04.48
Subuh. Aku tiba-tiba terjaga dari tidur. Mataku telah sembab. Bukan karena semalam aku habis menangis. Bukan pula karena airmataku tumpah. Aku merasa ada sedikit keanehan disini. Aku terjaga dengan menemukan tetes-tetes air mengalir dari mataku ketika alam sadarku masih bersentuhan dengan alam bawah sadarku. Dan airmata itu kemudian menderas ketika sayup-sayup aku sudah bisa merasa. Merajai segenap kesadaranku namun anehnya tak menghentikan tangis itu. Malah kian membuatnya menjadi-jadi. Entah apa penyebabnya! Aku sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba aku menangis. Aku bahkan tak tahu awal mulanya. Bukankah ketika seseorang berlinang airmata tentu ada penyebab. Sedikit banyak pastilah ada, tapi aku.... apa?
Aku memutar ulang rekaman ingatanku. Sedetik sebelum aku benar-benar terjaga, aku sepertinya meyakini aku mimpi buruk, tapi aku sama sekali tak ingat rentetan ceritanya, mimpi itu terlalu abstrak untuk diputar ulang. Dan sepertinya bukan hanya kali ini. Kurasa sudah dua atau tiga kali dalam minggu-minggu ini. Kemarin-kemarin aku tak seberapa menghiraukan, atau tepatnya tak peka, dengan menganggapnyahanya sebagai penghias tidur. Tapi kali ini, sungguh, aku benar-benar dapat merasa ada suatu himpitan tekanan perasaan dalam sudut nuraniku. Yang aku tak tahu, darimana datangnya, apa penyebabnya, dsb.
Aku mulai merunut satu persatu. Semalam mataku begitu bandel tak mau dipejamkan. Kulihat waktu menunjuk setengah dua dini hari. Gila... mataku bahkan tak semilimeter pun menampakkan hawa-hawa mengantuk. Ini tak bisa dibiarkan! Aku tak mau esok hari beraktivitas sambil terkantuk-kantuk. Aku memaksa mataku untuk terpejam. Mencoba membuatnya ngantuk dengan main game di hape, tak berhasil! Kumatikan lampu, jalan satu-satunya yang akan membawaku berselancar di alam bawah sadar, tetap tak mempan!
Ada sesuatu yang memang tengah menjadi isu kencang di dalam otakku. Mungkin –dan sepertinya memang- itulah yang seakan memagarinya untuk tetap terjaga. Entahlah, ketika berada seorang diri. Dalam keheningan malam pekat. Aku tak mengerti kenapa fikiranku seolah bagai sebuah mesin yang terprogram. Ia begitu cepatnya terbius tuk masuk ranah dunia khayal, bukan tuk bermuluk-muluk, hanya merunut, memutar ulang, bahkan bak paranormal menghitung apa yang tak nampak di depan. Pertanda stres kah? Atau distres? Aku tak ingin dan tak pernah ingin!
Suatu hari ketika aku hanya ditemani malam aku tak ingin angan bersandar terlalu lama. Karena airmata itu terlalu menyesak dada.
06:01 Friday, March 27, 2009.
Monday, April 6, 2009
ANGKRINGAN: Tak Kenal Maka Tak Sayang!
Menapaki jalanan jogja tiap mata memandang ada salah satu kesamaan di beberapa sudut. Angkringan. Kalau tak tahu angkringan ya kebangetan, itu tuh penjual nasi, jajanan dan minuman. Cara penjajaannya sederhana, si penjual hanya memakai gerobak beroda, diatasnya digelar tumpukan nasi dan aneka gorengan serta lauk.
Aku sendiri, meski jumlah angkringan di sekitar kost ku tak terhitung, aku sama sekali belum pernah mencoba. Bukan karena sombong atau sok elite, hanya saja jika melihat para lelaki sebagai mayoritas pembeli memutari sisi-sisi gerobak, aku jadi malas.
Hingga suatu hari, ketika aku ada acara di KPI, hampir semua teman jajan di angkringan yang berada tepat di depan pagar. Tak sungkan, meski banyak lelaki duduk. Aku pun ikut serta. Melihat-lihat makanan yang dijajakan. Nasi, tempe mendoan, tahu, sate hati ayam, sate usus ayam, singkong goreng dan jajanan lain. Seorang teman berpromosi tentang kelezatan sate usus. Meski harganya hanya 500 rupiah tapi rasanya seperti olahan restoran mewah. Dan aku tertarik mencicipi, walau dalam sepanjang sejarah hidupku aku tak pernah suka usus ayam apapun bentuk olahannya. Makanan itu pun sampai ke lidahku, dan rasanya... Begitu lezat! Hampir tak kentara kalau sate tsb bahan bakunya adalah usus, karena rasanya di lidahku serupa persis dengan daging ayam.
Percobaan pertama berhasil. Aku kian tertarik menjelajah yang dijual angkringan. Ada nasi sambal teri. Dan tahu yang diselimuti tepung, entah tepung apa yang digunakan, namun rasanya begitu gurih. Singkong goreng pun tak kalah pamor. Satu hal yang paling kusukai adalah harganya sangat-sangat terjangkau kantong. Berkisar antara 500 hingga 2500 untuk sepiring mie telur.
Dan "kecintaan" pada angkringan kian hari kian bertambah. Berpindah dari satu gerobak ke gerobak lain. Dari yang mulai deket kost sampai nitip tetangga sebelah yang punya langganan angkringan lumayan jauh dari kost. Sejauh ini angkringan favoritku masih yang di depan KPI Patehan Lor, nasi sambel terinya uenak tenan alias maknyuss!!
Aku sendiri, meski jumlah angkringan di sekitar kost ku tak terhitung, aku sama sekali belum pernah mencoba. Bukan karena sombong atau sok elite, hanya saja jika melihat para lelaki sebagai mayoritas pembeli memutari sisi-sisi gerobak, aku jadi malas.
Hingga suatu hari, ketika aku ada acara di KPI, hampir semua teman jajan di angkringan yang berada tepat di depan pagar. Tak sungkan, meski banyak lelaki duduk. Aku pun ikut serta. Melihat-lihat makanan yang dijajakan. Nasi, tempe mendoan, tahu, sate hati ayam, sate usus ayam, singkong goreng dan jajanan lain. Seorang teman berpromosi tentang kelezatan sate usus. Meski harganya hanya 500 rupiah tapi rasanya seperti olahan restoran mewah. Dan aku tertarik mencicipi, walau dalam sepanjang sejarah hidupku aku tak pernah suka usus ayam apapun bentuk olahannya. Makanan itu pun sampai ke lidahku, dan rasanya... Begitu lezat! Hampir tak kentara kalau sate tsb bahan bakunya adalah usus, karena rasanya di lidahku serupa persis dengan daging ayam.
Percobaan pertama berhasil. Aku kian tertarik menjelajah yang dijual angkringan. Ada nasi sambal teri. Dan tahu yang diselimuti tepung, entah tepung apa yang digunakan, namun rasanya begitu gurih. Singkong goreng pun tak kalah pamor. Satu hal yang paling kusukai adalah harganya sangat-sangat terjangkau kantong. Berkisar antara 500 hingga 2500 untuk sepiring mie telur.
Dan "kecintaan" pada angkringan kian hari kian bertambah. Berpindah dari satu gerobak ke gerobak lain. Dari yang mulai deket kost sampai nitip tetangga sebelah yang punya langganan angkringan lumayan jauh dari kost. Sejauh ini angkringan favoritku masih yang di depan KPI Patehan Lor, nasi sambel terinya uenak tenan alias maknyuss!!
Monday, March 30, 2009
GUNUNG KIDUL: First Trip!


Mentari hampir tepat berada diatas kepala ketika tim kami tiba di balai desa Tanjung Sari, setelah kurang lebih sejam memanggang pantat diatas jok motor hingga rasanya tulang kaku, muka menebal dan bulu-bulu tanganku seperti mempunyai efek-efek listrik, nyetrum-nyetrum nggak jelas gitu. Jalanan yang kami lewati menanjak-menurun dan penuh liku. Pemandangan di kanan kiri jalan masih hijau. Di beberapa tempat terlihat pemandangan bagus, sayang aku tak bisa berhenti untuk mengabadikannya. Ternyata di balai desa sedang berlangsung acara pak camat memberi penyuluhan pada para dukuh.
Oh ya, aku lupa bercerita baru-baru ini aku bergabung dengan LSM yang mengurusi PRT.namanya Rumpun Tjoet Njak Dien sebagai volunteer divisi advokasi. Lebih jelasnya ada blog LSM tersebut meski masih minim isi. Tanggal 19-20 kemarin aku mengikuti workshop pembekalan volunteer, staf dan community leader dari komunitas PRT di beberapa daerah di Jogja. Dan hari ini untuk pertama kalinya aku ikut tugas lapangan. Sebenarnya, ini bukan tugas murni divisiku, hanya aku ingin lebih tahu bagaimana proses terjun lapangan langsung.
Balik lagi ke balai desa Tanjung Sari, setelah sejam menunggu, akhirnya giliran kami untuk mempresentasikan program kepada para dukuh. Program hari ini adalah sosialisasi sekolah PRT. Tim diwakili Shanti sebagai divisi yang bersangkutan. Peserta tampak antusias, meski tak banyak pertanyaan diajukan, lebih-lebih pada brosur sekolah PRT. Sosialisasi berlangsung sekitar setengah jam, tepat selesai ketika hujan yang menyertai selama sosialisasi telah reda. Mungkin karena faktor kelelahan yang menghinggapi peserta yang sebelumnya telah mengikuti rapat dengan pak camat mulai jam sembilan pagi tadi dan juga faktor cuaca yang agak-agak nggak jelas, kadang hujan, panas, tiba-tiba mendung, membuat pemikiran bagi peserta untuk memilih cepat-cepat pulang ketika hujan reda. Terbukti ketika setelah kami memberikan sosialisasi yang kemudian dilanjut promosi dari sebuah provider seluler, tak banyak peserta yang berminat mengikuti, malah secara radikal meninggalkan acara, dan hanya tampak satu orang dukuh saja yang bertanya pada si Sales promotion.
Berselang setengah jam kemudian, sesi kedua di gelar. Kali ini pesertanya adalah ibu-ibu PKK, remaja putra dan putri. Meski gerimis mengiring dan lantai balai desa becek sana-sini, mereka berbondong-bondong datang. Kurang lebih lima belas orang telah berkumpul, sosialisasi dimulai. Kembali Shanti menjadi pembicara. Lukman dari volunteer sekolah memberikan tambahan dan mengajak peserta tanya jawab. Meski beberapa peserta masih malu-malu, namun beberapa juga lumayan bertanya pada narator, termasuk peserta putra. Pada sesi kali ini peserta tampak aktif dan antusias dibanding yang pertama tadi. Apalagi ketika brosur sekolah PRT dibagi-bagikan. Meski tak tampak bertanya, wajah-wajah peserta lebih tampak tertarik pada narasi yang diberikan, yaitu tentang definisi, fasilitas dan materi sekolah PRT dll. Sosialisasi kemudian ditutup dengan penunjukan kader di tiap dusun untuk menampung peminat sekolah PRT di daerah masing-masing.
Matahari akan menuju ke peraduan ketika kami meninggalkan dusun tersebut. Kami berhenti sejenak untuk melepas ketegangan otot di sebuah warung dimana lokasinya sangat strategis untuk mengambil gambar. Rumah-rumah penduduk tampak mengecil di kejauhan. Sedang di susut lain mentari seperti mengintip di balik bukit menyisakan semburat kemerahan hingga tak nampak lagi berganti cahaya malam. Langit tak berbintang. Malah kurasa bintang seperti berada di bumi. Langint hitam, sedang bumi kerlap-kerlip. Nyala lampu rumah-rumah penduduk dan lampu-lampu kendaraan di kejauhan menjadi pemanis nampak indah di waktu malam.
Lelah bercampur excited mewarnai trip kali ini. Dan terus terang, mungkin ini perjalanan naik motor terpanjang pertama yang kualami sepanjang hidupku.
BERGUMUL DENGAN WAKTU
Waktu berjalan sangat lambat bagi mereka yang menunggu. Terlalu cepat bagi yang ketakutan. Terlalu lama bagi yang sedang merasa sedih. Terlalu pendek bagi mereka yang sedang gembira. Tapi bagi mereka yang mencinta, waktu adalah sesuatu yang abadi.
–Henry Van Dyke-
Waktu...
Waktu yang dulu merentangkan jarak antara aku denganmu. Dan waktu jua lah yang kini membawaku dekat tuk merengkuhmu meski pun tak setiap waktu. Waktu tak pernah dapat terprediksi, meski kadangkala telah terencana dengan maha pasti tulisan manusia.
Bergumul dengan waktu. Terkadang di selayang benakku ketika diam-diam menerawang sunyi, terbersit suatu fikiran. Akan kemana waktu membawaku, kamu dan hubungan kita kelak? Menilik situasi diantara kita kini. Kau bersuami dan aku masih lajang dengan tuntutan ortu untuk mencari pendamping hidup yang kini tengah gencar-gencarnya mereka gerilyakan padaku. Meski aku juga telah setengah mati berkelit.
Mengungkit tentang tuntutan menikah, aku jadi teringat saat ortu menelepon beberapa waktu lalu. Yang bicara bukan ibuku, tapi adik ibuku. Ia tampak semangat 45.
“Gimana hubunganmu dengan dia?” tanyanya berapi-api (Maksud DIA dalam benak mereka adalah kekasihku yang sering menghubungiku tiap saat tiap waktu yang tentu saja dalam benak mereka yang polos adalah seorang laki-laki, kenyataannya jelas-jelas perempuan).
“Kok tiba-tiba ngomongin itu?” sanggahku.
“Iya habis kamu itu lho mau nunggu apa lagi, umur ya udah cukup, jadi nggak usah nunggu lama-lama lagi!” Bla bla bla Tanteku terus nyerocos, namun segera kupangkas singkat.
“Kalau masih ngomongin soal itu teleponnya aku tutup lho!” jawaban yang kurang atau bahkan tidak sopan memang, tapi daripada aku gerah mendengar obrolan soal itu dan aku tidak sedang ingin membahasnya.
Tanteku berhenti nyerocos, berganti gerutuan panjang. Ah, aku sungguh malas kalau ditanya-tanya target menikah, tapi sampai kapan? Aku sendiri juga tak tahu!
Waku, sekali lagi aku menyerahkan semua pada sang waktu. Jika tak punya beban apapun pada ortu, tentu sejak dulu aku sudah berteriak melanggengkan kebebasanku. Berandai-andai pun kurasa tak guna.
Waktu. Jika ketika mencinta waktu adalah benar sesuatu yang abadi, aku ingin mengajakmu berseluncur di area waktu dengan tarian, nyanyian dan hiasan hari-hari bahagia. Aku tak ingin lagi waktu yang tak terprediksi ini kita lahap dengan saling caci, dengan bumbu kecurigaan dan aroma tak percaya yang kau saji untuk kucicipi.
Waktu telah berendah hati mendekatkan kita kini. Syukurilah meski dengan cara paling sederhana.
–Henry Van Dyke-
Waktu...
Waktu yang dulu merentangkan jarak antara aku denganmu. Dan waktu jua lah yang kini membawaku dekat tuk merengkuhmu meski pun tak setiap waktu. Waktu tak pernah dapat terprediksi, meski kadangkala telah terencana dengan maha pasti tulisan manusia.
Bergumul dengan waktu. Terkadang di selayang benakku ketika diam-diam menerawang sunyi, terbersit suatu fikiran. Akan kemana waktu membawaku, kamu dan hubungan kita kelak? Menilik situasi diantara kita kini. Kau bersuami dan aku masih lajang dengan tuntutan ortu untuk mencari pendamping hidup yang kini tengah gencar-gencarnya mereka gerilyakan padaku. Meski aku juga telah setengah mati berkelit.
Mengungkit tentang tuntutan menikah, aku jadi teringat saat ortu menelepon beberapa waktu lalu. Yang bicara bukan ibuku, tapi adik ibuku. Ia tampak semangat 45.
“Gimana hubunganmu dengan dia?” tanyanya berapi-api (Maksud DIA dalam benak mereka adalah kekasihku yang sering menghubungiku tiap saat tiap waktu yang tentu saja dalam benak mereka yang polos adalah seorang laki-laki, kenyataannya jelas-jelas perempuan).
“Kok tiba-tiba ngomongin itu?” sanggahku.
“Iya habis kamu itu lho mau nunggu apa lagi, umur ya udah cukup, jadi nggak usah nunggu lama-lama lagi!” Bla bla bla Tanteku terus nyerocos, namun segera kupangkas singkat.
“Kalau masih ngomongin soal itu teleponnya aku tutup lho!” jawaban yang kurang atau bahkan tidak sopan memang, tapi daripada aku gerah mendengar obrolan soal itu dan aku tidak sedang ingin membahasnya.
Tanteku berhenti nyerocos, berganti gerutuan panjang. Ah, aku sungguh malas kalau ditanya-tanya target menikah, tapi sampai kapan? Aku sendiri juga tak tahu!
Waku, sekali lagi aku menyerahkan semua pada sang waktu. Jika tak punya beban apapun pada ortu, tentu sejak dulu aku sudah berteriak melanggengkan kebebasanku. Berandai-andai pun kurasa tak guna.
Waktu. Jika ketika mencinta waktu adalah benar sesuatu yang abadi, aku ingin mengajakmu berseluncur di area waktu dengan tarian, nyanyian dan hiasan hari-hari bahagia. Aku tak ingin lagi waktu yang tak terprediksi ini kita lahap dengan saling caci, dengan bumbu kecurigaan dan aroma tak percaya yang kau saji untuk kucicipi.
Waktu telah berendah hati mendekatkan kita kini. Syukurilah meski dengan cara paling sederhana.
Tuesday, March 24, 2009
SEBEGITU SULITKAH MENCINTAIMU?
Pagi. Terik mentari sudah begitu menyengat meski jarum jam menunjuk ke pertengahan angka sembilan.
Malas rasanya beranjak. Hatiku sedang tak enak. Selain karena mimpi buruk semalam yang membuatku terjaga pagi ini dengan dentuman nadi lumayan cepat.
Kupanggil kembali nomor teleponmu. Entah sudah keberapa kalinya jika diakumulasikan sejak semalam. Tersambung tapi tak diangkat. Kenapa dan ada apa dengan kamu?
Seperti biasa, kami memang berantem kemarin. Menurutnya, aku melontarkan kalimat yang salah dan aku harus mencabutnya untuk memulai komunikasi kembali dengannya. Awalnya, aku tak menuruti. Ia hanya ingin balas dendam karena sehari sebelumnya aku menginstruksikan hal yang sama. Kolokan bukan? Tapi yah, sekali lagi, -entah sudah berapa kali- aku menurut. Mencabut kata-kataku dan minta maaf. Namun sampai hari ini ia tak merealisasikan konsekuensinya. Ia tetap tak berkomunikasi denganku.
Dongkol, memang! Bagaimana tidak, aku saja tidak pernah berlama-lama marah. Paling cuma jengkel, selebihnya kembali seperti semula. Namun kamu... Entah apa yang ada di benakmu!
Sebegitu sulitkah memaafkan? Apalagi untuk permasalahan yang boleh dibilang sepele! Renungan buatmu juga, karena kamu bukan hanya sulit memaafkan kesalahanku -tapi aku dituntut untuk mudah memaafkan apapun salah dan kurangmu-, kamu juga ternyata terlalu susah untuk mempercayai. Percaya bahwa aku adalah kekasih yang hanya untukmu dan percaya bahwa aku adalah kekasih yang benar-benar mencintaimu.
Selalu saja kilatan-kilatan cerita masa lalu yang menjadi kiblatmu untuk menghujatku. Ceritaku dengan si ini, dugaan perselingkuhanku dengan si itu, pertemanan istimewaku dengan si anu. Pokoknya, ada saja bahan yang kau jadikan acuan yang ujung-ujungnya berbuah perdebatan panjang dan pertengkaran.
Padahal aku tak pernah sedikit pun menjadikan masa lalumu sebagai bumerang dalam hubungan kita. Ya, mungkin pernah lah aku mengungkit, tapi ya sebatas ledekan. Aku mencoba lebih realistis bahwa apa yang kurajut kini adalah lembaranku denganmu, bukan aku dengan masa lalu dan kau dengan masa lalu. Kapan kita akan melakukan dan meraih lompatan ke depan kalau kau masih saja menengok ke belakang. Aku bukan tengah ingin menghilangkan masa lalu, klise tapi memang masa lalu hanya untuk ditutup rapat-rapat.
Aku hanya heran, kenapa sebegitu sulit untuk percaya aku mencintaimu? Bahkan ketika dalam nafas menderu diatas tubuhmu kudendangkan kata itu dengan sepenuh hati, kau masih saja tak percaya. "Kau bohong!" Begitu slalu katamu. Lalu dengan cara bagaimana lagi kau ingin aku melafalkannya? Jika dalam lingkup paling romantis pun kau tak memaknainya sebagai sebuah kata-kata dari tulusnya hati. Apakah ketika aku melantunkannya ditengah kebohongan yang sesungguhnya, baru kau akan percaya? Mempercayai kebohongan dan tak percaya kejujuran. Begitukah?
Hanya kau yang mampu dan berkapasitas menjawabnya...
Malas rasanya beranjak. Hatiku sedang tak enak. Selain karena mimpi buruk semalam yang membuatku terjaga pagi ini dengan dentuman nadi lumayan cepat.
Kupanggil kembali nomor teleponmu. Entah sudah keberapa kalinya jika diakumulasikan sejak semalam. Tersambung tapi tak diangkat. Kenapa dan ada apa dengan kamu?
Seperti biasa, kami memang berantem kemarin. Menurutnya, aku melontarkan kalimat yang salah dan aku harus mencabutnya untuk memulai komunikasi kembali dengannya. Awalnya, aku tak menuruti. Ia hanya ingin balas dendam karena sehari sebelumnya aku menginstruksikan hal yang sama. Kolokan bukan? Tapi yah, sekali lagi, -entah sudah berapa kali- aku menurut. Mencabut kata-kataku dan minta maaf. Namun sampai hari ini ia tak merealisasikan konsekuensinya. Ia tetap tak berkomunikasi denganku.
Dongkol, memang! Bagaimana tidak, aku saja tidak pernah berlama-lama marah. Paling cuma jengkel, selebihnya kembali seperti semula. Namun kamu... Entah apa yang ada di benakmu!
Sebegitu sulitkah memaafkan? Apalagi untuk permasalahan yang boleh dibilang sepele! Renungan buatmu juga, karena kamu bukan hanya sulit memaafkan kesalahanku -tapi aku dituntut untuk mudah memaafkan apapun salah dan kurangmu-, kamu juga ternyata terlalu susah untuk mempercayai. Percaya bahwa aku adalah kekasih yang hanya untukmu dan percaya bahwa aku adalah kekasih yang benar-benar mencintaimu.
Selalu saja kilatan-kilatan cerita masa lalu yang menjadi kiblatmu untuk menghujatku. Ceritaku dengan si ini, dugaan perselingkuhanku dengan si itu, pertemanan istimewaku dengan si anu. Pokoknya, ada saja bahan yang kau jadikan acuan yang ujung-ujungnya berbuah perdebatan panjang dan pertengkaran.
Padahal aku tak pernah sedikit pun menjadikan masa lalumu sebagai bumerang dalam hubungan kita. Ya, mungkin pernah lah aku mengungkit, tapi ya sebatas ledekan. Aku mencoba lebih realistis bahwa apa yang kurajut kini adalah lembaranku denganmu, bukan aku dengan masa lalu dan kau dengan masa lalu. Kapan kita akan melakukan dan meraih lompatan ke depan kalau kau masih saja menengok ke belakang. Aku bukan tengah ingin menghilangkan masa lalu, klise tapi memang masa lalu hanya untuk ditutup rapat-rapat.
Aku hanya heran, kenapa sebegitu sulit untuk percaya aku mencintaimu? Bahkan ketika dalam nafas menderu diatas tubuhmu kudendangkan kata itu dengan sepenuh hati, kau masih saja tak percaya. "Kau bohong!" Begitu slalu katamu. Lalu dengan cara bagaimana lagi kau ingin aku melafalkannya? Jika dalam lingkup paling romantis pun kau tak memaknainya sebagai sebuah kata-kata dari tulusnya hati. Apakah ketika aku melantunkannya ditengah kebohongan yang sesungguhnya, baru kau akan percaya? Mempercayai kebohongan dan tak percaya kejujuran. Begitukah?
Hanya kau yang mampu dan berkapasitas menjawabnya...
Tuesday, March 10, 2009
AKU, KEKASIH TERBAIKMU!
Dengan memberi judul seperti diatas, aku tak sedang ingin membanggakan diri atau besar kepala.
Kekasih. Kamu mungkin telah memiliki berbagai macam kekasih. Yang berambut panjang. Berambut sedang. Bahkan pendek seperti potongan rambutku. Semua mungkin telah kau kecap. Entah yang mana yang baik atau tak baik, atau kesemuanya baik. Hanya kamu yang menilai. Aku hanya hendak mengungkap tentang Alvi.
Ya, Alvi. Perempuan yang kau bilang tak akan pernah kau akui sebagai kekasih karena beribu bahkan berjuta-juta kekurangan yang ia miliki.
Ya, ia memang banyak kekurangan. Tak perlu ia sebutkan karena ia yakin sekarang kau sedang berkomat kamit menghitungnya. Tapi ia tak sedang mendaftar apa yang menjadi kekuranganmu. Baginya, kamu adalah bagian hidupnya. Sekurang, sejelek, seterbatas apapun dirimu, tetap saja dimatanya kau punya kelebihan yang tak pernah kurang, kebaikan yang tak terbatas serta perangai yang tak selalu jelek.
Ia begitu merindu. Merindu tuk bercengkrama tanpa warna-warni perdebatan yang bersahut-sahutan. Merindu tawa tertahanmu. Merindu tuk disayangi tanpa keangkuhan hati.
Sejatinya, cinta harus dimiliki. Namun tak lantas dihalalkan untuk saling menyakiti. Saling menyerang entah demi apa? Ketika kau rasa ia tak sanggup memberi -bukan membeli- kebahagiaan buat kamu, apa yang semestinya ia lakukan? Sama halnya ketika kau sepertinya memberi -bukan membeli- kebahagiaan untuknya, adakah kau tahu ia harus berbuat apa?
Kekasih. Kamu mungkin telah memiliki berbagai macam kekasih. Yang berambut panjang. Berambut sedang. Bahkan pendek seperti potongan rambutku. Semua mungkin telah kau kecap. Entah yang mana yang baik atau tak baik, atau kesemuanya baik. Hanya kamu yang menilai. Aku hanya hendak mengungkap tentang Alvi.
Ya, Alvi. Perempuan yang kau bilang tak akan pernah kau akui sebagai kekasih karena beribu bahkan berjuta-juta kekurangan yang ia miliki.
Ya, ia memang banyak kekurangan. Tak perlu ia sebutkan karena ia yakin sekarang kau sedang berkomat kamit menghitungnya. Tapi ia tak sedang mendaftar apa yang menjadi kekuranganmu. Baginya, kamu adalah bagian hidupnya. Sekurang, sejelek, seterbatas apapun dirimu, tetap saja dimatanya kau punya kelebihan yang tak pernah kurang, kebaikan yang tak terbatas serta perangai yang tak selalu jelek.
Ia begitu merindu. Merindu tuk bercengkrama tanpa warna-warni perdebatan yang bersahut-sahutan. Merindu tawa tertahanmu. Merindu tuk disayangi tanpa keangkuhan hati.
Sejatinya, cinta harus dimiliki. Namun tak lantas dihalalkan untuk saling menyakiti. Saling menyerang entah demi apa? Ketika kau rasa ia tak sanggup memberi -bukan membeli- kebahagiaan buat kamu, apa yang semestinya ia lakukan? Sama halnya ketika kau sepertinya memberi -bukan membeli- kebahagiaan untuknya, adakah kau tahu ia harus berbuat apa?
Tuesday, February 17, 2009
HAPPY SWEET THIRTY!
Read On YASIKA FM Jogja @ 8.30-10.00 pm. So, stay tune!
Mem, aku ingin bercerita tentang Mimi-ku. Mimi adalah panggilanku padanya dan ia memanggilku Pipi.
Jalinan kasih kami telah lebih dari satu setengah tahun berselang. Tepatnya bulan Juli nanti kami genap dua tahun. Bukan waktu yang singkat untuk membekaskan kenangan dengan berjuta kisah. Sedih, tangis, tawa dan bahagia. Meski lebih banyak berantemnya sih. Sejak mulai kami LDR (Long Distance Relationship) dulu, Jogja-Jakarta, Jogja-Jatim hingga kini kami sama-sama di Jogja, meski kami tak bisa bertemu muka tiap hari. Paling disatukan via telepon atau sms, itupun juga banyak berantemnya. Entahlah, mem, ia sepertinya sangat suka beradu argumen denganku. Tiap hari ada saja salah atau cela yang menurutnya kubuat yang membuatnya ngomel dan marah-marah. Bahkan tak jarang kata PUTUS terlontar. Memang sih, putus-nyambung sudah tak istimewa lagi dalam kamus hubungan kami. Sampai kadang aku jengah. Aku lelah bertengkar, mem. Aku hanya ingin ketika jarak tak lagi terlalu jauh memisahkan, aku ingin selalu rukun dengannya. Menghabiskan keterbatasan waktu kami tanpa pertengkaran, apalagi hanya dipicu hal-hal sepele.
Mimi, hari ini, di ultahmu yang ke-30 tahun, mungkin aku hanya bisa memberi secarik kalimat tak romantis ini untukmu. Aku belum bisa menghadiahimu sesuatu yang berharga dan lebih istimewa, selain hati dan kehadiranku dalam hari-harimu dengan segenap ketulusanku yang selama ini tak pernah kau percaya.
Semoga di usiamu yang mengawali kepala tiga ini, kamu bisa jauh lebih dewasa dalam memandang dan menyikapi hal-hal dalam hidup. Tak lupa kudoakan agar Mimi selalu dalam lindungan-NYA. Amien.
Mem, mayoritas orang menilai cinta kami terlarang, tak pantas bersemi dalam pandangan masyarakat yang masih sangat hetero normatif, namun apa yang kami rasa dan lalui -meski hanya kami, dan sekelumit orang yang tahu- adalah sesuatu yang indah dalam hari-hari kami.
Sekali lagi, happy sweet thirty to my beloved Mimi. I love u much...
Mem, aku ingin bercerita tentang Mimi-ku. Mimi adalah panggilanku padanya dan ia memanggilku Pipi.
Jalinan kasih kami telah lebih dari satu setengah tahun berselang. Tepatnya bulan Juli nanti kami genap dua tahun. Bukan waktu yang singkat untuk membekaskan kenangan dengan berjuta kisah. Sedih, tangis, tawa dan bahagia. Meski lebih banyak berantemnya sih. Sejak mulai kami LDR (Long Distance Relationship) dulu, Jogja-Jakarta, Jogja-Jatim hingga kini kami sama-sama di Jogja, meski kami tak bisa bertemu muka tiap hari. Paling disatukan via telepon atau sms, itupun juga banyak berantemnya. Entahlah, mem, ia sepertinya sangat suka beradu argumen denganku. Tiap hari ada saja salah atau cela yang menurutnya kubuat yang membuatnya ngomel dan marah-marah. Bahkan tak jarang kata PUTUS terlontar. Memang sih, putus-nyambung sudah tak istimewa lagi dalam kamus hubungan kami. Sampai kadang aku jengah. Aku lelah bertengkar, mem. Aku hanya ingin ketika jarak tak lagi terlalu jauh memisahkan, aku ingin selalu rukun dengannya. Menghabiskan keterbatasan waktu kami tanpa pertengkaran, apalagi hanya dipicu hal-hal sepele.
Mimi, hari ini, di ultahmu yang ke-30 tahun, mungkin aku hanya bisa memberi secarik kalimat tak romantis ini untukmu. Aku belum bisa menghadiahimu sesuatu yang berharga dan lebih istimewa, selain hati dan kehadiranku dalam hari-harimu dengan segenap ketulusanku yang selama ini tak pernah kau percaya.
Semoga di usiamu yang mengawali kepala tiga ini, kamu bisa jauh lebih dewasa dalam memandang dan menyikapi hal-hal dalam hidup. Tak lupa kudoakan agar Mimi selalu dalam lindungan-NYA. Amien.
Mem, mayoritas orang menilai cinta kami terlarang, tak pantas bersemi dalam pandangan masyarakat yang masih sangat hetero normatif, namun apa yang kami rasa dan lalui -meski hanya kami, dan sekelumit orang yang tahu- adalah sesuatu yang indah dalam hari-hari kami.
Sekali lagi, happy sweet thirty to my beloved Mimi. I love u much...
Subscribe to:
Posts (Atom)