Friday, April 29, 2011

Ketemu Lagi...

Sedari semalam aku sudah tak sabar! Sebenarnya aku tak diutus untuk pergi ke event ini, tapi dengan membelitkan alasan bahwa aku tertarik mengetahui diskusi ini, aku berkeinginan ikut. Seorang teman kantor pun setuju karena ia tanpa teman. Dan akhirnya, kami berempat kesana...

Kalau boleh dibilang, bagi ketiganya adalah hanya wasting time berada disana. Ya, memang benar, kalau aku tak mempunyai "keperluan" lain di event itu pastilah membosankan. Beruntung aku ada keperluan lain itu, melihatnya... Ia yang September lalu kutaksir!

Ia datang naik tangga. Sesuatu hal yang kemudian kami tertawakan karena ada lift disana. Bahkan ia memakai high heels 15 cm an.
"Ya, itung-itung olahraga!" sahutku.
"Hei, kamu pa kabar?" tanyanya ketika matanya bertemu senyumku.
"Baik."
"Aku liat kamu, fesbukmu itu lho! Aku baca fesbukmu!" ujarnya sembari mengoprek buku yang akan disusun di meja dan matanya yang kadang tertuju padaku.
Upps, fesbuk! Gaswat, ada kemungkinan dia juga akan baca blogku ini. Beruntung obrolan tak dilanjutkan karena kami harus mempersiapkan banyak hal. Disini kebiasaannya muncul, REMPONG! Ribet banget dah pokoknya, but she's always smile.

Untuk sekelas perempuan itu, aku mendengar apa yang ia sampaikan ke publik masih terlalu dangkal. Ya, ia banyak pengetahuan, tapi menurutku tidak mengena. Sejam pertama aku sudah bosan. Bahkan ingin pulang kalau tak ada rasa segan karena mengenalnya.

Hanya faktor aku ingin melihatnya saja yang membuatku bertahan. Senyum lebar dan potongan rambut yang sama, selebihnya biasa saja!

Tuesday, April 26, 2011

MATA

Bagiku, mata adalah organ yang paling vital ketika mengenal seseorang. Mata dapat berbicara lebih jujur daripada kata-kata semanis apapun. Pergerakan mata tak bisa berbohong. Alur fluktuatifnya pun bisa menampakkan apakah orang yang berbicara denganku sedang berbohong, berkata-kata tulus atau bahkan tak bisa ditebak.

Bersilat lidah mungkin mudah, namun bersilat mata, kurasa butuh keahlian khusus. Ya, jika kau pandai bersilat mata artinya kau sangat terampil dan mahir diatas silat lidah.

Aku menyukai orang dari kelebat mata. Eye contact. Kesan pertama dimulai selalu lewat mata yang berbicara. Menilik ulang yang terdahulu pun tak lepas dari bagaimana pola mata dalam bertutur. Jadi benar jika ada istilah cinta datang dari mata turun ke hati...

Tak perduli apakah bentuk mata sipit, belo atau pun biasa saja, namun makna pergerakan mata menegaskan bagaimana karakter si pemilik.

Monday, April 25, 2011

Just Do It!

Dapat semboyan semangat baru: MELAKUKAN or Just Do It!

Aku akhirnya memberanikan diri melempar "penyakit" kronisku untuk dikritisi bersama. Maklum, selama ini hanya bergelantungan di otakku semata dan pemikiran pribadi tentang ke-Pasif- PDKT in cewek. Meski tahu pasti semua kendali akan kembali pada diriku sendiri, bagaimana aku akan keluar dari situ atau tetap merasa nyaman dalam Pasif Permanen tsb.

Just Do It! Berpikir sebelum melakukan itu patut, tapi memang jadi tak patut ketika salah satu gejala penyakit kronisku kemudian menjangkit duluan, kebanyakan mikir! Then No Action, just stuck, no step forward, no step backward, but not a coward, I just had complicated brain to made decision. Melakukan, its what I am supposed to do, but that doesn't easy for me to do, but I do promise, I keep trying on it!

Interval pengalaman masa lalu ditambah karakter yang sudah melekat sejak dulu memang tak akan semudah membalik telapak tangan tuk dirubah. Ya, teringat perumpamaan aku lah yang punya otoritas penuh apakah aku akan gantung sepatu atau melakukan tendangan meski dengan risiko meleset, atau pun kelamaan mikir sebelum nendang...

I hope, I just do it, soon... *Seems not easy, but I have to!

Sunday, April 24, 2011

Berondong _Maning_

Entahlah, kata berondong kali ini sama seperti sebelumnya, multitafsir!

Berondong jagung, tentu bukan itu. Terlibat perasaan dengan perempuan belasan. Dan kembali, tak datang satu demi satu, selayak hamburan peluru terlepas seluruhnya dari selongsongnya.
"Pas sepi, sepi banget, giliran dateng, barengan!" ujar tetangga sebelah kamar, bukan untuk pertama kalinya.
Ya ya ya sesuai ramalan, tahun ini Aries akan banyak bertemu orang-orang baru silih berganti, mau percaya atau tidak, memang begitulah yang terjadi. Fluktuasi ini tak terindahkan. Dalam sehari kadang bisa hambar, senyum, ragu, pasif dan degupan hingar bingar hati ber-roleplay sedemikian cepat. Di saat yang bersamaan bibir mampu memamerkan setetes senyuman dan kerutan.

Dan kali ini sepertinya musim berondong! Teringat nasihat teman untuk melewati ini hanya sebagai tahap guyonan hidup dan anjuran tetangga sebelah kamar untuk tetap menikmati saja tanpa perlu tuk pikir panjang ke depan. Ya, serenyah berondong dengan variasi rasanya, sepertinya ya, lebih akan memaknainya selayak makanan ringan kriuk2 tak mengenyangkan namun melekat di lidah. Yup, that was berondong!

Saturday, April 23, 2011

Nama, Rambut dan Wajah yang Berjenis Kelamin

Nama
Ini yang barusan saja aku alami, dan bukan pertama kali, sudah kesekian jadi aku tak terkejut.

Namaku Alvi. Kasus yang baru aku alami adalah aku mengirim sms pada seorang mahasiswa yang hendak melakukan penelitian. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pada balasan smsnya, perempuan yang memang belum pernah sekalipun bertemu muka denganku itu langsung memanggil dengan sebutan "Mas". Aku yang sudah terbiasa, tak begitu mempermasalahkan, bahkan tidak melakukan pembenaran dengan berkata saya perempuan atau saya "Mbak". Sama dengannya nanti aku juga akan mengklasifikasi.

Sms kedua yang kian mengukuhkan panggilan "Mas" itu hanya membuatku sedikit tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya ketika berhadapan muka dengan "Mas" Alvi...

Rambut
Potongan rambut pendek identik dengan laki-laki dan dipanggil Mas. Kalau ini juga sudah tak terhitung berapa kali menimpaku. Di warung bakso, di Pom Bensin, di Mall, tempat parkir, nyaris semua tempat mempunyai orang-orang dengan pola konstruksi otak yang sama: rambut pendek di panggil Mas!

Teman yang bersamaku selalu tertawa tiap kali jalan denganku dan ada yang manggil Mas. Pernah ada kejadian lucu, waktu itu di Sunday Morning UGM, aku dan dua teman berjilbab sedang makan pagi usai berkeliling cuci mata. Datanglah segerombolan pengamen waria bernyanyi, aku lalu mengulurkan secarik rupiah. Sambil berlalu kami mendengar salah satu dari mereka menggumam sinis: "Itu laki apa perempuan seh?!!"
Aku hanya dengar, tak menanggapi, cuma si temanku balas bergumam sedikit emosi: "Lha elo apa, laki apa perempuan? Kok nanya orang lain, wong dirinya sendiri juga nggak jelas!"
Aku kembali tersenyum dan tak komentar. Karena di belakang tadi rombongan itu sudah melirik sinis sembari mencibir: Ihh Lesbo!
Dalam hati hanya batin: Orang-orang yang belum selesai dengan pemahaman gender bahkan untuk berkaca pada dirinya sendiri. (Hello LGBTIQ, we are one!! Kalau ini sebuah pertanyaan dengan nada biasa aja mungkin tak ada yang mempersalahkan, tapi ia berkata dengan nada sinis seolah merendahkan. Mempreseden buruk orang lain padahal berada pada kondisi dan memperjuangkan hal yang sama).

Balik soal potongan rambut yang berjenis kelamin, yang bikin lucu adalah ekspresi mereka ketika aku kemudian mengeluarkan suara. Ada yang buru-buru meralat dengan manggil Mbak, ada yang cuek habis tadi manggil Mas trus manggil Mbak, ada yang ketawa menertawakan kekonyolan memanggilku Mas setelah tau suaraku Mbak. Lucu melihat kesibukan mereka heboh sendiri soal Mbak atau Mas!

Bahkan pernah gara-gara potongan rambut pendek ini aku diusir dari gerbong perempuan di Prameks. Konstruksi otak yang entah kapan akan bisa dirubah karena sepertinya sudah kadung massal dan turun temurun!

Wajah
Ini lain lagi ceritanya... Waktu itu aku hendak beli koran. Tanpa mencopot helm, aku memasuki kios. Usai memilih-milih koran yang hendak kubeli, aku menyodorkannya ke depan si penjual untuk dihitung. Sembari menghitung ia tak berhenti menatapku dari atas ke bawah dari bawah ke atas. Aku mengernyitkan alis dan bertanya: "Ada apa Mas?"
"Mbaknya ini Mas atau Mbak sih?"
Pertanyaan yang konyol, bukan? Sudah manggil Mbak tapi masih mempertanyakan Mas atau Mbak.
Aku hanya melengos dan mencopot helm. "Kalau gini?"
"Ya kayaknya sih Mbak?"
Hahaha aku sedang tak ingin meneruskan perdebatan Mas Mbak dengannya, juga menjawab atau meyakinkan Mas atau Mbak. Hanya merasa aneh, jual koran untuk dibeli korannya, bukan malah mempersoalkan pembelinya Mas atau Mbak, bukan?


Kadang ada yang bilang padaku: "Halah, wong kamu seneng aja dipanggil Mas!" dan ada yang malah kuatir: "Kamu nyaman nggak dipanggil Mas? Aku harus panggil apa?"

Hmm, bagiku bukan masalah senang tak senang, nyaman tak nyaman, karena Mas atau Mbak hanya bentukan masyarakat yang massal itu, kalau ikutan melabeli sama aja dengan mereka. Hanya tak suka saja jika nama, potongan rambut dan wajah dijenis kelamin kan. Apa-apa kok ujung2nya berkelamin!

Menghilangkan stereotipe memang tak akan mudah, hanya saja jangan melakukan pelabelan untuk merendahkan atau untuk sesuatu yang nggak penting buat ditanyakan!

Friday, April 22, 2011

Wajahmu Serupa...

Menautkan satu demi satu wajahmu dalam sebuah bingkai, aku mulai meredefinisi wajahmu mirip seseorang, tapi siapa... Sangat familiar di ingatanku... Dan ternyata potret kembaranmu itu memang sudah ada di laptop. Ya, ternyata wajahmu serupa pemain bulutangkis nomer wahid China setahun lalu. Dan aku pun ngefans ama neh atlet, makanya kemarin ketika dipertemukan denganmu, sepertinya sudah sangat mengenal wajahmu.

Hmm, kebiasaanku mungkin ya, menyamakan wajah hahaha benar sih karena hampir tiap orang yang kukenal selalu tak luput dari kata "Eh, sepertinya kamu mirip si Ini deh!". Bahkan saking seringnya begitu ada pihak yang komplain: "Kayaknya gak mirip deh!" atau "Apanya yang mirip?" Ya bagiku mirip kan tak harus seratus persen, cukup sekali lihat saja hehehe

Beralih pada si kembaran atlet, ya ia memang tak seputih langsat si atlet, tapi mungil bibir, bingkai senyum, dan bentuk wajahnya nyaris mirip. Tapi sekali lagi ini hanya subyektifitasku saja. Aku sih percaya tiap orang punya "kembaran" di muka bumi, tak harus identik, paling tidak serupa lah. Atau paling tidak keberuntungannya serupa si Wang Yi Han, pemain bulutangkis nomor wahid itu lah!

Thursday, April 21, 2011

Simple Crush...

Perasaan dapat bersemi dengan sangat mudah. Berbekal lirikan mata, senyuman tipis dan gurauan basi. Bukan cinta mungkin, kesan pertama yang kemudian menentukan segalanya...

Hmm, tampaknya terlampau sering merasakan hal diatas. Hanya semudah itu naksir seseorang! Memeliharanya saja yang bukan hal mudah.

From a simple crush I knew this feeling and simply named it as a crush. And what I do then is try to redefine, is it truly crush? Or I just get locked on your shy smile?