Aku selalu tergelitik jika teringat komentar yang pernah mampir ketika pembaca tersebut membuka blogku. Begini katanya: "Dari sekian banyak blog lesbian yang aku kunjungi, SEPERTINYA cuma blogmu yang memajang foto si penulis blog, entah itu memang benar fotomu yang asli atau tidak!"
Dan itu selalu terngiang di telingaku. Bukan karena kegeeran dipuji-puji, tapi SEPERTINYA analisa si penikmat blog-blog lesbian itu benar adanya. Aku juga terkadang mampir ke blog-blog tetangga, dan memang sama sepertinya, aku tak pernah menemukan blog lesbian yang memajang foto si penulis blog.
Terlepas dari narsis atau tidaknya, barangkali bersamaan dengan momentum IDAHO kali ini, aku ingin menyerukan bahwa gerakan LGBTIQ, dalam hal ini lesbian khususnya, agar tak lagi menjadi gerakan bawah tanah saja! Aku juga bukan sok kepedean, mengingat aku pun belum coming out pada keluarga, namun jika upaya perjuangan teman-teman penulis atau pemilik blog lesbian ingin terdengar di alam semesta ini dan tak lagi hanya menggema layaknya suara-suara bawa tanah, maka seyogyianya hal tersebut dimulai dengan hal-hal kecil seperti open ID dari pemilik blog-blog lesbian yang aku rasa sudah menjamur dan tumbuh pesat di jagat alam maya ini.
Tentu saja, masing-masing punya pemikiran dan pertimbangan sendiri. Tulisanku hanya sekedar seruan, jika kita ingin memulai kemajuan, tak ada salahnya kita yang memulainya terlebih dahulu.
Wish all the best for this International Day Against Homophobia 2009!
Sunday, May 17, 2009
Thursday, May 14, 2009
COSMIC SOULMATE
Pernah ada yang menanyakan dan mungkin ada diantara para (ciee kayak yang ngunjungin blogku banyak gitu hehe narsis mode on) pembaca yang juga bertanya-tanya, kenapa sih blogmu kok diberi nama Cosmic Soulmate? Apakah artinya?
Jawabanku: Ndak tahu! Lho kok bisa ndak tau? Karena kalau dicari artinya di kamus atau ditanyain ama mr. Gugle juga susah untuk diejawantahkan (ceile bahasa apalagi itu?)
Tapi jawaban ndak tau itu tak lantas mengisyaratkan bahwa Cosmic Soulmate itu hanya sekedar judul-judulan, tentu saja tidak! Hanya, aku akan mencoba mendeskripsikan menurut translatorku sendiri -yang tak akan Anda dapatkan di toko-toko terdekat di kota Anda, tentunya hehe-
Cosmic Soulmate. Sejak awal aku begitu menyukai dua kata yang kugabungkan sendiri ini. Sepertinya enak saja untuk dilafalkan. Dan orang yang membaca mungkin tak ingin hanya sekedar pelafalan, tapi definisi. Ya, definisi Cosmic Soulmate, apa gerangan? Apakah aku terdengar berbelit-belit? Upps, semuanya langsung mengangguk dengan muka ditekuk, and upps... Ada yang mulai tak sabar ingin meng-klik tombol CLOSE di pojok kanan atas, tapi tunggu dulu...
Pengertian Cosmic Soulmate ala Alvi adalah; Cosmic sendiri kuartikan segala sesuatu yang maya/abstrak. Sedang Soulmate tentu saja belahan jiwa. Jadi, jika digabung Cosmic Soulmate dapat berarti Belahan Jiwa Di Dunia Maya/Abstrak.
Tapi bukan lantas diartikan sebagai belahan jiwa dapet dari hasil chatting atau YM an, abstrak disini adalah pengejahwantahan dari kondisi lesbian yang belum dapat diterima oleh masyarakat. Memiliki kekasih tapi tak dapat dimiliki. Sekaligus mungkin dijadikan pemacu bahwa suatu hari mungkin semua akan terdobrak hingga tak ada lagi halangan-halangan untuk memiliki kekasih seutuhnya.
Jawabanku: Ndak tahu! Lho kok bisa ndak tau? Karena kalau dicari artinya di kamus atau ditanyain ama mr. Gugle juga susah untuk diejawantahkan (ceile bahasa apalagi itu?)
Tapi jawaban ndak tau itu tak lantas mengisyaratkan bahwa Cosmic Soulmate itu hanya sekedar judul-judulan, tentu saja tidak! Hanya, aku akan mencoba mendeskripsikan menurut translatorku sendiri -yang tak akan Anda dapatkan di toko-toko terdekat di kota Anda, tentunya hehe-
Cosmic Soulmate. Sejak awal aku begitu menyukai dua kata yang kugabungkan sendiri ini. Sepertinya enak saja untuk dilafalkan. Dan orang yang membaca mungkin tak ingin hanya sekedar pelafalan, tapi definisi. Ya, definisi Cosmic Soulmate, apa gerangan? Apakah aku terdengar berbelit-belit? Upps, semuanya langsung mengangguk dengan muka ditekuk, and upps... Ada yang mulai tak sabar ingin meng-klik tombol CLOSE di pojok kanan atas, tapi tunggu dulu...
Pengertian Cosmic Soulmate ala Alvi adalah; Cosmic sendiri kuartikan segala sesuatu yang maya/abstrak. Sedang Soulmate tentu saja belahan jiwa. Jadi, jika digabung Cosmic Soulmate dapat berarti Belahan Jiwa Di Dunia Maya/Abstrak.
Tapi bukan lantas diartikan sebagai belahan jiwa dapet dari hasil chatting atau YM an, abstrak disini adalah pengejahwantahan dari kondisi lesbian yang belum dapat diterima oleh masyarakat. Memiliki kekasih tapi tak dapat dimiliki. Sekaligus mungkin dijadikan pemacu bahwa suatu hari mungkin semua akan terdobrak hingga tak ada lagi halangan-halangan untuk memiliki kekasih seutuhnya.
Tuesday, May 12, 2009
"Buyek..."
Ah, memulai menuliskannya saja aku sudah dibuat senyum-senyum sendiri. Eits, eits, jangan negatif thinking dulu, I'm not crazy yet! Hanya saja garis bibirku memang selalu mengembang ketika teringat bocah perempuan yang Juli nanti genap berusia dua tahun itu melafalkan kata "Buyek" sebagai panggilannya padaku.
Buyek, jikalau merunut arti kata dalam kamus bahasa bocah perempuan itu, maka arti Buyek adalah Bulek, atau Tante dalam bahasa kerennya. Memang tak ada yang istimewa, mengingat harus dimaklumi anak seusia demikian lumrah jika tak bisa mengucap L, lalu menggantinya dengan Y, hingga terbentuklah kata Buyek tersebut. Hanya saja, ketika bocah perempuan itu kutanya: "Ini siapa?" sembari menunjuk ke diriku sendiri, maka ia akan dengan seringaian khasnya menjawab: "Buyek...". Beda ketika ia mengucap "Ibu" pada kekasihku atau "Kakak" pada tiap orang lebih tua yang ia temui. Tapi mengucap kata "Buyek", selalu ia barengi dengan senyuman sambil malu-malu khas anak kecil.
Awalnya, aku tak setuju kamu menyuruhnya memanggilku Bulek. Ndak keren sama sekali tho? Kalau aku baca blog tetangga malah ada yang memanggil Tante Mami, terdengar lebih keren kan? Tapi lama kelamaan, panggilan Buyek lebih enak sampai di telingaku, apalagi jika selalu diiringi seringaian malu-malunya, sepertinya kata yang ia ucap bagus saja. Dan aku pun telah terbiasa. Dan biasanya, apa yang terbiasa anak kecil panggil/julukkan akan terbawa hingga ia dewasa nanti. Yang artinya, ia akan tetap memanggilku "Buyek", akan kah? Kita tunggu saja kelak!
NB: Karena panggilan Buyek ini aku jadi terinspirasi sebuah ide cerita. Thanks my cute daughter!
Buyek, jikalau merunut arti kata dalam kamus bahasa bocah perempuan itu, maka arti Buyek adalah Bulek, atau Tante dalam bahasa kerennya. Memang tak ada yang istimewa, mengingat harus dimaklumi anak seusia demikian lumrah jika tak bisa mengucap L, lalu menggantinya dengan Y, hingga terbentuklah kata Buyek tersebut. Hanya saja, ketika bocah perempuan itu kutanya: "Ini siapa?" sembari menunjuk ke diriku sendiri, maka ia akan dengan seringaian khasnya menjawab: "Buyek...". Beda ketika ia mengucap "Ibu" pada kekasihku atau "Kakak" pada tiap orang lebih tua yang ia temui. Tapi mengucap kata "Buyek", selalu ia barengi dengan senyuman sambil malu-malu khas anak kecil.
Awalnya, aku tak setuju kamu menyuruhnya memanggilku Bulek. Ndak keren sama sekali tho? Kalau aku baca blog tetangga malah ada yang memanggil Tante Mami, terdengar lebih keren kan? Tapi lama kelamaan, panggilan Buyek lebih enak sampai di telingaku, apalagi jika selalu diiringi seringaian malu-malunya, sepertinya kata yang ia ucap bagus saja. Dan aku pun telah terbiasa. Dan biasanya, apa yang terbiasa anak kecil panggil/julukkan akan terbawa hingga ia dewasa nanti. Yang artinya, ia akan tetap memanggilku "Buyek", akan kah? Kita tunggu saja kelak!
NB: Karena panggilan Buyek ini aku jadi terinspirasi sebuah ide cerita. Thanks my cute daughter!
Sunday, May 10, 2009
GUNUNG KIDUL: Again?!?
Perjalanan ketiga ini sebenarnya sudah seminggu yang lalu terjadinya (10/05/09). Karena beberapa kesibukan dan faktor sok sibuk-menyibuk (biarin deh meski out of Mr. EYD!) baru hari ini sempat kutuliskan.
Menuju Gunung Kidul dengan mengambil rute yang sama, kami tiba setelah naik motor selama satu setengah jam. Kebetulan dusun yang kami tuju sekarang lebih jauh ketimbang dusun yang kami kunjungi sebulan lalu. Dan parahnya, tidak ada yang pernah menjangkau dusun ini sebelumnya, alias tidak ada yang tahu pasti dimana tempat berlangsungnya sosialisasi sekolah PRT ini dan tidak ada yang tahu jalan. Jadi, sepanjang perjalanan nanya-nanya ke beberapa orang dan mungkin mengandalkan insting atau tepatnya asal tebak jalan ketika bertemu belokan dan langsung berinisiatif nanya orang jika insting tak lagi berjalan.
Akibatnya, sosialisasi yang dijanjikan pukul sebelas di dusun Ngande-Ande molor hingga hampir sejam setelah akhirnya beruntung menemukan tempatnya. Dan itu pun secara tak disengaja pula. Ketika kami menyusuri jalan setapak dan melihat masyarakat tengah berkumpul, kami langsung turun dan bertanya. Dan kebetulan tempat tersebut adalah tempat yang dimaksud dan masyarakat sudah menantikan kedatangan kami.
Lukman, dari divisi sekolah, membuka sosialisasi. Peserta yang terbagi mbah-mbah, ibu-ibu dan remaja putri memperhatikan dengan seksama. Entah karena menyimak informasi atau karena si mbah-mbah nya ndak ngerti penjelasan Lukman yang memakai bahasa Indonesia itu. Maklum, aku dan dia ndak ada yang bisa bahasa Jawa alus, sedangkan sedari tadi kami dengar pak dukuh bicara menggunakan bahasa Jawa halus ala perwayangan kepada warganya. Oleh karenanya, pak dukuh yang sekaligus menjadi moderator acara harus mengulang informasi dengan bahasa Jawa.
Tak berapa lama, tim RTND yang bermukim di Gunung Kidul datang bersama Diony, seorang kawan dari LSPPA (Lembaga Studi Perlindungan Perempuan dan Anak). Penyampaian sosialisasi sedikit terbantu dengan hadirnya kedua teman yang fasih berbahasa Jawa halus.
Usai menunggu hujan reda, sosialisasi kemudian dilanjutkan di dusun Wuluh, masih di sekitar Dusun Ngande-Ande yang masuk dalam wilayah desa Tepus. Peserta berjumlah lebih sedikit dan keantusiasan peserta juga lebih kecil dari dusun sebelumnya. Mungkin dikarenakan perempuan usia produktif yang menjadi sasaran sosialisasi sekolah PRT di dusun ini mayoritas tengah hamil. Hujan kembali melanda, membuat kami tertahan sebentar dan beramah-tamah dengan warga.
Mentari telah menuai tiga perempat perjalanannya ketika kami merampungkan tugas. Diony menggagas makan siang yang kesorean di pantai Siung. Kami setuju. Tak terlalu jauh dari dusun Wuluh dan pantainya... Sangat indah! Mungkin aku yang terlalu ndeso tak pernah melihat pantai seindah ini sebelumnya, tapi kurasa tak apalah kalau aku memang ndeso karena pantai Siung adalah pantai pertama yang kukunjungi dan kukategorikan terindah untuk saat ini.
Bagaimana tidak bagus, di kanan pantai ada bukit-bukit kecil yang berjajar, sedang di kiri laut sebuah tebing yang kata Diony biasa digunakan untuk terjun payung/paralayang dan sejenisnya. Hanya sayang, sepi pengunjung!
Dan sayang juga, ketika sampai disana batre hape-ku melemah. Tak bisa dipakai motret. Tapi tak kehabisan ide, pinjem hape Diony. Ya, namanya juga minjem, gak enak juga pake lama-lama, apalagi baru kenal, jadi gak bisa gaya-gaya macem-macem gitu deh! Hehehe narsis mode on teruz...
Lukman dan Diony telah jauh menyusuri pantai sampai ke tengah, ketika aku beranjak dari pasir putih untuk kemudian agak kesulitan melangkah diatas karang-karang kecil yang terkadang seperti menusuk-nusuk kakiku. Wong ndeso tenan hahaha! Akhirnya sampai juga ke tengah. Ombak pantai berangsur datang, menghembuskan getar airnya menyentuh celana yang sudah kutekuk sampai dengkul. Kami memutuskan kembali ke darat, sambil tetap menajamkan mata mencari keong. Hehe kebiasaan ketika mengunjungi Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo kota kelahiranku dulu adalah selalu menyempatkan mencari keong untuk dibawa pulang.
Tapi tak seperti di Probolinggo, disini lumayan susah juga menemukan rumah keong bersama makhluk didalamnya. Karena yang ada hanya rumah-rumah keongnya saja. Di kubangan air bekas hempasan ombak, aku menemukan ikan-ikan kecil warna-warni. Juga landak laut yang asyik menghuni lubang-lubang di karang. Dan hamparan hijau, rumput laut kah namanya? I dont know hehe!
Begitu datang, makanan siap disajikan. Ikan goreng plus sambal mentah dan sayur. Lapar bercampur doyan, lauk yang terhidang seketika habis dan nambah! Gunung Kidul selalu menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan! Dan katanya, masih banyak pantai lain bertebaran di daerah ini. Hmm... Semoga saja ada kesempatan bertandang kesana, meski aku tak begitu suka gunung, tak begitu suka pantai, singkatnya tak berjiwa petualang, tapi aku hanya suka menikmati keindahanNYA!
Menuju Gunung Kidul dengan mengambil rute yang sama, kami tiba setelah naik motor selama satu setengah jam. Kebetulan dusun yang kami tuju sekarang lebih jauh ketimbang dusun yang kami kunjungi sebulan lalu. Dan parahnya, tidak ada yang pernah menjangkau dusun ini sebelumnya, alias tidak ada yang tahu pasti dimana tempat berlangsungnya sosialisasi sekolah PRT ini dan tidak ada yang tahu jalan. Jadi, sepanjang perjalanan nanya-nanya ke beberapa orang dan mungkin mengandalkan insting atau tepatnya asal tebak jalan ketika bertemu belokan dan langsung berinisiatif nanya orang jika insting tak lagi berjalan.
Akibatnya, sosialisasi yang dijanjikan pukul sebelas di dusun Ngande-Ande molor hingga hampir sejam setelah akhirnya beruntung menemukan tempatnya. Dan itu pun secara tak disengaja pula. Ketika kami menyusuri jalan setapak dan melihat masyarakat tengah berkumpul, kami langsung turun dan bertanya. Dan kebetulan tempat tersebut adalah tempat yang dimaksud dan masyarakat sudah menantikan kedatangan kami.
Lukman, dari divisi sekolah, membuka sosialisasi. Peserta yang terbagi mbah-mbah, ibu-ibu dan remaja putri memperhatikan dengan seksama. Entah karena menyimak informasi atau karena si mbah-mbah nya ndak ngerti penjelasan Lukman yang memakai bahasa Indonesia itu. Maklum, aku dan dia ndak ada yang bisa bahasa Jawa alus, sedangkan sedari tadi kami dengar pak dukuh bicara menggunakan bahasa Jawa halus ala perwayangan kepada warganya. Oleh karenanya, pak dukuh yang sekaligus menjadi moderator acara harus mengulang informasi dengan bahasa Jawa.
Tak berapa lama, tim RTND yang bermukim di Gunung Kidul datang bersama Diony, seorang kawan dari LSPPA (Lembaga Studi Perlindungan Perempuan dan Anak). Penyampaian sosialisasi sedikit terbantu dengan hadirnya kedua teman yang fasih berbahasa Jawa halus.
Usai menunggu hujan reda, sosialisasi kemudian dilanjutkan di dusun Wuluh, masih di sekitar Dusun Ngande-Ande yang masuk dalam wilayah desa Tepus. Peserta berjumlah lebih sedikit dan keantusiasan peserta juga lebih kecil dari dusun sebelumnya. Mungkin dikarenakan perempuan usia produktif yang menjadi sasaran sosialisasi sekolah PRT di dusun ini mayoritas tengah hamil. Hujan kembali melanda, membuat kami tertahan sebentar dan beramah-tamah dengan warga.
Mentari telah menuai tiga perempat perjalanannya ketika kami merampungkan tugas. Diony menggagas makan siang yang kesorean di pantai Siung. Kami setuju. Tak terlalu jauh dari dusun Wuluh dan pantainya... Sangat indah! Mungkin aku yang terlalu ndeso tak pernah melihat pantai seindah ini sebelumnya, tapi kurasa tak apalah kalau aku memang ndeso karena pantai Siung adalah pantai pertama yang kukunjungi dan kukategorikan terindah untuk saat ini.
Bagaimana tidak bagus, di kanan pantai ada bukit-bukit kecil yang berjajar, sedang di kiri laut sebuah tebing yang kata Diony biasa digunakan untuk terjun payung/paralayang dan sejenisnya. Hanya sayang, sepi pengunjung!
Dan sayang juga, ketika sampai disana batre hape-ku melemah. Tak bisa dipakai motret. Tapi tak kehabisan ide, pinjem hape Diony. Ya, namanya juga minjem, gak enak juga pake lama-lama, apalagi baru kenal, jadi gak bisa gaya-gaya macem-macem gitu deh! Hehehe narsis mode on teruz...
Lukman dan Diony telah jauh menyusuri pantai sampai ke tengah, ketika aku beranjak dari pasir putih untuk kemudian agak kesulitan melangkah diatas karang-karang kecil yang terkadang seperti menusuk-nusuk kakiku. Wong ndeso tenan hahaha! Akhirnya sampai juga ke tengah. Ombak pantai berangsur datang, menghembuskan getar airnya menyentuh celana yang sudah kutekuk sampai dengkul. Kami memutuskan kembali ke darat, sambil tetap menajamkan mata mencari keong. Hehe kebiasaan ketika mengunjungi Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo kota kelahiranku dulu adalah selalu menyempatkan mencari keong untuk dibawa pulang.
Tapi tak seperti di Probolinggo, disini lumayan susah juga menemukan rumah keong bersama makhluk didalamnya. Karena yang ada hanya rumah-rumah keongnya saja. Di kubangan air bekas hempasan ombak, aku menemukan ikan-ikan kecil warna-warni. Juga landak laut yang asyik menghuni lubang-lubang di karang. Dan hamparan hijau, rumput laut kah namanya? I dont know hehe!
Begitu datang, makanan siap disajikan. Ikan goreng plus sambal mentah dan sayur. Lapar bercampur doyan, lauk yang terhidang seketika habis dan nambah! Gunung Kidul selalu menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan! Dan katanya, masih banyak pantai lain bertebaran di daerah ini. Hmm... Semoga saja ada kesempatan bertandang kesana, meski aku tak begitu suka gunung, tak begitu suka pantai, singkatnya tak berjiwa petualang, tapi aku hanya suka menikmati keindahanNYA!
Thursday, April 23, 2009
M A A F
Panas mentari menyengat kulit ketika kakiku menginjak jalanan beraspal kawasan Malioboro. Kuseret langkahku menuju bangku di belakang halte bus trans Jogja. Tak lama sebuah bus merapat. Kulihat kau dan bocah satu setengah tahun itu diantara para penumpang yang turun. Aku bangkit, menunggu di bibir pintu keluar. Aku tahu kau pura-pura tak melihatku, tapi tahukah kamu,... Meski sikap dan tuturmu bertolak belakang dengan hatimu, aku sangat yakin kau merinduku.
Secarik kata maaf, agar tetap bisa mengenalmu. Kurasa bukan. Maaf itu dari hati. Karena ada niatan untuk menyadari bahwa kekasih adalah makhluk tak sempurna, dan dimaklumi. Namun khilaf tentu tak boleh tiap hari apalagi berulang kali.
Jangan saling menyakiti jikalau masih saling mencintai. Jikalau masih ada kuncup-kuncup hati yang akan mengembang dan akan terus mengembang. Dahan layu berganti dahan baru. Proses yang semestinya.
So, would u forgive as I already forgive u?
Secarik kata maaf, agar tetap bisa mengenalmu. Kurasa bukan. Maaf itu dari hati. Karena ada niatan untuk menyadari bahwa kekasih adalah makhluk tak sempurna, dan dimaklumi. Namun khilaf tentu tak boleh tiap hari apalagi berulang kali.
Jangan saling menyakiti jikalau masih saling mencintai. Jikalau masih ada kuncup-kuncup hati yang akan mengembang dan akan terus mengembang. Dahan layu berganti dahan baru. Proses yang semestinya.
So, would u forgive as I already forgive u?
Monday, April 20, 2009
KEKERASAN BERBASIS GENDER
Apa sih KEKERASAN BERBASIS GENDER (KBG) itu?
Kekerasan berbasis gender. Tiga kata yang akhir-akhir ini kerap didengungkan dalam media massa maupun oleh gerakan perempuan dalam lembaga swadaya masyarakat. Orang awam mungkin akan mengerutkan dahi jikalau mengeja judul diatas. Padahal dalam kenyataannya, contoh-contoh KBG begitu dekat malah kian hari sepertinya kian menjadi topik hangat di masyarakat oleh karena jumlahnya yang terus meningkat seiring waktu.
Orang mungkin akan lebih familiar jika mendengar istilah kekerasan dalam rumah tangga, perkosaan, pelacuran, pornografi, pelecehan seksual, diskriminasi terhadap homoseksual, PRT dan kaum-kaum marginal dan minoritas lainnya, yang merupakan sebagian dari contoh jargon Kekerasan Berbasis Gender.
Mengapa menggunakan istilah KEKERASAN BERBASIS GENDER?
Penggunaan istilah KBG atau Gender Based Violence (GBV) ini dimaksudkan untuk menggambarkan sifat alami kekerasan dan memberikan kesan bahwa untuk menunjukkan kekerasan perlu merujuk persoalan gender yang menyebabkan dan mendukung terjadinya kekerasan.
KBG sendiri seringkali disebut juga sebagai kekerasan terhadap perempuan. Karena pada kebanyakan kasus, KBG dititikberatkan pada obyek perempuan sebagai korban akibat dari ketidakseimbangan posisi tawar atau kekuasaan perempuan jika dibandingkan kaum lelaki serta konstruksi peran yang telah mendarah daging pada budaya kita yang masih patriarkal yang meletakkan perempuan pada posisi lebih rendah dan hina.
Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, cakupan KBG juga sangat luas, diantaranya eksploitasi seksual, pengabaian hak-hak reproduksi perempuan, traffiking, penularan HIV/AIDS terhadap istri, sunat perempuan dan sebagainya juga dikategorikan KBG.
Dan meski menggarisbawahi judul diatas sebagai sebuah bentuk KEKERASAN yang artinya sesuatu yang berhubungan dengan fisik, KBG tak selalu identik demikian. KBG dapat bersifat tersamar dan simbolik seperti eksploitasi media dan pornografi, namun juga konkrit dan nyata seperti perkosaan dan pelecehan seksual. Intimidasi terhadap istri, ejekan, makian, sindiran dll terhadap kaum homoseksual juga termasuk jenis KBG.
Contoh konkritnya demikian, ketika seorang istri tak diperbolehkan bekerja oleh suami, namun dalam keseharian, suami kerap meremehkan posisi istri. Disini pihak perempuan sudah bisa dikatakan mengalami KBG, meski secara fisik tak terluka. Belum lagi jika memang terjadi kekerasan dalam rumah tangga.
Ditinjau dari perspektif hukum, pemerintah telah berupaya melindungi kaum perempuan dengan diratifikasinya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination for All Form of Discrimination Against Women) melalui UU Nomor 7 tahun 1984 yang menyatakan: “Kekerasan berbasis gender adalah suatu bentuk diskriminasi yang merupakan hambatan serius bagi kemampuan perempuan untuk menikmati hak-hak dan kebebasannya atas dasar persamaan hak dengan laki-laki. Rekomendasi Umum ini juga secara resmi memperluas larangan atas diskriminasi berdasarkan gender dan merumuskan tindak kekerasan berbasis jender sebagai: tindak kekerasan yang secara langsung ditujukan kepada perempuan karena ia berjenis kelamin permpuan, atau mempengaruhi perempuan secara proposional. Termasuk di dalamnya tindakan yang mengakibatkan kerugian atau penderataan fisik, mental dan seksual, ancaman untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut, pemaksaan dan bentuk-bentuk perampasan hak kebebasan lainnya“.
KDRT adalah jenis KBG yg mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahun, meski pemerintah telah menerbitkan UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sebagai pergeseran dari KDRT sebagai masalah hukum privat ke hukum publik, namun dalam realisasinya terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, meski jelas-jelas KDRT merupakan pelanggaran HAM, kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus. Hal ini dikarenakan belum efektif atau kurangnya sosialisasi UU tersebut kepada tiap elemen masyarakat, bukan hanya kepada perempuan. Efek yang terjadi akibat ketimpangan gender adalah melorotnya kualitas hidup perempuan.
Di masa sekarang ini, KBG sudah terjadi pada semua lini kehidupan, tak hanya dalam rumah tangga, tetapi juga di masyarakat, termasuk yang ada kaitannya dengan pengelolaan SDA demi memenuhi kebutuhan pangan karena KBG sangat melekat pada konteks hubungan kultural, sosio ekonomi dan kekuasaan politik.
Di kancah politik, KBG juga makin santer terdengar. Banyak caleg perempuan yang diintimidasi internal partai untuk menurut pada aturan partai yang kerap adalah akal-akalan laki-laki belaka. Belum lagi akal-akalan lain, misalnya mengkoar-koarkan tentang kesetaraan gender dalam penempatan perempuan di parlemen, toh buktinya secara kasat mata jelas nampak buktinya bahwa perempuan masih saja dijadikan pemanis dalam kancah perpolitikan karena kesetaraan yang mereka -laki-laki- gaungkan hanya sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya.
Perempuan hanya dijadikan sebagai alat untuk menarik dukungan. Hal tersebut terlihat dengan melimpahnya caleg perempuan yang dilamar, baik partai besar maupun partai burem. Namun tetap saja kiprah perempuan di parlemen terganjal, apalagi dengan adanya revisi terbatas UU No 10 tahun 2008 tentang PEMILU anggota DPR, DPD, dan DPRD yang merugikan perempuan, meski usulan revisi tersebut dianggap tidak kompatibel dengan pasal-pasal lain dalam Pemilu.
Dewasa ini solidaritas perempuan terhadap masalah KBG cenderung meningkat, baik dari sisi kelembagaan maupun praktisnya. Ini menunjukkan kesadaran perempuan untuk membela hak-hak sesamanya juga semakin meningkat, namun sekali lagi, KBG bukan hanya pekerjaan rumah bagi perempuan, di masa mendatang, baik pemerintah dan non pemerintah diharapkan dapat bersama-sama menggarap pekerjaan rumah ini untuk menekan kekerasan berbasis gender dan mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan gender.
Kekerasan berbasis gender. Tiga kata yang akhir-akhir ini kerap didengungkan dalam media massa maupun oleh gerakan perempuan dalam lembaga swadaya masyarakat. Orang awam mungkin akan mengerutkan dahi jikalau mengeja judul diatas. Padahal dalam kenyataannya, contoh-contoh KBG begitu dekat malah kian hari sepertinya kian menjadi topik hangat di masyarakat oleh karena jumlahnya yang terus meningkat seiring waktu.
Orang mungkin akan lebih familiar jika mendengar istilah kekerasan dalam rumah tangga, perkosaan, pelacuran, pornografi, pelecehan seksual, diskriminasi terhadap homoseksual, PRT dan kaum-kaum marginal dan minoritas lainnya, yang merupakan sebagian dari contoh jargon Kekerasan Berbasis Gender.
Mengapa menggunakan istilah KEKERASAN BERBASIS GENDER?
Penggunaan istilah KBG atau Gender Based Violence (GBV) ini dimaksudkan untuk menggambarkan sifat alami kekerasan dan memberikan kesan bahwa untuk menunjukkan kekerasan perlu merujuk persoalan gender yang menyebabkan dan mendukung terjadinya kekerasan.
KBG sendiri seringkali disebut juga sebagai kekerasan terhadap perempuan. Karena pada kebanyakan kasus, KBG dititikberatkan pada obyek perempuan sebagai korban akibat dari ketidakseimbangan posisi tawar atau kekuasaan perempuan jika dibandingkan kaum lelaki serta konstruksi peran yang telah mendarah daging pada budaya kita yang masih patriarkal yang meletakkan perempuan pada posisi lebih rendah dan hina.
Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, cakupan KBG juga sangat luas, diantaranya eksploitasi seksual, pengabaian hak-hak reproduksi perempuan, traffiking, penularan HIV/AIDS terhadap istri, sunat perempuan dan sebagainya juga dikategorikan KBG.
Dan meski menggarisbawahi judul diatas sebagai sebuah bentuk KEKERASAN yang artinya sesuatu yang berhubungan dengan fisik, KBG tak selalu identik demikian. KBG dapat bersifat tersamar dan simbolik seperti eksploitasi media dan pornografi, namun juga konkrit dan nyata seperti perkosaan dan pelecehan seksual. Intimidasi terhadap istri, ejekan, makian, sindiran dll terhadap kaum homoseksual juga termasuk jenis KBG.
Contoh konkritnya demikian, ketika seorang istri tak diperbolehkan bekerja oleh suami, namun dalam keseharian, suami kerap meremehkan posisi istri. Disini pihak perempuan sudah bisa dikatakan mengalami KBG, meski secara fisik tak terluka. Belum lagi jika memang terjadi kekerasan dalam rumah tangga.
Ditinjau dari perspektif hukum, pemerintah telah berupaya melindungi kaum perempuan dengan diratifikasinya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination for All Form of Discrimination Against Women) melalui UU Nomor 7 tahun 1984 yang menyatakan: “Kekerasan berbasis gender adalah suatu bentuk diskriminasi yang merupakan hambatan serius bagi kemampuan perempuan untuk menikmati hak-hak dan kebebasannya atas dasar persamaan hak dengan laki-laki. Rekomendasi Umum ini juga secara resmi memperluas larangan atas diskriminasi berdasarkan gender dan merumuskan tindak kekerasan berbasis jender sebagai: tindak kekerasan yang secara langsung ditujukan kepada perempuan karena ia berjenis kelamin permpuan, atau mempengaruhi perempuan secara proposional. Termasuk di dalamnya tindakan yang mengakibatkan kerugian atau penderataan fisik, mental dan seksual, ancaman untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut, pemaksaan dan bentuk-bentuk perampasan hak kebebasan lainnya“.
KDRT adalah jenis KBG yg mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahun, meski pemerintah telah menerbitkan UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sebagai pergeseran dari KDRT sebagai masalah hukum privat ke hukum publik, namun dalam realisasinya terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, meski jelas-jelas KDRT merupakan pelanggaran HAM, kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus. Hal ini dikarenakan belum efektif atau kurangnya sosialisasi UU tersebut kepada tiap elemen masyarakat, bukan hanya kepada perempuan. Efek yang terjadi akibat ketimpangan gender adalah melorotnya kualitas hidup perempuan.
Di masa sekarang ini, KBG sudah terjadi pada semua lini kehidupan, tak hanya dalam rumah tangga, tetapi juga di masyarakat, termasuk yang ada kaitannya dengan pengelolaan SDA demi memenuhi kebutuhan pangan karena KBG sangat melekat pada konteks hubungan kultural, sosio ekonomi dan kekuasaan politik.
Di kancah politik, KBG juga makin santer terdengar. Banyak caleg perempuan yang diintimidasi internal partai untuk menurut pada aturan partai yang kerap adalah akal-akalan laki-laki belaka. Belum lagi akal-akalan lain, misalnya mengkoar-koarkan tentang kesetaraan gender dalam penempatan perempuan di parlemen, toh buktinya secara kasat mata jelas nampak buktinya bahwa perempuan masih saja dijadikan pemanis dalam kancah perpolitikan karena kesetaraan yang mereka -laki-laki- gaungkan hanya sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya.
Perempuan hanya dijadikan sebagai alat untuk menarik dukungan. Hal tersebut terlihat dengan melimpahnya caleg perempuan yang dilamar, baik partai besar maupun partai burem. Namun tetap saja kiprah perempuan di parlemen terganjal, apalagi dengan adanya revisi terbatas UU No 10 tahun 2008 tentang PEMILU anggota DPR, DPD, dan DPRD yang merugikan perempuan, meski usulan revisi tersebut dianggap tidak kompatibel dengan pasal-pasal lain dalam Pemilu.
Dewasa ini solidaritas perempuan terhadap masalah KBG cenderung meningkat, baik dari sisi kelembagaan maupun praktisnya. Ini menunjukkan kesadaran perempuan untuk membela hak-hak sesamanya juga semakin meningkat, namun sekali lagi, KBG bukan hanya pekerjaan rumah bagi perempuan, di masa mendatang, baik pemerintah dan non pemerintah diharapkan dapat bersama-sama menggarap pekerjaan rumah ini untuk menekan kekerasan berbasis gender dan mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan gender.
Monday, April 13, 2009
SOERABAJA: On Last Minutes!

Senin minggu lalu, aku masih ikut rapat teman-teman yang akan mengantar PRT korban kekerasan dan trafiking kembali ke tanah kelahirannya di Ende - Flores. Kuperhatikan wajah-wajah yang akan berangkat kesana seperti membawa beban berat alias nge-blank. I dont know why! Satu demi satu rencana, budgeting, dan alasan-alasan dikemukakan hingga mencapai kata sepakat. Tetap, dua teman, satu dari divisi advokasi dan satunya divisi sekolah, menampakkan raut wajah tak terprediksi. Senang atau sedih kah?
Malamnya, aku ngebut bikin draft skenario. Kebetulan kisah tragis PRT korban trafiking oleh tetangganya sendiri plus ketidakadilan dua majikan yang tak pernah memberi sepeser gaji ini akan difilmkan. Saking ngebutnya, draft sekitar 20 halaman tepat selesai jam 24 lebih beberapa menit.
Esoknya, ketika pulang habis mbojo[baca:ketemu GF], aku mampir ke Gramed. Ponselku berdering. Dari nomor kantor LSM tempatku bernaung. Ada apa? Pikirku sembari menebak-nebak.
"Halo," ucapku agak ragu.
"Alvi, kamu lagi dimana? Ke kantor sekarang bisa nggak? Darurat nih!" ujar teman dari divisi advokasi. Kudengar tawa cekikikan beberapa perempuan di background suara dibelakangnya.
"Emangnya ada apa?"
"Kami tadi rapat, dan divisi advokasi memutuskan bahwa kamulah yang ditunjuk untuk mendampingi korban sampai Surabaya!" jelasnya kian membuatku bingung.
Aku tak ikut rapat, namun kenapa mereka menugasiku? Kedengarannya kan aneh! Lagian, aku masih belum seberapa percaya, tawa cekikikan itu mengaburkan keyakinanku. Tapi kalau ia sedang bercanda, ia tak mungkin memakai fasilitas kantor.
"Kamu nggak sedang becanda, kan?"
"Ini serius! Jadi, kamu bisa kesini nggak, secepatnya!" Sedetik kemudian ia berubah pikiran. "Kamu dimana, kami jemput!"
Singkat cerita, aku udah di kantor diberi pengarahan oleh koordinator divisi advokasi dan jadilah aku yang mendampingi korban hanya sampai Surabaya, kemudian ia akan menempuh perjalanan lewat udara.
Jadilah hari itu aku mesti ikut ribet beli tiket plus ketemu korban, sampai-sampai aku kepikiran, sepeda gunungku aku titipkan di shelter busway tak jauh dari kos ku ketika aku mengantar pulang partnerku tadi siang. Dan satu hal, seperti dua temanku kemarin-kemarin, gantian aku yang nge-blank! Hari Selasa ini bergulir seperti mimpi saja!
Rabu malam aku dan korban berangkat naik travel ke Surabaya. Subuh kami sudah celingukan di bandara Juanda. Matahari masih mengintip di ufuk timur sana. Penerbangannya pukul setengah sepuluh. Jadilah, kami kayak pengungsi, mana ia bawa tas segede bagong dan satu kardus yang lupa di lakban, hanya ditutup sekenanya, mana isinya piring kaca. Waduh, cepek deh!
Menengok ke kanan ke kiri mulai dari senyap hingga riuh rendah di bandara, tiba-tiba ada seorang lelaki tinggi besar mendekati korban ketika aku hendak menyewa troli. Sedari tadi lelaki itu kulihat mencurigakan. Ia duduk di dekat kami. Mencuri-curi pandang bergantian aku lalu si korban.
Naluri premanku muncul, meski jujur ini baru pertama kali aku menginjakkan kaki di Surabaya, dan jujur juga, meski dulu di Jakarta tempat kerjaku tak jauh dari bandara, aku tak pernah tahu prosedur di bandara. Hehehe wong ndeso tenan! Lha iya memang, tapi prinsipku satu, meski aku tak tahu, di tempat asing, aku harus tetap pasang wajah pura-pura tahu. Maklum juga, Juanda dan terminal Bungur identik dengan maling. Dan bagiku, siapapun orang asing yang mendekat, apalagi dengan cara pandang mencurigakan, harus kuwaspadai. Makanya ketika lelaki itu mendekati si korban yang seorang diri aku langsung memutar langkahku kembali. Ia terlihat canggung, lalu mencoba memulai obrolan. Aku menanggapi dingin. Tapi si korban kupikir terlalu ramah padanya.
Lelaki itu orang Timor Leste. Ia kuliah S2 di Salatiga. Ia naik pesawat sama seperti korban, transit di Kupang. Bedanya, lelaki itu menempuh jalan darat setelahnya, sedangkan korban melanjutkan dengan pesawat lain ke Ende. Otakku mulai berjalan. Meski tetap waspada dengan mengkomando si korban untuk tak terlalu banyak bicara pada lelaki itu, aku memintanya membantu si korban membereskan prosedur penerbangan ketika transit di Kupang nanti. Ia pun setuju. Entahlah, pada orang asing, terutama lelaki, aku membentengi kewaspadaanku hingga tujuh lapis.
Setelah menyelesaikan satu persatu prosedur di bandara dan melepas korban di ruang tunggu, aku menghirup udara Surabaya. Kota yang hanya pernah kulewati tanpa kupijak. Hanya dulu sekali, itupun ketika aku masih sangat belia.
Dan kupikir Jogja adalah satu-satunya kota yang tak kusukai, tapi ternyata aku lebih tak menyukai Surabaya. Sinar mentari begitu menyengat. Jalanan kota yang terkesan kumuh. Ah, sekilas menurutku lebih parah daripada jogja yang terlihat lebih bersih.
Aku menginap di rumah saudara jauhku. Ketika pulang dari reservasi tiket kereta untukku besok, ia membawaku melewati Gang DOLLY, yang katanya tempat prostitusi terbesar di Asia. Pendapatku, biasa aja! Malah kupikir lebih heboh yang di Tangerang. Sama-sama berlokasi di perumahan penduduk tapi disini aku masih mendengar suara Adzan dan jarang ada dentang house music, tak seperti di Tangerang dimana tiap rumah yang berhadap-hadapan saling adu setel musik kencang-kencang meski tak ada pelanggan. Dan disana suasana pun dibuat remang-remang.
"Ini masih jam berapa, jadi belum dimulai!" dalih sepupu jauhku.
Yah, aku nggak tau lagi. Yang penting aku telah tahu GANG DOLLY yang "legendaris" itu.
Oh ya, hampir saja lupa, ketika reservasi tiket dan ternyata sedang ada troble, sepupu jauhku mengajakku ke lantai paling atas di Delta Plaza. Ia menyeretku naik komidi putar yang berputar secara vertikal. Awalnya biasa saja, namun ketika mulai berputar, aku merasa separuh nyawaku terbang. Aku ketakutan. Menutup mataku rapat-rapat. Ternyata aku fobia ketinggian atau mungkin efek terkejut, whatever! Ketika beberapa kali putaran aku mulai memberanikan membuka mata.
Dan akhirnya aku menikmati, meski dengan kedua tangan memegang erat-erat ujung besi. Hahahaha tetap aja, intinya takyut!! Dan perempuan berhidung mancung di hadapanku begitu menikmati wajahku yang memucat. Ia mengarahkan lensa video hapeku tepat ke mukaku, tapi untungnya -karena tak tahu cara mengoperasikan hapeku- ia lupa menekan tombol RECORD ketika akan mengambil gambar mukaku tadi. Hah, untunglah aku tak jadi ditertawakan olehnya!
Surabaya is my second trip, juga salah satu pengalaman menarik buatku. Hmm... Kemana lagi ya tugas ketigaku? I'll be wait 4 that:)
Subscribe to:
Posts (Atom)