang kamu meneguhkan ucapanmu dalam tawa, sehingga menipiskan batas kebenaran dan ketidakbenaran kabar itu.
Puncaknya adalah kemarin ketika kamu berkata bahwa besok adalah keberangkatanmu ke negara yang tengah berkonflik karena potensi nuklirnya itu. Kamu memintaku menemani di bandara. Aku mengiyakan, meski juga agak merasa ganjil. Logikanya, jika kamu memang -benar- berangkat, tentulah hari itu akan ada ortu plus kambing alias suamimu. Jikalau aku ada, pertanyaannya apakah kau akan berani mempertemukanku dengan mereka? Tetapi kau tetap memintaku hadir.
Dan esok pun tiba. Antara yakin dan tidak sejak semalam aku berpikir ekstra. Satu sudut hatiku memperkirakan gimana jika kamu sungguh pergi karena bagaimanapun rasa kehilangan itu akan ada atas apa yang pernah kita lewati bersama. Namun sudut hatiku yang lain mengatakan aku sedang dikerjain kamu. Kalau teringat tawamu, aku jadi sangsi kamu tak benar2 serius. Otakku terus berputar. Eh, tanpa dinyana sekitar jam 9 an kamu nongol di depan kamarku bersama si kecil dengan senyuman khasmu.
"Nanti habis lebaran aku pindah ke Pyongyang! Pyongyang itu kan nama kerennya Piyungan!" kilahmu. (Piyungan: sebuah daerah di Yogyakarta, di jalan Wonosari)
I've get punk!!
Sunday, August 16, 2009
Straight Ge-eR!
Dalam sebuah acara aku bertemu dengannya. Bukan untuk yang pertama. Kali ini ketiga kali setelah dulu aku melihatnya ketika aku menyambangi kantornya dan yang kedua adalah beberapa hari lalu sebelum acara tersebut berlangsung.
Di acara itu semua bercampur dan berbaur. Menyatu. Berbincang serius. Diseling canda. Ia duduk di dekatku. Tak sendiri. Bersama teman satu kantor dan teman2 baru. Tak ada yang istimewa. Kami bisa dibilang dekat. Maklum, tugasku waktu itu adalah dengannya. Wajar kalau kami sering terlibat pembicaraan. Apalagi ia termasuk doyan nyerocos. Jadi ada saja yang diobrolin. Ditambah kulihat ia seksi sibuk sekali dengan alatnya.
Singkat cerita, dalam acara itu aku pulang lebih dahulu. Aku minta difoto bersamanya. Ia tiba-tiba nyeletuk: "Kayaknya kau tak akan bisa lepas dariku!". Ia berujar dalam senyum.
Senyum bagiku adalah canda. Aku pun menanggapi candaannya. "Sepertinya iya, gimana dong? Tapi, kamu kan straight, ya kan?"
"Ya iyalah!" sahutnya langsung. "Secara lekong masih enak gitu lho!" imbuhnya.
Karena buru-buru, aku pun pamit dan melupakan kejadian itu. Tapi kemarin aku bertemu dengannya lagi dalam rapat restrukturisasi. Dan ia membuatku terbahak dengan ulahnya.
Perempuan itu tak sekalipun menyapaku. Tak mau duduk dekatku. Padahal tempat di sebelahku masih kosong, ia memilih duduk bergerombol. Menghindari bertemu mata denganku. Pernah, sekali, tak sengaja kami bersirobok pandang, ia cepat-cepat melengos. Aku tersenyum. Ada apa dengannya? Kok ia jadi bertingkah begini. Aku memflashback kejadian dulu, dan membuatku kian tersenyum. Seorang straight sedang ge-er rupanya! Tak bisa membedakan candaan dan beneran!
Di rapat itu, namanya mendapat satu suara. Ohohoho jangan sampai, meski aku yakin sekali ia pasti berpikir kalau akulah si pemberi suara itu. Wahahahaha aku akan makin ngakak! Entah apa yang semakin ia ketikkan di layar pikirannya tentangku. Wallahu A'lam. Apalagi, si ibu koordinator terpilih sepertinya keukeuh menyandingkan namaku dan namanya dalam satu divisi. Namun beruntung tak jadi hehe aku gak tau kalo beneran harus kerjasama dengannya, apa kata dunia wakakakakakak.
Lingkungan kerjaku telah mengetahui orientasi seksualku, tapi kadang aku geli sendiri jika mendapati the straights yang mawas diri terhadap lesbian yang SEPERTINYA suka padanya.
Aku masih sering tersenyum jika teringat kejadian kemarin. Open up your mind, straight!
Di acara itu semua bercampur dan berbaur. Menyatu. Berbincang serius. Diseling canda. Ia duduk di dekatku. Tak sendiri. Bersama teman satu kantor dan teman2 baru. Tak ada yang istimewa. Kami bisa dibilang dekat. Maklum, tugasku waktu itu adalah dengannya. Wajar kalau kami sering terlibat pembicaraan. Apalagi ia termasuk doyan nyerocos. Jadi ada saja yang diobrolin. Ditambah kulihat ia seksi sibuk sekali dengan alatnya.
Singkat cerita, dalam acara itu aku pulang lebih dahulu. Aku minta difoto bersamanya. Ia tiba-tiba nyeletuk: "Kayaknya kau tak akan bisa lepas dariku!". Ia berujar dalam senyum.
Senyum bagiku adalah canda. Aku pun menanggapi candaannya. "Sepertinya iya, gimana dong? Tapi, kamu kan straight, ya kan?"
"Ya iyalah!" sahutnya langsung. "Secara lekong masih enak gitu lho!" imbuhnya.
Karena buru-buru, aku pun pamit dan melupakan kejadian itu. Tapi kemarin aku bertemu dengannya lagi dalam rapat restrukturisasi. Dan ia membuatku terbahak dengan ulahnya.
Perempuan itu tak sekalipun menyapaku. Tak mau duduk dekatku. Padahal tempat di sebelahku masih kosong, ia memilih duduk bergerombol. Menghindari bertemu mata denganku. Pernah, sekali, tak sengaja kami bersirobok pandang, ia cepat-cepat melengos. Aku tersenyum. Ada apa dengannya? Kok ia jadi bertingkah begini. Aku memflashback kejadian dulu, dan membuatku kian tersenyum. Seorang straight sedang ge-er rupanya! Tak bisa membedakan candaan dan beneran!
Di rapat itu, namanya mendapat satu suara. Ohohoho jangan sampai, meski aku yakin sekali ia pasti berpikir kalau akulah si pemberi suara itu. Wahahahaha aku akan makin ngakak! Entah apa yang semakin ia ketikkan di layar pikirannya tentangku. Wallahu A'lam. Apalagi, si ibu koordinator terpilih sepertinya keukeuh menyandingkan namaku dan namanya dalam satu divisi. Namun beruntung tak jadi hehe aku gak tau kalo beneran harus kerjasama dengannya, apa kata dunia wakakakakakak.
Lingkungan kerjaku telah mengetahui orientasi seksualku, tapi kadang aku geli sendiri jika mendapati the straights yang mawas diri terhadap lesbian yang SEPERTINYA suka padanya.
Aku masih sering tersenyum jika teringat kejadian kemarin. Open up your mind, straight!
Saturday, August 15, 2009
Suara Kecil Menjerumuskan
Masih dalam rapat restrukturisasi kemarin, tapi bukan hendak membahas si straight ge-er itu karena ada yang bersungut nantinya. Yang ingin aku ceritakan adalah proses votingnya.
Seperti dalam pemilihan beneran, spontan terbentuklah tim yang mengurusi DPT (Daftar Pemilih Tetap), juga menyiapkan surat suara lengkap beserta stempel platform aliansi ini. Setelah menghitung jumlah peserta, surat suara dibagikan. Masing2 peserta langsung menulis pilihan balon (bakal calon) koordinator untuk dipilsung (dipilih langsung). Surat suara kemudian dikumpulkan dan dibacakan, mirip KPPS ngebacain hasil pilihan warga.
Untuk surat suara pertama yang dibuka, tersebut nama teman sekantorku. Aku langsung mengapplaus. Tapi pada kertas kedua, namaku lah dilantangkan. Aku terkejut dan sangat terkejut ketika suara yang kuperoleh mencapai 3. Ada apa ini? Siapa yang memilihku? Dan bagaimana bisa memilihku? Lha wong sebelum voting tadi, mayoritas peserta mengelu-elukan seorang cowok lucu dan terkenal dalam aliansi ini. Sedang aku...aku baru beberapa kali ikut pertemuan mereka. Beruntung kecemasanku dibuyarkan oleh hasil akhir penghitungan suara, dimana suara-suara terakhir menyandingkan cowok lucu itu dengan seorang cowok lagi yang kupilih karena telah banyak malang melintang di jaringan. Aku lega, sekaligus menolak ketika panitia menawarkan posisi koordinator dari hasil suara terkecil. Alasanku, miskin pengalaman. Namaku lolos dicoret, lain hal dengan teman sekantorku yang meski mendapat satu suara dibawahku, ia menolak tapi forum pun menolak penolakannya. Jadinya, namanya tetap akan masuk bursa koordinator aliansi.
Perolehan suara tertinggi diraih dua lelaki yang kusebut diatas. Wajarnya, suara tertinggi otomatis terpilih jadi koordinator beserta jajaran dibawahnya. Tapi yang terjadi adalah, dua lelaki itu menolak dengan alasan memberi kesempatan yang lain. Mereka pun dicoret.Hanya tersisa teman sekantorku, yang mau tak mau harus didaulat bersedia menjadi koordinator AJI DAMAI periode Agustus 2009-Februari 2010. Dan hal itu benar-benar terjadi. Teman sekantorku menampuk posisi koordinator hingga enam bulan ke depan. Dan ia kemudian tak mau sendirian, aku pun ditunjuknya jadi wakil koordinator.
Jika diibaratkan pilpres, dengan pengkondisian yang sama, maka tentulah hasil pilpres sekarang ini akan dimenangkan bukan oleh SBY. Bagaimana tidak, teman sekantorku hanya mendapat 2 suara, berada di posisi ketiga dari bawah dari 6 nominator, tetapi ia menjadi yang terpilih. Suara kecil menjerumuskan, begitu aku menyebutnya. Tapi kalau hasil ini direalisasikan dalam pilpres, wah gimana ya kelanjutannya? Pasti kian kisruh saja petinggi2 kita itu.
Seperti dalam pemilihan beneran, spontan terbentuklah tim yang mengurusi DPT (Daftar Pemilih Tetap), juga menyiapkan surat suara lengkap beserta stempel platform aliansi ini. Setelah menghitung jumlah peserta, surat suara dibagikan. Masing2 peserta langsung menulis pilihan balon (bakal calon) koordinator untuk dipilsung (dipilih langsung). Surat suara kemudian dikumpulkan dan dibacakan, mirip KPPS ngebacain hasil pilihan warga.
Untuk surat suara pertama yang dibuka, tersebut nama teman sekantorku. Aku langsung mengapplaus. Tapi pada kertas kedua, namaku lah dilantangkan. Aku terkejut dan sangat terkejut ketika suara yang kuperoleh mencapai 3. Ada apa ini? Siapa yang memilihku? Dan bagaimana bisa memilihku? Lha wong sebelum voting tadi, mayoritas peserta mengelu-elukan seorang cowok lucu dan terkenal dalam aliansi ini. Sedang aku...aku baru beberapa kali ikut pertemuan mereka. Beruntung kecemasanku dibuyarkan oleh hasil akhir penghitungan suara, dimana suara-suara terakhir menyandingkan cowok lucu itu dengan seorang cowok lagi yang kupilih karena telah banyak malang melintang di jaringan. Aku lega, sekaligus menolak ketika panitia menawarkan posisi koordinator dari hasil suara terkecil. Alasanku, miskin pengalaman. Namaku lolos dicoret, lain hal dengan teman sekantorku yang meski mendapat satu suara dibawahku, ia menolak tapi forum pun menolak penolakannya. Jadinya, namanya tetap akan masuk bursa koordinator aliansi.
Perolehan suara tertinggi diraih dua lelaki yang kusebut diatas. Wajarnya, suara tertinggi otomatis terpilih jadi koordinator beserta jajaran dibawahnya. Tapi yang terjadi adalah, dua lelaki itu menolak dengan alasan memberi kesempatan yang lain. Mereka pun dicoret.Hanya tersisa teman sekantorku, yang mau tak mau harus didaulat bersedia menjadi koordinator AJI DAMAI periode Agustus 2009-Februari 2010. Dan hal itu benar-benar terjadi. Teman sekantorku menampuk posisi koordinator hingga enam bulan ke depan. Dan ia kemudian tak mau sendirian, aku pun ditunjuknya jadi wakil koordinator.
Jika diibaratkan pilpres, dengan pengkondisian yang sama, maka tentulah hasil pilpres sekarang ini akan dimenangkan bukan oleh SBY. Bagaimana tidak, teman sekantorku hanya mendapat 2 suara, berada di posisi ketiga dari bawah dari 6 nominator, tetapi ia menjadi yang terpilih. Suara kecil menjerumuskan, begitu aku menyebutnya. Tapi kalau hasil ini direalisasikan dalam pilpres, wah gimana ya kelanjutannya? Pasti kian kisruh saja petinggi2 kita itu.
Ketika Dizhalimi...
Bangkai, meski ditutupi wajah semanis madu berselimut emas sekalipun tetap akan menjadi bangkai tanpa pernah bisa bertransisi serupa emas semanis madu.
Berproses secara alamiah tanpa memerlukan mesin-mesin buatan hasil ciptaan manusia yang hanya bisa mengkaryakan imitasi. Aspal. Asli tapi palsu. Kamuflase, bahasa kerennya.
Hei... Sadarilah... Manusia di sekitarmu sudah bosan kau cekoki kepalsuan tak berdosamu. Aku muak oleh bulu domba dibalik serigala yang menghembuskan kentut musang dibelakangku.
Manusia memang tak pernah dan tak akan pernah sempurna. Aku memakluminya. Hanya pada manusia yang benar-benar menyadari ketidaksempurnaan dirinya. Lainnya tidak.
Berproses secara alamiah tanpa memerlukan mesin-mesin buatan hasil ciptaan manusia yang hanya bisa mengkaryakan imitasi. Aspal. Asli tapi palsu. Kamuflase, bahasa kerennya.
Hei... Sadarilah... Manusia di sekitarmu sudah bosan kau cekoki kepalsuan tak berdosamu. Aku muak oleh bulu domba dibalik serigala yang menghembuskan kentut musang dibelakangku.
Manusia memang tak pernah dan tak akan pernah sempurna. Aku memakluminya. Hanya pada manusia yang benar-benar menyadari ketidaksempurnaan dirinya. Lainnya tidak.
Friday, August 14, 2009
Pepatah, Hidup dan Film India
Kita yang harus mengendalikan hidup, bukan hidup yang mengendalikan kita. Pepatah yang beberapa malam lalu kudengar, dari film India -lagi-. Film yang pernah kutonton sebelumnya, namun versi Inggris, kali ini versi bilingual. Lumayan, waktu dulu nonton banyak yang kagak ngerti artinya karena text nya diterjemahkan bahasa jiran. Mujhse Dosti Karoge. Would u be my friend? Tapi aku bukan ingin bercerita tentang film yang boleh dibilang agak jadul itu -sekitar taon 2003- sebelum aku merantau ke Jakarta waktu itu.
Pepatah tentang hidup. Aku memang suka mengumpulkan pepatah. Tentang apa saja. Hidup. Cinta. Patah hati. Persahabatan. Harapan. Dll. Aku bahkan menjadikannya satu buku tersendiri. Kutipan dari mana saja. Orang2 terkenal. Pepatah Cina. Dialog dalam film. Closing infotainment. Bahkan yang No Name sekalipun. Pokoknya yang langsung mengena di hati dan unik alias ndak menye-menye. Yah, buat dibaca2 lagi ketika semangat kendur kayak gini.
Pepatah tentang hidup. Aku memang suka mengumpulkan pepatah. Tentang apa saja. Hidup. Cinta. Patah hati. Persahabatan. Harapan. Dll. Aku bahkan menjadikannya satu buku tersendiri. Kutipan dari mana saja. Orang2 terkenal. Pepatah Cina. Dialog dalam film. Closing infotainment. Bahkan yang No Name sekalipun. Pokoknya yang langsung mengena di hati dan unik alias ndak menye-menye. Yah, buat dibaca2 lagi ketika semangat kendur kayak gini.
Thursday, August 13, 2009
LAGI BELAJAR IKHLAS!
Semangat itu melorot lagi. Rasa malas itu mulai merajai. Kegelisahan hati. Akan sebuah mimpi. Yang -sepertinya- tak akan teraih. Hanya bayangan ilusi. Demi seutas janji. Yang -semoga- tak teringkari.
Entah kenapa aku dirasuki rasa tak bergairah hidup lagi. Bara menyala bahkan berapi-api kini surut kembali. Untuk apa sebenarnya aku hidup ini?
Pertanyaan itu yang kuajukan ulang sama ketika hidup serasa menghantam dan tak memedulikanku beberapa bulan lalu. Tapi aku memupuknya hingga keragu-raguan itu berganti gelora. Optimistis dalam hidup dan memandang semuanya. Dan segalanya terlihat positif memang.
Namun ternyata, hidup juga kadang kala asam kadang manis, pun tak selamanya pahit. Aku mulai kehilangan kendaliku. Entah apa penyebabnya. Semua saling berkaitan, dan tak bisa kujabarkan. Aku tipe orang yang tak bisa dan tak -terbiasa- mengeluarkan isi otak secara mendetail, sehingga kadang orang seringkali salah paham mengartikan, dan aku hanya mendiamkan. Tepatnya, membiarkan. Membiarkan salah-paham menumpuk dan membiarkan keyakinan bahwa isi pikiranku hanya Yang Diatas sana lah yang sesungguhnya mengetahui seutuhnya. Berhadapan dengan manusia hanya menimbulkan kelelahan untuk menjelaskan. Apalagi, jika kemudian penjelasan hanya akan memperparah kesalahpahaman. Capek! Jenuh, tepatnya! Kapan manusia berhenti menyikapi bahwa apa yang terlihat tak selalu sama dengan apa yang terbersit di benak mereka?
Belajar ikhlas! Sepertinya harus. Mungkin mau tak mau. Tapi aku senantiasa memupuk diantara puing-puing yang berserakan. Menyatukannya, meski tak utuh. Kepingan yang lain hilang. Dan tak kutemukan.
Ikhlas. Kata yang terdengar bermakna religius mungkin. Ah, bagiku tak ada kaitannya! Dan aku juga tak ingin mencari padanan kata lainnya.
Aku hanya sedang belajar ikhlas!
Jangan menyerah... Jangan menyerah... Jangan menyerah...
Entah kenapa aku dirasuki rasa tak bergairah hidup lagi. Bara menyala bahkan berapi-api kini surut kembali. Untuk apa sebenarnya aku hidup ini?
Pertanyaan itu yang kuajukan ulang sama ketika hidup serasa menghantam dan tak memedulikanku beberapa bulan lalu. Tapi aku memupuknya hingga keragu-raguan itu berganti gelora. Optimistis dalam hidup dan memandang semuanya. Dan segalanya terlihat positif memang.
Namun ternyata, hidup juga kadang kala asam kadang manis, pun tak selamanya pahit. Aku mulai kehilangan kendaliku. Entah apa penyebabnya. Semua saling berkaitan, dan tak bisa kujabarkan. Aku tipe orang yang tak bisa dan tak -terbiasa- mengeluarkan isi otak secara mendetail, sehingga kadang orang seringkali salah paham mengartikan, dan aku hanya mendiamkan. Tepatnya, membiarkan. Membiarkan salah-paham menumpuk dan membiarkan keyakinan bahwa isi pikiranku hanya Yang Diatas sana lah yang sesungguhnya mengetahui seutuhnya. Berhadapan dengan manusia hanya menimbulkan kelelahan untuk menjelaskan. Apalagi, jika kemudian penjelasan hanya akan memperparah kesalahpahaman. Capek! Jenuh, tepatnya! Kapan manusia berhenti menyikapi bahwa apa yang terlihat tak selalu sama dengan apa yang terbersit di benak mereka?
Belajar ikhlas! Sepertinya harus. Mungkin mau tak mau. Tapi aku senantiasa memupuk diantara puing-puing yang berserakan. Menyatukannya, meski tak utuh. Kepingan yang lain hilang. Dan tak kutemukan.
Ikhlas. Kata yang terdengar bermakna religius mungkin. Ah, bagiku tak ada kaitannya! Dan aku juga tak ingin mencari padanan kata lainnya.
Aku hanya sedang belajar ikhlas!
Jangan menyerah... Jangan menyerah... Jangan menyerah...
Wednesday, August 12, 2009
LIPSING PUSIIINGGG...!?!
Pagi ini ketika aku sedang mengetikkan tulisan untuk kupostingkan di blog, ada tiga hal lucu yang kutangkap ketika mataku menangkap apa yang tersaji di layar monitor sementara jari jemariku tengah lincah cetak-cetik di tuts hape.
Awalnya, Derings di Transtv. Setelah opening, sedianya akan dilanjutkan performance grup band radja. Personel sudah siap memegang instrumen masing2, dan petikan gitar terdengar. Lagunya berjudul PATAH HATI. Semua personel beraksi, namun baru beberapa detik, lipsing yang biasa dilakukan oleh para penyanyi meski sekaliber band2 papan atas sekalipun mempertontonkan kelucuannya. Kaset/CD/DVD atau apalah jenisnya, tiba2 macet, tersendat-sendat hingga mirip remix para DJ. Tapi untuk kasus ini tentu lain hal. Dan penyanyi diatas panggung langsung berusaha menutupi malu dengan diplomasi sekenanya. Membuatku semakin terbahak. Layar kemudian berganti dengan diputarnya video klip. Hah, gara2 lipsing!
Terhenti dari tawa yang mempermalukan band Radja, aku memindah channel tivi. Channel SCTV. Acaranya inbox. Yang sedang bernyanyi band tak terkenal yang aku tak tahu namanya, lipsing pula. Kali ini bukan lipsingnya yang bermasalah. Band ini tengah menyuguhkan lagu tentang ajakan dan hikmah berpuasa. Tema yang aji mumpung menyambut ramadhan yang akan tiba. Tapi bukan itu juga masalahnya. Tak apalah mencari rezeki lewat lagu, meski di telingaku syairnya terdengar tak mutu. Yang membuatku tersenyum bercampur grundelan adalah kostum yang dipakai si vokalis. Lagu bertema religi dinyanyikan oleh seorang perempuan yang mengenakan kostum serba hitam, celana pendek jauh diatas lutut dan kaos yang menunjukkan belahan dada. Sinkron kah? Aku jadi mikir, kok gak mikir ya si vokalis ini dia akan bawakan lagu apa, apakah nyambung gak ama kostum yang dia pakai. Kalo yang kulihat seh, pastinya gak mikir!
Ganti channel lagi. Transtv lagi. Radja Cilik lagi mau nyanyi.Itu tuh, anak2 si Moldy nya Radja yang umurnya paling masih sekitar 7-8 tahun. Lipsing lagi. Dan ini lebih parah. Lagu dan gerak bibirnya kagak sama blas. Ampyun deh! Antara wajar dan gak wajar, kalo aji mumpung mbok yo jangan kebangetan! Nunggu anak2nya gedean dikit kek!
Bener2 lipsing yang bikin pusyiiingg...
Awalnya, Derings di Transtv. Setelah opening, sedianya akan dilanjutkan performance grup band radja. Personel sudah siap memegang instrumen masing2, dan petikan gitar terdengar. Lagunya berjudul PATAH HATI. Semua personel beraksi, namun baru beberapa detik, lipsing yang biasa dilakukan oleh para penyanyi meski sekaliber band2 papan atas sekalipun mempertontonkan kelucuannya. Kaset/CD/DVD atau apalah jenisnya, tiba2 macet, tersendat-sendat hingga mirip remix para DJ. Tapi untuk kasus ini tentu lain hal. Dan penyanyi diatas panggung langsung berusaha menutupi malu dengan diplomasi sekenanya. Membuatku semakin terbahak. Layar kemudian berganti dengan diputarnya video klip. Hah, gara2 lipsing!
Terhenti dari tawa yang mempermalukan band Radja, aku memindah channel tivi. Channel SCTV. Acaranya inbox. Yang sedang bernyanyi band tak terkenal yang aku tak tahu namanya, lipsing pula. Kali ini bukan lipsingnya yang bermasalah. Band ini tengah menyuguhkan lagu tentang ajakan dan hikmah berpuasa. Tema yang aji mumpung menyambut ramadhan yang akan tiba. Tapi bukan itu juga masalahnya. Tak apalah mencari rezeki lewat lagu, meski di telingaku syairnya terdengar tak mutu. Yang membuatku tersenyum bercampur grundelan adalah kostum yang dipakai si vokalis. Lagu bertema religi dinyanyikan oleh seorang perempuan yang mengenakan kostum serba hitam, celana pendek jauh diatas lutut dan kaos yang menunjukkan belahan dada. Sinkron kah? Aku jadi mikir, kok gak mikir ya si vokalis ini dia akan bawakan lagu apa, apakah nyambung gak ama kostum yang dia pakai. Kalo yang kulihat seh, pastinya gak mikir!
Ganti channel lagi. Transtv lagi. Radja Cilik lagi mau nyanyi.Itu tuh, anak2 si Moldy nya Radja yang umurnya paling masih sekitar 7-8 tahun. Lipsing lagi. Dan ini lebih parah. Lagu dan gerak bibirnya kagak sama blas. Ampyun deh! Antara wajar dan gak wajar, kalo aji mumpung mbok yo jangan kebangetan! Nunggu anak2nya gedean dikit kek!
Bener2 lipsing yang bikin pusyiiingg...
Subscribe to:
Posts (Atom)