Ini sebenarnya adalah pertanyaan atau klaimku pada Tuhan...
Kenapa sepertinya susah sekali Engkau memudahkan jalanku untuk membahagiakan orangtuaku? Padahal Engkau hanya tau, itu adalah puncak tujuan hidupku. Aku bukan ingin mengeluh, tapi aku sebagai manusia, hambaMU yang mungkin Engkau kira tak tahu terima kasih ini, kurasa telah cukup berusaha dan terus berusaha serta selalu berusaha agar aku mampu mengubahnya menjadi dan meraih apa yang lebih baik. Dan kenyataannya, aku malah tak mendapat apa-apa selain diombang-ambing seperti bola, memantul kesana kemari.
Manusia tak boleh mengeluh. Ya memang, tapi...(dan akan selalu ada kata tapi) kupikir aku tak sedang mengeluh. Aku hanya ingin memaparkan fakta, bahwa ketika apa yang kuingini telah kuselipkan niat baik lantas kulakukan dengan segenap pikiran, tenaga dan waktu, tapi kenapa aku tak pernah bisa meraihnya?
Jawabannya -MUNGKIN-, TUHAN punya rencana lain yang lebih indah untukku. Rencana apa lagi? Aku memang tak akan pernah tahu. Tugasku memang hanya menjalani. Dan selalu meyakini bahwa TUHAN tak akan pernah memberi garis kehidupan diluar batas kemampuanku, meski kuakui kadang keyakinan tsb luntur. Maka, semoga Engkau selalu memberiku kelapangan agar keyakinan itu cepat-cepat kuwarnai ulang dan tak akan memudar.
Aku selalu menunggu rencana indahMU untukku...
05:49 Thursday, 21 May 2009
Tuesday, June 2, 2009
Aku Benar-Benar Sendirian!
Aku tengah berada dalam alam bawah sadarku yang kurasa amat nyata. Lalu perlahan bergeser satu hingga meloading seratus persen ke alam nyataku. Dan tiba-tiba aliran air menitik dan jatuh ke pipiku untuk kemudian mengalir rintik-rintik dan dalam hitungan detik beralih deras. Tak terbendung oleh sekaan tanganku. Ini untuk yang kesekian, seakan tak terhitung.
Kamuflase. Aku rasa itu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan hidup yang tengah kujalani selama aku menginjak kota ini. Sepertinya aku bahagia, sepertinya bibirku tak henti-hentinya membentangkan garis lengkung membentuk senyuman indah. Tapi kurasa hati kecilku berteriak sebaliknya. Dan sekali lagi, tapi aku seakan tak berdaya. Aku bukan sedang bermain rupa. Sungguh! Hanya ketika aku berada dalam ruangan 3x3 ini semuanya terputar tanpa bisa kuhentikan. Tentang hidup. Tentang masa depan. Semuanya. Mengalir secara otomatis. Tak terkontrol. Meski rekaman otakku adalah fakta.
Realita logika dan perasaan. Bahwa aku benar-benar sendirian!
Miris. Gaduh diluar. Gaduh ramai manusia. Tapi ketika satu persatu track kehidupanku kucermati dari waktu ke waktu. Aku benar-benar merasa seorang diri.
Airmata itu selalu menemaniku ketika aku seorang diri mendekam di kamar 3x3 ini. Akankah ia setia menemani? Meski airmata itu tak kuingini. Kata orang, butchi tak boleh menangis, seperti halnya lelaki. Akankah sebuah kamuflase lagi kulakukan? Tertawa, ketika batin menjerit perih. Ah, aku sungguh tak tahu hidup ini akan terbawa kemana!
I'm so tired! (Mengeluh, -lagi-)
16:09 Tuesday 2 June 2009.
Kamuflase. Aku rasa itu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan hidup yang tengah kujalani selama aku menginjak kota ini. Sepertinya aku bahagia, sepertinya bibirku tak henti-hentinya membentangkan garis lengkung membentuk senyuman indah. Tapi kurasa hati kecilku berteriak sebaliknya. Dan sekali lagi, tapi aku seakan tak berdaya. Aku bukan sedang bermain rupa. Sungguh! Hanya ketika aku berada dalam ruangan 3x3 ini semuanya terputar tanpa bisa kuhentikan. Tentang hidup. Tentang masa depan. Semuanya. Mengalir secara otomatis. Tak terkontrol. Meski rekaman otakku adalah fakta.
Realita logika dan perasaan. Bahwa aku benar-benar sendirian!
Miris. Gaduh diluar. Gaduh ramai manusia. Tapi ketika satu persatu track kehidupanku kucermati dari waktu ke waktu. Aku benar-benar merasa seorang diri.
Airmata itu selalu menemaniku ketika aku seorang diri mendekam di kamar 3x3 ini. Akankah ia setia menemani? Meski airmata itu tak kuingini. Kata orang, butchi tak boleh menangis, seperti halnya lelaki. Akankah sebuah kamuflase lagi kulakukan? Tertawa, ketika batin menjerit perih. Ah, aku sungguh tak tahu hidup ini akan terbawa kemana!
I'm so tired! (Mengeluh, -lagi-)
16:09 Tuesday 2 June 2009.
Sunday, May 17, 2009
I M A J I
All thru your life,
I'll be by your side,
Till death do us part
I'll be your friend
My love will never end
Till death do us part
There'll be good times
And there'll be bad
But I will stand beside you
All the way...
Sayup kudengar suara Mike Tramp mengalunkan lagu diatas menemaniku bermalas-malasan Sabtu pagi ini. Capek! Capek badan dan pikiran! Lho kok jadi curhat! Tapi bukan masalah capeknya yang ingin kucurhatkan!
Mendalami satu demi satu kata bait lagu mellow diatas, ingatanku seakan otomatis me-rewind pemikiran-pemikiran yang memenuhi otakku akhir-akhir ini. Tentang masa depan hubungan yang kujalani kini, akankah berakhir till the death do us part -yang pastinya so sweet ending- atau bagaimana? Semua memang masih misteri dan bukan wilayah kekuasaanku sebagai manusia. Hanya sang Pencipta lah yang mengetahui semua. Aku hanya bisa melewati apa yang telah digariskan untukku. Tapi... Akhir-akhir ini tak jarang kemisteriusan Illahi itu menghinggapi otakku.
Disaat semua kini telah terjalani dalam hitungan tahun, dan aku yakini sungguh tak mudah untuk dihapus karena telah ada ikatan batin diantara kita. Ya, ikatan batin! Mungkin kau tak menyadarinya, atau tak pernah merasakannya, tapi bagiku, ketika aku merunut waktu, mengeja lembaran kisah yang telah kita tulis, lantas aku menyimpulkan setelah terlebih dulu menyadari bahwa ikatan batin itu telah tumbuh bersemi dengan sendirinya di hatiku. Bukan hanya denganmu, tapi juga pada bocah perempuan hampir dua tahun itu.
Pun sepertinya bukan aku saja yang merasa, ia juga. Aku bisa merasakannya, contohnya ketika naik busway kemarin, ia duduk dan tak menemukan sosokku, ia lantas memanggil dan mencariku dengan panggilan khasnya padaku. "Buyek..."(Bentuk cadel dari kata BU LEK yang artinya sama dengan TANTE). Yah, itu memang hal kecil dan sepele, tapi besar artinya buatku! Benakku seketika berpacu untuk mencari jawab, apa yang akan terjadi ketika usianya, juga usiaku dan usiamu, terus bertambah. Akankah kebersamaan ini selamanya? Pernahkah hal ini juga menghinggapi benakmu? Atau hanya aku saja yang terlalu sentimentil?
Makanya aku kadang tak habis pikir jika kecemburuanmu lantas membuatmu bertindak semaunya. Apalagi yang kau cemburu kan? Kurasa bukan saatnya lagi bercemburu, tapi sudah waktunya memikirkan dan menjalani sisa waktu yang telah Ia berikan pada kita untuk dirangkai menjadi cerita indah.
Maka cobalah untuk berimaji tentang kita. Apa yang kau buat jika kau takkan pernah berpisah dari suamimu? Apa yang akan kau rasakan jika di rahimmu kemudian bersemayam seorang janin lagi?
Apa yang kau lakukan jika aku hanyalah aku seperti saat ini, esok dan selamanya mencintamu? Pernahkah kau merasa?
Mulailah berimaji!
I'll be by your side,
Till death do us part
I'll be your friend
My love will never end
Till death do us part
There'll be good times
And there'll be bad
But I will stand beside you
All the way...
Sayup kudengar suara Mike Tramp mengalunkan lagu diatas menemaniku bermalas-malasan Sabtu pagi ini. Capek! Capek badan dan pikiran! Lho kok jadi curhat! Tapi bukan masalah capeknya yang ingin kucurhatkan!
Mendalami satu demi satu kata bait lagu mellow diatas, ingatanku seakan otomatis me-rewind pemikiran-pemikiran yang memenuhi otakku akhir-akhir ini. Tentang masa depan hubungan yang kujalani kini, akankah berakhir till the death do us part -yang pastinya so sweet ending- atau bagaimana? Semua memang masih misteri dan bukan wilayah kekuasaanku sebagai manusia. Hanya sang Pencipta lah yang mengetahui semua. Aku hanya bisa melewati apa yang telah digariskan untukku. Tapi... Akhir-akhir ini tak jarang kemisteriusan Illahi itu menghinggapi otakku.
Disaat semua kini telah terjalani dalam hitungan tahun, dan aku yakini sungguh tak mudah untuk dihapus karena telah ada ikatan batin diantara kita. Ya, ikatan batin! Mungkin kau tak menyadarinya, atau tak pernah merasakannya, tapi bagiku, ketika aku merunut waktu, mengeja lembaran kisah yang telah kita tulis, lantas aku menyimpulkan setelah terlebih dulu menyadari bahwa ikatan batin itu telah tumbuh bersemi dengan sendirinya di hatiku. Bukan hanya denganmu, tapi juga pada bocah perempuan hampir dua tahun itu.
Pun sepertinya bukan aku saja yang merasa, ia juga. Aku bisa merasakannya, contohnya ketika naik busway kemarin, ia duduk dan tak menemukan sosokku, ia lantas memanggil dan mencariku dengan panggilan khasnya padaku. "Buyek..."(Bentuk cadel dari kata BU LEK yang artinya sama dengan TANTE). Yah, itu memang hal kecil dan sepele, tapi besar artinya buatku! Benakku seketika berpacu untuk mencari jawab, apa yang akan terjadi ketika usianya, juga usiaku dan usiamu, terus bertambah. Akankah kebersamaan ini selamanya? Pernahkah hal ini juga menghinggapi benakmu? Atau hanya aku saja yang terlalu sentimentil?
Makanya aku kadang tak habis pikir jika kecemburuanmu lantas membuatmu bertindak semaunya. Apalagi yang kau cemburu kan? Kurasa bukan saatnya lagi bercemburu, tapi sudah waktunya memikirkan dan menjalani sisa waktu yang telah Ia berikan pada kita untuk dirangkai menjadi cerita indah.
Maka cobalah untuk berimaji tentang kita. Apa yang kau buat jika kau takkan pernah berpisah dari suamimu? Apa yang akan kau rasakan jika di rahimmu kemudian bersemayam seorang janin lagi?
Apa yang kau lakukan jika aku hanyalah aku seperti saat ini, esok dan selamanya mencintamu? Pernahkah kau merasa?
Mulailah berimaji!
IDAHO: Jangan Lagi Cuma Gerakan Bawah Tanah!
Aku selalu tergelitik jika teringat komentar yang pernah mampir ketika pembaca tersebut membuka blogku. Begini katanya: "Dari sekian banyak blog lesbian yang aku kunjungi, SEPERTINYA cuma blogmu yang memajang foto si penulis blog, entah itu memang benar fotomu yang asli atau tidak!"
Dan itu selalu terngiang di telingaku. Bukan karena kegeeran dipuji-puji, tapi SEPERTINYA analisa si penikmat blog-blog lesbian itu benar adanya. Aku juga terkadang mampir ke blog-blog tetangga, dan memang sama sepertinya, aku tak pernah menemukan blog lesbian yang memajang foto si penulis blog.
Terlepas dari narsis atau tidaknya, barangkali bersamaan dengan momentum IDAHO kali ini, aku ingin menyerukan bahwa gerakan LGBTIQ, dalam hal ini lesbian khususnya, agar tak lagi menjadi gerakan bawah tanah saja! Aku juga bukan sok kepedean, mengingat aku pun belum coming out pada keluarga, namun jika upaya perjuangan teman-teman penulis atau pemilik blog lesbian ingin terdengar di alam semesta ini dan tak lagi hanya menggema layaknya suara-suara bawa tanah, maka seyogyianya hal tersebut dimulai dengan hal-hal kecil seperti open ID dari pemilik blog-blog lesbian yang aku rasa sudah menjamur dan tumbuh pesat di jagat alam maya ini.
Tentu saja, masing-masing punya pemikiran dan pertimbangan sendiri. Tulisanku hanya sekedar seruan, jika kita ingin memulai kemajuan, tak ada salahnya kita yang memulainya terlebih dahulu.
Wish all the best for this International Day Against Homophobia 2009!
Dan itu selalu terngiang di telingaku. Bukan karena kegeeran dipuji-puji, tapi SEPERTINYA analisa si penikmat blog-blog lesbian itu benar adanya. Aku juga terkadang mampir ke blog-blog tetangga, dan memang sama sepertinya, aku tak pernah menemukan blog lesbian yang memajang foto si penulis blog.
Terlepas dari narsis atau tidaknya, barangkali bersamaan dengan momentum IDAHO kali ini, aku ingin menyerukan bahwa gerakan LGBTIQ, dalam hal ini lesbian khususnya, agar tak lagi menjadi gerakan bawah tanah saja! Aku juga bukan sok kepedean, mengingat aku pun belum coming out pada keluarga, namun jika upaya perjuangan teman-teman penulis atau pemilik blog lesbian ingin terdengar di alam semesta ini dan tak lagi hanya menggema layaknya suara-suara bawa tanah, maka seyogyianya hal tersebut dimulai dengan hal-hal kecil seperti open ID dari pemilik blog-blog lesbian yang aku rasa sudah menjamur dan tumbuh pesat di jagat alam maya ini.
Tentu saja, masing-masing punya pemikiran dan pertimbangan sendiri. Tulisanku hanya sekedar seruan, jika kita ingin memulai kemajuan, tak ada salahnya kita yang memulainya terlebih dahulu.
Wish all the best for this International Day Against Homophobia 2009!
Thursday, May 14, 2009
COSMIC SOULMATE
Pernah ada yang menanyakan dan mungkin ada diantara para (ciee kayak yang ngunjungin blogku banyak gitu hehe narsis mode on) pembaca yang juga bertanya-tanya, kenapa sih blogmu kok diberi nama Cosmic Soulmate? Apakah artinya?
Jawabanku: Ndak tahu! Lho kok bisa ndak tau? Karena kalau dicari artinya di kamus atau ditanyain ama mr. Gugle juga susah untuk diejawantahkan (ceile bahasa apalagi itu?)
Tapi jawaban ndak tau itu tak lantas mengisyaratkan bahwa Cosmic Soulmate itu hanya sekedar judul-judulan, tentu saja tidak! Hanya, aku akan mencoba mendeskripsikan menurut translatorku sendiri -yang tak akan Anda dapatkan di toko-toko terdekat di kota Anda, tentunya hehe-
Cosmic Soulmate. Sejak awal aku begitu menyukai dua kata yang kugabungkan sendiri ini. Sepertinya enak saja untuk dilafalkan. Dan orang yang membaca mungkin tak ingin hanya sekedar pelafalan, tapi definisi. Ya, definisi Cosmic Soulmate, apa gerangan? Apakah aku terdengar berbelit-belit? Upps, semuanya langsung mengangguk dengan muka ditekuk, and upps... Ada yang mulai tak sabar ingin meng-klik tombol CLOSE di pojok kanan atas, tapi tunggu dulu...
Pengertian Cosmic Soulmate ala Alvi adalah; Cosmic sendiri kuartikan segala sesuatu yang maya/abstrak. Sedang Soulmate tentu saja belahan jiwa. Jadi, jika digabung Cosmic Soulmate dapat berarti Belahan Jiwa Di Dunia Maya/Abstrak.
Tapi bukan lantas diartikan sebagai belahan jiwa dapet dari hasil chatting atau YM an, abstrak disini adalah pengejahwantahan dari kondisi lesbian yang belum dapat diterima oleh masyarakat. Memiliki kekasih tapi tak dapat dimiliki. Sekaligus mungkin dijadikan pemacu bahwa suatu hari mungkin semua akan terdobrak hingga tak ada lagi halangan-halangan untuk memiliki kekasih seutuhnya.
Jawabanku: Ndak tahu! Lho kok bisa ndak tau? Karena kalau dicari artinya di kamus atau ditanyain ama mr. Gugle juga susah untuk diejawantahkan (ceile bahasa apalagi itu?)
Tapi jawaban ndak tau itu tak lantas mengisyaratkan bahwa Cosmic Soulmate itu hanya sekedar judul-judulan, tentu saja tidak! Hanya, aku akan mencoba mendeskripsikan menurut translatorku sendiri -yang tak akan Anda dapatkan di toko-toko terdekat di kota Anda, tentunya hehe-
Cosmic Soulmate. Sejak awal aku begitu menyukai dua kata yang kugabungkan sendiri ini. Sepertinya enak saja untuk dilafalkan. Dan orang yang membaca mungkin tak ingin hanya sekedar pelafalan, tapi definisi. Ya, definisi Cosmic Soulmate, apa gerangan? Apakah aku terdengar berbelit-belit? Upps, semuanya langsung mengangguk dengan muka ditekuk, and upps... Ada yang mulai tak sabar ingin meng-klik tombol CLOSE di pojok kanan atas, tapi tunggu dulu...
Pengertian Cosmic Soulmate ala Alvi adalah; Cosmic sendiri kuartikan segala sesuatu yang maya/abstrak. Sedang Soulmate tentu saja belahan jiwa. Jadi, jika digabung Cosmic Soulmate dapat berarti Belahan Jiwa Di Dunia Maya/Abstrak.
Tapi bukan lantas diartikan sebagai belahan jiwa dapet dari hasil chatting atau YM an, abstrak disini adalah pengejahwantahan dari kondisi lesbian yang belum dapat diterima oleh masyarakat. Memiliki kekasih tapi tak dapat dimiliki. Sekaligus mungkin dijadikan pemacu bahwa suatu hari mungkin semua akan terdobrak hingga tak ada lagi halangan-halangan untuk memiliki kekasih seutuhnya.
Tuesday, May 12, 2009
"Buyek..."
Ah, memulai menuliskannya saja aku sudah dibuat senyum-senyum sendiri. Eits, eits, jangan negatif thinking dulu, I'm not crazy yet! Hanya saja garis bibirku memang selalu mengembang ketika teringat bocah perempuan yang Juli nanti genap berusia dua tahun itu melafalkan kata "Buyek" sebagai panggilannya padaku.
Buyek, jikalau merunut arti kata dalam kamus bahasa bocah perempuan itu, maka arti Buyek adalah Bulek, atau Tante dalam bahasa kerennya. Memang tak ada yang istimewa, mengingat harus dimaklumi anak seusia demikian lumrah jika tak bisa mengucap L, lalu menggantinya dengan Y, hingga terbentuklah kata Buyek tersebut. Hanya saja, ketika bocah perempuan itu kutanya: "Ini siapa?" sembari menunjuk ke diriku sendiri, maka ia akan dengan seringaian khasnya menjawab: "Buyek...". Beda ketika ia mengucap "Ibu" pada kekasihku atau "Kakak" pada tiap orang lebih tua yang ia temui. Tapi mengucap kata "Buyek", selalu ia barengi dengan senyuman sambil malu-malu khas anak kecil.
Awalnya, aku tak setuju kamu menyuruhnya memanggilku Bulek. Ndak keren sama sekali tho? Kalau aku baca blog tetangga malah ada yang memanggil Tante Mami, terdengar lebih keren kan? Tapi lama kelamaan, panggilan Buyek lebih enak sampai di telingaku, apalagi jika selalu diiringi seringaian malu-malunya, sepertinya kata yang ia ucap bagus saja. Dan aku pun telah terbiasa. Dan biasanya, apa yang terbiasa anak kecil panggil/julukkan akan terbawa hingga ia dewasa nanti. Yang artinya, ia akan tetap memanggilku "Buyek", akan kah? Kita tunggu saja kelak!
NB: Karena panggilan Buyek ini aku jadi terinspirasi sebuah ide cerita. Thanks my cute daughter!
Buyek, jikalau merunut arti kata dalam kamus bahasa bocah perempuan itu, maka arti Buyek adalah Bulek, atau Tante dalam bahasa kerennya. Memang tak ada yang istimewa, mengingat harus dimaklumi anak seusia demikian lumrah jika tak bisa mengucap L, lalu menggantinya dengan Y, hingga terbentuklah kata Buyek tersebut. Hanya saja, ketika bocah perempuan itu kutanya: "Ini siapa?" sembari menunjuk ke diriku sendiri, maka ia akan dengan seringaian khasnya menjawab: "Buyek...". Beda ketika ia mengucap "Ibu" pada kekasihku atau "Kakak" pada tiap orang lebih tua yang ia temui. Tapi mengucap kata "Buyek", selalu ia barengi dengan senyuman sambil malu-malu khas anak kecil.
Awalnya, aku tak setuju kamu menyuruhnya memanggilku Bulek. Ndak keren sama sekali tho? Kalau aku baca blog tetangga malah ada yang memanggil Tante Mami, terdengar lebih keren kan? Tapi lama kelamaan, panggilan Buyek lebih enak sampai di telingaku, apalagi jika selalu diiringi seringaian malu-malunya, sepertinya kata yang ia ucap bagus saja. Dan aku pun telah terbiasa. Dan biasanya, apa yang terbiasa anak kecil panggil/julukkan akan terbawa hingga ia dewasa nanti. Yang artinya, ia akan tetap memanggilku "Buyek", akan kah? Kita tunggu saja kelak!
NB: Karena panggilan Buyek ini aku jadi terinspirasi sebuah ide cerita. Thanks my cute daughter!
Sunday, May 10, 2009
GUNUNG KIDUL: Again?!?
Perjalanan ketiga ini sebenarnya sudah seminggu yang lalu terjadinya (10/05/09). Karena beberapa kesibukan dan faktor sok sibuk-menyibuk (biarin deh meski out of Mr. EYD!) baru hari ini sempat kutuliskan.
Menuju Gunung Kidul dengan mengambil rute yang sama, kami tiba setelah naik motor selama satu setengah jam. Kebetulan dusun yang kami tuju sekarang lebih jauh ketimbang dusun yang kami kunjungi sebulan lalu. Dan parahnya, tidak ada yang pernah menjangkau dusun ini sebelumnya, alias tidak ada yang tahu pasti dimana tempat berlangsungnya sosialisasi sekolah PRT ini dan tidak ada yang tahu jalan. Jadi, sepanjang perjalanan nanya-nanya ke beberapa orang dan mungkin mengandalkan insting atau tepatnya asal tebak jalan ketika bertemu belokan dan langsung berinisiatif nanya orang jika insting tak lagi berjalan.
Akibatnya, sosialisasi yang dijanjikan pukul sebelas di dusun Ngande-Ande molor hingga hampir sejam setelah akhirnya beruntung menemukan tempatnya. Dan itu pun secara tak disengaja pula. Ketika kami menyusuri jalan setapak dan melihat masyarakat tengah berkumpul, kami langsung turun dan bertanya. Dan kebetulan tempat tersebut adalah tempat yang dimaksud dan masyarakat sudah menantikan kedatangan kami.
Lukman, dari divisi sekolah, membuka sosialisasi. Peserta yang terbagi mbah-mbah, ibu-ibu dan remaja putri memperhatikan dengan seksama. Entah karena menyimak informasi atau karena si mbah-mbah nya ndak ngerti penjelasan Lukman yang memakai bahasa Indonesia itu. Maklum, aku dan dia ndak ada yang bisa bahasa Jawa alus, sedangkan sedari tadi kami dengar pak dukuh bicara menggunakan bahasa Jawa halus ala perwayangan kepada warganya. Oleh karenanya, pak dukuh yang sekaligus menjadi moderator acara harus mengulang informasi dengan bahasa Jawa.
Tak berapa lama, tim RTND yang bermukim di Gunung Kidul datang bersama Diony, seorang kawan dari LSPPA (Lembaga Studi Perlindungan Perempuan dan Anak). Penyampaian sosialisasi sedikit terbantu dengan hadirnya kedua teman yang fasih berbahasa Jawa halus.
Usai menunggu hujan reda, sosialisasi kemudian dilanjutkan di dusun Wuluh, masih di sekitar Dusun Ngande-Ande yang masuk dalam wilayah desa Tepus. Peserta berjumlah lebih sedikit dan keantusiasan peserta juga lebih kecil dari dusun sebelumnya. Mungkin dikarenakan perempuan usia produktif yang menjadi sasaran sosialisasi sekolah PRT di dusun ini mayoritas tengah hamil. Hujan kembali melanda, membuat kami tertahan sebentar dan beramah-tamah dengan warga.
Mentari telah menuai tiga perempat perjalanannya ketika kami merampungkan tugas. Diony menggagas makan siang yang kesorean di pantai Siung. Kami setuju. Tak terlalu jauh dari dusun Wuluh dan pantainya... Sangat indah! Mungkin aku yang terlalu ndeso tak pernah melihat pantai seindah ini sebelumnya, tapi kurasa tak apalah kalau aku memang ndeso karena pantai Siung adalah pantai pertama yang kukunjungi dan kukategorikan terindah untuk saat ini.
Bagaimana tidak bagus, di kanan pantai ada bukit-bukit kecil yang berjajar, sedang di kiri laut sebuah tebing yang kata Diony biasa digunakan untuk terjun payung/paralayang dan sejenisnya. Hanya sayang, sepi pengunjung!
Dan sayang juga, ketika sampai disana batre hape-ku melemah. Tak bisa dipakai motret. Tapi tak kehabisan ide, pinjem hape Diony. Ya, namanya juga minjem, gak enak juga pake lama-lama, apalagi baru kenal, jadi gak bisa gaya-gaya macem-macem gitu deh! Hehehe narsis mode on teruz...
Lukman dan Diony telah jauh menyusuri pantai sampai ke tengah, ketika aku beranjak dari pasir putih untuk kemudian agak kesulitan melangkah diatas karang-karang kecil yang terkadang seperti menusuk-nusuk kakiku. Wong ndeso tenan hahaha! Akhirnya sampai juga ke tengah. Ombak pantai berangsur datang, menghembuskan getar airnya menyentuh celana yang sudah kutekuk sampai dengkul. Kami memutuskan kembali ke darat, sambil tetap menajamkan mata mencari keong. Hehe kebiasaan ketika mengunjungi Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo kota kelahiranku dulu adalah selalu menyempatkan mencari keong untuk dibawa pulang.
Tapi tak seperti di Probolinggo, disini lumayan susah juga menemukan rumah keong bersama makhluk didalamnya. Karena yang ada hanya rumah-rumah keongnya saja. Di kubangan air bekas hempasan ombak, aku menemukan ikan-ikan kecil warna-warni. Juga landak laut yang asyik menghuni lubang-lubang di karang. Dan hamparan hijau, rumput laut kah namanya? I dont know hehe!
Begitu datang, makanan siap disajikan. Ikan goreng plus sambal mentah dan sayur. Lapar bercampur doyan, lauk yang terhidang seketika habis dan nambah! Gunung Kidul selalu menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan! Dan katanya, masih banyak pantai lain bertebaran di daerah ini. Hmm... Semoga saja ada kesempatan bertandang kesana, meski aku tak begitu suka gunung, tak begitu suka pantai, singkatnya tak berjiwa petualang, tapi aku hanya suka menikmati keindahanNYA!
Menuju Gunung Kidul dengan mengambil rute yang sama, kami tiba setelah naik motor selama satu setengah jam. Kebetulan dusun yang kami tuju sekarang lebih jauh ketimbang dusun yang kami kunjungi sebulan lalu. Dan parahnya, tidak ada yang pernah menjangkau dusun ini sebelumnya, alias tidak ada yang tahu pasti dimana tempat berlangsungnya sosialisasi sekolah PRT ini dan tidak ada yang tahu jalan. Jadi, sepanjang perjalanan nanya-nanya ke beberapa orang dan mungkin mengandalkan insting atau tepatnya asal tebak jalan ketika bertemu belokan dan langsung berinisiatif nanya orang jika insting tak lagi berjalan.
Akibatnya, sosialisasi yang dijanjikan pukul sebelas di dusun Ngande-Ande molor hingga hampir sejam setelah akhirnya beruntung menemukan tempatnya. Dan itu pun secara tak disengaja pula. Ketika kami menyusuri jalan setapak dan melihat masyarakat tengah berkumpul, kami langsung turun dan bertanya. Dan kebetulan tempat tersebut adalah tempat yang dimaksud dan masyarakat sudah menantikan kedatangan kami.
Lukman, dari divisi sekolah, membuka sosialisasi. Peserta yang terbagi mbah-mbah, ibu-ibu dan remaja putri memperhatikan dengan seksama. Entah karena menyimak informasi atau karena si mbah-mbah nya ndak ngerti penjelasan Lukman yang memakai bahasa Indonesia itu. Maklum, aku dan dia ndak ada yang bisa bahasa Jawa alus, sedangkan sedari tadi kami dengar pak dukuh bicara menggunakan bahasa Jawa halus ala perwayangan kepada warganya. Oleh karenanya, pak dukuh yang sekaligus menjadi moderator acara harus mengulang informasi dengan bahasa Jawa.
Tak berapa lama, tim RTND yang bermukim di Gunung Kidul datang bersama Diony, seorang kawan dari LSPPA (Lembaga Studi Perlindungan Perempuan dan Anak). Penyampaian sosialisasi sedikit terbantu dengan hadirnya kedua teman yang fasih berbahasa Jawa halus.
Usai menunggu hujan reda, sosialisasi kemudian dilanjutkan di dusun Wuluh, masih di sekitar Dusun Ngande-Ande yang masuk dalam wilayah desa Tepus. Peserta berjumlah lebih sedikit dan keantusiasan peserta juga lebih kecil dari dusun sebelumnya. Mungkin dikarenakan perempuan usia produktif yang menjadi sasaran sosialisasi sekolah PRT di dusun ini mayoritas tengah hamil. Hujan kembali melanda, membuat kami tertahan sebentar dan beramah-tamah dengan warga.
Mentari telah menuai tiga perempat perjalanannya ketika kami merampungkan tugas. Diony menggagas makan siang yang kesorean di pantai Siung. Kami setuju. Tak terlalu jauh dari dusun Wuluh dan pantainya... Sangat indah! Mungkin aku yang terlalu ndeso tak pernah melihat pantai seindah ini sebelumnya, tapi kurasa tak apalah kalau aku memang ndeso karena pantai Siung adalah pantai pertama yang kukunjungi dan kukategorikan terindah untuk saat ini.
Bagaimana tidak bagus, di kanan pantai ada bukit-bukit kecil yang berjajar, sedang di kiri laut sebuah tebing yang kata Diony biasa digunakan untuk terjun payung/paralayang dan sejenisnya. Hanya sayang, sepi pengunjung!
Dan sayang juga, ketika sampai disana batre hape-ku melemah. Tak bisa dipakai motret. Tapi tak kehabisan ide, pinjem hape Diony. Ya, namanya juga minjem, gak enak juga pake lama-lama, apalagi baru kenal, jadi gak bisa gaya-gaya macem-macem gitu deh! Hehehe narsis mode on teruz...
Lukman dan Diony telah jauh menyusuri pantai sampai ke tengah, ketika aku beranjak dari pasir putih untuk kemudian agak kesulitan melangkah diatas karang-karang kecil yang terkadang seperti menusuk-nusuk kakiku. Wong ndeso tenan hahaha! Akhirnya sampai juga ke tengah. Ombak pantai berangsur datang, menghembuskan getar airnya menyentuh celana yang sudah kutekuk sampai dengkul. Kami memutuskan kembali ke darat, sambil tetap menajamkan mata mencari keong. Hehe kebiasaan ketika mengunjungi Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo kota kelahiranku dulu adalah selalu menyempatkan mencari keong untuk dibawa pulang.
Tapi tak seperti di Probolinggo, disini lumayan susah juga menemukan rumah keong bersama makhluk didalamnya. Karena yang ada hanya rumah-rumah keongnya saja. Di kubangan air bekas hempasan ombak, aku menemukan ikan-ikan kecil warna-warni. Juga landak laut yang asyik menghuni lubang-lubang di karang. Dan hamparan hijau, rumput laut kah namanya? I dont know hehe!
Begitu datang, makanan siap disajikan. Ikan goreng plus sambal mentah dan sayur. Lapar bercampur doyan, lauk yang terhidang seketika habis dan nambah! Gunung Kidul selalu menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan! Dan katanya, masih banyak pantai lain bertebaran di daerah ini. Hmm... Semoga saja ada kesempatan bertandang kesana, meski aku tak begitu suka gunung, tak begitu suka pantai, singkatnya tak berjiwa petualang, tapi aku hanya suka menikmati keindahanNYA!
Subscribe to:
Posts (Atom)