Sunday, June 30, 2013
Senja Yang Menyerupai
Kurang lebih dua jam aku berada di tempat ini. Rerumputan di sebelah gedung yang biasanya menjadi tempat digelarnya resepsi atau jobfair di areal UGM. Mentari yang tadinya memaksa menyengat kulitku melalui celah-celah daun dari pohon-pohon tinggi yang memadati areal rerumputan itu kini meninggi hendak tenggelam di peraduan ufuk barat.
Pengunjung mulai padat. Sebelah kami ada beberapa anak-anak muda berlatih cheerleader, ada juga yang jogging dan ada pula yang hanya sekedar duduk sembari bercanda.
Suasana senja ini mengingatkanku akan sesuatu.. Saat dimana aku melihat perempuan itu bercampur peluh. Ya, Graha Sabha sore ini seperti taman tempat perempuan itu berputar keliling berlari-lari kecil sebanyak tiga putaran. Kian temaram, cahaya di lampu-lampu yang hanya remang-remang dengan bulan yang mulai tak sabar hendak menyembulkan rupa. Ya, malam ini bulan akan menuju purnama, tak sempurna namun membesar bulat belum pada lingkaran maksimalnya.
Melangkah pulang dengan sisa-sisa ingatan di taman itu... Baru tersadar, saya 'gila' waktu itu!
Saturday, June 29, 2013
Relasi Yang Matang
Ngubek-ngubek soal terminologi relasi lagi. Emang gak ada habisnya sih, meski cuma akan seputar itu-itu aja...
Nggombes.. Banyak yang bilang saya itu tukang gombes.. Gak pernah serius cuma seneng aja ngegodain orang. Namun untuk perempuan itu, gombesan saya gak laku total. Dan saya emang gak pernah nggombes kalau ama nih orang, selain karena gak minat, saya cukup yakin ia lebih gak minat lagi. Serius banget bo orangnya!
Canda tawa sih ada tapi gak sedetik pun mleyot kearah gombalan. Kalau diibaratkan sebuah rasa, gak akan ada cinta yang menggebu, tapi tentu tak bisa dibilang flat. Flatnya mungkin karena hampir tak pernah ada cekcok berantem, selain cekcok canda akibat debat yang tak kunjung henti.
Saya menyebutnya relasi yang matang. Sematang usia kami tentunya, haha meski perilaku adu argumen kami adalah kontras berapa angka-angka usia kami berpijak. Namun bagaimana keberlanjutan hari-hari kemudian tercipta tanpa roman klise bikin muntah tetapi tetap penuh warna bermakna...
Friday, June 28, 2013
Jotakan!
Akhir bulan ini mobilisasi syaraf otakku bergerak lumayan cepat. Belum selesai yang ini ganti yang itu. Dan yang bikin crowded adalah aku tak begitu menguasai apa yang sedang akan kuselesaikan.
Bidang hukum adalah bidang yang kugemari meski tak pernah mendapat pendidikan formal tentang bidang tsb, namun kerap bersentuhan langsung disertai keinginan besarku untuk paham dan terus belajar, boleh dibilang aku sedikit mengerti beberapa hal. Dan tentang problem korban yang hendak kutangani, secara prosedur aku cukup paham, namun secara tata bahasa hukumnya aku tak berani berspekulasi. Meski banyak bertebaran contoh formatnya jika aku search di google, tapi aku lebih suka bertanya pada perempuan itu sekaligus beberapa teman yang juga berprofesi sama dengannya..
Maka jadilah pertanyaan demi pertanyaan mengalir, entah capek atau karena emang dianya lagi sibuk dengan kerjaan agak miskom jadinya.. Dan jotakan!
Hampir berapa hari aku tak memunculkan wajah di media percakapan kami, agak tak enak hati. Biasa, karakterku kan emang gitu, kalau ngerepotin orang pasti merasa malu banget, padahal kata teman-teman, we are need more hand if we handle violence against women. Tapi tetep aja, malu karena minta tolong mulu jadi bikin drop relasi komunikasi.
Tapi memang gak bertahan lama, salah satu tetap ada yang menurunkan tegangan agar gencatan senjata usai. Ini jotakan pertama kami, dan tentunya semoga tak terjadi lagi.. Tidak dengan penyebab yang sama pastinya...
Thursday, June 27, 2013
Alpukat!
Nama buah, ya kan? Lalu apa jadinya kalau bukan, dan merupakan sebuah profesi yang sedari remaja saya idolakan...
Alpukat, warnanya ijo. Buah kesukaanku hanya ketika dileburkan dengan es dan air gula dalam blender. Bukan dikoyak bersama gula lalu diaduk-aduk seperti kegemaran ibu jaman aku kecil dulu. Tapi alpukat tsb berubah terminologi di suatu siang bolong menjadi topik perbincanganku dengan perempuan itu..
"Di kantorku lagi gak ada advokat, kak!"
"Kan banyak dijual di pasar, vi"
"Hmm, beli satu donk yang kayak kakak adanya di pasar apa ya?"
"Oo kalau itu adanya di walmart di negara2 eropa. Yang di pasar kranggan aja vi. Carinya jangan yang keras, biasanya kulitnya coklat bukan ijo. Kalau keras gak bisa di jus hari ini. Harus di eram dalam beras."
"Jadi, kakak ini semacam alpukat. Bukan advokat? Ternyata selama ini aku salah mengira..."
See, how the similarity between alpukat and advokat... Kalau gak lagi ngobrol ama tuh perempuan kagak ada bahasan yang kayak gini.. Dasar alpukat!
Wednesday, June 26, 2013
Analogi Rasa
Saya sejak dulu sering nonton IMB. Selain karena acaranya lumayan menarik, juga ada si Tisjum. Meski akhir-akhir ini kayaknya acara bergeser untuk memperkuat gosip Tisjum yang baru menjanda dengan pesulap pelontos corbuzier yang lebih dulu menduda. Eits, saya gak sedang akan ngebahas soal gosip mereka, tetapi cerita ini tentang menganalogikan rasa..
Awalnya, saya gak suka banget gimana kok si pelontos itu kayaknya maksaa banget ngegombalinnya, mpe eneg dengernya. Tapi pas diresapin, ya ndak tau ya apa cuma kepentingan TV shows ato emang perasaannya beneran, ada cara-cara unik yang ia lakukan. Maka baiklah, efek positifnya kemudian adalah saya mulai menganalogikan rasa.
Perempuan itu bukan hanya punya kemiripan wajah, tapi juga cerita cinta dan karakter, jadi agak copy cat cara tentu tidak diharamkan bukan? Tetap tidak memaklumi bahwa upaya si pelontos itu tak membuat saya mengubah persepsi kebersetujuan saya. Untuk yang satu, saya tetap katakan TIDAK!
Tuesday, June 25, 2013
Hujan di Bulan Juni
Timeline Fesbukku tetiba disuguhi puisi ini, olehnya. Meski memang ia berjanji di BBm akan mengirimkannya. Kukira akan bercanda, ternyata ia membuatnya menjadi realita...
Hujan Bulan Juni
By Sapardi Joko Damono
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan Bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan Bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan Bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu
Perempuan itu mengirimnya agar aku tabah ditinggal kawinan si mantan. Bingung mau ngebales apa, eh kok tetiba juga pas buka-buka web, nemu puisi agus noor ini yang juga ada hubungannya dengan puisi diatas...
Puisi Agus Noor
ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI
: SDD
Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu
Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu
Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.
Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan
Saat kau terisak menahan tangis, ia yang lebih bijak dari bulan Juni, merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, hingga kau semakin memahami: betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri
Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, tanpa sekali pun pernah kau menyadari, ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega
Ketika senja, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tanpa pernah kau menyadari, meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan, hinga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan
Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, tanpa pernah kau menyadari, menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, dan kau bersyukur pada segala yang sebentar
Dan ketika kau tidur, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tak lelah berjaga: dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu
Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, dan lebih arif, tetapi kau tak pernah menyadari, meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu
2010
Berbalas puisi, ya bgeitulah kira-kira...
Hujan Bulan Juni
By Sapardi Joko Damono
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan Bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan Bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan Bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu
Perempuan itu mengirimnya agar aku tabah ditinggal kawinan si mantan. Bingung mau ngebales apa, eh kok tetiba juga pas buka-buka web, nemu puisi agus noor ini yang juga ada hubungannya dengan puisi diatas...
Puisi Agus Noor
ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI
: SDD
Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu
Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu
Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.
Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan
Saat kau terisak menahan tangis, ia yang lebih bijak dari bulan Juni, merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, hingga kau semakin memahami: betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri
Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, tanpa sekali pun pernah kau menyadari, ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega
Ketika senja, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tanpa pernah kau menyadari, meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan, hinga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan
Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, tanpa pernah kau menyadari, menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, dan kau bersyukur pada segala yang sebentar
Dan ketika kau tidur, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tak lelah berjaga: dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu
Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, dan lebih arif, tetapi kau tak pernah menyadari, meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu
2010
Berbalas puisi, ya bgeitulah kira-kira...
Sunday, June 23, 2013
Mantenan Mantan
Mantan saya mantenan, bagaimana perasaan saya? Nah ini saya mau cerita...
Awalnya, saya dengar kabar itu sekitar awal Maret. Melihat sebuah cincin melingkar di jarinya, mendengar ucapan selamat dari orang-orang terdekatnya dan perasaan saya yang berkecamuk. Ya, ketika pertama kali tau, hati saya langsung menangis, sementara otak dengan sekuat tenaga menahan mata untuk tak mengalirkan tetes-tetes air. Meski kemudian tumpah juga tetapi ketika tak ada seorang pun di sisi. Lalu otak saya mulai sibuk, bukan menghibur hati tetapi mencari pengalihan dan peralihan.
Pengalihan pada kesibukan pekerjaan dan keinginan untuk keluar dari kota ini hanya sekedar agar tak melihat hari bahagia si mantan serta pengalih kemarahan saya. Ya, saya berjanji saat si mantan berani ngundang saya maka akan saya robek undangan di depan mukanya. Kemarahan yang benar-benar tak masuk akal memang, tapi namanya juga marah, bukan?
Namun waktu dua bulan ternyata sanggup merubah segalanya. Disinilah letak keisengan Tuhan. Kemarahan dan kecamuk hati dan pikiran kemudian memasuki fase peralihan. Tuhan mempertemukan saya dengan perempuan itu melalui tahapan rasa yang tak langsung dikenali sebagai sebuah cinta. Rasa itu terpupuk sedikit demi sedikit dan perlahan, rasa itu menemukan wujudnya ketika kecamuk hati berada pada klimaksnya. Cemburu pada si mantan kemudian hanya jadi rasa yang biasa-biasa saja dengan makna perempuan yang kini tak hanya iseng belaka. Mem-flashback alur waktu dua bulan ke belakang aku pun heran bagaimana bisa peralihan rasa bisa sebegini signifikan.
Lalu tibalah hari itu.. Hari yang sekitar 2 bulan lalu kuhindari setengah mati, kini hanya kulewati dengan sangat biasaaa aja. Sampe beberapa teman niat banget lho pengen liat ekspresi mukaku takutnya aku gak kuat njuk nggeblak. Khayal banget itu! Kalo aku memutuskan datang berarti aku sudah yakin gak akan ada emotional feeling semacam nangis, apalagi semaput, yang akan terjadi.
Bahkan si kakak ngeledek mulu, ia awalnya nyuruh ga usah dateng aja, takut aku kenapa-napa atau kalo mau dateng barengan rame-rame ama temen laen biar kalo pingsan ada yang nolongin. Tetep aja niatnya ngeledekin, kan!
Dateng bareng seorang kawan, muter-muter cari gedungnya, dan finally, ketemu!
"Kak, gedung mantenannya deket ama rumah kakakmu lho!" laporku pada si kakak.
"Ajak kakak gue aja vi, trus bawa anak-anaknya, rame deh. Biar lo gak sedih!"
Ide bagus si kakak!
Balik ke TKP... Antrean salaman lagi padat merayap, aku memilih untuk makan dulu nanti baru salaman. Dan ternyata adatnya tuh nyalamin penganten baru makan. Maklum ga pernah kondangan jadi ndak tau hahaha
Tibalah pamitan sekalian nyalamin penganten beserta keluarganya.. Dimulai dari sayap kanan yang adalah mertua si mantan. Pertanyaan dari bapak mertuanya cukup spektakuler..
"Njenengan kakung nopo putri?" (Kamu laki apa perempuan)
Sebenarnya pengen ngakak juga, tapi karena yang nanya serius jadi njawabnya juga lumayan serius.
"Kulo kakung lan putri pak!" (Saya laki dan juga perempuan, pak)
Si bapak dan ibu mertua mesam mesem. Pertanyaan yang biasa buatku, yang gak biasa ya karna yang nanya bapak mertua mantan!
Jadi maaf saya rupanya tidak bisa mengabulkan harapan kawan-kawan untuk nangis gulung-gulung pas kawinan mantan karena memang feeling saya sudah biasa-biasa saja, otak saya bukan menang kali ini, ia hanya melakukan yang semestinya terjaga menemani hati yang sudah tak lagi merasa hal yang istimewa. Ya, realita tentu saja menyadarkan hati, bahwa ia tak bisa terus saja bermimpi, masih ada hari esok untuk terus dilewati. Melihat dan mendoakan orang yang kita sayangi bahagia jauh lebih utama karena dengan begitu hati merasa lebih lega...
Subscribe to:
Posts (Atom)