Saturday, September 24, 2011
Rindu yang belum Terbunuh
Algojo tak Bertaji
Rinduku berdarah malam ini.
Aku menyembelihnya agar tak lagi merusak organ lainnya.
Ya, hati sudah kubantai agar tak lagi menafaskan namamu di setiap denyut jantungku.
Susah payah, serupa nafas aku membunuh dirimu yang hidup di hatiku.
Belum lagi mata yang selalu tertuju pada layar,
mengharap setiap dering adalah namamu.
Paling parah adalah ingatanku,
sudah kubuat linglung
tetap saja ia sempoyongan mengais remahan memori untuk ia satukan ulang.
Seluruh organ tubuhku menjadi pembangkang meski aku menghunusinya satu persatu.
Perih dimana-mana.
Hatiku yang menganga tersembelih.
Otak yang tercecer tetapi tetap berkedut menuliskan namamu.
Jemari yang tak henti menarikan kata untukmu.
Mulut yang tak mau pergi melafaskan namamu diantara umpatan asu.
Lagu-lagu yang berseliweran di kupingku.
Membunuhmu dengan caraku mencintamu!
Prosa hatiku itu niatan awalnya adalah akan kuhias di ruang hati dunia maya ini. Tetapi jaringan inet yang lelet menggerakkan jemariku untuk mengirimkannya pada ia, separuh hatiku yang kutuju.
Hanya butuh tak sampai lima menit melafalkan hati dan otak. Sinkronisasi jemari akan rasa yang bergolak seharian dan semalaman, waktu itu.
Dan kini kubaca ulang tulisan hatiku itu. Masih tetap tulisan hati senada denyut jantung dan detak otakku kini. Ya, aku mengakuinya, tak akan semudah membalik tangan untuk membunuh rasa yang bercokol mengakar serupa aku bernafas tiap hentakan waktu.
Wahai perempuan berkerudung yang mengkerudungi hatiku... Rindu ini belum terbunuh! Aku hanya sedang bertahan di koridorku. Cintaku bukan tuk sakitimu. Sayangku bukan tuk ganggu kenyamananmu. Aku hanya ingin menjadi aku yang punya cinta dan sayang untukmu... Selebihnya, tersiksa pun, biar itu tunggal menjadi rasaku selama kau merasa nyaman tanpaku...
Aku menemukan irisan hatiku atas dialog kita yang pernah tercipta. Aku merajut senyuman meski di seberang sana kau hanya berwujud suara tak berupa. Waktu berotasi dengan begitu cepatnya di tiap malam-malamku yang berisi tarian kata-katamu. Dan semua hal terindah yang tak bisa kupenakan tentangmu... Namun ketika sepenuhnya hanya menjadi rasaku, aku tetap bersyukur bisa berdansa dengan waktu... Sejati itu bukan hanya di bibirku, hanya rasa yang aku tak cukup pandai untuk mempertontonkan padamu...
Hatiku tak memilihmu diantara ratusan cahaya yang mengelilingiku, tapi kau satu-satunya cahaya yang berpendar menyelubungi hingga palung terdalamku. Kalau ada yang hendak meniup mati pendarnya, aku hanya ingin kau yang melakukannya...
Friday, September 23, 2011
Kontradiksi
Mengalah bukan berarti kalah...
Labil tidak bermakna tidak stabil...
Serdadu otakku sedang gaduh,
melihat batas kemudian teriak: "Tuntas! Tuntas!"
Kata-kata yang suka dibalik, kini bolak-balik
Kalimat yang merendah, kini direndahkan
Ucapan yang teringkari, seringkali
Berniat, tanpa niatan...
Memuja, tidak akan selamanya
Pada akhirnya, harimau di mulut akan tau seberapa besar kandangnya. Akankah kandang lebih besar dari harimau atau sebaliknya besar harimau daripada kandangnya???
mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
ku menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri ku melawan hari
ku akan berarti, ku takkan mati
Labil tidak bermakna tidak stabil...
Serdadu otakku sedang gaduh,
melihat batas kemudian teriak: "Tuntas! Tuntas!"
Kata-kata yang suka dibalik, kini bolak-balik
Kalimat yang merendah, kini direndahkan
Ucapan yang teringkari, seringkali
Berniat, tanpa niatan...
Memuja, tidak akan selamanya
Pada akhirnya, harimau di mulut akan tau seberapa besar kandangnya. Akankah kandang lebih besar dari harimau atau sebaliknya besar harimau daripada kandangnya???
mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
ku menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri ku melawan hari
ku akan berarti, ku takkan mati
Sing a Song
Selalu tampak indah awalnya.... Berakhir bencana...
Akhirnya, usai sudah semua kudapatkan tawa bahagia!
Karma By Cokelat
Lama gak denger lagu itu....Baru denger lagi ketika suara serak2 akustik mbak bersuara bagus waktu kumpul bersama teman2 Lesbian dua hari lalu...
Selamat tinggal, Sayang...
Akhirnya, usai sudah semua kudapatkan tawa bahagia!
Karma By Cokelat
Lama gak denger lagu itu....Baru denger lagi ketika suara serak2 akustik mbak bersuara bagus waktu kumpul bersama teman2 Lesbian dua hari lalu...
Selamat tinggal, Sayang...
Be Positive
Jangan lagi melewatkan kesempatan hanya karena sibuk akan hal-hal yang tak mutual. Bukan saja tak bermanfaat, tetapi mutual knowledge karena terlalu dibutakan satu arah, mutual time coz too much wasting time and I deserve to be blaming, mutual in every way...
Saya selalu percaya semua dimulai dari niat. Meski itu hanya hati dan Tuhanmu yang tau! Its enough 2 sleep, time to wake up this morning with another sunshine!
Bagi saya, wajar buta sementara karena dengan begitu akan belajar untuk ke depan selamanya.
Terpuaskan itu tak hanya karena sebuah rasa dalam hati. Pancaran itu bukan sinar karena dirundung kasih. Ya, menyeimbangkan!
3 bulan mamen, I have to prepare! On my feet, feet of my brain and feet of my heart!
Saya selalu percaya semua dimulai dari niat. Meski itu hanya hati dan Tuhanmu yang tau! Its enough 2 sleep, time to wake up this morning with another sunshine!
Bagi saya, wajar buta sementara karena dengan begitu akan belajar untuk ke depan selamanya.
Terpuaskan itu tak hanya karena sebuah rasa dalam hati. Pancaran itu bukan sinar karena dirundung kasih. Ya, menyeimbangkan!
3 bulan mamen, I have to prepare! On my feet, feet of my brain and feet of my heart!
Thursday, September 22, 2011
Interupsi!!!
Yup, otak berinterupsi besar-besaran malam ini. Seperti terbangun dan bergumam: "Kemana saja aku selama ini?", menilik ulang keberadaan saya di tempat itu, mengetahui esensinya, dan obrolan2 yang mengalir, pun kembali mendapat takaran otaknya.
Saya selalu terpesona dengan otaknya, bagaimana ia memetakan tiap detil isi pikirannya dalam satu demi satu ide dan alur pikir. Dan kemudian saya meninjau ulang: "Dimanakah saya? Kenapa saya selalu berkata tidak untuk diri saya? Kenapa selalu tersandung hal tidak penting tetapi mengganggu the whole process disaat semua ingin saya lakukan?"
Tidak akan menyalahkan, interupsi otak ini semoga tak hanya menjadi jingle saja ketika putaran waktu membalikkannya ke posisi nyaman tepat ketika aku harus move on, out of the boundaries.
She know I can do that, its just me, makanya saya dapat menangkap matanya ketika aku harus mengambil di saat yang tepat. Ya, ada yang berkobar kembali, disorientasi yang beranak pinak yang coba kau bantu untuk mematikannya di dalam diriku.
Hari ini adalah hari pertamaku setelah sekian lama tak memunculkan diri. Structural way of behave, hmm sedikit senyum ketika seorang teman tiba2 datang dan berseru tentang kita di depan banyak orang: "Kenapa tiap ada ini (saya), juga selalu ada ini (kamu)?". Pertanyaan yang kau klarifikasi dengan senyuman. Haha.
Ia tak mungkin diajak berbagi pola tentang how to, she just want me to be me and trust me that I can. Just support me from the inside!
Teringat perbincangan dengan soulmate via telepon sekitar dua hari lalu sebelum melajukan kaki bersama kamu untuk berkumpul dengan teman2 malam itu. Cukup bersama-sama menciptakan sesuatu, belajar ilmu ikhlas meski tak bersepakat dengannya dikarenakan masalah faktor umur. Ikhlas itu basic yang bahkan saya belum bisa melakoni secuil pun.
Seperti perempuan mabuk memang, tetapi interupsimu dan interupsi besar2an otakku semoga sanggup membantu diri saya sendiri dengan tidak beralasan atas nama orang lain.
Saya selalu terpesona dengan otaknya, bagaimana ia memetakan tiap detil isi pikirannya dalam satu demi satu ide dan alur pikir. Dan kemudian saya meninjau ulang: "Dimanakah saya? Kenapa saya selalu berkata tidak untuk diri saya? Kenapa selalu tersandung hal tidak penting tetapi mengganggu the whole process disaat semua ingin saya lakukan?"
Tidak akan menyalahkan, interupsi otak ini semoga tak hanya menjadi jingle saja ketika putaran waktu membalikkannya ke posisi nyaman tepat ketika aku harus move on, out of the boundaries.
She know I can do that, its just me, makanya saya dapat menangkap matanya ketika aku harus mengambil di saat yang tepat. Ya, ada yang berkobar kembali, disorientasi yang beranak pinak yang coba kau bantu untuk mematikannya di dalam diriku.
Hari ini adalah hari pertamaku setelah sekian lama tak memunculkan diri. Structural way of behave, hmm sedikit senyum ketika seorang teman tiba2 datang dan berseru tentang kita di depan banyak orang: "Kenapa tiap ada ini (saya), juga selalu ada ini (kamu)?". Pertanyaan yang kau klarifikasi dengan senyuman. Haha.
Ia tak mungkin diajak berbagi pola tentang how to, she just want me to be me and trust me that I can. Just support me from the inside!
Teringat perbincangan dengan soulmate via telepon sekitar dua hari lalu sebelum melajukan kaki bersama kamu untuk berkumpul dengan teman2 malam itu. Cukup bersama-sama menciptakan sesuatu, belajar ilmu ikhlas meski tak bersepakat dengannya dikarenakan masalah faktor umur. Ikhlas itu basic yang bahkan saya belum bisa melakoni secuil pun.
Seperti perempuan mabuk memang, tetapi interupsimu dan interupsi besar2an otakku semoga sanggup membantu diri saya sendiri dengan tidak beralasan atas nama orang lain.
Monday, September 19, 2011
Mengkotakkan Rasa Sayang
Perempuan itu sedang kontradiktif. Dulu, di awal2, ketika aku belum bisa mengontrol batasan2 ego, amarah dan penuntutan2ku terhadapnya ia berujar cinta itu bukan kedaulatan ego, karena waktu itu ia bilang beberapa kali egoku terlalu mendominasi. Tetapi ketika sudah "insaf" di hari Minggu lalu sudah bisa dengan enteng membawa perasaan sesuai lajurnya, ia mulai ribet dengan pesan pendek semalam apakah aku sudah mengakhiri perasaanku padanya usai pertemuan kami sesuai yang aku gaungkan ketika emosi2ku sedang tidak stabil, waktu itu.
Aku mengakui aku pernah berkata demikian, tapi itu jauh sebelum saya merasa tenang usai berbincang denganNya dan menguatkan serta mensupport hati saya untuk melogiskan batas hubungan saya dengannya kini. Ya, pembenahan besar2an itu yang saya lakukan! Selama ini aku mengakui sudah terlalu menjamah memaksa di koridornya, tetapi usai doa malam itu hati sudah bisa dengan ringan menjalani hari2 berikutnya rileks, tanpa cemburu, tanpa menuntut meski dengan tujuan yang masih sama, yakni jika ia memang beririsan takdir denganku aku memohon untuk dimudahkan.
Pertanyaannya semalam membuatku bertanya2 juga, setelah proses ketemu itu aku meyakini hubungan ini sudah dengan bisa santainya bergulir. Sudah tak ingin debat, adu argumen tak penting terhapus. Malahan kemajuan banget dengan intensnya frekuensi telepon, mendengarkan keluarganya bercengkrama, membocorkan suasana nikah kakaknya, mengetahui kalo ia ternyata bisa boso jowo alus dengan intonasi yang saya suka. Intinya, hal2 baru yang bagi saya kemajuan, meski ia menyaringkan tiap hari di telingaku tentang ospek menjadi kakak. Tak ada yang kumasalahkan, bagiku proses lebih berarti daripada pelabelan!
Dan kini ia bukan saja berada pada level pelabelan. Pesan pendeknya tentang pengakhiran perasaanku adalah bentuk pengkotakan untuk rasa sayang yang secara implisit ia tanyakan. Apa benar itu yang ia inginkan? Kembali aku bertanya2. Dan memang, aku sedikit terbawa emosi yang kemudian dibarengi penyadaran diri bahwa wilayah koridorku adalah tentang diriku sendiri, bukan tentangnya.
Mengkotakkan rasa sayang. Kalau kakak bentuk kotak begini dengan porsi begini, begitupun kalau kekasih. Hmm, aku tak akan terseret arus berpikirmu!
Aku memang tak seberapa fasih, aku sedang belajar, tertatih, untuk tetap pada tujuan awal aku padamu... Mengusahakan. Terserah kau membatasi dirimu dengan pengkotakan pikiran dan hati yang telah kau rasio sendiri. Bagiku rasa sayang hati tak bisa dikotakkan, ia hanya punya batas. Seperti yang kubilang padamu malam ini, aku sedang membuka rekening hatiku untukmu, bukan untuk membelimu, tapi menabung tiap kepingan transaksi memori hari yang saya lalui.
Mengusahakan. Sampai kau berkata ya atau tidak untuk hatiku. Atau sampai hatiku sudah terlalu bosan karna kau terlampau jual mahal padaku.
Tak akan berandai2, aku hanya menjalani proses hati ini dengan begitu teramat sederhana sesederhana bagaimana aku terpikat oleh otakmu. Otak yang ada di kepalamu, juga otak di hatimu.
Wednesday, September 14, 2011
Ketemu Ninja!
Buat saya pertemuan hari ini tak terencana... Aku masih ingat ketika perempuan itu mengatakan ikhwal tujuan kemana ia pergi. Entah memang ia sengaja atau tidak, ia lalu "menawari" untuk sekalian bertemu muka.
Menolak dengan alasan karena tak mau menjadi kambing congek diantara ia dan temannya, aku hafal dengan diriku sendiri yang bertabiat akan diam ditengah orang2 tak dikenal. Makanya tak ingin hal tsb terjadi, aku menyilahkannya bersilaturahmi dengan temannya itu saja.
Detik berganti sedemikian cepat, pun rencana. Soulmate sebelah mau nemenin. Pesan pendek cepat menyatakan ia di Malioboro. Melajukan motor bersama clue perempuan bermasker, menemukannya di tempat yang seperti ia bilang, depan halte busway benteng.
Aku sebenarnya kenal dengan temannya, hanya saja kalau tak salah di dua kali perjumpaan kami gak pernah ngobrol sesuatu yang berarti, just say hi. Perempuan itu tampak akrab dengan si teman. Malahan ia lebih banyak bicara dengannya, atau dengan soulmate ku ketimbang aku yang hanya dijutekinya.
Penghujung Maghrib tiba, si soulmate harus pulang karena seperti biasa jadwal apel jam 7. Sejak awal aku sudah berkeputusan kalo ia pulang, aku juga akan pulang, seperti yang kubilang di awal tadi, aku tak pandai melebur, meski secara tatap suara aku mengenal perempuan itu. Namun si soulmate wanti2, aku harus kembali kesana, mencoba untuk tidak menjadi diriku yang itu. Dan aku mencobanya...
Bertiga, dan tetap diam. Bukan congkak, hanya tak bisa memulai dan menyatu. Mereka akrab, pun si temannya juga ramah. Kecuali perempuan itu. Aku tau ia tak dari hati jutek, tapi disuguhi mata yang tiap kali mengarah padaku dengan pelototan kadang jengah juga. Menghabiskan waktu dengan hape, seperti tak mau bicara denganku, ya itu kamu!
Dan yang lebih parah adalah perempuan itu tak sedikit pun mau untuk membuka masker, alasannya: "Dulu kau pernah bilang, ingin bertemu denganku hanya ingin lihat gerakan mata dan gestur tubuhku aja, bukan?"
Hmm, ya benar, aku memang pernah berucap demikian, tetapi ketika kalimat itu diartikan secara detonatif, bukan konotatif, siapa disini yang sebenarnya kurang kerjaan? Bahkan sampai si masker aku "perkosa" pun ia memilih tetap memakainya. Aku nggak kepengen liat wajahmu kok, cuma yang lumrah aja masak ketemu masker ga mau dilepas, batinku. Ya, aku anggap aja hari ini ketemu Ninja. Persis, wong cuma liat matanya aja gerak kiri kanan melotot dan memicing tertawa disaat bersamaan.
Hanya sekitar setengah jam saja dari perjalanan waktu sepanjang sore hingga setengah 9 malam kami diberi waktu berdua. Itu ketika temannya naik busway. Menyemai setengah jam di kursi panjang belakang halte, aku tak menyebutnya bercengkrama. Entah apa namanya, aku hanya merasa hatiku bahagia di dekatnya, meski secara lisan tak mendapat perlakuan yang sama. Ia hanya menyuguhiku mata, tetapi ketika mata itu kunikmati dengan mataku ia memilih menghindar membuang suguhannya.
Adek, aku tau hatimu meski lisanmu pedas sekali padaku!
Subscribe to:
Posts (Atom)

