Friday, May 17, 2013

Mengurai Esensi


Masih, terpekur, usai bereuni dengan semua ingatan-ingatan tentangmu, asumsi yang berlalu-lalang hingga racun yang bersiap dituang untuk memeriahkan reuni tsb.

Terngiang, tentang suara minoritas seorang teman yang berusaha menjauhkanku dari belenggu dan kepungan memori yang masih menyergap kanan kiri, muka belakang, di setiap celah pikiranku. "Sudahlah, kau memang suka bercerita tentangnya, terlebih ketika kau bertemu dengan orang-orang yang akan mengamini ceritamu.". Aku terhenyak, dan tertohok.

Ia benar. Selama ini sepertinya aku melakukan persis seperti yang ia katakan. Dan sejak itu aku terus berpikir ulang...

Sampai detik ini aku masih membenci segala hal yang menghubungkan dan kuhubung-hubungkan denganmu. Aku juga tak mau tau apapun yang terkait denganmu. Konyol bukan? Memang! Tapi tetap saja hal-hal tsb terulang berulang.

Hingga pada titik balik aku harus mengurai esensi, substansi yang harus kucari, bukan pelengkap yang ada di sekitar cerita. Aku sebenarnya sudah hapal apa substansinya, namun tetap saja pula aku menyalahkan, membenci dan mencecar diluar isi yang harus kuenyahkan dari indungnya.

Apapun yang berhubungan denganmu menyakitiku, tetapi bahkan aku sendiri tak punya keberanian untuk segera mengakhiri, memutilasi inti, bukan kian memupuk dan memeliharanya dengan terus-menerus memedulikan hal-hal yang harusnya kuenyahkan.

Hati bukan tak mau diajak kompromi, ia hanya kadang masih larut untuk turut ikut membudidayakan hal yang buat otak dianggap carut marut.

Mengurai esensi, mari... Buat aku menjadi orang yang sudah tak peduli! Mari!

Wednesday, April 17, 2013

This is called breathe, not quit


Aku menyebutnya bernafas, bukan berhenti. Kepelikan dan kekompleksitasan satu persatu kejadian kini mulai menemukan titik temu, bukan ujung.

Seperti halnya bernafas, aku sedang melamban. Mengaliri nadi dengan detakan lemah namun tak terhenti. Aku percaya aku tak akan mengambil jeda terlalu lama. Memastikan benang-benang kusut terurai perlahan, aku akan cukup bersabar dan menyabar.

I'm breathing, just to know that I'm alive...

Tuesday, April 16, 2013

Malam Ini Kamu Cantik


Ia datang, tak berapa lama setelah saya menginjakkan kaki di tempat bertema tradisional jogja ini. Seperti biasa ia menyapa, dan saya membalas.

Celana pendek dan kaos kasual. Dan obrolan yang seperti biasa biasa-biasa saja. Tapi malam ini kau cantik! Entah karena habis mandi. Ya, kamu selalu lebih cantik sehabis mandi. Dulu, rambutmu tergerai memanjang dengan sedikit ikal. Namun kini memang tak ada juntaian, hanya diatas pundak, pun tak habis keramas.

Entah kenapa bisa terlihat cantik. Mungkin hanya mataku yang sedang tak waras. Atau mungkin hatiku sedang tak sehat. Entahlah, pastinya aku senang melihatmu cantik malam ini...

Friday, April 12, 2013

Indah pada waktunya


Kalimat itu diperkenalkan di telingaku sejak tahun 2006 oleh perempuan pertama pengisi relung hatiku ketika kehidupan hatiku sedang kacau-kacaunya. Saya menyalahkannya, dan butuh waktu tahunan untuk mengubah persepsi itu di otakku. Aku tak sedang memutar ulang kemarahan itu, hanya terngiang judul diatas, yang ternyata kembali berulang saat ini.

Dulu, perempuan itu selalu mewanti-wanti bahwa akan ada masa dimana saat-saat indah kembali akan kunikmati. Kata-kata itu menjadi senjata andalannya untuk menguatkanku, tetapi malah kuanggap sebagai alibi mengenyahkannya menjadi pelaku tunggal terkoyaknya hatiku. Ia bertudung pada sesuatu akan indah pada waktunya nanti.. Dan bukannya tak terjadi, aku mengamini peralihan demi peralihan kujajaki tetapi mendefinisikannya sbg sebuah keindahan pada waktu yang tepat, tetap aku tak sepakat.

Dan tahun 2011, ketika aku dipertemukan waktu dengan satu lagi perempuan pengisi hati, aku merasa indah sudah terjadi pada waktunya. Dan ketika lagi-lagi keindahan waktu tak berlangsung abadi, aku kembali dibuat terhenyak, akankah indah pada waktunya ini akan terjeda lima tahunan sepertinya sebelumnya?

Hmm, kalau melihat progressku merawat waktu aku percaya, indah pada waktunya adalah bukan tentang waktu itu sendiri, tetapi bagaimana mengelola agar si indah tidak hanya datang sewaktu-waktu...


Wednesday, April 10, 2013

Pengalihan Isu


Kecewa, sudah. Marah, sudah. Terluka, iya. Lalu apa sebenarnya masalahku?

Seharian ini, kali kedua seorang teman menasehati bahwa masih banyak orang-orang yang lebih tidak beruntung daripadaku. Untuk soal itu tentu saja aku mengamini. Apa dipikir orang nih kalau seseorang bercerita maka ia merasa ternista sedunia? Sempat pertanyaan itu mengembang di otakku, mulai membunuhi ketidakpercayaanku untuk membuka diri dan memunculkan lagi persepsi bahwa masalah seberapapun kecilnya adalah tak untuk dibagi alias dikonsumsi sendiri. Krisis yang mengkristal kini menggerogoti pikiran.

Aku memeras otak, apa sebenarnya poin permasalahanku? Banyak yang mentafsir aku patah hati tiada tara dan seperti tak mampu hidup karenanya. Mungkinkah itu?

Lalu ada lagi, ini tentang kemarahan, sepertinya ego kalau boleh dibilang harga diri otak yang tengah mengambil alih. Diremehkan oleh orang yang gak level begitu apakah itu yang sebenarnya mencideraiku? Baru dua dugaan, bukan?

Hal lain lagi, aku kelelahan sendiri mengajak seseorang berlari padahal ia tak menunjukkan tanda-tanda mengangkat kaki. Ia memang membenahi tali sepatu, bahkan pakaiannya sudah cocok untuk olahraga, mungkin cuma perlu ikat kepala, tapi ahh itu kan hanya pelengkap, yang paling krusial adalah ia tak hendak olahraga dan memilih jalan ke mall dengan pakaian yang ia kenakan. Cocok sih, tapi juga mengecewakanku, bukan?

Dan ada lagi, jenuh mungkin, menghabiskan beberapa jam dengan orang tak nyambung. Ini hanya pelengkap penderita aja sih, gak ngaru pada inti masalah hanya memperburuk mood. Lalu kecapaian sendiri covering the day with full of smile for everyone around you, although actually you don't want to smile. Hmm, mulai muncul letih..

Pertanyaannya, bagaimana kalau kesemua hal diatas berulang tiap hari di hidupmu? Tak seluruhnya mutlak menjadi bagian harimu, hanya beberapa masuk dan berganti, bertumpuk dan menindih, dan kau harus tetap tersenyum. Bagaimana caramu mengalihkan isu? Mendeteksi dan mengurai inti persoalan yang kusut saja tak dilakukan, bukan? Senyum itu hanya mengalihkan isu. And its enough to do, I'm not gonna covering anything again, like what I've done before, I'm not covering my feeling, so be it!

Defining Pain



Sore itu di ujung gazebo saya berdiskusi. Berbincang soal pekerjaan tepatnya, tetapi kemudian ketika malam obrolan itu terngiang di telingaku, aku tergelitik.

Mendefinisikan luka. Kata itu memang tercetus di ujung gazebo. Tetapi mungkin sebulanan ini saya benar-benar lari untuk tetap mengingkari bahwa perasaan campur aduk dan berkecamuk itu layak untuk disebut sebagai luka.

Aku mungkin lebih menamainya marah. Karena aku benar marah dan hanya marah-marah, tetapi ketika mencoba mengurai satu demi satu benang kemarahan itu, muaranya hanya satu, luka.

Maka oke, itu luka, lantas?
Aku berdamai, bukan hatiku yang terluka, itu hanya goresan tipis, tetapi ketika garis hidupku dilukai oleh orang yang bahkan tidak level dalam kategori apapun, oke harga diri saya yang terluka. Dan itu menciderai hampir sepenuhnya hormon kemarahan saya.

Lantas ketika memutuskan itu tak lagi soal kemarahan, tetapi bagaimana menghargai diri sendiri saya sepakat mengenyahkan luka itu menetap bahkan seujung kuku pun.

Monday, April 8, 2013

L.A.R.I


Entah sejak kapan kekecewaan itu berawal, bertumpuk dan tumpang tindih, namun kecewa itu tercover dengan helai tawa yang mau tak mau harus tampak dari bibirku. Ada yang membisik di telinga untuk selalu bertata krama, mengalah dan sekali lagi menutupi apa yang sebenarnya berkecamuk di hati.

Tetapi hari ini aku sepertinya lebih memilih lari. Bukan sebagai pengecut, namun sudah tak ingin lagi apa yang mengering terus-terusan dihempas air seolah tumpah dari langit dan tak disengaja, bahkan sudah menjadi kehendakNya.

Lari. Terengah, meski tak setapak pun langkah kakiku bergeser di tempat yang mulai berjamur karena lembab dan sembab.

Lari. Letih, harus selalu merintih seolah pedih memang yang layak kulewati diantara satu persatu kecewa yang kini bahkan melambai angkuh dan aku harus suka cita memberi ucapan selamat datang dengan senyum terindah. Tak sudi, mending lari!

Lari. Aku meyakini lari takkan mengakhiri. Lari hanya menjedakan ruang untukku menyendiri...

Lari tanpa lompatan kaki...