Read On YASIKA FM Jogja @ 8.30-10.00 pm. So, stay tune!
Mem, aku ingin bercerita tentang Mimi-ku. Mimi adalah panggilanku padanya dan ia memanggilku Pipi.
Jalinan kasih kami telah lebih dari satu setengah tahun berselang. Tepatnya bulan Juli nanti kami genap dua tahun. Bukan waktu yang singkat untuk membekaskan kenangan dengan berjuta kisah. Sedih, tangis, tawa dan bahagia. Meski lebih banyak berantemnya sih. Sejak mulai kami LDR (Long Distance Relationship) dulu, Jogja-Jakarta, Jogja-Jatim hingga kini kami sama-sama di Jogja, meski kami tak bisa bertemu muka tiap hari. Paling disatukan via telepon atau sms, itupun juga banyak berantemnya. Entahlah, mem, ia sepertinya sangat suka beradu argumen denganku. Tiap hari ada saja salah atau cela yang menurutnya kubuat yang membuatnya ngomel dan marah-marah. Bahkan tak jarang kata PUTUS terlontar. Memang sih, putus-nyambung sudah tak istimewa lagi dalam kamus hubungan kami. Sampai kadang aku jengah. Aku lelah bertengkar, mem. Aku hanya ingin ketika jarak tak lagi terlalu jauh memisahkan, aku ingin selalu rukun dengannya. Menghabiskan keterbatasan waktu kami tanpa pertengkaran, apalagi hanya dipicu hal-hal sepele.
Mimi, hari ini, di ultahmu yang ke-30 tahun, mungkin aku hanya bisa memberi secarik kalimat tak romantis ini untukmu. Aku belum bisa menghadiahimu sesuatu yang berharga dan lebih istimewa, selain hati dan kehadiranku dalam hari-harimu dengan segenap ketulusanku yang selama ini tak pernah kau percaya.
Semoga di usiamu yang mengawali kepala tiga ini, kamu bisa jauh lebih dewasa dalam memandang dan menyikapi hal-hal dalam hidup. Tak lupa kudoakan agar Mimi selalu dalam lindungan-NYA. Amien.
Mem, mayoritas orang menilai cinta kami terlarang, tak pantas bersemi dalam pandangan masyarakat yang masih sangat hetero normatif, namun apa yang kami rasa dan lalui -meski hanya kami, dan sekelumit orang yang tahu- adalah sesuatu yang indah dalam hari-hari kami.
Sekali lagi, happy sweet thirty to my beloved Mimi. I love u much...
Tuesday, February 17, 2009
Saturday, February 14, 2009
BERANTEM [bukan] TANDA SAYANG!
Kelopak mataku berkaca-kaca. Aku letih. Letih untuk bisa mengerti kemana jalan pikiranmu. Letih atas tuduhan-tuduhanmu yang memojokkanku. Letih atas pikiran burukmu tentangku. Letih atas perdebatan panjang tiada henti. Letih atas pertengkaran yang selalu membuat otakku tegang. Letih karena aku harus selalu menjaga perasaanmu atas semua ucapan dari mulutku, sedang sedikitpun kamu tak pernah menjaga perasaanku atas apa yang terlontar dari lisanmu.
Kenapa harus aku dan selalu aku? Aku yang harus mengerti kekuranganmu. Aku yang harus memahami keterbatasanmu. Aku yang harus diam atas hasutan fitnahanmu. Aku yang dituntut menerima bahwa akulah yang salah atau mengaku salah. Aku lah yang harus mengalah.
Kekuranganmu yang kau lemparkan padaku harus bisa kudiamkan, kupendam, kusadari bahwa kekurangan dan keterbatasanmu adalah resiko yang harus kuteguk, sedang kekurangan, kealpaan, dan keterbatasanku adalah sebuah KESALAHAN BESAR yang kau lantangkan dengan kata PUTUS.
Aku letih. Ketika kesabaran sudah mengikis habis pondasi hatiku untuk selalu mengalah, merendah untuk selalu direndahkan.
Aku bukan ingin besar kepala, tapi renungi, resapi dan cam kan dalam benakmu, bahwa akulah orang tersabar yang pernah mencoba mengertimu. Bantahlah kalau kau berani! Tak ada satu orang pun, diantara perempuan-perempuan yang pernah mengisi relung kalbumu yang sepaham, semengerti dan semengalah aku!
Aku bertahan karena menyayangkan satu setengah tahun akan sia-sia jika ego selalu bicara. Tapi sekali lagi aku hanya manusia dengan semua keterbatasannya. Terbatas untuk sabar, mengalah dan keterbatasan lainnya.
Belajarlah untuk menghargai sebuah hubungan. Paling tidak seseorang yang itu adalah aku, aku yang kamu agungkan sebagai kekasih. Kekasih yang tak pernah kamu percaya. Kekasih yang selalu kamu pojokkan, kamu curigai, kamu tuduh dan kamu ajak untuk adu mulut tiap hari.
Bertengkar. Adu mulut. Silang pendapat. Semua kau jadikan menu makanan sehari-hariku. Omelanmu adalah sarapanku. Tuduhanmu makan siangku. Dan fitnahanmu makan malamku. Bukan hanya kenyang, aku sudah terlampau bosan menyantap hidangan yang itu-ituu aja yang kau sajikan di meja hari-hariku.
Jika tak bisa memberiku sarapan omelan, maka kau suguhiku fitnahan di pagi hari. Sepanjang siang mengomel dan menuduhku kala malam. Sedang aku, aku dituntut diam sejuta bahasa. Tak pernah punya andil sebagai koki makanan sehari-harimu karna kau merasa kau adalah koki terhebat. Terlalu sempurna untuk dicela.
Malam ini kau lontarkan kata PUTUS. Bukan hal istimewa di telingaku karna sudah terlalu sering kau tuliskan di sms. Mungkin banyak yang masih kusimpan di hape. Masalahnya pun sepele. Karena aku sudah sampai rumah tapi tak mengabarimu. Baru mengirimkan sms setelah beberapa waktu. Sepele bukan? Amat sangat sungguh terlalu sepele sekali!
Kalau aku mau ungkit-ungkitpun, kamu aja yang seharian pergi dengan keluargamu, selalu telat balas smsku, bahkan kau sendiri pun tak mengabariku telah sampai rumah. Tapi apa, aku tidak mempermasalahkannya! Justru niatku yang sms kamu malah disalahkan. Dunia sudah terbalik atau pemikiranmu yang jungkir balik?
Coba cerna dengan logika, kewajibanku harus selalu kupenuhi, sedang aku harus memaklumi kewajibanmu yang tak kau lakukan. Begitu kah caramu mencintaiku? Seyakin apapun aku akan cintamu, tetap saja caramu memperlakukanku adalah sebuah kesalahan besar!
Berantem tiap hari bukan tanda sayang, cam kan itu di kepalamu! Jangan hanya mencari celaku jika aku dituntut diam menerima celamu.
Entah harus dengan bahasa, cara dan jalan apalagi aku meyakinkanmu untuk mencoba menelaah arti sebuah satu setengah tahun hubungan?
Pikir, pilih dan lakukan apa yang menurut kamu adalah jalan terbaik.
Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik meski tak selalu kau pandang baik.
21:45 Sat 14 Feb 2009.
Kenapa harus aku dan selalu aku? Aku yang harus mengerti kekuranganmu. Aku yang harus memahami keterbatasanmu. Aku yang harus diam atas hasutan fitnahanmu. Aku yang dituntut menerima bahwa akulah yang salah atau mengaku salah. Aku lah yang harus mengalah.
Kekuranganmu yang kau lemparkan padaku harus bisa kudiamkan, kupendam, kusadari bahwa kekurangan dan keterbatasanmu adalah resiko yang harus kuteguk, sedang kekurangan, kealpaan, dan keterbatasanku adalah sebuah KESALAHAN BESAR yang kau lantangkan dengan kata PUTUS.
Aku letih. Ketika kesabaran sudah mengikis habis pondasi hatiku untuk selalu mengalah, merendah untuk selalu direndahkan.
Aku bukan ingin besar kepala, tapi renungi, resapi dan cam kan dalam benakmu, bahwa akulah orang tersabar yang pernah mencoba mengertimu. Bantahlah kalau kau berani! Tak ada satu orang pun, diantara perempuan-perempuan yang pernah mengisi relung kalbumu yang sepaham, semengerti dan semengalah aku!
Aku bertahan karena menyayangkan satu setengah tahun akan sia-sia jika ego selalu bicara. Tapi sekali lagi aku hanya manusia dengan semua keterbatasannya. Terbatas untuk sabar, mengalah dan keterbatasan lainnya.
Belajarlah untuk menghargai sebuah hubungan. Paling tidak seseorang yang itu adalah aku, aku yang kamu agungkan sebagai kekasih. Kekasih yang tak pernah kamu percaya. Kekasih yang selalu kamu pojokkan, kamu curigai, kamu tuduh dan kamu ajak untuk adu mulut tiap hari.
Bertengkar. Adu mulut. Silang pendapat. Semua kau jadikan menu makanan sehari-hariku. Omelanmu adalah sarapanku. Tuduhanmu makan siangku. Dan fitnahanmu makan malamku. Bukan hanya kenyang, aku sudah terlampau bosan menyantap hidangan yang itu-ituu aja yang kau sajikan di meja hari-hariku.
Jika tak bisa memberiku sarapan omelan, maka kau suguhiku fitnahan di pagi hari. Sepanjang siang mengomel dan menuduhku kala malam. Sedang aku, aku dituntut diam sejuta bahasa. Tak pernah punya andil sebagai koki makanan sehari-harimu karna kau merasa kau adalah koki terhebat. Terlalu sempurna untuk dicela.
Malam ini kau lontarkan kata PUTUS. Bukan hal istimewa di telingaku karna sudah terlalu sering kau tuliskan di sms. Mungkin banyak yang masih kusimpan di hape. Masalahnya pun sepele. Karena aku sudah sampai rumah tapi tak mengabarimu. Baru mengirimkan sms setelah beberapa waktu. Sepele bukan? Amat sangat sungguh terlalu sepele sekali!
Kalau aku mau ungkit-ungkitpun, kamu aja yang seharian pergi dengan keluargamu, selalu telat balas smsku, bahkan kau sendiri pun tak mengabariku telah sampai rumah. Tapi apa, aku tidak mempermasalahkannya! Justru niatku yang sms kamu malah disalahkan. Dunia sudah terbalik atau pemikiranmu yang jungkir balik?
Coba cerna dengan logika, kewajibanku harus selalu kupenuhi, sedang aku harus memaklumi kewajibanmu yang tak kau lakukan. Begitu kah caramu mencintaiku? Seyakin apapun aku akan cintamu, tetap saja caramu memperlakukanku adalah sebuah kesalahan besar!
Berantem tiap hari bukan tanda sayang, cam kan itu di kepalamu! Jangan hanya mencari celaku jika aku dituntut diam menerima celamu.
Entah harus dengan bahasa, cara dan jalan apalagi aku meyakinkanmu untuk mencoba menelaah arti sebuah satu setengah tahun hubungan?
Pikir, pilih dan lakukan apa yang menurut kamu adalah jalan terbaik.
Aku hanya mencoba melakukan yang terbaik meski tak selalu kau pandang baik.
21:45 Sat 14 Feb 2009.
VALENTINE'S "MAKE A WISH" DAY!
14 Februari, Valentine's day. Hari Kasih Sayang. Happy Valentine's Day 2 everyone, especially to my Kupu-Kupu Kecil.
***
Rasa cinta itu ibarat sedang menunggu bis..
Bis pertama datang, kamu nggak mau naik karena penuh..
Bis kedua datang, kamu juga nggak mau naik karena terlalu kotor & jelek..
Sampai akhirnya kamu temuin bis yang bagus &nyaman, dan tanpa pikir panjang kamu naik bis tsb..
Namun ternyata kamu malah salah jurusan & kamu nyesel,
Sama halnya dengan rasa cinta..
Cinta datang dalam bentuk fisik yang berabad-abad pada diri tiap orang yang kamu kenal,
namun yang terpenting bukan dari sapa cinta itu datang, tapi..
Hargailah rasa cinta yang pernah kamu dapat dari tiap orang yang pernah mencintaimu..
***
Dua benih cinta,
Merajuk diantara tembok penghalang,
Menerawang isi hati dengan keindahan,
Meraba indah dunia khayalan,
Penuh cinta, canda dan tawa dengan sepenuh hati,
Dan keinginan tuk bisa berubah,
Tapi apa, keegoisan kan membawa kehancuran!!
Aku adalah orang yang lemah,
Begitupun kamu,
Kita menyatu dalam ruang,
Dan tujuan yang sama,
Bukan mata tuk bisa menilai melainkan hati.
***
Kekasihku dengarlah,
Tlah kau beri bahagia hatiku,
Oh sayangku rasakanlah,
Anugerah atas nama cinta...
Katakan pada dunia,
Kamu dan aku bahagia,
Semoga cinta kan terjaga,
Slamanya...
Terimakasih Tuhan,
Kau beri aku seorang,
Yang mendampingiku di dalam suka dan duka,
Selamanya...
***
Valentine's Day. Aku teringat tanggal 14 Februari tahun lalu. Saat itu, untuk pertama kalinya kita bertatap muka langsung. Meski hanya beberapa hari, itupun hanya untuk seliweran kantor polisi -karena kamu ngurusin perpanjangan STNK- namun teramat berkesan. Karena pada akhirnya aku bisa melihatmu. Dalam nyata, bukan MMS, bukan 3G.
Meski Valentine's Day tahun ini tak kulewati denganmu, maklum hari Sabtu begini waktumu adalah dengan keluarga besar. Bagiku Valentine's tak selalu 14 Februari. Bahkan mungkin untuk tahun ini berganti 17 Februari. Ya tidak?
Seperti namanya, HARI KASIH SAYANG, kuharap tak hanya hari ini saja kita berkasih-kasihan dan bersayang-sayangan sementara hari lain kita beradu ego. Semoga tiap hari untuk kita adalah Valentine's Day dengan bumbu-bumbu berantem yang tak terlalu terasa.
***
Rasa cinta itu ibarat sedang menunggu bis..
Bis pertama datang, kamu nggak mau naik karena penuh..
Bis kedua datang, kamu juga nggak mau naik karena terlalu kotor & jelek..
Sampai akhirnya kamu temuin bis yang bagus &nyaman, dan tanpa pikir panjang kamu naik bis tsb..
Namun ternyata kamu malah salah jurusan & kamu nyesel,
Sama halnya dengan rasa cinta..
Cinta datang dalam bentuk fisik yang berabad-abad pada diri tiap orang yang kamu kenal,
namun yang terpenting bukan dari sapa cinta itu datang, tapi..
Hargailah rasa cinta yang pernah kamu dapat dari tiap orang yang pernah mencintaimu..
***
Dua benih cinta,
Merajuk diantara tembok penghalang,
Menerawang isi hati dengan keindahan,
Meraba indah dunia khayalan,
Penuh cinta, canda dan tawa dengan sepenuh hati,
Dan keinginan tuk bisa berubah,
Tapi apa, keegoisan kan membawa kehancuran!!
Aku adalah orang yang lemah,
Begitupun kamu,
Kita menyatu dalam ruang,
Dan tujuan yang sama,
Bukan mata tuk bisa menilai melainkan hati.
***
Kekasihku dengarlah,
Tlah kau beri bahagia hatiku,
Oh sayangku rasakanlah,
Anugerah atas nama cinta...
Katakan pada dunia,
Kamu dan aku bahagia,
Semoga cinta kan terjaga,
Slamanya...
Terimakasih Tuhan,
Kau beri aku seorang,
Yang mendampingiku di dalam suka dan duka,
Selamanya...
***
Valentine's Day. Aku teringat tanggal 14 Februari tahun lalu. Saat itu, untuk pertama kalinya kita bertatap muka langsung. Meski hanya beberapa hari, itupun hanya untuk seliweran kantor polisi -karena kamu ngurusin perpanjangan STNK- namun teramat berkesan. Karena pada akhirnya aku bisa melihatmu. Dalam nyata, bukan MMS, bukan 3G.
Meski Valentine's Day tahun ini tak kulewati denganmu, maklum hari Sabtu begini waktumu adalah dengan keluarga besar. Bagiku Valentine's tak selalu 14 Februari. Bahkan mungkin untuk tahun ini berganti 17 Februari. Ya tidak?
Seperti namanya, HARI KASIH SAYANG, kuharap tak hanya hari ini saja kita berkasih-kasihan dan bersayang-sayangan sementara hari lain kita beradu ego. Semoga tiap hari untuk kita adalah Valentine's Day dengan bumbu-bumbu berantem yang tak terlalu terasa.
Sunday, February 8, 2009
DIKIRA COWOK... LAGI???
Kurang lebih minggu-minggu lalu, lupa kapan tepatnya, aku menghubungi beberapa penerbit via sms ke nomor hape yang aku dapat dari download alamat penerbit di internet untuk nanyain kriteria naskah dan prosedur pengiriman beserta tetek bengeknya. Beberapa ada yang membalas. Beberapa lagi tak terkirim karena nomor sudah tak dipakai. Dan satu nomor salah sambung.
"Maaf, Maz, slh smbung. Q bkn pnerbit,"
Kira-kira begitu isi balasannya. Aku hanya tersenyum simpul mengeja kata MAZ dalam sms tsb. Aku memang menyebutkan namaku ketika sms di awal tadi. Alvi. Terkesan seperti nama seorang lelaki kah hingga ia langsung mengasumsikanku laki-laki? (Hanya Anda yang bisa menilai). Menurutku, nama
panggilanku itu memang terdengar sedikit maskulin:)
Aku tak menanggapi sms dari nomor salah sambung itu. Namun tak lama, sebuah sms lagi menghuni ponselku dari nomor yang sama.
"Maz dpt drmn sih nmrku ini, pdhl ini nmr br lho. Tp dah ada bbrp org yg krm sms sm kyk yg Maz krm itu."
Aku tergelitik untuk membalas.
"Aq th nmr ini dr internet. Nmr slh 1 pnerbit. Btw, km PD bgt manggl aq MAZ?"
"Hbs mau dipanggl apa?"
"Km cwok/cwek?"
"Maz ini sdh brani nanya ya? Q cwek."
Bla... Bla... Bla... Sms pun mengalir. Ia malah menawarkan memanggilku Om atau Pak. Aku kian terbelalak. Maz aja udah ngarang, apalagi Om atau Bapak, ya kan? Aku balas memanggilnya Bu dan Tante. Ia langsung mencak-mencak dan tanpa ditanya menyebutkan berapa umurnya.
"17 thn, br lulus SMU ga trima Q dpnggl tante apalg ibu."
Ia pun tak sungkan memberitahukan namanya. Bukan hanya panggilan, bahkan nama lengkap.
Dan tak perlu waktu cukup lama, ia mulai bercerita dan tanya-tanya banyak hal. Dengan satu hal terpatri di benaknya. Aku adalah seorang laki-laki. Aku memang sengaja tidak klarifikasi. Suruh siapa kepedean mencap gender seseorang hanya berdasar pada nama, ya kan?
Ia telah punya pacar yang begitu menyayanginya, dan juga sebaliknya, KATANYA. Ia juga menginterogasiku. Aku bilang aku sudah punya pacar. Hingga di suatu siang, sebuah sms masuk.
"Mas, jgn ganggu pcrku lg!"
Sms dari pacar perempuan itu. Alisku kontan mengernyit. Ganggu? Nggak salah? Bukannya perempuan itu yang rutin sms aku meski aku jarang membalas? Ah, tapi aku sedang tak ingin adu argumen.
"Siap, boz!"
Kubalas demikian. Kukira selesai cerita. Namun keesokan harinya perempuan itu sms lagi.
"Maaf Maz atas sms pcrku."
Aku hanya tersenyum, tanpa berhasrat membalas.
"Ya sdh kalo nggak mau maafin."
Ia sms lagi. Terdengar pasrah.
"Nggak papa kok. Udah biasa!"
Selang beberapa hari perempuan itu menghilang kukira untuk selamanya, namun kemudian ia kembali dengan sapaan sms yang SKSD banget. Dan ia memberi sekilas info bahwa pacar tersayangnya pergi ke Sumatra dalam jangka 4 bulan. Aku kontan terkekeh.
"Jadi krn ga da pcrmu km sms aq lg,gt?"
"Ga blh? Ya udh aq ga sms lg."
Sahutan yang terkesan sensi abis. Tak puas, ia menelepon agak siangan. Kuangkat, tapi tak bersuara. Sayup kudengar Halo... Halo di seberang. Kumatikan.
"Km cwek ya,kok di tlp ga jwb."
Pertanyaan klise itu membawa benakku mengembara sekitar lima tahunan yang lalu. Pertanyaan sama yang diajukan si penyanyi dangdut padaku dulu. Kasus yang juga sama. Mengira aku adalah laki-laki.
Karena tak kujawab, sepertinya ia kian penasaran. Menelepon lagi. Kali ini aku tak angkat sama sekali.
"Ya udh maaf dah ganggu!"
Kesensiannya muncul lagi.
"Lagi dpt ya, sensi amat. Aq td agk sbk."
Akhirnya aku menjawab.
Bla... Bla... Bla... Telah banyak yang sudah diungkapnya padaku, mulai gaya pacarannya hingga kata-kata nakal yang seringkali nyerempet, tapi ketika kuserempet balik ia malah ketakutan.
"Penisku ereksi nih!" godaku, sekaligus ingin tahu apa reaksinya, mengingat sms2nya kerap "memancing birahi" jika ditujukan untuk kaum lelaki.
"Njijik'i!" (Baca: Menjijikkan!)
Aku kontan ngakak banget!! Namun naluri jailku bertambah. Aku kian menyerangnya dengan topik bahasan kebiasaan lelaki. Ia juga kian mencak-mencak, seperti biasa.
"Jorok!" ketusnya.
Otak jailku bekerja hebat. Aku pura-pura tak membalas smsnya.
"Maz..."
Sekian menit berikutnya ia mengirim pesan yang sama. Aku memang sengaja mendiamkannya, agar ia menduga aku memang benar-benar tengah onani hahahaha.
"Maz, km lg ngapain?"
Agak lama baru kujawab
"Apa?"
"Psti km td lg gtuan ya, nyebelin!"
Perutku sungguh dibuat kaku. Kalaupun aku laki-laki, ia bukan siapa2ku, tp knapa ia sewot ketika aku onani hahahaha aku begitu tergelak.
"Lho kok km yg mrh?"
Ia diam. Ia memang tak punya alasan tuk marah.
"Aku mau tdr. Nite."
Tingkah gadis belia ini membuat tawaku tak dapat berhenti. Ia sepertinya marah dan kukira dengan sisi negatif itu ia akan menjauh. Namun dugaanku sekali lagi meleset. Ia tetap rutin miskol2 dan sms. Ia yang geblek atau aku yang terlalu jail? Entahlah, mungkin dua2nya hehehe.
Satu hal lagi, lambat laun bisa kurasakan dalam tiap smsnya naga-naganya perempuan itu sepertinya telah jatuh hati, meski ia terang-terangan membantah. Bantahan yang malah kuanggap mengamini dugaanku itu.
Jika benar ia jatuh hati, berarti menambah satu list perempuan lagi yang mengira aku laki-laki untuk kemudian jatuh hati padaku. Semudah itukah hati perempuan terengkuh dalam buaian sms2 tanpa wujud rupa dan suara sesungguhnya?
Ah, perempuan memang punya banyak cerita!
"Maaf, Maz, slh smbung. Q bkn pnerbit,"
Kira-kira begitu isi balasannya. Aku hanya tersenyum simpul mengeja kata MAZ dalam sms tsb. Aku memang menyebutkan namaku ketika sms di awal tadi. Alvi. Terkesan seperti nama seorang lelaki kah hingga ia langsung mengasumsikanku laki-laki? (Hanya Anda yang bisa menilai). Menurutku, nama
panggilanku itu memang terdengar sedikit maskulin:)
Aku tak menanggapi sms dari nomor salah sambung itu. Namun tak lama, sebuah sms lagi menghuni ponselku dari nomor yang sama.
"Maz dpt drmn sih nmrku ini, pdhl ini nmr br lho. Tp dah ada bbrp org yg krm sms sm kyk yg Maz krm itu."
Aku tergelitik untuk membalas.
"Aq th nmr ini dr internet. Nmr slh 1 pnerbit. Btw, km PD bgt manggl aq MAZ?"
"Hbs mau dipanggl apa?"
"Km cwok/cwek?"
"Maz ini sdh brani nanya ya? Q cwek."
Bla... Bla... Bla... Sms pun mengalir. Ia malah menawarkan memanggilku Om atau Pak. Aku kian terbelalak. Maz aja udah ngarang, apalagi Om atau Bapak, ya kan? Aku balas memanggilnya Bu dan Tante. Ia langsung mencak-mencak dan tanpa ditanya menyebutkan berapa umurnya.
"17 thn, br lulus SMU ga trima Q dpnggl tante apalg ibu."
Ia pun tak sungkan memberitahukan namanya. Bukan hanya panggilan, bahkan nama lengkap.
Dan tak perlu waktu cukup lama, ia mulai bercerita dan tanya-tanya banyak hal. Dengan satu hal terpatri di benaknya. Aku adalah seorang laki-laki. Aku memang sengaja tidak klarifikasi. Suruh siapa kepedean mencap gender seseorang hanya berdasar pada nama, ya kan?
Ia telah punya pacar yang begitu menyayanginya, dan juga sebaliknya, KATANYA. Ia juga menginterogasiku. Aku bilang aku sudah punya pacar. Hingga di suatu siang, sebuah sms masuk.
"Mas, jgn ganggu pcrku lg!"
Sms dari pacar perempuan itu. Alisku kontan mengernyit. Ganggu? Nggak salah? Bukannya perempuan itu yang rutin sms aku meski aku jarang membalas? Ah, tapi aku sedang tak ingin adu argumen.
"Siap, boz!"
Kubalas demikian. Kukira selesai cerita. Namun keesokan harinya perempuan itu sms lagi.
"Maaf Maz atas sms pcrku."
Aku hanya tersenyum, tanpa berhasrat membalas.
"Ya sdh kalo nggak mau maafin."
Ia sms lagi. Terdengar pasrah.
"Nggak papa kok. Udah biasa!"
Selang beberapa hari perempuan itu menghilang kukira untuk selamanya, namun kemudian ia kembali dengan sapaan sms yang SKSD banget. Dan ia memberi sekilas info bahwa pacar tersayangnya pergi ke Sumatra dalam jangka 4 bulan. Aku kontan terkekeh.
"Jadi krn ga da pcrmu km sms aq lg,gt?"
"Ga blh? Ya udh aq ga sms lg."
Sahutan yang terkesan sensi abis. Tak puas, ia menelepon agak siangan. Kuangkat, tapi tak bersuara. Sayup kudengar Halo... Halo di seberang. Kumatikan.
"Km cwek ya,kok di tlp ga jwb."
Pertanyaan klise itu membawa benakku mengembara sekitar lima tahunan yang lalu. Pertanyaan sama yang diajukan si penyanyi dangdut padaku dulu. Kasus yang juga sama. Mengira aku adalah laki-laki.
Karena tak kujawab, sepertinya ia kian penasaran. Menelepon lagi. Kali ini aku tak angkat sama sekali.
"Ya udh maaf dah ganggu!"
Kesensiannya muncul lagi.
"Lagi dpt ya, sensi amat. Aq td agk sbk."
Akhirnya aku menjawab.
Bla... Bla... Bla... Telah banyak yang sudah diungkapnya padaku, mulai gaya pacarannya hingga kata-kata nakal yang seringkali nyerempet, tapi ketika kuserempet balik ia malah ketakutan.
"Penisku ereksi nih!" godaku, sekaligus ingin tahu apa reaksinya, mengingat sms2nya kerap "memancing birahi" jika ditujukan untuk kaum lelaki.
"Njijik'i!" (Baca: Menjijikkan!)
Aku kontan ngakak banget!! Namun naluri jailku bertambah. Aku kian menyerangnya dengan topik bahasan kebiasaan lelaki. Ia juga kian mencak-mencak, seperti biasa.
"Jorok!" ketusnya.
Otak jailku bekerja hebat. Aku pura-pura tak membalas smsnya.
"Maz..."
Sekian menit berikutnya ia mengirim pesan yang sama. Aku memang sengaja mendiamkannya, agar ia menduga aku memang benar-benar tengah onani hahahaha.
"Maz, km lg ngapain?"
Agak lama baru kujawab
"Apa?"
"Psti km td lg gtuan ya, nyebelin!"
Perutku sungguh dibuat kaku. Kalaupun aku laki-laki, ia bukan siapa2ku, tp knapa ia sewot ketika aku onani hahahaha aku begitu tergelak.
"Lho kok km yg mrh?"
Ia diam. Ia memang tak punya alasan tuk marah.
"Aku mau tdr. Nite."
Tingkah gadis belia ini membuat tawaku tak dapat berhenti. Ia sepertinya marah dan kukira dengan sisi negatif itu ia akan menjauh. Namun dugaanku sekali lagi meleset. Ia tetap rutin miskol2 dan sms. Ia yang geblek atau aku yang terlalu jail? Entahlah, mungkin dua2nya hehehe.
Satu hal lagi, lambat laun bisa kurasakan dalam tiap smsnya naga-naganya perempuan itu sepertinya telah jatuh hati, meski ia terang-terangan membantah. Bantahan yang malah kuanggap mengamini dugaanku itu.
Jika benar ia jatuh hati, berarti menambah satu list perempuan lagi yang mengira aku laki-laki untuk kemudian jatuh hati padaku. Semudah itukah hati perempuan terengkuh dalam buaian sms2 tanpa wujud rupa dan suara sesungguhnya?
Ah, perempuan memang punya banyak cerita!
Monday, February 2, 2009
PENERBIT DI JOGJA
Jalasutra
Jl. Mangunegaran Kidul No. 25 Rt 072 Rt 05 Penembahan, Kraton, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 370445
www.jalasutra.com
Castle Books
Jl. Sorowajan 136x lt. 2
Banguntapan, Yogayakarta
Telp: (0274) 7481390/7473004
Bentang Pustaka
Jl. Pandega No. 19 Yogyakarta
Telp.Fax: (0274) 517373
Email: bentang@ekuator.com
Diva Press
Sampangan Gg. Perkutut No. 325 B Jl. Wonosari Baturetno,
Banguntapan, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 7418727/4463008
Galang Press
Galang, Pustaka Marwa, Pustaka Anggrek, Indonesia Cerdas
Jl. Anggrek 3/34 Baciro Baru, Yogyakarta
Website : www.galangpress.com
E-mail : glgpress@indosat.net.id ; galangpress2002@yahoo.com
Telp. (0274) 554985, 554986, 545609
Andi
Jl. Beo No. 38-40 Demangan Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 561881
Email: andi_publiser.net.id
Resist Book
Jl Magelang Km. 5 Gg. Ghiima No. 239
Kutu Dukuh, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 580439/7422761
Navila
Jl. Pakelmulyo UH V/411, Golo, Umbulharjo, Yogyakarta
Telp.Fax: (0274) 377034
Email: navila_book@yahoo.com
Pinus Book Publiser
Jl. Tegal Melati No. 118C Jongkang, Yogyakarta (belakang Monjali)
Telp./Fax: (0274) 867646
Email: rumahpinus@yahoo.com
Tiara Wacana
Jl. Kaliurang Km. 7.8 Kopen Utama No. 16 Banteng, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 880683 www.tiarawacana.co.id
Dunia Tera
Jl. Suroto 10, Kotabaru, Yogyakarta
E-mail : duniatera@yahoo.com
Telp. (0274) 520138
Logung Pustaka, Logung Media
Ringinsari No. 61 RT 01 RW 49, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta 55282
Telp. 08562883155, 0274-7491576, 488404
Pro-U Media
Jl. Jogokaryan 35, Yogyakarta 55143
E-mail : pro-u@eramuslim.com
Telp. (0274) 380215
Media Pressindo
Jl. Irian Jaya D-24 Perum ogotirto Elok II, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 7103084/620879
Kanisius
Jl. Cempaka No. 9 Deresan, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 588783/563349 www.kanisiusmedia.com
Baca!
Jl. Persatruan No. 23A, Glagah Rt 09/RW 2
Warungboto, Yogyakarta
Telp: (0274) 381542
Gava Media
Klitren Lor GK III/15, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 558502
Email: infogavamedia@yahoo.com
Gema Insani Press
Pandega Insani, Pogung Lor
Ring Road Utara, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 557562
Email: gipyogya@telkom.net
Ombak
Jl Progo B-15 Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 620660
Email: ombak_community@yahoo.com
Jl. Mangunegaran Kidul No. 25 Rt 072 Rt 05 Penembahan, Kraton, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 370445
www.jalasutra.com
Castle Books
Jl. Sorowajan 136x lt. 2
Banguntapan, Yogayakarta
Telp: (0274) 7481390/7473004
Bentang Pustaka
Jl. Pandega No. 19 Yogyakarta
Telp.Fax: (0274) 517373
Email: bentang@ekuator.com
Diva Press
Sampangan Gg. Perkutut No. 325 B Jl. Wonosari Baturetno,
Banguntapan, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 7418727/4463008
Galang Press
Galang, Pustaka Marwa, Pustaka Anggrek, Indonesia Cerdas
Jl. Anggrek 3/34 Baciro Baru, Yogyakarta
Website : www.galangpress.com
E-mail : glgpress@indosat.net.id ; galangpress2002@yahoo.com
Telp. (0274) 554985, 554986, 545609
Andi
Jl. Beo No. 38-40 Demangan Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 561881
Email: andi_publiser.net.id
Resist Book
Jl Magelang Km. 5 Gg. Ghiima No. 239
Kutu Dukuh, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 580439/7422761
Navila
Jl. Pakelmulyo UH V/411, Golo, Umbulharjo, Yogyakarta
Telp.Fax: (0274) 377034
Email: navila_book@yahoo.com
Pinus Book Publiser
Jl. Tegal Melati No. 118C Jongkang, Yogyakarta (belakang Monjali)
Telp./Fax: (0274) 867646
Email: rumahpinus@yahoo.com
Tiara Wacana
Jl. Kaliurang Km. 7.8 Kopen Utama No. 16 Banteng, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 880683 www.tiarawacana.co.id
Dunia Tera
Jl. Suroto 10, Kotabaru, Yogyakarta
E-mail : duniatera@yahoo.com
Telp. (0274) 520138
Logung Pustaka, Logung Media
Ringinsari No. 61 RT 01 RW 49, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta 55282
Telp. 08562883155, 0274-7491576, 488404
Pro-U Media
Jl. Jogokaryan 35, Yogyakarta 55143
E-mail : pro-u@eramuslim.com
Telp. (0274) 380215
Media Pressindo
Jl. Irian Jaya D-24 Perum ogotirto Elok II, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 7103084/620879
Kanisius
Jl. Cempaka No. 9 Deresan, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 588783/563349 www.kanisiusmedia.com
Baca!
Jl. Persatruan No. 23A, Glagah Rt 09/RW 2
Warungboto, Yogyakarta
Telp: (0274) 381542
Gava Media
Klitren Lor GK III/15, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 558502
Email: infogavamedia@yahoo.com
Gema Insani Press
Pandega Insani, Pogung Lor
Ring Road Utara, Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 557562
Email: gipyogya@telkom.net
Ombak
Jl Progo B-15 Yogyakarta
Telp./Fax: (0274) 620660
Email: ombak_community@yahoo.com
INFO LOWONGAN NASKAH
LOWONGAN NASKAH
1. Dibutuhkan, naskah-naskah buku umum terbaik yang meliputi naskah-naskah bertema pendidikan, referensi, kamus, pengayaan, fiksi anak (petualangan, misteri, dan persahabatan), agama, lifeskill, hobi, keterampilan, how to, novel (remaja dan dewasa), dan lain-lain.
Ketentuannya adalah sebagai berikut:
- Naskah minimal 80 halaman.
- Ditik menggunakan format word (.doc), ukuran kertas A4, font Times New Roman 12 pt, spasi 1 ½.
Segera kirimkan 1 berkas print out naskah Anda beserta data diri dan daftar karya-karya yang pernah diterbitkan ke alamat berikut:
PT. GRAFINDO MEDIA PRATAMA
Jln. Pasirwangi No. 1 Soekarno-Hatta
Bandung 40254
Jangan lupa, cantumkan “NASKAH BUKU UMUM” di sudut kiri atas amplop.
Kami nantikan karya-karya terbaik Anda.
*Informasi lebih lanjut, hubungi: 022-5212097
2. Kami FoUmediapublisher sedang mancari naskah novel untuk diterbitkan
di perusahaan penerbitan kami. Perusahaan ini berdiri tahun 2006,
dengan sejarah novel pertama yg lumayan menbgguncang toko buku yaitu
Beauty For Sale, yang saat ini sudah cetakan ke-6, kemudian kami
menerbitkan yes, i'm a model, living single, machoman ngomong cong,
dan beauty for killing, sebentar lagi yang akan terbit adalah buku
karya Bintang Alzeyra yaitu Bule, Emping & Tempe Bacem dan Vienna, Aku
Jatuh cInta. Yang Akan segera beredar adalah Love You Till The End
Karya Mery dan The Half Man Karya Archelov. Kami mencari naskah yang
menjadi inspirasi buat semua orang berupa kehidupan, humanisme, dan
metropop Comedy, Romantis dan Human Drama. Bila diantara kalian
berminat menerbitkan naskahnya, bisa dikirim lewat alamat kantor kami :
Jl. Betung VI No. 256 Pondok Bambu Jakarta Timur 13430
Telp 6221 8616374, 6221 8201969 Fax 6221 86600243
Email: foumediapublisher06 @yahoo.com
Website : foumediapublisher. blohspot. com
Facebook / friendster : faizullah_sofyan@ yahoo.com
Or My Mobile : 6221 99790103
Terima kasih
Faizullah Sofyan ( Joe )
3. Resist Book tertarik pada karya-karya baru penulis lokal. Tema naskah buku radikal yang menjadi perhatian utama kami adalah gerakan perlawanan, pendidikan, politik, ideologi, globalisasi berikut dampaknya, Ornop serta isu yang diusungnya, riset advokasi, dan pengalaman pengorganisasian masyarakat dan pengalaman aktivis gerakan. Naskah buku komik yang mendukung perlawanan demi perubahan sosial memperoleh perhatian khusus. Kami memiliki minat pada gaya tulis yang radikal, progresif, dan bahkan provokatif.
Â
Penawaran naskah buku baru dilakukan melalui pengiriman proposal ke:
Bagian Penerbitan Resist Book
Jl. Magelang km 5 Gang Bima No. 39
Kutu Dukuh Sleman Yogyakarta
55284
Telp./Faks. +62-274-580439, SMS 7422761
Setiap proposal berisi:
· Surat penawaran naskah buku baru. Termasuk di dalamnya penjelasan mengenai relevansi naskah buku dengan pembaca kami.
· CV Penulis. Termasuk di dalamnya daftar tulisan yang pernah diterbitkan, dalam bentuk apapun.
· Ringkasan naskah
· Daftar isi naskah
· Satu atau lebih bab
Kami akan mengontak Anda dalam 3 minggu sejak naskah buku kami terima.
Resist Book tertarik pada karya-karya baru penulis lokal. Tema naskah buku radikal yang menjadi perhatian utama kami adalah gerakan perlawanan, pendidikan, politik, ideologi, globalisasi berikut dampaknya, Ornop serta isu yang diusungnya, riset advokasi, dan pengalaman pengorganisasian masyarakat dan pengalaman aktivis gerakan. Naskah buku komik yang mendukung perlawanan demi perubahan sosial memperoleh perhatian khusus. Kami memiliki minat pada gaya tulis yang radikal, progresif, dan bahkan provokatif.
Â
Penawaran naskah buku baru dilakukan melalui pengiriman proposal ke:
Bagian Penerbitan Resist Book
Jl. Magelang km 5 Gang Bima No. 39
Kutu Dukuh Sleman Yogyakarta
55284
Telp./Faks. +62-274-580439, SMS 7422761
Setiap proposal berisi:
· Surat penawaran naskah buku baru. Termasuk di dalamnya penjelasan mengenai relevansi naskah buku dengan pembaca kami.
· CV Penulis. Termasuk di dalamnya daftar tulisan yang pernah diterbitkan, dalam bentuk apapun.
· Ringkasan naskah
· Daftar isi naskah
· Satu atau lebih bab
Kami akan mengontak Anda dalam 3 minggu sejak naskah buku kami terima.
1. Dibutuhkan, naskah-naskah buku umum terbaik yang meliputi naskah-naskah bertema pendidikan, referensi, kamus, pengayaan, fiksi anak (petualangan, misteri, dan persahabatan), agama, lifeskill, hobi, keterampilan, how to, novel (remaja dan dewasa), dan lain-lain.
Ketentuannya adalah sebagai berikut:
- Naskah minimal 80 halaman.
- Ditik menggunakan format word (.doc), ukuran kertas A4, font Times New Roman 12 pt, spasi 1 ½.
Segera kirimkan 1 berkas print out naskah Anda beserta data diri dan daftar karya-karya yang pernah diterbitkan ke alamat berikut:
PT. GRAFINDO MEDIA PRATAMA
Jln. Pasirwangi No. 1 Soekarno-Hatta
Bandung 40254
Jangan lupa, cantumkan “NASKAH BUKU UMUM” di sudut kiri atas amplop.
Kami nantikan karya-karya terbaik Anda.
*Informasi lebih lanjut, hubungi: 022-5212097
2. Kami FoUmediapublisher sedang mancari naskah novel untuk diterbitkan
di perusahaan penerbitan kami. Perusahaan ini berdiri tahun 2006,
dengan sejarah novel pertama yg lumayan menbgguncang toko buku yaitu
Beauty For Sale, yang saat ini sudah cetakan ke-6, kemudian kami
menerbitkan yes, i'm a model, living single, machoman ngomong cong,
dan beauty for killing, sebentar lagi yang akan terbit adalah buku
karya Bintang Alzeyra yaitu Bule, Emping & Tempe Bacem dan Vienna, Aku
Jatuh cInta. Yang Akan segera beredar adalah Love You Till The End
Karya Mery dan The Half Man Karya Archelov. Kami mencari naskah yang
menjadi inspirasi buat semua orang berupa kehidupan, humanisme, dan
metropop Comedy, Romantis dan Human Drama. Bila diantara kalian
berminat menerbitkan naskahnya, bisa dikirim lewat alamat kantor kami :
Jl. Betung VI No. 256 Pondok Bambu Jakarta Timur 13430
Telp 6221 8616374, 6221 8201969 Fax 6221 86600243
Email: foumediapublisher06 @yahoo.com
Website : foumediapublisher. blohspot. com
Facebook / friendster : faizullah_sofyan@ yahoo.com
Or My Mobile : 6221 99790103
Terima kasih
Faizullah Sofyan ( Joe )
3. Resist Book tertarik pada karya-karya baru penulis lokal. Tema naskah buku radikal yang menjadi perhatian utama kami adalah gerakan perlawanan, pendidikan, politik, ideologi, globalisasi berikut dampaknya, Ornop serta isu yang diusungnya, riset advokasi, dan pengalaman pengorganisasian masyarakat dan pengalaman aktivis gerakan. Naskah buku komik yang mendukung perlawanan demi perubahan sosial memperoleh perhatian khusus. Kami memiliki minat pada gaya tulis yang radikal, progresif, dan bahkan provokatif.
Â
Penawaran naskah buku baru dilakukan melalui pengiriman proposal ke:
Bagian Penerbitan Resist Book
Jl. Magelang km 5 Gang Bima No. 39
Kutu Dukuh Sleman Yogyakarta
55284
Telp./Faks. +62-274-580439, SMS 7422761
Setiap proposal berisi:
· Surat penawaran naskah buku baru. Termasuk di dalamnya penjelasan mengenai relevansi naskah buku dengan pembaca kami.
· CV Penulis. Termasuk di dalamnya daftar tulisan yang pernah diterbitkan, dalam bentuk apapun.
· Ringkasan naskah
· Daftar isi naskah
· Satu atau lebih bab
Kami akan mengontak Anda dalam 3 minggu sejak naskah buku kami terima.
Resist Book tertarik pada karya-karya baru penulis lokal. Tema naskah buku radikal yang menjadi perhatian utama kami adalah gerakan perlawanan, pendidikan, politik, ideologi, globalisasi berikut dampaknya, Ornop serta isu yang diusungnya, riset advokasi, dan pengalaman pengorganisasian masyarakat dan pengalaman aktivis gerakan. Naskah buku komik yang mendukung perlawanan demi perubahan sosial memperoleh perhatian khusus. Kami memiliki minat pada gaya tulis yang radikal, progresif, dan bahkan provokatif.
Â
Penawaran naskah buku baru dilakukan melalui pengiriman proposal ke:
Bagian Penerbitan Resist Book
Jl. Magelang km 5 Gang Bima No. 39
Kutu Dukuh Sleman Yogyakarta
55284
Telp./Faks. +62-274-580439, SMS 7422761
Setiap proposal berisi:
· Surat penawaran naskah buku baru. Termasuk di dalamnya penjelasan mengenai relevansi naskah buku dengan pembaca kami.
· CV Penulis. Termasuk di dalamnya daftar tulisan yang pernah diterbitkan, dalam bentuk apapun.
· Ringkasan naskah
· Daftar isi naskah
· Satu atau lebih bab
Kami akan mengontak Anda dalam 3 minggu sejak naskah buku kami terima.
Sunday, February 1, 2009
UPDATE: ANAK IBU KOS JUGA BELOK!
Sesuatu jika terlalu berlebihan diinginkan pasti susah untuk di dapat, tapi ketika tak diinginkan, terkadang sesuatu itu datang dengan sendirinya.
Mungkin itu adalah pengandaian yang tepat tentang topik tulisan ini. Pasalnya, ketika beberapa waktu lalu aku agak "hunting" akan sosok anak ibu kos ini, batang hidungnya pun tak pernah jelas nampak di mataku, tapi ketika tak ada angin dan sedikit ada hujan (secara semalam memang tengah gerimis lebat), perempuan berperawakan laki-laki itu utuh berada di depanku.
***
"Mbak, plis kluar skrg!" Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan Afit, pengurus kos, kira-kira jam delapan malam. Saat itu aku tengah rebahan dengan kedua telinga disumpal handsfree. Menulis di notes hape sembari mendengarkan radio. Sontak kulepas handsfree karena kudengar suara gaduh Afit diluar.
"Iya, bentar," Aku membuka pintu, namun tak ada orang diluar. Sekitar kos sepi dan gelap. Maklum, Trias penghuni kamar sebelah sedang liburan ke Bali. Ulfa juga pulang kampung ke Jakarta. Di deretan kamarku, hanya aku satu-satunya penghuni. Jujur, bulu kudukku seketika berdiri. Pikiranku telah beragam. Maklum juga, riwayat rumah kos ini agak menyeramkan. Ditambah beberapa malam ini terdengar bunyi dan suara aneh tiap malam. Seperti derap kaki manusia atau orang sedang menumbuk, bunyinya dug dug dug. Entah berasal dari mana. Aku malah kadang berkhayal penghuni kamar tepat diatas kamarku lah sumber suara-suara aneh itu, sebab hampir tiap malam tidurku terganggu oleh aktivitas nggak jelasnya yang menyisakan suara yang tak kutahu apakah itu karena aku tak ingin memikirkan apapun selain mengalihkan pikiranku pada hal-hal yang membuatku mengantuk.
Balik ke topik semula. Ketika tak kutemukan Afit di depan, aku berteriak memanggil namanya. Ia menjawab tapi wujudnya
tak tampak. Makin membuatku merinding disko. Aku baru sadar bahwa pintu gudang terbuka.
"Siapa yang membukanya? Kok bisa terbuka?" Benakku campur aduk. Agak bergidik aku melongok ke dalam gudang. Aku menajamkan penglihatanku. Ada seseorang berbaju merah maroon. Untung saja aku langsung ingat sore tadi pemakai baju warna itu adalah si Afit.
"Ada apa kamu nyuruh aku keluar?" tanyaku.
Afit tak menjawab. Hanya matanya memberi kode padaku untuk melihat orang yang bersamanya saat itu, yang posisinya tak nampak dari tempatku berdiri. Aku kian melongok ke dalam dan menemukan sosok berambut cepak yang seketika tersenyum saat bersirobok pandang denganku.
"Nyari apa?" tanyaku.
"Bungkus rokok!" jawab Afit.
Alisku berkerut.
"Itu lho yang kertas putih di dalam bungkus rokoknya," jelas si tomboy. "Kamu ngerokok nggak?"
Aku menggeleng. Lalu aku teringat buci temanku yang juga penasaran dengan anak ibu kos satu ini.
"Sebentar ya!" Aku bergegas menggedor kamar temanku itu. Afit mengekor. Sementara anak ibu kos dipanggil bojo(baca:pasangan)nya. Dengan berbisik, aku dan Afit menjelaskan situasinya. Buci temanku ikut sembari membawa bungkus rokok yang dimaksud.
Jadilah kami mengobrol. Tak penasaran lagi karena aku telah menamatkan sosoknya. Hahaha kalau dipikir, iseng juga aku ini hehehe...
Mungkin itu adalah pengandaian yang tepat tentang topik tulisan ini. Pasalnya, ketika beberapa waktu lalu aku agak "hunting" akan sosok anak ibu kos ini, batang hidungnya pun tak pernah jelas nampak di mataku, tapi ketika tak ada angin dan sedikit ada hujan (secara semalam memang tengah gerimis lebat), perempuan berperawakan laki-laki itu utuh berada di depanku.
***
"Mbak, plis kluar skrg!" Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan Afit, pengurus kos, kira-kira jam delapan malam. Saat itu aku tengah rebahan dengan kedua telinga disumpal handsfree. Menulis di notes hape sembari mendengarkan radio. Sontak kulepas handsfree karena kudengar suara gaduh Afit diluar.
"Iya, bentar," Aku membuka pintu, namun tak ada orang diluar. Sekitar kos sepi dan gelap. Maklum, Trias penghuni kamar sebelah sedang liburan ke Bali. Ulfa juga pulang kampung ke Jakarta. Di deretan kamarku, hanya aku satu-satunya penghuni. Jujur, bulu kudukku seketika berdiri. Pikiranku telah beragam. Maklum juga, riwayat rumah kos ini agak menyeramkan. Ditambah beberapa malam ini terdengar bunyi dan suara aneh tiap malam. Seperti derap kaki manusia atau orang sedang menumbuk, bunyinya dug dug dug. Entah berasal dari mana. Aku malah kadang berkhayal penghuni kamar tepat diatas kamarku lah sumber suara-suara aneh itu, sebab hampir tiap malam tidurku terganggu oleh aktivitas nggak jelasnya yang menyisakan suara yang tak kutahu apakah itu karena aku tak ingin memikirkan apapun selain mengalihkan pikiranku pada hal-hal yang membuatku mengantuk.
Balik ke topik semula. Ketika tak kutemukan Afit di depan, aku berteriak memanggil namanya. Ia menjawab tapi wujudnya
tak tampak. Makin membuatku merinding disko. Aku baru sadar bahwa pintu gudang terbuka.
"Siapa yang membukanya? Kok bisa terbuka?" Benakku campur aduk. Agak bergidik aku melongok ke dalam gudang. Aku menajamkan penglihatanku. Ada seseorang berbaju merah maroon. Untung saja aku langsung ingat sore tadi pemakai baju warna itu adalah si Afit.
"Ada apa kamu nyuruh aku keluar?" tanyaku.
Afit tak menjawab. Hanya matanya memberi kode padaku untuk melihat orang yang bersamanya saat itu, yang posisinya tak nampak dari tempatku berdiri. Aku kian melongok ke dalam dan menemukan sosok berambut cepak yang seketika tersenyum saat bersirobok pandang denganku.
"Nyari apa?" tanyaku.
"Bungkus rokok!" jawab Afit.
Alisku berkerut.
"Itu lho yang kertas putih di dalam bungkus rokoknya," jelas si tomboy. "Kamu ngerokok nggak?"
Aku menggeleng. Lalu aku teringat buci temanku yang juga penasaran dengan anak ibu kos satu ini.
"Sebentar ya!" Aku bergegas menggedor kamar temanku itu. Afit mengekor. Sementara anak ibu kos dipanggil bojo(baca:pasangan)nya. Dengan berbisik, aku dan Afit menjelaskan situasinya. Buci temanku ikut sembari membawa bungkus rokok yang dimaksud.
Jadilah kami mengobrol. Tak penasaran lagi karena aku telah menamatkan sosoknya. Hahaha kalau dipikir, iseng juga aku ini hehehe...
Subscribe to:
Posts (Atom)