Sunday, March 31, 2013

Sungai Kehidupan Hatiku Tentangmu..


Ide itu tiba-tiba terlintas. Dan segera ku tindak lanjuti. Mengungkap isi hati via lagu. Sisi otakku yang lain meragu, mengajak berseteru. "Ngapain kamu lakukan lagi, mau ditertawain lagi?" sinisnya. Ya, aku punya riwayat buruk tentang menjabarkan hati lewat media tertentu.

Video waktu itu yang kupilih. Menautkan potongan-potongan gambar teman-teman membawa tulisan berkesinambungan. Bahkan mereka rela "syuting" demi mendapat gambar dengan latar background yang bagus. Saya salut dengan teman-teman waktu itu, demi menuruti keinginan hati saya meski hasilnya cuma tertawaan.

Menurut otak hal itu harusnya menjadi bahan pelajaran untuk tidak diulangi, bukan? Tapi hati kembali bereuforia. Hati sekali lagi bermain-main dengan yang namanya ilusi...

Idenya adalah ketika malam api unggun, seorang teman akan bermain gitar dan saya bernyanyi. Meski belum kepikiran juga apa yang akan dilakukan, ya gimana mau mikir wong membayangkan respon yang sama seperti kasus video tadi saja sudah bikin mikir ini akan sama endingnya, ditertawakan. Tapi hati tergolong ulet..

Pagi itu, mruput, bergegas ke tempat teman untuk mencocokkan nada. Niat banget, bukan? Hmm, terlanjur diniati ya dilakoni. Gak sampai sejam match sudah suara dan petikan gitar. Dan belum kepikiran juga skenario masuknya mengungkapkan hati akan kayak gimana, pokoknya persiapan dulu lah..

Malam tiba, seperti biasa otak bikin hati maju mundur. Dan ungkapan hati itu tersalurkan melalui media lain. Sungai kehidupanku. Bercerita mulai dari kisah semasa kecil, remaja, cerita cinta dan kamu. Hmm, aku bahkan tak menduga ungkapan itu terkatakan. Hanya saja aku berterimakasih pada sang waktu karena jika tak kulakukan pada medium masa itu, ungkapan unek-unek hati tak pernah akan tumpah. Berbicara denganmu empat mata, aku bukannya meragukan, tapi jelas-jelas meyakini situasi obrolan tak akan mengarah pada inti tetapi berputar tak tentu arah. Aku hafal karaktermu, pun karakterku.

Dan setelahnya, lega. Entah di ruang yang mana, pastinya tak mampat. Dan entah bagaimana caranya mengungkap isi hati jauh lebih lancar ketimbang memimpin forum. Tak ada kata terbata-bata. Musnah kalimat yang selalu blunder. Meski tak semua runut tetapi paling tidak tak ada yang bisa menghalangi hati waktu itu untuk tak melepaskan unek-uneknya.

Hmm, lantas aku terdiam. Otakku kembali menebar racun. Racun yang benar telah menyebar di setiap pembuluh darah..

Thursday, March 7, 2013

Pecicilan itu Menyenangkan!


Aku datang terlambat. Berefek pada aku tak bisa memilih tempat duduk. Dan suer aku benar-benar lupa pada acara itu. Mendapati 3 orang-orang baru di sekitarku, perkenalan, untung mood sosialitaku sedang bagus. Perempuan itu berbalut baju kedinasan, mukanya terlihat gak ngenakin, galak gak jelas. Biasa aku agak mikir negatif kalo semeja dengan instansi pemerintah. Yang udah-udah pasti mereka menunjukkan relasi kuasa dengan ngeremehin lsm. Hari pertama perempuan itu tak mengisi selayang mataku.

Baru hari kedua ketika diskusi kelompok aku mengetahui perspektif dan alur pikirnya. Ia mulai menarik. Plus aku mengerjainya, ia yang menulis ia yang bacain. Baru kali ini bisa ngerjain instansi pemerintah, bukan? Namun tujuanku sebenarnya adalah mengetahui isi otaknya. Ia pintar, dan konklusi itu membuyarkan muka agak judesnya yang sedari awal ku benci.

Dan mbribik pun dimulai... Menanyakan ia di divisi mana, kegiatannya, bahkan studinya.. Perempuan ini cerdas! Hari itu kami bertukar pin. Kukira hanya akan sebatas saling tukar, kami duduk bersebelahan dan ia mengirimiku pesan bbm. Dan indera mbribikku langsung memasang antena tinggi-tinggi.. Perempuan itu memulainya...

Esoknya, aku menanyainya akan berangkat jam berapa. Ia datang terlambat. Dan last day yang mengakrabkan. Alur pikirnya untuk seorang yang berada di posisi kedinasan bagiku lumayan mumpuni sebagai changemaker. Ia mengkritisi tetua yang konservatif, kebijakan yang tidak pro rakyat, hmm meski ia tak dalam posisi sebagai decision maker, namun ada orang-orang yang progresif di instansi pemerintah itu adalah kemajuan.

Hampir tiap hari kami bersambang dalam bbm. Tentang program yang bisa di akses, kegiatanku, bahkan obrolan tak penting tentang kegemarannya. Dan aku tergelak, ia mengharap akan bertemu denganku dalam event sosialisasi. Sayangnya bukan aku yang datang.

Dan ada satu hal lagi yang membuatku tergelitik... Ketika proses 3 hari kemarin ia selalu memanggilku mbak, panggilan lumrah dan aku tak protes bahkan di awal kami bbm-an ia masih memanggilku mbak. Namun entah dapat wangsit apa, ia kemudian memanggilku kakak. Dan setiap kata yang harus menyertakan namaku, ia terus berujar kakak dan kakak. Sunggingan bibirku melebar... Aku pasti mengerjainya! Terlebih usai mendengar statementnya: itu foto tunangan kok, belum mantenan!

So, let's mbribik.. For access khususnya..

Sunday, February 24, 2013

A Nite To Remember


Rindu itu telah bertumpuk. Menyiapkan pertemuan dengan perempuan pengisi bbm di keseharian saya itu bertolak belakang dengan misiku ke Jakarta sebenarnya. Benak berkerut, pengumpulan materi dan membaca pengetahuan baru serta bertemu dengan orang-orang yang sering kudengar namanya tapi belum pernah bertemu muka adalah kebalikan dari senyum hatiku yang riang akan bertemu pertemuan itu.
Ya, meski ada kekuatiran sedikit karena bahasa tulis dan obrolan tanpa muka itu jelas berbeda dengan face to face desember lalu.

Aku menamakannya A Nite To Remember, bagiku memang tak terlupakan. Tentang menjaganya, tentang suara lemah di telepon sebelum kami bersua, tentang suara lemahnya ketika memanggilku di depan masjid. Aku ingat betul, perempuan itu tampak kurus, batuk-batuk dan terbungkuk ketika meneriakiku dengan suara lemah.

Memijakkan kaki di kediamannya. Melihat tempatnya beraktivitas sehari-hari. Merasakan sirup markisa di air dingin yang disajikannya. Dan bahkan benda elektronik putihnya serupa punyaku. Kertas-kertas terburai di sekitar laptop yang masih menyala. Dan menatapnya... Tak secara diam-diam.. Menikmati detil muka, sorot mata kuyu namun kuat yang membalas tatapanku, intonasi bicara dan cerita-cerita hidupnya... Semua kekuatiranku hilang seketika...

Langkahmu tertatih, bahkan untuk jalan usai bangkit dari dudukmu saja kau sempoyongan, tapi kau keukeuh mengajakku keluar. "Kita nongkrong dekat sini yuk," cetusnya yang langsung kutolak. "Nggak papa, aku kuat kok kalo nongkrong daripada di rumah.". Dan aku baru bisa merasakan perempuan itu benar-benar kepala batu.

Aku dan perempuan itu berjalan keluar. Dan yang dimaksud dekat versi perempuan itu adalah jalan satu kilometer ke tempat yang dituju. Bukan tentang jarak, tetapi kesehatannya yang kupedulikan. Jalanan kecil nan ramai, bahkan di trotoar pun saling salip manusia. Dan jalanan sempit, lalu lalang kendaraan dan lagu A Thousand Years nya Christina Perry romantis, bukan?

Ia menghentikan langkah di depan 2 tempat makan bersebelahan. "Kamu pilih mana, yang makanan lokal atau junkfood? Kamu ada larangan makan junkfood, kapitalis?" tanyanya yang membuatku agak ngikik. Ya, kita memang anti kapitalis tapi ya gak segitunya juga junkfood ga mau makan.

Dan tempat makan itu lumayan sesak. Mengambil tempat di pojok dan lumayan sempit namun obrolan yang tercipta seluas jagat raya. Makrab, begitu ia menyebutnya. Karena kami banyak bertukar cerita, keluarga, masa kecil, hobi, daily living etc. Dan momen maknyess tercipta... Ibuku menelepon, dan perempuan itu berkirim salam yang disambut salam balik dari ibu. Tak berapa lama kakaknya menelepon, ia bertanya padaku tentang kalimat dalam basa jawa untuk disampaikan pada keponakannya, maklum basa jawa perempuan itu hanya satu dua kata saja.

Aku memberinya sebuah benda dalam balutan garis-garis ungu. Ia tampak ceria. Binar mata sumringah diantara bola mata yang terpancar memucat. "Tahun ini aku gak dapat kado," ujarnya. Holding hands, smiling, this heart so dancing..

A nite to remember, ia sungguh dekat di hati. Aku biasanya tak pernah merindukan yang jauh-jauh, namun bibit rindu sepertinya tak tersembuhkan oleh tatanan kalimat. Menutup malam dengan bingkai senyum.

Monday, February 11, 2013

#KayakTitiSjuman ngegosipin Titi Sjuman



Pagi ini saya hendak berangkat ke kantor dan terhenti ketika mendengar bunyi BBM masuk.
"Vi, gue mau ngomong sesuatu yg ga penting tp penting ni."
Pengirimnya adalah kembaran Titi Sjuman. Dan saya deg-degan. Hahaha. Karena kok kayaknya serius banget gitu kan...
"Gue gak respect ama Titi Sjuman, karena bla bla bla.." Perempuan yang lagi ngrasani pemilik wajah yang hampir serupa dengan wajahnya itu terus nyerocos berbaris-baris di BBM tentang apa yang di dapatnya dari infotainment.
Respon pertamaku adalah ngakak. Kukira ia akan bilang hal penting apa, ternyata ia serius banget ngebeberin keberatan2nya tentang gosip yang lagi dialami artis yang saya gandrungi itu.

Dan kalimat2nya bikin saya tertahan ke kantor, mengimbangi jawabannya. Namun karena waktu sudah gak memungkinkanku bbm-an, aku menjedakan sepuluh menitan untuk sampai ke kantor. Dan bunyi bbm masuk ternyata tak terhenti. Kayak titi sjuman itu masih aja ngomentarin proses perceraian dan gosip perselingkuhan si bintang pilem.

Ngakak saya gak bisa terhenti. Tetapi ujung2nya tetep aja se-serius2nya tuh orang nyerocos mesti ngakak dan menyuruhku agar tak terlalu serius. Pengen jitak!

Friday, February 1, 2013

Februari itu [katanya] Bulan Cinta?



"Kamu ke Jakarta awal Februari!" Kalimat itu bak wahyu dari Surga. Ada yang bersorak. Ya, hatiku yang diam menari. Jakarta, bukan liburan, tetapi workshop.. Dan kesempatan bertemu kamu...

Ia pun bersorak. Meminta dikabari kapan aku sampai bla bla bla... Namun ada yang mendadak mengganjal.. Kalau ketemu lantas kami akan ngobrol apa?

Aku mengembalikan ingatanku pada awal Desember yang juga menjadi awal pertemuan kami. Tak ada obrolan berarti, hanya saling lempar senyum, kalimat-kalimat canda yang geje dan flirting. Meski kemudian BBM melanjutkan kedekatan dan ia sungguh banyak kata dalam pesan-pesan yang ia kirim tapi tetap saja, BBM dan ketemu langsung itu beda.

Satu kekuatiranku, aku biasanya akan tampak bodoh di hadapan orang yang aku suka. Otakku mampet, lidahku yang emang dari sononya kadang suka gagap akan meningkat intensitasnya dan kekikukan perilaku. Awkward moment yang sungguh tidak kuharapkan!

Tetapi kuatir untuk suatu hal yang belum terjadi juga bukan hobiku banget. Ditambah keyakinan bahwa perempuan berlesung pipi itu bukan tipe predator yang akan menghabisi kekikukanku. Ia hangat dan lucu. Hmm, itu sebagian dari doa...

Pastinya, aku menanti pertemuan ini. Dan tampaknya tertunda hingga pertengahan Februari. Ulangtahunnya sudah lewat, padahal kalau beneran jadi ke Jakarta awal Bulan seperti rencana awalmu, merayakan ultahmu entah dengan ritual apa...

Tetapi mensyukuri bahwa ada pertautan takdir yang kembali mengiris perjalanan waktu aku dengannya, ya aku sedang menumpuk rindu satu bulan ini untuk bekal cerita sekaligus hadiah di bulan yang katanya bulan cinta...

Friday, January 25, 2013

Saya [ternyata] Masih Cemburu


Sepertinya cemburu itu udah jadi bagian tubuh yang melekat padaku seolah mendarah daging. Terutama sejak mengenalmu. Ya, kamu, perempuan yang masih berseliweran dalam hari-hari saya, namun dengan relasi yang harus saya telan bulat-bulat bahwa hati saya yang masih berkutat padamu harus bereaksi wajar ketika kamu menunjukkan perilaku yang sedari dulu bikin saya cemburu; sibuk dengan teleponmu.

Kadar cemburunya memang tak seperti dulu, alias tak destruktif dengan menampakkan perubahan muka dan perilaku. Mungkin karena belum sembuh, namun meminimalisir cemburu yang sudah kulakukan terhitung lumayan berhasil.

Sore itu aku melihatmu bertelepon. Cemburu, pasti! Namun dalam batas wajar bahkan aku masih bisa menutupi dengan canda. Tetapi cemburu itu tetap berwujud, meski tak di depanmu. Malam selesai acara, aku melajukan motor, bukan ke arah kost, tetapi berputar tak tentu arah sembari masing-masing sisi hati mengutarakan unek-uneknya.

Si cemburu ini mengajakku untuk marah. Namun tentu saja disanggah sisi hati yang lain yang setengah mati bilang bahwa cemburu itu sudah bukan masanya. Kalau sekarang keputusanku adalah mencintainya, maka meski cinta itu tak terkatakan, memanage cemburu adalah bagian dari hal yang masih perlu banyak belajar dan belajar.

Tetapi cemburu itu baik, bagiku itu simbol bahwa kamu masih hidup di relung terdalamku.

Laju motor malam itu sama halnya dengan cemburu yang masih mengakar, tak tentu arah. Namun tetap akan tahu kemana harus kembali, ke sebuah tempat kecil bernama hati.


25012013, langit kamar Tamsis.

Sunday, January 13, 2013

Pikiran [saya] kok saru?



Saya berkali-kali menyeka dahi. Tak ada keringat sebenarnya disana. Pun yang saya lakukan saya tau betul tak ada efeknya pada apa yang sebenarnya ingin saya seka. Saya ingin menyeka otak saya. Jadi benar bukan tak mungkin dengan menyeka dahi sama dengan menyeka otak?

Otak saya saru. Itu lumrah, hanya ketika di saat-saat tertentu. Tapi ketika di hampir setiap pertemuan aku dan kamu hanya pikiran itu yang ada di otakku, maka bagiku itu sudah tidak lumrah.

Lantas bagaimana menghilangkannya? Kalau aku tau jawabannya, tentu aku tak menuliskannya. Tetapi mari menelisik dulu apa penyebabnya? Otak saru, jangan samakan dengan otak-otak bajingan yang hanya mikirin selangkangan pada tiap objek yang dilihatnya. Otak saya saru cuma ke kamu aja, tidak ke perempuan lain. Bahkan untuk perbandingan waktu itu saya sedang bersamamu yang berpakaian lengkap nyaris tak ada satu bagian tubuh pun yang kau pamerkan, dan satunya adalah teman saya yang pakai tanktop dengan beberapa bagian tubuh lumayan keliatan. Harusnya, yang bikin saru yang keliatan bagian tubuhnya kan? Lha saya malah kebalikannya, gak tertarik dengan isi tanktop malah mengamati perilakumu yang wajar-wajar aja tapi malah bikin otak saya saru.

Rindu kah? Mengulang saat dulu menyentuh inch demi inch tubuhmu? Aku menjawabnya, mungkin saja. Tetapi aneh juga saru untuk hal-hal tak saru yang dilihat mata namun saru ketika dilihat oleh hati. Definisi saru yang tak biasa, bukan? Saya aja kadang merasa aneh. Namun bagaimana lagi memang begitulah adanya. Yang penting pikiran saru saya tidak mengganggu orang dalam pikiran saya itu, bukan? Hmm, kamu tak akan tau, ya kecuali kalau kamu membaca tulisan ini dan paham bahwa orang dalam otak saya itu kamu.

Sampai kapan pikiran saya yang saru berakhir? Tak ada yang tau! Berawalnya aja kapan, ya berakhirnya juga akan kapan-kapan, bukan?