Sunday, May 10, 2009

GUNUNG KIDUL: Again?!?

Perjalanan ketiga ini sebenarnya sudah seminggu yang lalu terjadinya (10/05/09). Karena beberapa kesibukan dan faktor sok sibuk-menyibuk (biarin deh meski out of Mr. EYD!) baru hari ini sempat kutuliskan.

Menuju Gunung Kidul dengan mengambil rute yang sama, kami tiba setelah naik motor selama satu setengah jam. Kebetulan dusun yang kami tuju sekarang lebih jauh ketimbang dusun yang kami kunjungi sebulan lalu. Dan parahnya, tidak ada yang pernah menjangkau dusun ini sebelumnya, alias tidak ada yang tahu pasti dimana tempat berlangsungnya sosialisasi sekolah PRT ini dan tidak ada yang tahu jalan. Jadi, sepanjang perjalanan nanya-nanya ke beberapa orang dan mungkin mengandalkan insting atau tepatnya asal tebak jalan ketika bertemu belokan dan langsung berinisiatif nanya orang jika insting tak lagi berjalan.

Akibatnya, sosialisasi yang dijanjikan pukul sebelas di dusun Ngande-Ande molor hingga hampir sejam setelah akhirnya beruntung menemukan tempatnya. Dan itu pun secara tak disengaja pula. Ketika kami menyusuri jalan setapak dan melihat masyarakat tengah berkumpul, kami langsung turun dan bertanya. Dan kebetulan tempat tersebut adalah tempat yang dimaksud dan masyarakat sudah menantikan kedatangan kami.

Lukman, dari divisi sekolah, membuka sosialisasi. Peserta yang terbagi mbah-mbah, ibu-ibu dan remaja putri memperhatikan dengan seksama. Entah karena menyimak informasi atau karena si mbah-mbah nya ndak ngerti penjelasan Lukman yang memakai bahasa Indonesia itu. Maklum, aku dan dia ndak ada yang bisa bahasa Jawa alus, sedangkan sedari tadi kami dengar pak dukuh bicara menggunakan bahasa Jawa halus ala perwayangan kepada warganya. Oleh karenanya, pak dukuh yang sekaligus menjadi moderator acara harus mengulang informasi dengan bahasa Jawa.

Tak berapa lama, tim RTND yang bermukim di Gunung Kidul datang bersama Diony, seorang kawan dari LSPPA (Lembaga Studi Perlindungan Perempuan dan Anak). Penyampaian sosialisasi sedikit terbantu dengan hadirnya kedua teman yang fasih berbahasa Jawa halus.

Usai menunggu hujan reda, sosialisasi kemudian dilanjutkan di dusun Wuluh, masih di sekitar Dusun Ngande-Ande yang masuk dalam wilayah desa Tepus. Peserta berjumlah lebih sedikit dan keantusiasan peserta juga lebih kecil dari dusun sebelumnya. Mungkin dikarenakan perempuan usia produktif yang menjadi sasaran sosialisasi sekolah PRT di dusun ini mayoritas tengah hamil. Hujan kembali melanda, membuat kami tertahan sebentar dan beramah-tamah dengan warga.

Mentari telah menuai tiga perempat perjalanannya ketika kami merampungkan tugas. Diony menggagas makan siang yang kesorean di pantai Siung. Kami setuju. Tak terlalu jauh dari dusun Wuluh dan pantainya... Sangat indah! Mungkin aku yang terlalu ndeso tak pernah melihat pantai seindah ini sebelumnya, tapi kurasa tak apalah kalau aku memang ndeso karena pantai Siung adalah pantai pertama yang kukunjungi dan kukategorikan terindah untuk saat ini.

Bagaimana tidak bagus, di kanan pantai ada bukit-bukit kecil yang berjajar, sedang di kiri laut sebuah tebing yang kata Diony biasa digunakan untuk terjun payung/paralayang dan sejenisnya. Hanya sayang, sepi pengunjung!
Dan sayang juga, ketika sampai disana batre hape-ku melemah. Tak bisa dipakai motret. Tapi tak kehabisan ide, pinjem hape Diony. Ya, namanya juga minjem, gak enak juga pake lama-lama, apalagi baru kenal, jadi gak bisa gaya-gaya macem-macem gitu deh! Hehehe narsis mode on teruz...

Lukman dan Diony telah jauh menyusuri pantai sampai ke tengah, ketika aku beranjak dari pasir putih untuk kemudian agak kesulitan melangkah diatas karang-karang kecil yang terkadang seperti menusuk-nusuk kakiku. Wong ndeso tenan hahaha! Akhirnya sampai juga ke tengah. Ombak pantai berangsur datang, menghembuskan getar airnya menyentuh celana yang sudah kutekuk sampai dengkul. Kami memutuskan kembali ke darat, sambil tetap menajamkan mata mencari keong. Hehe kebiasaan ketika mengunjungi Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo kota kelahiranku dulu adalah selalu menyempatkan mencari keong untuk dibawa pulang.

Tapi tak seperti di Probolinggo, disini lumayan susah juga menemukan rumah keong bersama makhluk didalamnya. Karena yang ada hanya rumah-rumah keongnya saja. Di kubangan air bekas hempasan ombak, aku menemukan ikan-ikan kecil warna-warni. Juga landak laut yang asyik menghuni lubang-lubang di karang. Dan hamparan hijau, rumput laut kah namanya? I dont know hehe!

Begitu datang, makanan siap disajikan. Ikan goreng plus sambal mentah dan sayur. Lapar bercampur doyan, lauk yang terhidang seketika habis dan nambah! Gunung Kidul selalu menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan! Dan katanya, masih banyak pantai lain bertebaran di daerah ini. Hmm... Semoga saja ada kesempatan bertandang kesana, meski aku tak begitu suka gunung, tak begitu suka pantai, singkatnya tak berjiwa petualang, tapi aku hanya suka menikmati keindahanNYA!

Thursday, April 23, 2009

M A A F

Panas mentari menyengat kulit ketika kakiku menginjak jalanan beraspal kawasan Malioboro. Kuseret langkahku menuju bangku di belakang halte bus trans Jogja. Tak lama sebuah bus merapat. Kulihat kau dan bocah satu setengah tahun itu diantara para penumpang yang turun. Aku bangkit, menunggu di bibir pintu keluar. Aku tahu kau pura-pura tak melihatku, tapi tahukah kamu,... Meski sikap dan tuturmu bertolak belakang dengan hatimu, aku sangat yakin kau merinduku.

Secarik kata maaf, agar tetap bisa mengenalmu. Kurasa bukan. Maaf itu dari hati. Karena ada niatan untuk menyadari bahwa kekasih adalah makhluk tak sempurna, dan dimaklumi. Namun khilaf tentu tak boleh tiap hari apalagi berulang kali.

Jangan saling menyakiti jikalau masih saling mencintai. Jikalau masih ada kuncup-kuncup hati yang akan mengembang dan akan terus mengembang. Dahan layu berganti dahan baru. Proses yang semestinya.

So, would u forgive as I already forgive u?

Monday, April 20, 2009

KEKERASAN BERBASIS GENDER

Apa sih KEKERASAN BERBASIS GENDER (KBG) itu?
Kekerasan berbasis gender. Tiga kata yang akhir-akhir ini kerap didengungkan dalam media massa maupun oleh gerakan perempuan dalam lembaga swadaya masyarakat. Orang awam mungkin akan mengerutkan dahi jikalau mengeja judul diatas. Padahal dalam kenyataannya, contoh-contoh KBG begitu dekat malah kian hari sepertinya kian menjadi topik hangat di masyarakat oleh karena jumlahnya yang terus meningkat seiring waktu.
Orang mungkin akan lebih familiar jika mendengar istilah kekerasan dalam rumah tangga, perkosaan, pelacuran, pornografi, pelecehan seksual, diskriminasi terhadap homoseksual, PRT dan kaum-kaum marginal dan minoritas lainnya, yang merupakan sebagian dari contoh jargon Kekerasan Berbasis Gender.

Mengapa menggunakan istilah KEKERASAN BERBASIS GENDER?
Penggunaan istilah KBG atau Gender Based Violence (GBV) ini dimaksudkan untuk menggambarkan sifat alami kekerasan dan memberikan kesan bahwa untuk menunjukkan kekerasan perlu merujuk persoalan gender yang menyebabkan dan mendukung terjadinya kekerasan.
KBG sendiri seringkali disebut juga sebagai kekerasan terhadap perempuan. Karena pada kebanyakan kasus, KBG dititikberatkan pada obyek perempuan sebagai korban akibat dari ketidakseimbangan posisi tawar atau kekuasaan perempuan jika dibandingkan kaum lelaki serta konstruksi peran yang telah mendarah daging pada budaya kita yang masih patriarkal yang meletakkan perempuan pada posisi lebih rendah dan hina.
Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, cakupan KBG juga sangat luas, diantaranya eksploitasi seksual, pengabaian hak-hak reproduksi perempuan, traffiking, penularan HIV/AIDS terhadap istri, sunat perempuan dan sebagainya juga dikategorikan KBG.
Dan meski menggarisbawahi judul diatas sebagai sebuah bentuk KEKERASAN yang artinya sesuatu yang berhubungan dengan fisik, KBG tak selalu identik demikian. KBG dapat bersifat tersamar dan simbolik seperti eksploitasi media dan pornografi, namun juga konkrit dan nyata seperti perkosaan dan pelecehan seksual. Intimidasi terhadap istri, ejekan, makian, sindiran dll terhadap kaum homoseksual juga termasuk jenis KBG.
Contoh konkritnya demikian, ketika seorang istri tak diperbolehkan bekerja oleh suami, namun dalam keseharian, suami kerap meremehkan posisi istri. Disini pihak perempuan sudah bisa dikatakan mengalami KBG, meski secara fisik tak terluka. Belum lagi jika memang terjadi kekerasan dalam rumah tangga.
Ditinjau dari perspektif hukum, pemerintah telah berupaya melindungi kaum perempuan dengan diratifikasinya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination for All Form of Discrimination Against Women) melalui UU Nomor 7 tahun 1984 yang menyatakan: “Kekerasan berbasis gender adalah suatu bentuk diskriminasi yang merupakan hambatan serius bagi kemampuan perempuan untuk menikmati hak-hak dan kebebasannya atas dasar persamaan hak dengan laki-laki. Rekomendasi Umum ini juga secara resmi memperluas larangan atas diskriminasi berdasarkan gender dan merumuskan tindak kekerasan berbasis jender sebagai: tindak kekerasan yang secara langsung ditujukan kepada perempuan karena ia berjenis kelamin permpuan, atau mempengaruhi perempuan secara proposional. Termasuk di dalamnya tindakan yang mengakibatkan kerugian atau penderataan fisik, mental dan seksual, ancaman untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut, pemaksaan dan bentuk-bentuk perampasan hak kebebasan lainnya“.
KDRT adalah jenis KBG yg mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahun, meski pemerintah telah menerbitkan UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sebagai pergeseran dari KDRT sebagai masalah hukum privat ke hukum publik, namun dalam realisasinya terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan, meski jelas-jelas KDRT merupakan pelanggaran HAM, kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus. Hal ini dikarenakan belum efektif atau kurangnya sosialisasi UU tersebut kepada tiap elemen masyarakat, bukan hanya kepada perempuan. Efek yang terjadi akibat ketimpangan gender adalah melorotnya kualitas hidup perempuan.
Di masa sekarang ini, KBG sudah terjadi pada semua lini kehidupan, tak hanya dalam rumah tangga, tetapi juga di masyarakat, termasuk yang ada kaitannya dengan pengelolaan SDA demi memenuhi kebutuhan pangan karena KBG sangat melekat pada konteks hubungan kultural, sosio ekonomi dan kekuasaan politik.
Di kancah politik, KBG juga makin santer terdengar. Banyak caleg perempuan yang diintimidasi internal partai untuk menurut pada aturan partai yang kerap adalah akal-akalan laki-laki belaka. Belum lagi akal-akalan lain, misalnya mengkoar-koarkan tentang kesetaraan gender dalam penempatan perempuan di parlemen, toh buktinya secara kasat mata jelas nampak buktinya bahwa perempuan masih saja dijadikan pemanis dalam kancah perpolitikan karena kesetaraan yang mereka -laki-laki- gaungkan hanya sebuah tong kosong yang nyaring bunyinya.
Perempuan hanya dijadikan sebagai alat untuk menarik dukungan. Hal tersebut terlihat dengan melimpahnya caleg perempuan yang dilamar, baik partai besar maupun partai burem. Namun tetap saja kiprah perempuan di parlemen terganjal, apalagi dengan adanya revisi terbatas UU No 10 tahun 2008 tentang PEMILU anggota DPR, DPD, dan DPRD yang merugikan perempuan, meski usulan revisi tersebut dianggap tidak kompatibel dengan pasal-pasal lain dalam Pemilu.
Dewasa ini solidaritas perempuan terhadap masalah KBG cenderung meningkat, baik dari sisi kelembagaan maupun praktisnya. Ini menunjukkan kesadaran perempuan untuk membela hak-hak sesamanya juga semakin meningkat, namun sekali lagi, KBG bukan hanya pekerjaan rumah bagi perempuan, di masa mendatang, baik pemerintah dan non pemerintah diharapkan dapat bersama-sama menggarap pekerjaan rumah ini untuk menekan kekerasan berbasis gender dan mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan gender.

Monday, April 13, 2009

SOERABAJA: On Last Minutes!


Senin minggu lalu, aku masih ikut rapat teman-teman yang akan mengantar PRT korban kekerasan dan trafiking kembali ke tanah kelahirannya di Ende - Flores. Kuperhatikan wajah-wajah yang akan berangkat kesana seperti membawa beban berat alias nge-blank. I dont know why! Satu demi satu rencana, budgeting, dan alasan-alasan dikemukakan hingga mencapai kata sepakat. Tetap, dua teman, satu dari divisi advokasi dan satunya divisi sekolah, menampakkan raut wajah tak terprediksi. Senang atau sedih kah?
Malamnya, aku ngebut bikin draft skenario. Kebetulan kisah tragis PRT korban trafiking oleh tetangganya sendiri plus ketidakadilan dua majikan yang tak pernah memberi sepeser gaji ini akan difilmkan. Saking ngebutnya, draft sekitar 20 halaman tepat selesai jam 24 lebih beberapa menit.
Esoknya, ketika pulang habis mbojo[baca:ketemu GF], aku mampir ke Gramed. Ponselku berdering. Dari nomor kantor LSM tempatku bernaung. Ada apa? Pikirku sembari menebak-nebak.
"Halo," ucapku agak ragu.
"Alvi, kamu lagi dimana? Ke kantor sekarang bisa nggak? Darurat nih!" ujar teman dari divisi advokasi. Kudengar tawa cekikikan beberapa perempuan di background suara dibelakangnya.
"Emangnya ada apa?"
"Kami tadi rapat, dan divisi advokasi memutuskan bahwa kamulah yang ditunjuk untuk mendampingi korban sampai Surabaya!" jelasnya kian membuatku bingung.
Aku tak ikut rapat, namun kenapa mereka menugasiku? Kedengarannya kan aneh! Lagian, aku masih belum seberapa percaya, tawa cekikikan itu mengaburkan keyakinanku. Tapi kalau ia sedang bercanda, ia tak mungkin memakai fasilitas kantor.
"Kamu nggak sedang becanda, kan?"
"Ini serius! Jadi, kamu bisa kesini nggak, secepatnya!" Sedetik kemudian ia berubah pikiran. "Kamu dimana, kami jemput!"
Singkat cerita, aku udah di kantor diberi pengarahan oleh koordinator divisi advokasi dan jadilah aku yang mendampingi korban hanya sampai Surabaya, kemudian ia akan menempuh perjalanan lewat udara.
Jadilah hari itu aku mesti ikut ribet beli tiket plus ketemu korban, sampai-sampai aku kepikiran, sepeda gunungku aku titipkan di shelter busway tak jauh dari kos ku ketika aku mengantar pulang partnerku tadi siang. Dan satu hal, seperti dua temanku kemarin-kemarin, gantian aku yang nge-blank! Hari Selasa ini bergulir seperti mimpi saja!
Rabu malam aku dan korban berangkat naik travel ke Surabaya. Subuh kami sudah celingukan di bandara Juanda. Matahari masih mengintip di ufuk timur sana. Penerbangannya pukul setengah sepuluh. Jadilah, kami kayak pengungsi, mana ia bawa tas segede bagong dan satu kardus yang lupa di lakban, hanya ditutup sekenanya, mana isinya piring kaca. Waduh, cepek deh!
Menengok ke kanan ke kiri mulai dari senyap hingga riuh rendah di bandara, tiba-tiba ada seorang lelaki tinggi besar mendekati korban ketika aku hendak menyewa troli. Sedari tadi lelaki itu kulihat mencurigakan. Ia duduk di dekat kami. Mencuri-curi pandang bergantian aku lalu si korban.
Naluri premanku muncul, meski jujur ini baru pertama kali aku menginjakkan kaki di Surabaya, dan jujur juga, meski dulu di Jakarta tempat kerjaku tak jauh dari bandara, aku tak pernah tahu prosedur di bandara. Hehehe wong ndeso tenan! Lha iya memang, tapi prinsipku satu, meski aku tak tahu, di tempat asing, aku harus tetap pasang wajah pura-pura tahu. Maklum juga, Juanda dan terminal Bungur identik dengan maling. Dan bagiku, siapapun orang asing yang mendekat, apalagi dengan cara pandang mencurigakan, harus kuwaspadai. Makanya ketika lelaki itu mendekati si korban yang seorang diri aku langsung memutar langkahku kembali. Ia terlihat canggung, lalu mencoba memulai obrolan. Aku menanggapi dingin. Tapi si korban kupikir terlalu ramah padanya.
Lelaki itu orang Timor Leste. Ia kuliah S2 di Salatiga. Ia naik pesawat sama seperti korban, transit di Kupang. Bedanya, lelaki itu menempuh jalan darat setelahnya, sedangkan korban melanjutkan dengan pesawat lain ke Ende. Otakku mulai berjalan. Meski tetap waspada dengan mengkomando si korban untuk tak terlalu banyak bicara pada lelaki itu, aku memintanya membantu si korban membereskan prosedur penerbangan ketika transit di Kupang nanti. Ia pun setuju. Entahlah, pada orang asing, terutama lelaki, aku membentengi kewaspadaanku hingga tujuh lapis.
Setelah menyelesaikan satu persatu prosedur di bandara dan melepas korban di ruang tunggu, aku menghirup udara Surabaya. Kota yang hanya pernah kulewati tanpa kupijak. Hanya dulu sekali, itupun ketika aku masih sangat belia.
Dan kupikir Jogja adalah satu-satunya kota yang tak kusukai, tapi ternyata aku lebih tak menyukai Surabaya. Sinar mentari begitu menyengat. Jalanan kota yang terkesan kumuh. Ah, sekilas menurutku lebih parah daripada jogja yang terlihat lebih bersih.
Aku menginap di rumah saudara jauhku. Ketika pulang dari reservasi tiket kereta untukku besok, ia membawaku melewati Gang DOLLY, yang katanya tempat prostitusi terbesar di Asia. Pendapatku, biasa aja! Malah kupikir lebih heboh yang di Tangerang. Sama-sama berlokasi di perumahan penduduk tapi disini aku masih mendengar suara Adzan dan jarang ada dentang house music, tak seperti di Tangerang dimana tiap rumah yang berhadap-hadapan saling adu setel musik kencang-kencang meski tak ada pelanggan. Dan disana suasana pun dibuat remang-remang.
"Ini masih jam berapa, jadi belum dimulai!" dalih sepupu jauhku.
Yah, aku nggak tau lagi. Yang penting aku telah tahu GANG DOLLY yang "legendaris" itu.
Oh ya, hampir saja lupa, ketika reservasi tiket dan ternyata sedang ada troble, sepupu jauhku mengajakku ke lantai paling atas di Delta Plaza. Ia menyeretku naik komidi putar yang berputar secara vertikal. Awalnya biasa saja, namun ketika mulai berputar, aku merasa separuh nyawaku terbang. Aku ketakutan. Menutup mataku rapat-rapat. Ternyata aku fobia ketinggian atau mungkin efek terkejut, whatever! Ketika beberapa kali putaran aku mulai memberanikan membuka mata.
Dan akhirnya aku menikmati, meski dengan kedua tangan memegang erat-erat ujung besi. Hahahaha tetap aja, intinya takyut!! Dan perempuan berhidung mancung di hadapanku begitu menikmati wajahku yang memucat. Ia mengarahkan lensa video hapeku tepat ke mukaku, tapi untungnya -karena tak tahu cara mengoperasikan hapeku- ia lupa menekan tombol RECORD ketika akan mengambil gambar mukaku tadi. Hah, untunglah aku tak jadi ditertawakan olehnya!
Surabaya is my second trip, juga salah satu pengalaman menarik buatku. Hmm... Kemana lagi ya tugas ketigaku? I'll be wait 4 that:)

Monday, April 6, 2009

CERITANYA NGIRI NEHH….

Berantem. Marah-marah. Mencaci. Memaki. Dan lain-lain. Sepertinya bukan lagi hal yang istimewa. Malah terkesan lumrah. Bahkan tak jarang dirindukan. Bukan olehku, tapi olehmu. Begitu kan pengakuanmu? Kalau aku sih sudah terlalu gerah. Dan sepertinya selalu saja ada salah paham yang seakan-akan telah terprogram untuk kita. Selain karena salah-salah yang kau cari sendiri tentunya. Tapi entahlah, sepertinya hubungan kita ini ditakdirkan untuk selalu dekat dengan kesalahpahaman yang memicu debat dan adu mulut panjang. Kamu mungkin menikmati, tapi aku jelas tidak. (Kalau adu mulut dalam konteks lain sih mungkin enakJ)

Kadang jika melihat rumput tetangga- yang selalu nampak lebih hijau daripada rumput rumah sendiri-, ada perasaan iri, kok tampaknya adem ayem aja. Susah, senang, berpadu dengan senyuman. Karena hidup tak selamanya berbalut tawa, pun tak juga selalu berkalung duka. Namun semua tergantung bagaimana berdua memaknainya sebagai sebuah susah senang bersama.

Bagiku, keromantisan adalah sesuatu yang sederhana dalam hari-hari berdua. Aku bukan tipe orang romantis, kau pun demikian, tapi seyogyianya di waktu bertemu kita yang hanya dapat terhitung oleh jari janganlah malah menguranginya dengan celah untuk berseteru. Aku telah terlalu lelah.

Ketika melihat keromantisan pasangan lain, selain membathin kapan kita bisa demikian, juga kian menambah kemantapanku ke depan. Kalau kubilang aku juga makin cinta, jelas kau tak akan percaya.... :)

AIRMATA YANG TIBA-TIBA MERETAS....

04.48
Subuh. Aku tiba-tiba terjaga dari tidur. Mataku telah sembab. Bukan karena semalam aku habis menangis. Bukan pula karena airmataku tumpah. Aku merasa ada sedikit keanehan disini. Aku terjaga dengan menemukan tetes-tetes air mengalir dari mataku ketika alam sadarku masih bersentuhan dengan alam bawah sadarku. Dan airmata itu kemudian menderas ketika sayup-sayup aku sudah bisa merasa. Merajai segenap kesadaranku namun anehnya tak menghentikan tangis itu. Malah kian membuatnya menjadi-jadi. Entah apa penyebabnya! Aku sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba aku menangis. Aku bahkan tak tahu awal mulanya. Bukankah ketika seseorang berlinang airmata tentu ada penyebab. Sedikit banyak pastilah ada, tapi aku.... apa?

Aku memutar ulang rekaman ingatanku. Sedetik sebelum aku benar-benar terjaga, aku sepertinya meyakini aku mimpi buruk, tapi aku sama sekali tak ingat rentetan ceritanya, mimpi itu terlalu abstrak untuk diputar ulang. Dan sepertinya bukan hanya kali ini. Kurasa sudah dua atau tiga kali dalam minggu-minggu ini. Kemarin-kemarin aku tak seberapa menghiraukan, atau tepatnya tak peka, dengan menganggapnyahanya sebagai penghias tidur. Tapi kali ini, sungguh, aku benar-benar dapat merasa ada suatu himpitan tekanan perasaan dalam sudut nuraniku. Yang aku tak tahu, darimana datangnya, apa penyebabnya, dsb.

Aku mulai merunut satu persatu. Semalam mataku begitu bandel tak mau dipejamkan. Kulihat waktu menunjuk setengah dua dini hari. Gila... mataku bahkan tak semilimeter pun menampakkan hawa-hawa mengantuk. Ini tak bisa dibiarkan! Aku tak mau esok hari beraktivitas sambil terkantuk-kantuk. Aku memaksa mataku untuk terpejam. Mencoba membuatnya ngantuk dengan main game di hape, tak berhasil! Kumatikan lampu, jalan satu-satunya yang akan membawaku berselancar di alam bawah sadar, tetap tak mempan!

Ada sesuatu yang memang tengah menjadi isu kencang di dalam otakku. Mungkin –dan sepertinya memang- itulah yang seakan memagarinya untuk tetap terjaga. Entahlah, ketika berada seorang diri. Dalam keheningan malam pekat. Aku tak mengerti kenapa fikiranku seolah bagai sebuah mesin yang terprogram. Ia begitu cepatnya terbius tuk masuk ranah dunia khayal, bukan tuk bermuluk-muluk, hanya merunut, memutar ulang, bahkan bak paranormal menghitung apa yang tak nampak di depan. Pertanda stres kah? Atau distres? Aku tak ingin dan tak pernah ingin!

Suatu hari ketika aku hanya ditemani malam aku tak ingin angan bersandar terlalu lama. Karena airmata itu terlalu menyesak dada.

06:01 Friday, March 27, 2009.

ANGKRINGAN: Tak Kenal Maka Tak Sayang!

Menapaki jalanan jogja tiap mata memandang ada salah satu kesamaan di beberapa sudut. Angkringan. Kalau tak tahu angkringan ya kebangetan, itu tuh penjual nasi, jajanan dan minuman. Cara penjajaannya sederhana, si penjual hanya memakai gerobak beroda, diatasnya digelar tumpukan nasi dan aneka gorengan serta lauk.

Aku sendiri, meski jumlah angkringan di sekitar kost ku tak terhitung, aku sama sekali belum pernah mencoba. Bukan karena sombong atau sok elite, hanya saja jika melihat para lelaki sebagai mayoritas pembeli memutari sisi-sisi gerobak, aku jadi malas.

Hingga suatu hari, ketika aku ada acara di KPI, hampir semua teman jajan di angkringan yang berada tepat di depan pagar. Tak sungkan, meski banyak lelaki duduk. Aku pun ikut serta. Melihat-lihat makanan yang dijajakan. Nasi, tempe mendoan, tahu, sate hati ayam, sate usus ayam, singkong goreng dan jajanan lain. Seorang teman berpromosi tentang kelezatan sate usus. Meski harganya hanya 500 rupiah tapi rasanya seperti olahan restoran mewah. Dan aku tertarik mencicipi, walau dalam sepanjang sejarah hidupku aku tak pernah suka usus ayam apapun bentuk olahannya. Makanan itu pun sampai ke lidahku, dan rasanya... Begitu lezat! Hampir tak kentara kalau sate tsb bahan bakunya adalah usus, karena rasanya di lidahku serupa persis dengan daging ayam.

Percobaan pertama berhasil. Aku kian tertarik menjelajah yang dijual angkringan. Ada nasi sambal teri. Dan tahu yang diselimuti tepung, entah tepung apa yang digunakan, namun rasanya begitu gurih. Singkong goreng pun tak kalah pamor. Satu hal yang paling kusukai adalah harganya sangat-sangat terjangkau kantong. Berkisar antara 500 hingga 2500 untuk sepiring mie telur.

Dan "kecintaan" pada angkringan kian hari kian bertambah. Berpindah dari satu gerobak ke gerobak lain. Dari yang mulai deket kost sampai nitip tetangga sebelah yang punya langganan angkringan lumayan jauh dari kost. Sejauh ini angkringan favoritku masih yang di depan KPI Patehan Lor, nasi sambel terinya uenak tenan alias maknyuss!!