Mungkin, aku dan kamu, tak lebih dari sekedar fantasi, aku dan kamu. Kadang, jika kutilik ulang aku dan kamu, tak ada benang merah antara kita.
"Apa chemistry kalian?" tanya si emak2 pada kami. Ia kemudian menjelaskan chemistry intelektual aku dan dia, dan ketika kembali aku dan perempuan itu bertemu pandang, kami masih terus mencari, apa yang sebenarnya menautkan kami?
Ada pepatah yang pernah kubaca, jika kita tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan kita untuk orang yang ada di hati, maka itulah cinta. Ketika kukumandangkan itu padanya, ia malah berseru pepatah itu tak dapat dipercaya, bisa saja bermakna sebaliknya.
Pun bila menilik duniaku dengannya, sungguh kontras! Manusia malam vs manusia rumahan. Dan pola pikir yang teramat bertolak belakang, aku tipe orang yang senang semua ditutur komunikasikan sedang ia menutup rapat isi otaknya. Bahkan seringkali aku bergumam, kayaknya aku harus belajar ilmu kebatinan deh!
Dan semua yang bertolak belakang lainnya. Intensitas pertemuan yang hanya diisi kediaman, tawa dan obrolan yang bisa diitung jari. Kau bilang semua butuh waktu, aku sepakat, tapi semoga tak kelamaan di wilayah kebatinan ini.
Pun jika ini sebuah fantasi aku tak akan sepakat denganmu untuk menyebutnya kesalahan termanis. Setiap irisan takdir selalu memaknakan sesuatu, meski hingga detik ini kita belum menemukan padanan yang khas.
Wednesday, November 9, 2011
Friday, November 4, 2011
Kamu
Kamu. Saya bahkan tak bisa mempenakan tentang kamu. Sesingkat apapun. Ya, otak saya sedari awal menghujat; setiap yang hadir dalam hidupku selalu dapat kuprosa atau puitiskan dalam ruang dunia maya ini, kecuali kamu.
Bukan karena aku benci namamu sejak awal. Entah, aku tak menemukan satu alasan pun kenapa otakku kemudian mandeg total. Hanya ketika emosi telah memuncak, apa yang menggunung di hati sepertinya perlu untuk dikatarsiskan.
Hanya aku tetap terbungkam. Seperti ceritamu yang hanya akan terbungkam di otak dan hatiku.
Bukan karena aku benci namamu sejak awal. Entah, aku tak menemukan satu alasan pun kenapa otakku kemudian mandeg total. Hanya ketika emosi telah memuncak, apa yang menggunung di hati sepertinya perlu untuk dikatarsiskan.
Hanya aku tetap terbungkam. Seperti ceritamu yang hanya akan terbungkam di otak dan hatiku.
Thursday, November 3, 2011
Everything Back
Everything goes normal again. Insomnia yang datang kembali. Tidur pun rasanya ada yang bangunkan. Kantung mata yang menghitam kembali. Itu yang kusebut fase normal atau rutin.
Dua bulan. Seperti pendulum aku menghitung waktu. Sebuah kemerosotan yang lagi2 aku buat sendiri. Aku terlampau berleha-leha untuk urusan hati. Hmm, ya internal error satu itu belum bisa kubenahi sampai sekarang. Ditengah riuh rutinitas yang terselubungi cerita terlarang, aku kalang kabut Oktober lalu.
Intermezzo yang harus kusudahi. Ada yang maha penting; hidupku, bukan hatiku. Bahwa sekali lagi pencipta seluruh keberlangsungan hidupku adalah diriku sendiri.
Dua bulan. Seperti pendulum aku menghitung waktu. Sebuah kemerosotan yang lagi2 aku buat sendiri. Aku terlampau berleha-leha untuk urusan hati. Hmm, ya internal error satu itu belum bisa kubenahi sampai sekarang. Ditengah riuh rutinitas yang terselubungi cerita terlarang, aku kalang kabut Oktober lalu.
Intermezzo yang harus kusudahi. Ada yang maha penting; hidupku, bukan hatiku. Bahwa sekali lagi pencipta seluruh keberlangsungan hidupku adalah diriku sendiri.
Sunday, October 30, 2011
An Affair
Ternyata jemari saya mandeg di bulan Oktober. Bukan karena semenjak hape kesayangan yang biasanya menjadi tools untuk menuang ide di kepala saya ke dalam tulisan itu raib, tapi karena otak saya sedang tidak bekerja. Hati saya fulltime bulan Oktober ini...
Sebuah cerita yang sanggup menyebabkan kemerosotan hubungan dengan perempuan yang sedang mengisi hati saya kala itu. Ya, saya harus mengakui affair itu sedemikian hebatnya memang. Entahlah, yang pasti otak saya dibuat lumpuh tak berlogika. Kalau boleh dibilang ini gila!
Dan lebih gilanya, sepanjang perjalanan waktu ketika logika saya terus menerus menghujat dan mengkomparasi, "dimana letak istimewanya perempuan itu? Bahkan secuil inspirasi pun tak bisa kau persembahkan di ruang dunia maya ini? Beda sepanjang bulan lalu, puitis kata, prosa hati, kau bisa dengan begitu mudah!" Otak terang-terangan menghujat hati.
Dan sampai kini hati tak memberi jawab. Hati hanya bisa terpekur pasrah ketika otak lah yang kemudian mendetilkan arti perempuan itu kini. Akhirnya, ia memberiku inspirasi, tepat disaat hati sudah merasa terlampau letih.
Tapi tak mau menyalahkan waktu, meski jika mampu memutar ulang waktu aku memilih untuk tak punya kisah ini dalam hidupku.
Sebuah affair; yang bahkan logikaku tak pernah terfikir akan mendapatinya dalam perjalanan hatiku. Orang bilang cinta bisa datang kapan saja; termasuk cinta yang salah. Entah apa dan bagian mana yang salah. Aku hanya merasa kesalahanku adalah membiarkannya tumbuh dan yakin aku bisa mengontrolnya dalam genggaman otak dan selangkangan. Namun teori selalu lebih mudah dari prakteknya. Dan kembali tak bisa menyalahkan waktu, kamu atau aku, affair yang sengaja disuguhkan untuk singgah dalam takdir ketika irisan takdirku yang lain belum terselesaikan.
Sebuah cerita yang sanggup menyebabkan kemerosotan hubungan dengan perempuan yang sedang mengisi hati saya kala itu. Ya, saya harus mengakui affair itu sedemikian hebatnya memang. Entahlah, yang pasti otak saya dibuat lumpuh tak berlogika. Kalau boleh dibilang ini gila!
Dan lebih gilanya, sepanjang perjalanan waktu ketika logika saya terus menerus menghujat dan mengkomparasi, "dimana letak istimewanya perempuan itu? Bahkan secuil inspirasi pun tak bisa kau persembahkan di ruang dunia maya ini? Beda sepanjang bulan lalu, puitis kata, prosa hati, kau bisa dengan begitu mudah!" Otak terang-terangan menghujat hati.
Dan sampai kini hati tak memberi jawab. Hati hanya bisa terpekur pasrah ketika otak lah yang kemudian mendetilkan arti perempuan itu kini. Akhirnya, ia memberiku inspirasi, tepat disaat hati sudah merasa terlampau letih.
Tapi tak mau menyalahkan waktu, meski jika mampu memutar ulang waktu aku memilih untuk tak punya kisah ini dalam hidupku.
Sebuah affair; yang bahkan logikaku tak pernah terfikir akan mendapatinya dalam perjalanan hatiku. Orang bilang cinta bisa datang kapan saja; termasuk cinta yang salah. Entah apa dan bagian mana yang salah. Aku hanya merasa kesalahanku adalah membiarkannya tumbuh dan yakin aku bisa mengontrolnya dalam genggaman otak dan selangkangan. Namun teori selalu lebih mudah dari prakteknya. Dan kembali tak bisa menyalahkan waktu, kamu atau aku, affair yang sengaja disuguhkan untuk singgah dalam takdir ketika irisan takdirku yang lain belum terselesaikan.
Saturday, September 24, 2011
Rindu yang belum Terbunuh
Algojo tak Bertaji
Rinduku berdarah malam ini.
Aku menyembelihnya agar tak lagi merusak organ lainnya.
Ya, hati sudah kubantai agar tak lagi menafaskan namamu di setiap denyut jantungku.
Susah payah, serupa nafas aku membunuh dirimu yang hidup di hatiku.
Belum lagi mata yang selalu tertuju pada layar,
mengharap setiap dering adalah namamu.
Paling parah adalah ingatanku,
sudah kubuat linglung
tetap saja ia sempoyongan mengais remahan memori untuk ia satukan ulang.
Seluruh organ tubuhku menjadi pembangkang meski aku menghunusinya satu persatu.
Perih dimana-mana.
Hatiku yang menganga tersembelih.
Otak yang tercecer tetapi tetap berkedut menuliskan namamu.
Jemari yang tak henti menarikan kata untukmu.
Mulut yang tak mau pergi melafaskan namamu diantara umpatan asu.
Lagu-lagu yang berseliweran di kupingku.
Membunuhmu dengan caraku mencintamu!
Prosa hatiku itu niatan awalnya adalah akan kuhias di ruang hati dunia maya ini. Tetapi jaringan inet yang lelet menggerakkan jemariku untuk mengirimkannya pada ia, separuh hatiku yang kutuju.
Hanya butuh tak sampai lima menit melafalkan hati dan otak. Sinkronisasi jemari akan rasa yang bergolak seharian dan semalaman, waktu itu.
Dan kini kubaca ulang tulisan hatiku itu. Masih tetap tulisan hati senada denyut jantung dan detak otakku kini. Ya, aku mengakuinya, tak akan semudah membalik tangan untuk membunuh rasa yang bercokol mengakar serupa aku bernafas tiap hentakan waktu.
Wahai perempuan berkerudung yang mengkerudungi hatiku... Rindu ini belum terbunuh! Aku hanya sedang bertahan di koridorku. Cintaku bukan tuk sakitimu. Sayangku bukan tuk ganggu kenyamananmu. Aku hanya ingin menjadi aku yang punya cinta dan sayang untukmu... Selebihnya, tersiksa pun, biar itu tunggal menjadi rasaku selama kau merasa nyaman tanpaku...
Aku menemukan irisan hatiku atas dialog kita yang pernah tercipta. Aku merajut senyuman meski di seberang sana kau hanya berwujud suara tak berupa. Waktu berotasi dengan begitu cepatnya di tiap malam-malamku yang berisi tarian kata-katamu. Dan semua hal terindah yang tak bisa kupenakan tentangmu... Namun ketika sepenuhnya hanya menjadi rasaku, aku tetap bersyukur bisa berdansa dengan waktu... Sejati itu bukan hanya di bibirku, hanya rasa yang aku tak cukup pandai untuk mempertontonkan padamu...
Hatiku tak memilihmu diantara ratusan cahaya yang mengelilingiku, tapi kau satu-satunya cahaya yang berpendar menyelubungi hingga palung terdalamku. Kalau ada yang hendak meniup mati pendarnya, aku hanya ingin kau yang melakukannya...
Friday, September 23, 2011
Kontradiksi
Mengalah bukan berarti kalah...
Labil tidak bermakna tidak stabil...
Serdadu otakku sedang gaduh,
melihat batas kemudian teriak: "Tuntas! Tuntas!"
Kata-kata yang suka dibalik, kini bolak-balik
Kalimat yang merendah, kini direndahkan
Ucapan yang teringkari, seringkali
Berniat, tanpa niatan...
Memuja, tidak akan selamanya
Pada akhirnya, harimau di mulut akan tau seberapa besar kandangnya. Akankah kandang lebih besar dari harimau atau sebaliknya besar harimau daripada kandangnya???
mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
ku menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri ku melawan hari
ku akan berarti, ku takkan mati
Labil tidak bermakna tidak stabil...
Serdadu otakku sedang gaduh,
melihat batas kemudian teriak: "Tuntas! Tuntas!"
Kata-kata yang suka dibalik, kini bolak-balik
Kalimat yang merendah, kini direndahkan
Ucapan yang teringkari, seringkali
Berniat, tanpa niatan...
Memuja, tidak akan selamanya
Pada akhirnya, harimau di mulut akan tau seberapa besar kandangnya. Akankah kandang lebih besar dari harimau atau sebaliknya besar harimau daripada kandangnya???
mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
ku menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri ku melawan hari
ku akan berarti, ku takkan mati
Sing a Song
Selalu tampak indah awalnya.... Berakhir bencana...
Akhirnya, usai sudah semua kudapatkan tawa bahagia!
Karma By Cokelat
Lama gak denger lagu itu....Baru denger lagi ketika suara serak2 akustik mbak bersuara bagus waktu kumpul bersama teman2 Lesbian dua hari lalu...
Selamat tinggal, Sayang...
Akhirnya, usai sudah semua kudapatkan tawa bahagia!
Karma By Cokelat
Lama gak denger lagu itu....Baru denger lagi ketika suara serak2 akustik mbak bersuara bagus waktu kumpul bersama teman2 Lesbian dua hari lalu...
Selamat tinggal, Sayang...
Subscribe to:
Posts (Atom)