Sunday, February 24, 2013
A Nite To Remember
Rindu itu telah bertumpuk. Menyiapkan pertemuan dengan perempuan pengisi bbm di keseharian saya itu bertolak belakang dengan misiku ke Jakarta sebenarnya. Benak berkerut, pengumpulan materi dan membaca pengetahuan baru serta bertemu dengan orang-orang yang sering kudengar namanya tapi belum pernah bertemu muka adalah kebalikan dari senyum hatiku yang riang akan bertemu pertemuan itu.
Ya, meski ada kekuatiran sedikit karena bahasa tulis dan obrolan tanpa muka itu jelas berbeda dengan face to face desember lalu.
Aku menamakannya A Nite To Remember, bagiku memang tak terlupakan. Tentang menjaganya, tentang suara lemah di telepon sebelum kami bersua, tentang suara lemahnya ketika memanggilku di depan masjid. Aku ingat betul, perempuan itu tampak kurus, batuk-batuk dan terbungkuk ketika meneriakiku dengan suara lemah.
Memijakkan kaki di kediamannya. Melihat tempatnya beraktivitas sehari-hari. Merasakan sirup markisa di air dingin yang disajikannya. Dan bahkan benda elektronik putihnya serupa punyaku. Kertas-kertas terburai di sekitar laptop yang masih menyala. Dan menatapnya... Tak secara diam-diam.. Menikmati detil muka, sorot mata kuyu namun kuat yang membalas tatapanku, intonasi bicara dan cerita-cerita hidupnya... Semua kekuatiranku hilang seketika...
Langkahmu tertatih, bahkan untuk jalan usai bangkit dari dudukmu saja kau sempoyongan, tapi kau keukeuh mengajakku keluar. "Kita nongkrong dekat sini yuk," cetusnya yang langsung kutolak. "Nggak papa, aku kuat kok kalo nongkrong daripada di rumah.". Dan aku baru bisa merasakan perempuan itu benar-benar kepala batu.
Aku dan perempuan itu berjalan keluar. Dan yang dimaksud dekat versi perempuan itu adalah jalan satu kilometer ke tempat yang dituju. Bukan tentang jarak, tetapi kesehatannya yang kupedulikan. Jalanan kecil nan ramai, bahkan di trotoar pun saling salip manusia. Dan jalanan sempit, lalu lalang kendaraan dan lagu A Thousand Years nya Christina Perry romantis, bukan?
Ia menghentikan langkah di depan 2 tempat makan bersebelahan. "Kamu pilih mana, yang makanan lokal atau junkfood? Kamu ada larangan makan junkfood, kapitalis?" tanyanya yang membuatku agak ngikik. Ya, kita memang anti kapitalis tapi ya gak segitunya juga junkfood ga mau makan.
Dan tempat makan itu lumayan sesak. Mengambil tempat di pojok dan lumayan sempit namun obrolan yang tercipta seluas jagat raya. Makrab, begitu ia menyebutnya. Karena kami banyak bertukar cerita, keluarga, masa kecil, hobi, daily living etc. Dan momen maknyess tercipta... Ibuku menelepon, dan perempuan itu berkirim salam yang disambut salam balik dari ibu. Tak berapa lama kakaknya menelepon, ia bertanya padaku tentang kalimat dalam basa jawa untuk disampaikan pada keponakannya, maklum basa jawa perempuan itu hanya satu dua kata saja.
Aku memberinya sebuah benda dalam balutan garis-garis ungu. Ia tampak ceria. Binar mata sumringah diantara bola mata yang terpancar memucat. "Tahun ini aku gak dapat kado," ujarnya. Holding hands, smiling, this heart so dancing..
A nite to remember, ia sungguh dekat di hati. Aku biasanya tak pernah merindukan yang jauh-jauh, namun bibit rindu sepertinya tak tersembuhkan oleh tatanan kalimat. Menutup malam dengan bingkai senyum.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment