April ini mungkin menjadi bulan tersibuk sepanjang tahun yang sudah terjalani ini. Betapa tidak, schedule kerja yang membludak tak bisa dibedakan antara jam kerja dan diluar kerja. Aku malah pernah pasang status fb, andai sehari 48 jam... Ya, 24 jam terasa pendek, hari sudah berganti, padahal sepertinya seharian tak melakukan apapun. Hmm, waktu yang singkat atau aku yang tak melakukan apapun? Entah, sukar mencari jawab!
Diantara kesibukan itu, ada seorang teman kantor yang getol banget mencibir, terutama ketika aku tak pergi pulang padahal usai jam kerja, alias masih betah ngendon di kantor. Awal2 cibirannya adalah tentang pegawai teladan, meski ia tau itu bukan tujuanku tak segera pulang. Dan kata terakhir dalam pembicaraan di telepon dengan si teman ini terngiang di telingaku:
"Buruan cari pacar, biar nggak terlalu sibuk cuma ngurusin kerjaan!"
Aku mendadak tercekat. "Asem!!" umpatku yang membuat perempuan hamil besar di seberang sana ngakak berat.
Usai gagang telepon tertaruh di tempat semula, kalimat itu seakan menjadi reminder di otakku. "Cari Pacar!". Teman tsb aku sangat yakin tak sekedar berolok, ia tahu betul keruwetan kerjaku akhir-akhir ini. Dan untuk cari pacar, jelas bukan karena terdorong oleh padatnya pekerjaan, karena sedari dulu juga sudah tergerak menemukan kekasih yang bukan hanya pacar tetapi juga belahan jiwa, but unfortunately saya belum beruntung. Dan saya tak hendak mengulang ocehan kompleksitas internal errorku sendiri. Namun reminder otak itu layak dipertimbangkan, segera cari pacar, tapi bukan tuk pengalih pekerjaan. Penyempurna hidup...
Wish I could find it soon... Hmm... Belum lagi hilang reminder buruan cari pacar oleh teman kantor, seorang teman juga asyik mengoprek perjalanan kisah menclak menclokku. Ia bertanya bukan ingin mencampuri internalku. Aku yakin maksud dia adalah sama dengan teman kantor, memastikan aku memilih dari kisah menclak menclokku atau paling tidak fokus pada satu perempuan untuk diraih. Dan jawabanku tetap sama, MENCLAK MENCLOK!
Aku ngakak ketika ia menjulukiku "cah loro" (orang sakit). Bukan karena bangga menclak menclok tapi urusan hati ini ternyata lebih ruwet ketimbang pekerjaan yang menggunung. Bayangkan, di hati memang satu yang diingini tapi logikanya tak mungkin bersama orang yang kita inginkan. Apalagi hati belum mau cerai memendam rasa yang sudah tahu tak teraih. Ditambah otak juga ikut-ikutan membunuh logika dan terus saja memfantasi.
Wah, semoga saja tak kelamaan dibelit rasa seperti ini. Bisa gaswat kalo hati dan logika membelot tak mau diatur. Dan bagaimana bisa mengisi hati dengan yang lain kalau begini caranya, bukan?
Sebenarnya simple, ini pemikiran saya diantara keruwetan hati dan pikiran, kalau aku dipertemukan dengan seseorang yang klik lahir batin, aku yakin seratus persen keruwetan ini akan terakhiri, bukan karena aku tak sungguh2 hati pada si "ruwet" ini atau hanya pengalihan pada si "click" ini. Hanya saja, ketika menemukan orang yang tepat, ingatan dan hatiku akan tak berhenti untuk mencari celah berharmoni bersama...
Andai si "mata nakal" yang "ruwet" ini adalah orang yang tepat. Namun aku menyadari ia hanya berbatas pengandaianku saja... Kembali karena aku tak tahu jawaban alam, isi otaknya dan aku yang tak berusaha meraih serta mencari tahu hatinya. Aku mungkin terlalu sibuk berasumsi, tapi feelingku mengatakan, cukup jadi pengandaianku saja!
So, I think they are right, buruan cari pacar! Ada yang bersedia membantu? *LoL* Atau kau yang disana, segera lah menghampiri, aku terlalu payah untuk jadi orang yang aktif dan mendekat dengan basa basi manis. *D'passive mode on.
Friday, April 15, 2011
Wednesday, April 13, 2011
I Need a Girl, Titik!!!
Dadaku sedang bergemuruh. Ya, selayak ombak yang meninggi tapi aku tak hendak bercerita tentang itu, hmm hanya akan merusak mood menulisku saja. Mengungkap sisi lain hati yang sedang gundah. I need a girl!
Ya, sesuai judulnya, diantara gemuruh amarah, sepertinya aku "membutuhkan" peredam. Tapi bukan karena hanya alasan itu semata, I need the whole need from a woman, hanya jika dikonteks kan dengan kini yang sedang terjadi, ya pembunuh amarahku mungkin seorang perempuan yang meredakan, menyejukkan dan mempositifkan emosi negatifku akan lain hal. Meski tak menutup kemungkinan kadang partner malah menambah permasalahan yang sudah ada, but I'm sure, if your girl is a partner not your girlfriend, she will know how to treat u emotionally, psychologycally (gak tau aku ngarang istilah ini ada apa gak ya hehe semau gue, blog blog gue hehe).
Back to the topic, hati yang sedang panas ini sebetulnya cuma memerlukan penyejuk....
Ya, sesuai judulnya, diantara gemuruh amarah, sepertinya aku "membutuhkan" peredam. Tapi bukan karena hanya alasan itu semata, I need the whole need from a woman, hanya jika dikonteks kan dengan kini yang sedang terjadi, ya pembunuh amarahku mungkin seorang perempuan yang meredakan, menyejukkan dan mempositifkan emosi negatifku akan lain hal. Meski tak menutup kemungkinan kadang partner malah menambah permasalahan yang sudah ada, but I'm sure, if your girl is a partner not your girlfriend, she will know how to treat u emotionally, psychologycally (gak tau aku ngarang istilah ini ada apa gak ya hehe semau gue, blog blog gue hehe).
Back to the topic, hati yang sedang panas ini sebetulnya cuma memerlukan penyejuk....
Saturday, April 9, 2011
Sedang Hambar
Hmm, aku makin tak mengerti maunya otak, apalagi hati. Sudah mulai tak konsisten, menurutku. Entah kunilai dari sisi yang mana. Pola hati yang berulang... Suka, tergila-gila lalu mulai perlahan memudar. Akibat jalan di tempat, susah teraih dan tak ada usaha meraih. Kompleksitas yang juga berulang.
Mungkin bawaan sedang hambar saja jadinya makin ruwet isi pikiran dan maunya hati. Sedang tak ingin beranjak. Fluktuatif sedang tak bergejolak. Diam. Sejenak atau seterusnya? Belum mampu terjawab!
Mungkin bawaan sedang hambar saja jadinya makin ruwet isi pikiran dan maunya hati. Sedang tak ingin beranjak. Fluktuatif sedang tak bergejolak. Diam. Sejenak atau seterusnya? Belum mampu terjawab!
Monday, April 4, 2011
Memelihara Relasi
Topik sejak semalam adalah tentang memelihara relasi. Dua orang berelasi cukup lama, namun di tahun ini mengalami konflik/kejenuhan/perselingkuhan, entahlah apa masalah sebenarnya. Yang pasti sedang menuai problematika berelasi layaknya orang kebanyakan.
Aku jadi mikir! Ya, kebiasaan buruk, belum lagi kecemplung, malah mikir duluan. Mungkin memang mudah berpetuah, namun bagaimana ketika aku menjadi lakon didalamnya? Hmm, ketakutan berelasi kah? Atau aku terlalu enjoy seorang diri?
Kadang aku mencoba mencari jawab, diantara dua hal diatas mana yang lebih mewakili. Karena sepertinya cukup kompleks antara aku yang tak beranjak dari permasalahan internal dalam meraih hati seseorang, konflik atau problematika berelasi yang pasti akan dialami sehingga siklus akan berulang jomblo-PDKT-Jadian-Putus lagi, atau aku yang tengah menikmati posisi wuenak tak berelasi (a. ka menclak menclok gak jelas). Susah membahas soal relasi, padahal konsekuensi relasi terpapar dengan begitu mudahnya. Kalau mau berelasi ya telan saja konsekuensinya ke depan dan kalaupun memilih tak berelasi nikmati saja menjadi jomblo sejati. Lalu mana yang harus dipilih?
Sekali lagi bukan masalah pilihan, tapi pertimbangan apakah sudah siap berkonsekuensi berelasi pun melahap siklus PDKT-Jadian-Putus-Jomblo-Cari lagi yang mungkin terjadi dan berulang, dan bagiku masih bikin "ketakutan" (baca: malas) untuk dijalani.
Aku jadi mikir! Ya, kebiasaan buruk, belum lagi kecemplung, malah mikir duluan. Mungkin memang mudah berpetuah, namun bagaimana ketika aku menjadi lakon didalamnya? Hmm, ketakutan berelasi kah? Atau aku terlalu enjoy seorang diri?
Kadang aku mencoba mencari jawab, diantara dua hal diatas mana yang lebih mewakili. Karena sepertinya cukup kompleks antara aku yang tak beranjak dari permasalahan internal dalam meraih hati seseorang, konflik atau problematika berelasi yang pasti akan dialami sehingga siklus akan berulang jomblo-PDKT-Jadian-Putus lagi, atau aku yang tengah menikmati posisi wuenak tak berelasi (a. ka menclak menclok gak jelas). Susah membahas soal relasi, padahal konsekuensi relasi terpapar dengan begitu mudahnya. Kalau mau berelasi ya telan saja konsekuensinya ke depan dan kalaupun memilih tak berelasi nikmati saja menjadi jomblo sejati. Lalu mana yang harus dipilih?
Sekali lagi bukan masalah pilihan, tapi pertimbangan apakah sudah siap berkonsekuensi berelasi pun melahap siklus PDKT-Jadian-Putus-Jomblo-Cari lagi yang mungkin terjadi dan berulang, dan bagiku masih bikin "ketakutan" (baca: malas) untuk dijalani.
Sunday, April 3, 2011
Aroma Rindu
Aku masih akan menuliskan aroma rindu untuk si mata "nakal". Kadang aku pun jengah, mengapa tak beranjak untuk hal yang sama. Menjauh kah, atau bahkan syukur mendekat kah. Tapi ini tidak, ibarat berolahraga treadmill, sudah jauh melangkah dalam kilometer tetapi menjejak bumi yang sama bahkan tak bergeser.
Kadang pun bosan, tak ada gunanya melewati hal yang tak pasti. Tetapi hati belum juga bisa diajak kompromi. Tetap saja mengingini, mengintip lakumu, menyenyumi polahmu, bahkan mencemburui yang tak kumengerti.
Peletmu bukan perekat hati, namun pemusnah logika karena telah membuat semua urat syarafku mati rasa untuk menjauhkanmu dari jangkauan pikiran. Lalu harusnya aku patut berterimakasih atau mengumpat agar benakku tak lagi terkontaminasi ingatan detil tentangmu?
Bersama hujan seharian ini kusapa kau dan sunggingan senyuman yang tak henti ibarat pelangi usai kau beri dan maknai balas sapaku, singkat namun berarti....
Kadang pun bosan, tak ada gunanya melewati hal yang tak pasti. Tetapi hati belum juga bisa diajak kompromi. Tetap saja mengingini, mengintip lakumu, menyenyumi polahmu, bahkan mencemburui yang tak kumengerti.
Peletmu bukan perekat hati, namun pemusnah logika karena telah membuat semua urat syarafku mati rasa untuk menjauhkanmu dari jangkauan pikiran. Lalu harusnya aku patut berterimakasih atau mengumpat agar benakku tak lagi terkontaminasi ingatan detil tentangmu?
Bersama hujan seharian ini kusapa kau dan sunggingan senyuman yang tak henti ibarat pelangi usai kau beri dan maknai balas sapaku, singkat namun berarti....
Saturday, April 2, 2011
Untitled-1
Sosokmu menyatu di pelupuk mata sudah jeda sekitar dua bulan, namun seperti baru kemarin saja. Mungkin karena hampir tiap hari tercerna, hingga harusnya kini sudah berlabel kenangan tapi tak jua mau lepas dari ingatan, malah sepertinya berkembang biak membudidaya di otak.
Kau sebenarnya punya daya tarik apa? Never knew kenapa waktu sesingkat itu mampu memadatkanmu dalam ingatan hati. Bahkan mungkin kau telah lupa, atau bahkan tak merasa. Ah entahlah! Bagiku susah tuk meraba hati orang yang di hadapan kita begitu dingin, tak banyak kata. Hmm, just forget how to recognize woman's thought!!
Aku perempuan, ia juga. Tapi mengapa aku tak bisa paham pikiran perempuan? Aku yang tak paham atau kau yang sukar tuk dipahami? Aku paham betul hanya secarik kata dalam tiap obrolan kita. Kukira kau berubah, ya aku ingat ketika awal bertemu kau juga tak banyak bicara. Namun jeda selanjutnya, seharian kau begitu dekat dengan banyak kata dan senyuman. Lalu ketakutan2ku mulai berdatangan dan aku memilih menghindarimu. Aku hanya tak mau dicap lesbian kemana-mana cuma cari jodoh. Ya, sejak itu kau pun berubah, tak banyak bicara pun menyurutkan senyuman yang sedari awal menjadi aset yang memesonaku. Dan aku tak bisa protes. Aku yang memulai perubahan itu, menetapkan batas-batas berbasis ketakutanku. Ya ya ya aku memang yang tak bisa mengerti pikiran dan tanda dari perempuan, aku terlalu sibuk dengan pikiranku!
Dan kini aku disiksa rindu!
Kau sebenarnya punya daya tarik apa? Never knew kenapa waktu sesingkat itu mampu memadatkanmu dalam ingatan hati. Bahkan mungkin kau telah lupa, atau bahkan tak merasa. Ah entahlah! Bagiku susah tuk meraba hati orang yang di hadapan kita begitu dingin, tak banyak kata. Hmm, just forget how to recognize woman's thought!!
Aku perempuan, ia juga. Tapi mengapa aku tak bisa paham pikiran perempuan? Aku yang tak paham atau kau yang sukar tuk dipahami? Aku paham betul hanya secarik kata dalam tiap obrolan kita. Kukira kau berubah, ya aku ingat ketika awal bertemu kau juga tak banyak bicara. Namun jeda selanjutnya, seharian kau begitu dekat dengan banyak kata dan senyuman. Lalu ketakutan2ku mulai berdatangan dan aku memilih menghindarimu. Aku hanya tak mau dicap lesbian kemana-mana cuma cari jodoh. Ya, sejak itu kau pun berubah, tak banyak bicara pun menyurutkan senyuman yang sedari awal menjadi aset yang memesonaku. Dan aku tak bisa protes. Aku yang memulai perubahan itu, menetapkan batas-batas berbasis ketakutanku. Ya ya ya aku memang yang tak bisa mengerti pikiran dan tanda dari perempuan, aku terlalu sibuk dengan pikiranku!
Dan kini aku disiksa rindu!
Sunday, March 27, 2011
Horny vs PMS
Aku baru menemukan penyebab kenapa beberapa hari ini begitu tergila-gila (boleh dibaca: horny) padamu. Hmm, ternyata mau mens!!! Pantas saja sedetik pun otak ini tak beranjak pada tubuh dan ketubuhan. Padahal notabene asal tau saja, for me sex itu nomer kesekian. Tetapi menilik kecenderungan beberapa hari ini, maka aku mulai berfikir ulang dan bertanda tanya, ada apa denganku??
Tetapi ketika mendapati aliran darah bulanan untuk perempuan pada umumnya, namun tidak umum bagiku karena seingatku sudah terpaut sekitar empat bulanan lalu terakhir aku mengalami habit perempuan ini, aku ber O panjang. Ya wajarlah kalau begitu!
Dan pertanyaannya kemudian, kenapa tergila-gila padamu? Menarik untuk dicermati, mengingat kami lumayan dekat sejak pengakuan itu. Meski benteng terus kubangun, namun percaya deh untuk mengerem yang namanya perasaan itu tak bisa semudah membalik telapak tangan.
Balik soal horny vs PMS, ya ya ya itu saling berkaitan, nah kalo horny vs PMS vs Mimpi tentangmu, masih berkaitan juga kah?
Semoga tak gila kelamaan karenamu, karena tergila-gila padamu adalah kegilaan yang melebihi tingkah orang gila beneran!
Tetapi ketika mendapati aliran darah bulanan untuk perempuan pada umumnya, namun tidak umum bagiku karena seingatku sudah terpaut sekitar empat bulanan lalu terakhir aku mengalami habit perempuan ini, aku ber O panjang. Ya wajarlah kalau begitu!
Dan pertanyaannya kemudian, kenapa tergila-gila padamu? Menarik untuk dicermati, mengingat kami lumayan dekat sejak pengakuan itu. Meski benteng terus kubangun, namun percaya deh untuk mengerem yang namanya perasaan itu tak bisa semudah membalik telapak tangan.
Balik soal horny vs PMS, ya ya ya itu saling berkaitan, nah kalo horny vs PMS vs Mimpi tentangmu, masih berkaitan juga kah?
Semoga tak gila kelamaan karenamu, karena tergila-gila padamu adalah kegilaan yang melebihi tingkah orang gila beneran!
Subscribe to:
Posts (Atom)