Sesuatu jika terlalu berlebihan diinginkan pasti susah untuk di dapat, tapi ketika tak diinginkan, terkadang sesuatu itu datang dengan sendirinya.
Mungkin itu adalah pengandaian yang tepat tentang topik tulisan ini. Pasalnya, ketika beberapa waktu lalu aku agak "hunting" akan sosok anak ibu kos ini, batang hidungnya pun tak pernah jelas nampak di mataku, tapi ketika tak ada angin dan sedikit ada hujan (secara semalam memang tengah gerimis lebat), perempuan berperawakan laki-laki itu utuh berada di depanku.
***
"Mbak, plis kluar skrg!" Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan Afit, pengurus kos, kira-kira jam delapan malam. Saat itu aku tengah rebahan dengan kedua telinga disumpal handsfree. Menulis di notes hape sembari mendengarkan radio. Sontak kulepas handsfree karena kudengar suara gaduh Afit diluar.
"Iya, bentar," Aku membuka pintu, namun tak ada orang diluar. Sekitar kos sepi dan gelap. Maklum, Trias penghuni kamar sebelah sedang liburan ke Bali. Ulfa juga pulang kampung ke Jakarta. Di deretan kamarku, hanya aku satu-satunya penghuni. Jujur, bulu kudukku seketika berdiri. Pikiranku telah beragam. Maklum juga, riwayat rumah kos ini agak menyeramkan. Ditambah beberapa malam ini terdengar bunyi dan suara aneh tiap malam. Seperti derap kaki manusia atau orang sedang menumbuk, bunyinya dug dug dug. Entah berasal dari mana. Aku malah kadang berkhayal penghuni kamar tepat diatas kamarku lah sumber suara-suara aneh itu, sebab hampir tiap malam tidurku terganggu oleh aktivitas nggak jelasnya yang menyisakan suara yang tak kutahu apakah itu karena aku tak ingin memikirkan apapun selain mengalihkan pikiranku pada hal-hal yang membuatku mengantuk.
Balik ke topik semula. Ketika tak kutemukan Afit di depan, aku berteriak memanggil namanya. Ia menjawab tapi wujudnya
tak tampak. Makin membuatku merinding disko. Aku baru sadar bahwa pintu gudang terbuka.
"Siapa yang membukanya? Kok bisa terbuka?" Benakku campur aduk. Agak bergidik aku melongok ke dalam gudang. Aku menajamkan penglihatanku. Ada seseorang berbaju merah maroon. Untung saja aku langsung ingat sore tadi pemakai baju warna itu adalah si Afit.
"Ada apa kamu nyuruh aku keluar?" tanyaku.
Afit tak menjawab. Hanya matanya memberi kode padaku untuk melihat orang yang bersamanya saat itu, yang posisinya tak nampak dari tempatku berdiri. Aku kian melongok ke dalam dan menemukan sosok berambut cepak yang seketika tersenyum saat bersirobok pandang denganku.
"Nyari apa?" tanyaku.
"Bungkus rokok!" jawab Afit.
Alisku berkerut.
"Itu lho yang kertas putih di dalam bungkus rokoknya," jelas si tomboy. "Kamu ngerokok nggak?"
Aku menggeleng. Lalu aku teringat buci temanku yang juga penasaran dengan anak ibu kos satu ini.
"Sebentar ya!" Aku bergegas menggedor kamar temanku itu. Afit mengekor. Sementara anak ibu kos dipanggil bojo(baca:pasangan)nya. Dengan berbisik, aku dan Afit menjelaskan situasinya. Buci temanku ikut sembari membawa bungkus rokok yang dimaksud.
Jadilah kami mengobrol. Tak penasaran lagi karena aku telah menamatkan sosoknya. Hahaha kalau dipikir, iseng juga aku ini hehehe...
1 comment:
Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.
Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)
Post a Comment