Kita yang harus mengendalikan hidup, bukan hidup yang mengendalikan kita. Pepatah yang beberapa malam lalu kudengar, dari film India -lagi-. Film yang pernah kutonton sebelumnya, namun versi Inggris, kali ini versi bilingual. Lumayan, waktu dulu nonton banyak yang kagak ngerti artinya karena text nya diterjemahkan bahasa jiran. Mujhse Dosti Karoge. Would u be my friend? Tapi aku bukan ingin bercerita tentang film yang boleh dibilang agak jadul itu -sekitar taon 2003- sebelum aku merantau ke Jakarta waktu itu.
Pepatah tentang hidup. Aku memang suka mengumpulkan pepatah. Tentang apa saja. Hidup. Cinta. Patah hati. Persahabatan. Harapan. Dll. Aku bahkan menjadikannya satu buku tersendiri. Kutipan dari mana saja. Orang2 terkenal. Pepatah Cina. Dialog dalam film. Closing infotainment. Bahkan yang No Name sekalipun. Pokoknya yang langsung mengena di hati dan unik alias ndak menye-menye. Yah, buat dibaca2 lagi ketika semangat kendur kayak gini.
Friday, August 14, 2009
Thursday, August 13, 2009
LAGI BELAJAR IKHLAS!
Semangat itu melorot lagi. Rasa malas itu mulai merajai. Kegelisahan hati. Akan sebuah mimpi. Yang -sepertinya- tak akan teraih. Hanya bayangan ilusi. Demi seutas janji. Yang -semoga- tak teringkari.
Entah kenapa aku dirasuki rasa tak bergairah hidup lagi. Bara menyala bahkan berapi-api kini surut kembali. Untuk apa sebenarnya aku hidup ini?
Pertanyaan itu yang kuajukan ulang sama ketika hidup serasa menghantam dan tak memedulikanku beberapa bulan lalu. Tapi aku memupuknya hingga keragu-raguan itu berganti gelora. Optimistis dalam hidup dan memandang semuanya. Dan segalanya terlihat positif memang.
Namun ternyata, hidup juga kadang kala asam kadang manis, pun tak selamanya pahit. Aku mulai kehilangan kendaliku. Entah apa penyebabnya. Semua saling berkaitan, dan tak bisa kujabarkan. Aku tipe orang yang tak bisa dan tak -terbiasa- mengeluarkan isi otak secara mendetail, sehingga kadang orang seringkali salah paham mengartikan, dan aku hanya mendiamkan. Tepatnya, membiarkan. Membiarkan salah-paham menumpuk dan membiarkan keyakinan bahwa isi pikiranku hanya Yang Diatas sana lah yang sesungguhnya mengetahui seutuhnya. Berhadapan dengan manusia hanya menimbulkan kelelahan untuk menjelaskan. Apalagi, jika kemudian penjelasan hanya akan memperparah kesalahpahaman. Capek! Jenuh, tepatnya! Kapan manusia berhenti menyikapi bahwa apa yang terlihat tak selalu sama dengan apa yang terbersit di benak mereka?
Belajar ikhlas! Sepertinya harus. Mungkin mau tak mau. Tapi aku senantiasa memupuk diantara puing-puing yang berserakan. Menyatukannya, meski tak utuh. Kepingan yang lain hilang. Dan tak kutemukan.
Ikhlas. Kata yang terdengar bermakna religius mungkin. Ah, bagiku tak ada kaitannya! Dan aku juga tak ingin mencari padanan kata lainnya.
Aku hanya sedang belajar ikhlas!
Jangan menyerah... Jangan menyerah... Jangan menyerah...
Entah kenapa aku dirasuki rasa tak bergairah hidup lagi. Bara menyala bahkan berapi-api kini surut kembali. Untuk apa sebenarnya aku hidup ini?
Pertanyaan itu yang kuajukan ulang sama ketika hidup serasa menghantam dan tak memedulikanku beberapa bulan lalu. Tapi aku memupuknya hingga keragu-raguan itu berganti gelora. Optimistis dalam hidup dan memandang semuanya. Dan segalanya terlihat positif memang.
Namun ternyata, hidup juga kadang kala asam kadang manis, pun tak selamanya pahit. Aku mulai kehilangan kendaliku. Entah apa penyebabnya. Semua saling berkaitan, dan tak bisa kujabarkan. Aku tipe orang yang tak bisa dan tak -terbiasa- mengeluarkan isi otak secara mendetail, sehingga kadang orang seringkali salah paham mengartikan, dan aku hanya mendiamkan. Tepatnya, membiarkan. Membiarkan salah-paham menumpuk dan membiarkan keyakinan bahwa isi pikiranku hanya Yang Diatas sana lah yang sesungguhnya mengetahui seutuhnya. Berhadapan dengan manusia hanya menimbulkan kelelahan untuk menjelaskan. Apalagi, jika kemudian penjelasan hanya akan memperparah kesalahpahaman. Capek! Jenuh, tepatnya! Kapan manusia berhenti menyikapi bahwa apa yang terlihat tak selalu sama dengan apa yang terbersit di benak mereka?
Belajar ikhlas! Sepertinya harus. Mungkin mau tak mau. Tapi aku senantiasa memupuk diantara puing-puing yang berserakan. Menyatukannya, meski tak utuh. Kepingan yang lain hilang. Dan tak kutemukan.
Ikhlas. Kata yang terdengar bermakna religius mungkin. Ah, bagiku tak ada kaitannya! Dan aku juga tak ingin mencari padanan kata lainnya.
Aku hanya sedang belajar ikhlas!
Jangan menyerah... Jangan menyerah... Jangan menyerah...
Wednesday, August 12, 2009
LIPSING PUSIIINGGG...!?!
Pagi ini ketika aku sedang mengetikkan tulisan untuk kupostingkan di blog, ada tiga hal lucu yang kutangkap ketika mataku menangkap apa yang tersaji di layar monitor sementara jari jemariku tengah lincah cetak-cetik di tuts hape.
Awalnya, Derings di Transtv. Setelah opening, sedianya akan dilanjutkan performance grup band radja. Personel sudah siap memegang instrumen masing2, dan petikan gitar terdengar. Lagunya berjudul PATAH HATI. Semua personel beraksi, namun baru beberapa detik, lipsing yang biasa dilakukan oleh para penyanyi meski sekaliber band2 papan atas sekalipun mempertontonkan kelucuannya. Kaset/CD/DVD atau apalah jenisnya, tiba2 macet, tersendat-sendat hingga mirip remix para DJ. Tapi untuk kasus ini tentu lain hal. Dan penyanyi diatas panggung langsung berusaha menutupi malu dengan diplomasi sekenanya. Membuatku semakin terbahak. Layar kemudian berganti dengan diputarnya video klip. Hah, gara2 lipsing!
Terhenti dari tawa yang mempermalukan band Radja, aku memindah channel tivi. Channel SCTV. Acaranya inbox. Yang sedang bernyanyi band tak terkenal yang aku tak tahu namanya, lipsing pula. Kali ini bukan lipsingnya yang bermasalah. Band ini tengah menyuguhkan lagu tentang ajakan dan hikmah berpuasa. Tema yang aji mumpung menyambut ramadhan yang akan tiba. Tapi bukan itu juga masalahnya. Tak apalah mencari rezeki lewat lagu, meski di telingaku syairnya terdengar tak mutu. Yang membuatku tersenyum bercampur grundelan adalah kostum yang dipakai si vokalis. Lagu bertema religi dinyanyikan oleh seorang perempuan yang mengenakan kostum serba hitam, celana pendek jauh diatas lutut dan kaos yang menunjukkan belahan dada. Sinkron kah? Aku jadi mikir, kok gak mikir ya si vokalis ini dia akan bawakan lagu apa, apakah nyambung gak ama kostum yang dia pakai. Kalo yang kulihat seh, pastinya gak mikir!
Ganti channel lagi. Transtv lagi. Radja Cilik lagi mau nyanyi.Itu tuh, anak2 si Moldy nya Radja yang umurnya paling masih sekitar 7-8 tahun. Lipsing lagi. Dan ini lebih parah. Lagu dan gerak bibirnya kagak sama blas. Ampyun deh! Antara wajar dan gak wajar, kalo aji mumpung mbok yo jangan kebangetan! Nunggu anak2nya gedean dikit kek!
Bener2 lipsing yang bikin pusyiiingg...
Awalnya, Derings di Transtv. Setelah opening, sedianya akan dilanjutkan performance grup band radja. Personel sudah siap memegang instrumen masing2, dan petikan gitar terdengar. Lagunya berjudul PATAH HATI. Semua personel beraksi, namun baru beberapa detik, lipsing yang biasa dilakukan oleh para penyanyi meski sekaliber band2 papan atas sekalipun mempertontonkan kelucuannya. Kaset/CD/DVD atau apalah jenisnya, tiba2 macet, tersendat-sendat hingga mirip remix para DJ. Tapi untuk kasus ini tentu lain hal. Dan penyanyi diatas panggung langsung berusaha menutupi malu dengan diplomasi sekenanya. Membuatku semakin terbahak. Layar kemudian berganti dengan diputarnya video klip. Hah, gara2 lipsing!
Terhenti dari tawa yang mempermalukan band Radja, aku memindah channel tivi. Channel SCTV. Acaranya inbox. Yang sedang bernyanyi band tak terkenal yang aku tak tahu namanya, lipsing pula. Kali ini bukan lipsingnya yang bermasalah. Band ini tengah menyuguhkan lagu tentang ajakan dan hikmah berpuasa. Tema yang aji mumpung menyambut ramadhan yang akan tiba. Tapi bukan itu juga masalahnya. Tak apalah mencari rezeki lewat lagu, meski di telingaku syairnya terdengar tak mutu. Yang membuatku tersenyum bercampur grundelan adalah kostum yang dipakai si vokalis. Lagu bertema religi dinyanyikan oleh seorang perempuan yang mengenakan kostum serba hitam, celana pendek jauh diatas lutut dan kaos yang menunjukkan belahan dada. Sinkron kah? Aku jadi mikir, kok gak mikir ya si vokalis ini dia akan bawakan lagu apa, apakah nyambung gak ama kostum yang dia pakai. Kalo yang kulihat seh, pastinya gak mikir!
Ganti channel lagi. Transtv lagi. Radja Cilik lagi mau nyanyi.Itu tuh, anak2 si Moldy nya Radja yang umurnya paling masih sekitar 7-8 tahun. Lipsing lagi. Dan ini lebih parah. Lagu dan gerak bibirnya kagak sama blas. Ampyun deh! Antara wajar dan gak wajar, kalo aji mumpung mbok yo jangan kebangetan! Nunggu anak2nya gedean dikit kek!
Bener2 lipsing yang bikin pusyiiingg...
Monday, August 10, 2009
TELEPON IBU
Hari Minggu aku menelepon ibu. Ibu mengadu sedang sakit. Habis dari dokter tiga hari lalu. Hipertensi dan gula darahnya juga tinggi. Bagaimana bisa? Itu pertanyaan yang seketika hinggap di otakku. Ya, ibu memang telah lama mengidap diabetes, namun selama ini terkontrol. Ibu tak pernah aneh-aneh. Maksudnya, yang tak sesuai takaran atau yang mengandung banyak gula. Selain itu, ibu memang juga tak suka makan banyak dan yang neko-neko. Perutnya tak terbiasa. Apalagi, hipertensi, sejak kapan ia mulai mengidapnya? Faktor makanan, atau kopi, ya ibu kadang ngopi, tapi teramat jarang dan hanya encer2 saja dengan gula seujung sendok.
"Ema, mikir apa?" (Ema= panggilanku pada ibu. Bukan Emak, bukan pula Mama. Sewaktu kecil kakak laki2ku terlalu cadel hingga tak bisa mendengungkan kata Mama dengan benar dan melafalkannya dengan kata Ema, kemudian diwariskannya padaku sampai kami dewasa sekarang.)
"Ya, banyak lah! Namanya juga orangtua! Bla bla bla..." sahutnya dengan embel2 lain seperti biasa. Aku pernah tau, diabet bukan hanya disebabkan faktor makanan, tetapi juga pikiran. Bahkan pikiran lah yang lebih jahat meningkatkan kadar gula dalam darah.
"Lha kok bisa darah tinggi juga? Sering makan sate kambing ta?" godaku sambil menahan tawa.
"Sate kambing gundulmu!" jawabnya medhok membuatku ngakak. "Itu lho, si Gileh!"
Si Gileh, adalah sebutan ibu untuk sepupuku, anak sulung adiknya, yang tinggal satu rumah dengan ibu dan memang agak2 gileh (Gila). Katanya, si Gileh selalu berulah dan membuatnya uring2an. Mana ia sendiri di rumah, sementara adiknya hampir tak pernah di rumah. Praktis hanya ibu lah yang harus menghadapi si Gileh dan itu yang menguras energi, emosi mungkin tepatnya.
"Ya, jangan dipikiri, diakali aja!" saranku. Seperti biasa jika aku sedang tak ingin menghadapi sesuatu dengan cara frontal, maka aku mengakalinya, dalam artian mengalihkannya agar uring2an tak hinggap dan menghinggapiku.
Ibu kemudian bercerita tentang kakak lelakiku dan sindrom insomnianya. Sejak dulu ia memang susah tidur, tapi sejak ayah meninggal, ia semakin susah tidur. Seringkali terjaga seperti ada yang membangunkan. Mungkin itu salah satu penyebab hipertensinya.
Satu hal lagi, ia bertanya soal vitamin untuk orang tua. Tumben banget, pikirku.
"Kata dokter, aku disuruh mengonsumsi vitamin. Tak hanya obat2an." terangnya. Ibu memang harus rutin mengonsumsi obat untuk diabet sebelum makan. Tapi vitamin... Ibu tak pernah berujar sebelumnya. Benakku bertanya-tanya. Sejak kematian ayah, aku merasa ibu lebih menghargai kesehatannya. Kalau dulu uang dialokasikannya ke dapur, kupikir ibu lebih memprioritaskan kesehatannya kini. Obrolan kemudian melantur kemana-mana hingga tak terasa satu jam bergulir cepat.
Setelah telepon terputus aku merenung dan tercenung. Campur aduk. Kegelisahan yang bercampur dan pikiran yang teraduk. Terlalu rumit tuk dideskripsikan, apalagi dilisankan. Hanya tersimpan. Dan menjadi rasa bersalah yang selalu dan terus tertahan.
"Ema, mikir apa?" (Ema= panggilanku pada ibu. Bukan Emak, bukan pula Mama. Sewaktu kecil kakak laki2ku terlalu cadel hingga tak bisa mendengungkan kata Mama dengan benar dan melafalkannya dengan kata Ema, kemudian diwariskannya padaku sampai kami dewasa sekarang.)
"Ya, banyak lah! Namanya juga orangtua! Bla bla bla..." sahutnya dengan embel2 lain seperti biasa. Aku pernah tau, diabet bukan hanya disebabkan faktor makanan, tetapi juga pikiran. Bahkan pikiran lah yang lebih jahat meningkatkan kadar gula dalam darah.
"Lha kok bisa darah tinggi juga? Sering makan sate kambing ta?" godaku sambil menahan tawa.
"Sate kambing gundulmu!" jawabnya medhok membuatku ngakak. "Itu lho, si Gileh!"
Si Gileh, adalah sebutan ibu untuk sepupuku, anak sulung adiknya, yang tinggal satu rumah dengan ibu dan memang agak2 gileh (Gila). Katanya, si Gileh selalu berulah dan membuatnya uring2an. Mana ia sendiri di rumah, sementara adiknya hampir tak pernah di rumah. Praktis hanya ibu lah yang harus menghadapi si Gileh dan itu yang menguras energi, emosi mungkin tepatnya.
"Ya, jangan dipikiri, diakali aja!" saranku. Seperti biasa jika aku sedang tak ingin menghadapi sesuatu dengan cara frontal, maka aku mengakalinya, dalam artian mengalihkannya agar uring2an tak hinggap dan menghinggapiku.
Ibu kemudian bercerita tentang kakak lelakiku dan sindrom insomnianya. Sejak dulu ia memang susah tidur, tapi sejak ayah meninggal, ia semakin susah tidur. Seringkali terjaga seperti ada yang membangunkan. Mungkin itu salah satu penyebab hipertensinya.
Satu hal lagi, ia bertanya soal vitamin untuk orang tua. Tumben banget, pikirku.
"Kata dokter, aku disuruh mengonsumsi vitamin. Tak hanya obat2an." terangnya. Ibu memang harus rutin mengonsumsi obat untuk diabet sebelum makan. Tapi vitamin... Ibu tak pernah berujar sebelumnya. Benakku bertanya-tanya. Sejak kematian ayah, aku merasa ibu lebih menghargai kesehatannya. Kalau dulu uang dialokasikannya ke dapur, kupikir ibu lebih memprioritaskan kesehatannya kini. Obrolan kemudian melantur kemana-mana hingga tak terasa satu jam bergulir cepat.
Setelah telepon terputus aku merenung dan tercenung. Campur aduk. Kegelisahan yang bercampur dan pikiran yang teraduk. Terlalu rumit tuk dideskripsikan, apalagi dilisankan. Hanya tersimpan. Dan menjadi rasa bersalah yang selalu dan terus tertahan.
Sunday, August 9, 2009
Film India: Ga Melulu Termehek-Mehek!
Sejak malam mulai beranjak naik, satu persatu tivi sibuk menggelar Breaking News dengan headline hampir sama: Pengepungan Teroris di sebuah rumah di Kedu, Temanggung. Sampe eneg denger berita yang diucapkan berulang-ulang kayak penyiarnya kagak punya kosakata laen aja. Akhirnya, setelah memencet2 remote dari mulai sinetron2 sampe the master show di rcti, aku kemudian terpaku di salah satu stasiun tivi. TPI. Lagi muter film india. Pretty Zinta yang kulihat di layar. Lalu Saif Ali Khan. Aktor yang tidak kugemari. Tapi ketika hendak kualihkan, wajah Shah Rukh Khan muncul, menahan tanganku memindahkan channel. Dalam hati mikir, film apa ini ya? Karena beberapa waktu lalu aku juga nonton film Shah Rukh dengan judul lumayan panjang dan tidak familiar tapi ceritanya sangat-sangat menyentuh, makanya ketika melihat Shah Rukh tanganku ngerem mendadak. Dan akhirnya aku tau judulnya, Kal Ho Naa Ho, judul yang ternyata pernah kudengar meski bukan film baru tapi tak pernah kulihat sebelumnya, maklum dah lama tidak bercengkrama dengan televisi dan tak lagi up 2 date ama film, terutama film india.
Cerita demi cerita pun mengalir. Sama seperti film india yang lalu, film ini juga mengajarkan cinta dengan cara yang indah dan tidak termehek-mehek. Dan satu hal lagi, di film ini tak disangka tak dinyana ada special appearance dari aktris India favoritku, Sonali Bendre. Mmm... Rasanya seperti kembali ke masa ketika aku begitu "tergila-gila" pada aktris itu sekitar 7-8 tahun yang lalu. Semua filmnya kulahap habis. Bahkan aku mengoleksi foto2nya -yang sayang sekali kutaruh di beberapa disket dan kini disketnya entah dimana-.
Balik ke film tadi, meski endingnya tak sesuai yang kuinginkan, tapi sekali lagi selalu mengesankanku satu hal: cinta penuh ketulusan dengan cara yang unik. Dan seperti reuni masa lalu dengan aktris idola yang menurutku sudah tampak agak menua. Maklum, ia lahir tahun 74 sementara aku menggandrunginya ketika usianya sama seperti usiaku sekarang. Hah, film india kayaknya emang gak selalu termehek-mehek deh! Yah, at least mendingan lah daripada nonton peliputan pengepungan teroris yang terlalu dibesar-besarkan dan diulang-ulang, capek deh!
01:13 am Saturday, August 8, 2009
Cerita demi cerita pun mengalir. Sama seperti film india yang lalu, film ini juga mengajarkan cinta dengan cara yang indah dan tidak termehek-mehek. Dan satu hal lagi, di film ini tak disangka tak dinyana ada special appearance dari aktris India favoritku, Sonali Bendre. Mmm... Rasanya seperti kembali ke masa ketika aku begitu "tergila-gila" pada aktris itu sekitar 7-8 tahun yang lalu. Semua filmnya kulahap habis. Bahkan aku mengoleksi foto2nya -yang sayang sekali kutaruh di beberapa disket dan kini disketnya entah dimana-.
Balik ke film tadi, meski endingnya tak sesuai yang kuinginkan, tapi sekali lagi selalu mengesankanku satu hal: cinta penuh ketulusan dengan cara yang unik. Dan seperti reuni masa lalu dengan aktris idola yang menurutku sudah tampak agak menua. Maklum, ia lahir tahun 74 sementara aku menggandrunginya ketika usianya sama seperti usiaku sekarang. Hah, film india kayaknya emang gak selalu termehek-mehek deh! Yah, at least mendingan lah daripada nonton peliputan pengepungan teroris yang terlalu dibesar-besarkan dan diulang-ulang, capek deh!
01:13 am Saturday, August 8, 2009
Monday, July 6, 2009
P E R T A N D A
Cinta... Biar saja ada
Yang terjadi biar saja terjadi
Bagaimanapun hidup tetap hanya cerita
Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan
Cinta...
Aku menuliskan bait terakhir dari lagu duet Melly feat Krisdayanti berjudul Cinta itu di status facebookku beberapa hari sebelum aku dibangunkan oleh dering telepon kala fajar yang mengabarkan bahwa ayahku berpulang ke haribaanNYA karena serangan jantung. Penyakit yang dideritanya kurang lebih 4-5 tahun ini.
Sebelah mataku memicing menengok angka-angka digital di kanan atas layar ketika mendengar ponsel di sebelahku berdering. Baru kemudian kuarahkan mata menengok nomor si penelepon. Nomor xl yang tak kukenali.
"Siapa nelpon subuh2 gini!" rutukku setengah hati menekan tombol hijau di sebelah kiri. Ujung telingaku mengenali suara itu. Suara adik ibuku. Perasaanku mulai tak enak. Dan tak menunggu sampai ia menjabarkan kabar apa yang hendak ia utarakan disela kalimat2nya agar aku tabah, aku telah bisa menerka ini pasti soal ayah. Pasalnya, sejak kematian adik kandungnya yang belum menginjak 40 hari, aku mendengar kabar bahwa penyakit jantungnya kian sering kambuh. Dari mulai nafas yang tersengal dan batuk-batuk. Kemudian aku hanya bisa bengong sekian lama, sebelum akhirnya perutku berkontraksi hebat. Diare. Aku selalu mendadak diare ketika terkejut. Alamiah. Selebihnya, aku masih diselimuti alam pikiran yang kian mengacaukan. Bersandar di dinding tanpa tau harus apa! Pikiran seakan kosong.
Dan entah kenapa sejak beberapa hari itu aku begitu menyenangi lagu yang sebelumnya teramat tak kusuka. Namun ketika kucermati satu demi satu bait lagu, khususnya bait terakhir yang mempunyai pola berbeda dengan isi lagu, bagian yang paling kugemari.
Selain lagu, entah kenapa aku juga teramat sangat ingin pulang. Bukan karena disaat yang sama aku juga sedang kalut oleh kemelut hidup hingga sempat menorehkan sebuah garis tipis yang boleh kugarisbawahi sebagai sebuah tempat terendah selama hidup. Aku benar-benar ingin pulang. Agar tak kurasakan kesendirian dalam tekanan pikiran di ruangan 3x3 yang harus serta wajib kulewati di tiap malam-malamku. Firasat kah?
Dan memang, aku sungguh pulang. Mendapati ibu penuh linang airmata dan meneguk kenyataan bahwa aku tak sempat melihat jenazah ayah sebelum disemayamkan di pembaringan terakhirnya karena waktu... Ya, waktu yang seakan terlalu kejam menjadikan jarak Jogja dan kota kelahiran ibu sedemikian jauhnya hingga tak lagi bisa terkejar olehku. Sungguh, kepulangan yang tak pernah kuharapkan. Kepulangan yang juga menyisakan bilur-bilur pemikiran yang terus-menerus terngiang dalam benakku.
Sehari sebelum berpulang, ayah bercerita pada adik perempuannya bahwa ia bermimpi didatangi oleh adik laki-lakinya yang baru meninggal itu dan menyuruhnya tanda tangan. Ayahku pun membubuhkan tanda tangan. Jikalau mimpi adalah sebuah pertanda, maka mimpi ayah adalah pertanda buruk bahwa ia akan menyusul adiknya tsb.
"Nggak, aku nggak mau mati dulu," sergah ayah ketika adik perempuannya beropini perihal mimpinya. "Aku masih punya tanggungan! Anak perempuanku belum kawin!" imbuhnya.
Cerita yang menohokku telak. Tanggungan yang ia maksud jelas2 adalah aku! Sebuah perasaan bersalah seketika menyelusup dalam nuraniku. Diatas semua kekurangan ayah, tapi akulah yang selalu menjadi kesayangan ayah sejak dulu. Sedang kakak laki2ku adalah kesayangan ibu. Memang tak terlihat secara langsung, hanya saja konstruksi pemikiranku mengatakan demikian.
Dan ketika beliau pergi untuk selama-lamanya, ganjalan pemikirannya kini sepenuhnya beralih padaku. Meski ibu pun mulai kasak-kusuk menanyaiku perihal kapan akan membina rumah tangga. Ibu yang dulu-dulu tak pernah bertanya apalagi mendesak, kini seakan ikut tren adik perempuannya bertanya-tanya hal tabu untuk diusikkan padaku.
Aku kembali ke Jogja bukan untuk lari, meski tak kupungkiri sedikit mengatasi kejengahanku atas perasaan bersalah yang hinggap disela-sela pikiranku. Tapi tak lantas aku bisa sebegitu enaknya terlepas dari himpitan perasaan itu, karena kemelut pikiranku kian berputar cepat di otakku.
Ayah memang telah pergi, tapi terkadang bayangan dan memori kebaikan-kebaikannya padaku serta perilaku kekurangan-kekuranganku padanya silih berganti memenuhi fikiranku.
Sedih jika teringat aku belum dapat menyenangkan dan memberi imbalan yang memang tak pernah ia minta atas segala peluh yang ia cucurkan hingga aku menjadi seperti sekarang. Kesedihan yang tak akan pernah terbayar olehku selain doa dan harapan agar aku selalu digariskan untuk tak pernah lupa mengirim lafazh Alquran penyejuk di pembaringan abadinya.
Tetes airmata yang akan terus mengaliri sungai nuraniku untuk terus mengubur penyesalan yang takkan terbayar.
Yang terjadi biar saja terjadi
Bagaimanapun hidup tetap hanya cerita
Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan
Cinta...
Aku menuliskan bait terakhir dari lagu duet Melly feat Krisdayanti berjudul Cinta itu di status facebookku beberapa hari sebelum aku dibangunkan oleh dering telepon kala fajar yang mengabarkan bahwa ayahku berpulang ke haribaanNYA karena serangan jantung. Penyakit yang dideritanya kurang lebih 4-5 tahun ini.
Sebelah mataku memicing menengok angka-angka digital di kanan atas layar ketika mendengar ponsel di sebelahku berdering. Baru kemudian kuarahkan mata menengok nomor si penelepon. Nomor xl yang tak kukenali.
"Siapa nelpon subuh2 gini!" rutukku setengah hati menekan tombol hijau di sebelah kiri. Ujung telingaku mengenali suara itu. Suara adik ibuku. Perasaanku mulai tak enak. Dan tak menunggu sampai ia menjabarkan kabar apa yang hendak ia utarakan disela kalimat2nya agar aku tabah, aku telah bisa menerka ini pasti soal ayah. Pasalnya, sejak kematian adik kandungnya yang belum menginjak 40 hari, aku mendengar kabar bahwa penyakit jantungnya kian sering kambuh. Dari mulai nafas yang tersengal dan batuk-batuk. Kemudian aku hanya bisa bengong sekian lama, sebelum akhirnya perutku berkontraksi hebat. Diare. Aku selalu mendadak diare ketika terkejut. Alamiah. Selebihnya, aku masih diselimuti alam pikiran yang kian mengacaukan. Bersandar di dinding tanpa tau harus apa! Pikiran seakan kosong.
Dan entah kenapa sejak beberapa hari itu aku begitu menyenangi lagu yang sebelumnya teramat tak kusuka. Namun ketika kucermati satu demi satu bait lagu, khususnya bait terakhir yang mempunyai pola berbeda dengan isi lagu, bagian yang paling kugemari.
Selain lagu, entah kenapa aku juga teramat sangat ingin pulang. Bukan karena disaat yang sama aku juga sedang kalut oleh kemelut hidup hingga sempat menorehkan sebuah garis tipis yang boleh kugarisbawahi sebagai sebuah tempat terendah selama hidup. Aku benar-benar ingin pulang. Agar tak kurasakan kesendirian dalam tekanan pikiran di ruangan 3x3 yang harus serta wajib kulewati di tiap malam-malamku. Firasat kah?
Dan memang, aku sungguh pulang. Mendapati ibu penuh linang airmata dan meneguk kenyataan bahwa aku tak sempat melihat jenazah ayah sebelum disemayamkan di pembaringan terakhirnya karena waktu... Ya, waktu yang seakan terlalu kejam menjadikan jarak Jogja dan kota kelahiran ibu sedemikian jauhnya hingga tak lagi bisa terkejar olehku. Sungguh, kepulangan yang tak pernah kuharapkan. Kepulangan yang juga menyisakan bilur-bilur pemikiran yang terus-menerus terngiang dalam benakku.
Sehari sebelum berpulang, ayah bercerita pada adik perempuannya bahwa ia bermimpi didatangi oleh adik laki-lakinya yang baru meninggal itu dan menyuruhnya tanda tangan. Ayahku pun membubuhkan tanda tangan. Jikalau mimpi adalah sebuah pertanda, maka mimpi ayah adalah pertanda buruk bahwa ia akan menyusul adiknya tsb.
"Nggak, aku nggak mau mati dulu," sergah ayah ketika adik perempuannya beropini perihal mimpinya. "Aku masih punya tanggungan! Anak perempuanku belum kawin!" imbuhnya.
Cerita yang menohokku telak. Tanggungan yang ia maksud jelas2 adalah aku! Sebuah perasaan bersalah seketika menyelusup dalam nuraniku. Diatas semua kekurangan ayah, tapi akulah yang selalu menjadi kesayangan ayah sejak dulu. Sedang kakak laki2ku adalah kesayangan ibu. Memang tak terlihat secara langsung, hanya saja konstruksi pemikiranku mengatakan demikian.
Dan ketika beliau pergi untuk selama-lamanya, ganjalan pemikirannya kini sepenuhnya beralih padaku. Meski ibu pun mulai kasak-kusuk menanyaiku perihal kapan akan membina rumah tangga. Ibu yang dulu-dulu tak pernah bertanya apalagi mendesak, kini seakan ikut tren adik perempuannya bertanya-tanya hal tabu untuk diusikkan padaku.
Aku kembali ke Jogja bukan untuk lari, meski tak kupungkiri sedikit mengatasi kejengahanku atas perasaan bersalah yang hinggap disela-sela pikiranku. Tapi tak lantas aku bisa sebegitu enaknya terlepas dari himpitan perasaan itu, karena kemelut pikiranku kian berputar cepat di otakku.
Ayah memang telah pergi, tapi terkadang bayangan dan memori kebaikan-kebaikannya padaku serta perilaku kekurangan-kekuranganku padanya silih berganti memenuhi fikiranku.
Sedih jika teringat aku belum dapat menyenangkan dan memberi imbalan yang memang tak pernah ia minta atas segala peluh yang ia cucurkan hingga aku menjadi seperti sekarang. Kesedihan yang tak akan pernah terbayar olehku selain doa dan harapan agar aku selalu digariskan untuk tak pernah lupa mengirim lafazh Alquran penyejuk di pembaringan abadinya.
Tetes airmata yang akan terus mengaliri sungai nuraniku untuk terus mengubur penyesalan yang takkan terbayar.
Sunday, July 5, 2009
Life Begin @ 27+
Sebuah tulisan di bulan Juni yang baru sekarang sempat ter-publish...
Judul yang lantas kujadikan kutipan diatas memang termasuk tak lazim karena kutipan yang lebih familiar umumnya adalah Life Begin @ 40! Tak masalah, karena bagiku bukan masalah usia. "Hidup" bisa dimulai kapan pun!
Sedikit kilas balik, ketika aku mem-publish tulisan sebelumnya, hal pertama yang aku terima seperti biasa adalah cercaanmu. Kadang aku fikir, kamu itu sebenarnya baca blogku seutuhnya atau sekedar meneliti bagian mana yang akan kau cercakan padaku? Karena bukan sekali dua kali ini saja, kau melakukannya tiap kali aku habis mem-posting tulisan baru di blogku. Ada saja cercaan yang kau pedaskan padaku. Malah kufikir, kau memang tak baca blogku, hanya mencari kesalahan untuk kau jadikan umpatan dan jika kau tak menemukannya maka jalan pintasnya adalah mengarangnya sendiri. Menciptakan imajinasi, membalik fakta dan memutar kata, yah apalah yang penting marah-marah. Menuduhkan sesuatu yang tak pernah kulakonkan. Hah, jika kukupas satu-satu nanti kau akan berfikir -seperti biasa- bahwa aku selalu menjatuhkanmu lewat tulisan-tulisanku.
Aku tak ingin bicara fakta atau bukan realita, aku juga tak sedang ber-pro kontra. Kurasa sudah terlampau cukup tiap hari terbuang dengan cacian, makian dan marah-marah. Kadang (baca: sering) pertanyaan ini malang melintang di benakku, apa yang sebenarnya kau cari dan kau ingini dariku? Setiap detik dalam 7 hari seminggu kau mengabsen kekuranganku seolah aku ini bukan makhluk berperasaan. Kau selalu berfikir tentang perempuan lainku, perempuan selingkuhanku, dan perempuan-perempuan yang entah apalagi sebutannya. Hei, apa kau tak mengerti juga, aku sedang bertarung demi kelangsungan hidupku, tapi kenapa kau malah konyol berhalusinasi hal-hal yang bahkan tak terlintas di otakku di saat-saat genting ini? Apa kau tak cukup faham? Sepertinya hampir tiap hari aku mendentingkan apa yang menjadi beban pikiranku. Kemana telingamu? Aku yakin kau tak tuli, bahkan kau yang memvonisku tuli karena hanya ber-ha he ho saat bicara. Apa kau tak cukup peka hidup sedang menggempurku jatuh saat ini?
Aku bisa merasakan kau menjadi orang yang berbeda akhir-akhir ini, tapi aku tak akan menyalahkan. Bagiku kau telah cukup banyak berarti. Itulah sebab beberapa waktu lalu aku pernah berkata: Apapun yang terjadi pada hubungan kita kelak, aku tetap ingin menjadi bagian hidupmu. Karena apa yang telah dan pernah kau beri serta lakukan padaku takkan pernah bisa terbayar oleh apapun. Aku diam karena aku teramat menghargaimu. Aku mungkin terlalu sulit untuk kau mengerti dan aku tak akan meyakinkanmu untuk mengerti apalagi mempercayaiku. Waktu dua tahun kurasa cukup untuk membuatmu tahu segalanya tentang aku tanpa perlu kujabarkan detil pemikiranku. Hanya saja, jika kau selalu meminum air laut ketika bersamaku, maka kau akan selalu haus karena yang kau lihat adalah selalu kekuranganku.
Hidupku mungkin dimulai di usia 27+. Semoga tak terlalu tua mengawali babak kedewasaan baru yang disodorkan dunia padaku untuk dilakoni!
Judul yang lantas kujadikan kutipan diatas memang termasuk tak lazim karena kutipan yang lebih familiar umumnya adalah Life Begin @ 40! Tak masalah, karena bagiku bukan masalah usia. "Hidup" bisa dimulai kapan pun!
Sedikit kilas balik, ketika aku mem-publish tulisan sebelumnya, hal pertama yang aku terima seperti biasa adalah cercaanmu. Kadang aku fikir, kamu itu sebenarnya baca blogku seutuhnya atau sekedar meneliti bagian mana yang akan kau cercakan padaku? Karena bukan sekali dua kali ini saja, kau melakukannya tiap kali aku habis mem-posting tulisan baru di blogku. Ada saja cercaan yang kau pedaskan padaku. Malah kufikir, kau memang tak baca blogku, hanya mencari kesalahan untuk kau jadikan umpatan dan jika kau tak menemukannya maka jalan pintasnya adalah mengarangnya sendiri. Menciptakan imajinasi, membalik fakta dan memutar kata, yah apalah yang penting marah-marah. Menuduhkan sesuatu yang tak pernah kulakonkan. Hah, jika kukupas satu-satu nanti kau akan berfikir -seperti biasa- bahwa aku selalu menjatuhkanmu lewat tulisan-tulisanku.
Aku tak ingin bicara fakta atau bukan realita, aku juga tak sedang ber-pro kontra. Kurasa sudah terlampau cukup tiap hari terbuang dengan cacian, makian dan marah-marah. Kadang (baca: sering) pertanyaan ini malang melintang di benakku, apa yang sebenarnya kau cari dan kau ingini dariku? Setiap detik dalam 7 hari seminggu kau mengabsen kekuranganku seolah aku ini bukan makhluk berperasaan. Kau selalu berfikir tentang perempuan lainku, perempuan selingkuhanku, dan perempuan-perempuan yang entah apalagi sebutannya. Hei, apa kau tak mengerti juga, aku sedang bertarung demi kelangsungan hidupku, tapi kenapa kau malah konyol berhalusinasi hal-hal yang bahkan tak terlintas di otakku di saat-saat genting ini? Apa kau tak cukup faham? Sepertinya hampir tiap hari aku mendentingkan apa yang menjadi beban pikiranku. Kemana telingamu? Aku yakin kau tak tuli, bahkan kau yang memvonisku tuli karena hanya ber-ha he ho saat bicara. Apa kau tak cukup peka hidup sedang menggempurku jatuh saat ini?
Aku bisa merasakan kau menjadi orang yang berbeda akhir-akhir ini, tapi aku tak akan menyalahkan. Bagiku kau telah cukup banyak berarti. Itulah sebab beberapa waktu lalu aku pernah berkata: Apapun yang terjadi pada hubungan kita kelak, aku tetap ingin menjadi bagian hidupmu. Karena apa yang telah dan pernah kau beri serta lakukan padaku takkan pernah bisa terbayar oleh apapun. Aku diam karena aku teramat menghargaimu. Aku mungkin terlalu sulit untuk kau mengerti dan aku tak akan meyakinkanmu untuk mengerti apalagi mempercayaiku. Waktu dua tahun kurasa cukup untuk membuatmu tahu segalanya tentang aku tanpa perlu kujabarkan detil pemikiranku. Hanya saja, jika kau selalu meminum air laut ketika bersamaku, maka kau akan selalu haus karena yang kau lihat adalah selalu kekuranganku.
Hidupku mungkin dimulai di usia 27+. Semoga tak terlalu tua mengawali babak kedewasaan baru yang disodorkan dunia padaku untuk dilakoni!
Subscribe to:
Posts (Atom)