Kurang lebih minggu-minggu lalu, lupa kapan tepatnya, aku menghubungi beberapa penerbit via sms ke nomor hape yang aku dapat dari download alamat penerbit di internet untuk nanyain kriteria naskah dan prosedur pengiriman beserta tetek bengeknya. Beberapa ada yang membalas. Beberapa lagi tak terkirim karena nomor sudah tak dipakai. Dan satu nomor salah sambung.
"Maaf, Maz, slh smbung. Q bkn pnerbit,"
Kira-kira begitu isi balasannya. Aku hanya tersenyum simpul mengeja kata MAZ dalam sms tsb. Aku memang menyebutkan namaku ketika sms di awal tadi. Alvi. Terkesan seperti nama seorang lelaki kah hingga ia langsung mengasumsikanku laki-laki? (Hanya Anda yang bisa menilai). Menurutku, nama
panggilanku itu memang terdengar sedikit maskulin:)
Aku tak menanggapi sms dari nomor salah sambung itu. Namun tak lama, sebuah sms lagi menghuni ponselku dari nomor yang sama.
"Maz dpt drmn sih nmrku ini, pdhl ini nmr br lho. Tp dah ada bbrp org yg krm sms sm kyk yg Maz krm itu."
Aku tergelitik untuk membalas.
"Aq th nmr ini dr internet. Nmr slh 1 pnerbit. Btw, km PD bgt manggl aq MAZ?"
"Hbs mau dipanggl apa?"
"Km cwok/cwek?"
"Maz ini sdh brani nanya ya? Q cwek."
Bla... Bla... Bla... Sms pun mengalir. Ia malah menawarkan memanggilku Om atau Pak. Aku kian terbelalak. Maz aja udah ngarang, apalagi Om atau Bapak, ya kan? Aku balas memanggilnya Bu dan Tante. Ia langsung mencak-mencak dan tanpa ditanya menyebutkan berapa umurnya.
"17 thn, br lulus SMU ga trima Q dpnggl tante apalg ibu."
Ia pun tak sungkan memberitahukan namanya. Bukan hanya panggilan, bahkan nama lengkap.
Dan tak perlu waktu cukup lama, ia mulai bercerita dan tanya-tanya banyak hal. Dengan satu hal terpatri di benaknya. Aku adalah seorang laki-laki. Aku memang sengaja tidak klarifikasi. Suruh siapa kepedean mencap gender seseorang hanya berdasar pada nama, ya kan?
Ia telah punya pacar yang begitu menyayanginya, dan juga sebaliknya, KATANYA. Ia juga menginterogasiku. Aku bilang aku sudah punya pacar. Hingga di suatu siang, sebuah sms masuk.
"Mas, jgn ganggu pcrku lg!"
Sms dari pacar perempuan itu. Alisku kontan mengernyit. Ganggu? Nggak salah? Bukannya perempuan itu yang rutin sms aku meski aku jarang membalas? Ah, tapi aku sedang tak ingin adu argumen.
"Siap, boz!"
Kubalas demikian. Kukira selesai cerita. Namun keesokan harinya perempuan itu sms lagi.
"Maaf Maz atas sms pcrku."
Aku hanya tersenyum, tanpa berhasrat membalas.
"Ya sdh kalo nggak mau maafin."
Ia sms lagi. Terdengar pasrah.
"Nggak papa kok. Udah biasa!"
Selang beberapa hari perempuan itu menghilang kukira untuk selamanya, namun kemudian ia kembali dengan sapaan sms yang SKSD banget. Dan ia memberi sekilas info bahwa pacar tersayangnya pergi ke Sumatra dalam jangka 4 bulan. Aku kontan terkekeh.
"Jadi krn ga da pcrmu km sms aq lg,gt?"
"Ga blh? Ya udh aq ga sms lg."
Sahutan yang terkesan sensi abis. Tak puas, ia menelepon agak siangan. Kuangkat, tapi tak bersuara. Sayup kudengar Halo... Halo di seberang. Kumatikan.
"Km cwek ya,kok di tlp ga jwb."
Pertanyaan klise itu membawa benakku mengembara sekitar lima tahunan yang lalu. Pertanyaan sama yang diajukan si penyanyi dangdut padaku dulu. Kasus yang juga sama. Mengira aku adalah laki-laki.
Karena tak kujawab, sepertinya ia kian penasaran. Menelepon lagi. Kali ini aku tak angkat sama sekali.
"Ya udh maaf dah ganggu!"
Kesensiannya muncul lagi.
"Lagi dpt ya, sensi amat. Aq td agk sbk."
Akhirnya aku menjawab.
Bla... Bla... Bla... Telah banyak yang sudah diungkapnya padaku, mulai gaya pacarannya hingga kata-kata nakal yang seringkali nyerempet, tapi ketika kuserempet balik ia malah ketakutan.
"Penisku ereksi nih!" godaku, sekaligus ingin tahu apa reaksinya, mengingat sms2nya kerap "memancing birahi" jika ditujukan untuk kaum lelaki.
"Njijik'i!" (Baca: Menjijikkan!)
Aku kontan ngakak banget!! Namun naluri jailku bertambah. Aku kian menyerangnya dengan topik bahasan kebiasaan lelaki. Ia juga kian mencak-mencak, seperti biasa.
"Jorok!" ketusnya.
Otak jailku bekerja hebat. Aku pura-pura tak membalas smsnya.
"Maz..."
Sekian menit berikutnya ia mengirim pesan yang sama. Aku memang sengaja mendiamkannya, agar ia menduga aku memang benar-benar tengah onani hahahaha.
"Maz, km lg ngapain?"
Agak lama baru kujawab
"Apa?"
"Psti km td lg gtuan ya, nyebelin!"
Perutku sungguh dibuat kaku. Kalaupun aku laki-laki, ia bukan siapa2ku, tp knapa ia sewot ketika aku onani hahahaha aku begitu tergelak.
"Lho kok km yg mrh?"
Ia diam. Ia memang tak punya alasan tuk marah.
"Aku mau tdr. Nite."
Tingkah gadis belia ini membuat tawaku tak dapat berhenti. Ia sepertinya marah dan kukira dengan sisi negatif itu ia akan menjauh. Namun dugaanku sekali lagi meleset. Ia tetap rutin miskol2 dan sms. Ia yang geblek atau aku yang terlalu jail? Entahlah, mungkin dua2nya hehehe.
Satu hal lagi, lambat laun bisa kurasakan dalam tiap smsnya naga-naganya perempuan itu sepertinya telah jatuh hati, meski ia terang-terangan membantah. Bantahan yang malah kuanggap mengamini dugaanku itu.
Jika benar ia jatuh hati, berarti menambah satu list perempuan lagi yang mengira aku laki-laki untuk kemudian jatuh hati padaku. Semudah itukah hati perempuan terengkuh dalam buaian sms2 tanpa wujud rupa dan suara sesungguhnya?
Ah, perempuan memang punya banyak cerita!
1 comment:
Post a Comment