Saturday, March 26, 2011

Seperti Hampir Setengah Gila!

Ya ya ya judul diatas mungkin tepat merefleksi gemuruh yang selama ini hanya terpendam dalam hati. Platonis yang kini membuatku setengah gila!

Lalu apa lakuku untuk meredam tiap ujung syaraf yang setiap detik mentasbih namamu, kau yang sedang jauh? Apalagi yang kulakukan? Membuat puzle gambarmu yang hampir setiap hari sudah berseliweran di bilik ingatan, hape, laptop, and now what? Sebegitu besarkah platonis ini? Dan aku sepertinya membiarkannya tersiksa.

Sampai kapan menikmati ketersiksaan? Sadar betul kontrol berada sepenuhnya padaku. Tapi malah sepertinya makin gila tergila-gila padamu yang tak teraih tangan.

Tak Teraih Tangan
Aku sering bilang kau tak teraih tangan. Banyak yang menyangsikan, bahwa sebenarnya bukan masalah teraih atau tak teraih, tapi diusahakan atau tak diusahakan. Aku kerap menilik ulang dan meyakini, mungkin, faktor eksternal yang dominan dalam hasil akhir, tetapi faktor internal alias keberanianku sendiri lah yang merupakan faktor penentu.

Seorang teman berkata, kau kebanyakan mikir, padahal mudah saja, tak perlu mikir dia dari strata dan kasta mana, kau tinggal berusaha mengambil hatinya, masalah hasil akhir bersama atau tidak, bersama tapi putus tengah jalan, itu urusan nanti. Yang penting kau tidak menampik kesempatan.

Tapi yang kulakukan adalah menimbang resiko sebelum benar-benar kecemplung dan memilih menjadi pengamat dari jauh. Kelemahan yang menjadi kebiasaan dan terpelihara dengan baik.

Susah cari soulmate bukan karena gak ada calon dan kesempatan tapi banyak pertimbangan sebelum bertindak, sehingga bukan hanya jalan di tempat tetapi juga tak beranjak dari sebatas pengagum. That's me! Teach me how the way not to proud bout this?!? It need cured ASAP!

Friday, March 25, 2011

The Myth

Adalah sebuah judul lagu duet berbahasa separuh Cina dinyanyiin si cowok dan separuh Korea dinyanyiin si cewek. Lagu yang udah lama di daftar folder lagu komputerku, dan hari ini tiba-tiba ingin kudengar...

Entahlah, aku sepertinya sedang senang merenda kenangan. Dari kemarin suka memutar ingatan akan masa lalu, apa yang pernah terjadi, dan kali ini tentang lagu itu... Lagu yang mengingatkanku pada seorang perempuan jaman aku di Jakarta dulu. Aku tau lagu itu pun karena ia menyempatkan diri bertemu denganku untuk menyerahkan keping mp3 lagu itu.

Tapi sepanjang ingatanku mencoba mereka ulang bagaimana rupa wajahnya, aku tak mampu. Yang kuingat hanya, aku mengenalnya, sepertinya, lewat chat lalu saling ber sms ada jeda waktu renggang beberapa hari sebelum akhirnya ia muncul di depan tempat kerjaku. Dan sepertinya aku pernah juga menulis tentangnya, tapi aku lupa entah dimana. Bahkan kini aku tak ingat namanya meski telah memeras seluruh memori. Waktu itu ia masih kuliah. Kenapa jadi pikun begini, maklum sudah berapa tahun lalu.

Sampai detik ini masih menjadi misteri. Hei hei siapa dia?

Thursday, March 24, 2011

Pantai Siung

Kemarin aku ke Gunung Kidul untuk sebuah riset film. Sembari menunggu satu lagi narasumber, kami bermain di Pantai Siung. Pantai penuh memori...

Sejak menjejak kaki disana, ingatanku kemudian tertuju pada sebuah kejadian dan seseorang. Bagaimana waktu itu aku diliputi emosi konyolku. Sontak aku pengen sms orang tsb, tapi karena gak ada sinyal, tertunda. Dan tanpa dinyana, kok pas aku ngidupin hape setelah ada sinyal, lha kok perempuan yang kini udah kayak sister itu sms nanya kabar. Kangennya kok nyambung. Dan kami ber-sms sampe menutup mata semalam.

Aku sudah sekitar lima kali ke Siung, dan perjalanan sebelum inilah yang membuat ingatanku tersenyum hari ini. Aku rindu berada disini bersamanya. Ombak hari ini bergemuruh tinggi. Tak seperti hari itu. Aku seperti merasakan sosoknya meski pesan elektroniknya kubaca dua hari lalu.

Siung, pantai indah dan bermemori. Ada pertemuan awal kira2 dua tahun lalu dengan sosok perempuan yang nggak nyangka kini menarik hatiku. Ada jeles2 nggak jelas dengan perempuan yang kini dah kayak bezfrend. Ada moment sehari penuh kesan dengan perempuan "cinta satu hari" sebulan lalu. Siung yang indah, Siung penuh cerita...

Monday, March 21, 2011

Mimpi Kok Wagu.....

Malam ini mimpinya wagu (aneh) banget. Masa mimpiin perempuan pelakon teater itu pacaran ama cowok yang jelas-jelas aku tau itu binan. Mimpi nggak penting seh, tapi pas bangun jadi tambah wagu, lokasi mimpi adalah rumah kota tempat lahirku. Dan begitu nyata asyik masyuk mereka... Ada-ada aja!!

Saturday, March 19, 2011

Ramalan Fesbuk

Sejak dulu aku menyukai ramal meramal dan astrologi. Ketika seorang teman memakai aplikasi meramal tentang love predict, aku tak sungkan untuk juga mencoba.

Banyak ramalan2 pendek dari si mb Meg sang peramal ini. Beberapa diantaranya soal pekerjaan. Waktu itu dia bilang u will get new job and more money, eh beberapa hari kemudian kesampaian lah ramalan itu.

Dan ramalan mb Meg ini selalu positif. Beberapa memang menyarankan untuk memakai baju warna tertentu untuk hari tertentu. Bahkan pernah ada ramalan untuk pakai baju pink segala, eleh2 punya aja kagak mau apalagi pake! Hehe. Ada juga ramalan melantur, katanya I'm going 2 meet a man, ckckckck terlalu mb Meg ini, masih heteroseksisme dia!

Lain waktu aku kembali iseng menanyai mb Meg ini, ia berkata dalam waktu dekat aku akan bertemu calon kekasih hati berinisial Y dan P. Walau iseng, tapi mikir juga, perasaan kagak ada orang yang kukenal bernama Y dan P. Ya, meski agak2 penasaran akhirnya berlalu saja...

Sabtu pagi ini aku ikut acara olahraga unik yang tak pernah kucoba sebelumnya. Agak males awalnya mau berangkat, datang telat pula. Walhasil, ambil tempat di belakang. Bersanding bule2 dan seorang perempuan bersinglet hitam. Karena tak kenal hanya basa basi senyuman. Dan olahraga pun dimulai... Cukup unik dan sangat healing stres. Meski kemudian berpindah-pindah tempat dan pasangan, namun di akhir, aku dan perempuan itu bersebelahan.

Obrolan demi obrolan mengalir. Ia kerap tertawa dengan guyonanku dan ternyata ia cukup kocak untuk membalas balik dagelan. Dan beberapa kali pula ia memukul-mukul kecil pahaku sembari tertawa.

Aku kemudian bertanya nama. Maklum, banyak peserta disini aku lumayan kenal. Ketika ia menyebut nama, yang terlintas pertama kali adalah ramalan mb Meg. Nama perempuan itu berinisial salah satu nama yang diramalkan. Aku kemudian berimajinasi (baca: berhalusinasi) sendiri. Tapi tetap saja, aku adalah aku. Harusnya yang kulakukan adalah mencoba kenal lebih dekat, paling tidak tau orientasi seksualnya, karena konon tempat ia bekerja lumayan banyak yang L. Yang kemudian terjadi adalah aku membiarkannya berlalu dan asyik terlarut dengan teman2 yang sudah kukenal meski ekor mataku menangkap sosok perempuan itu tak jauh dariku.

Ada satu kejadian lucu. Aku hendak mengambil minum, perempuan itu tiba-tiba disebelahku mencomot makanan ringan. Yang bikin lucu adalah di tangan perempuan itu sudah menangkup makanan ringan serupa dalam balutan tisu, tapi kenapa ia mencomot lagi? Pertanda yang bagus bukan, tapi yeah its me, bukan tidak paham pertanda, hanya agak meragu, ntar distigma tiap kegiatan kok cari jodoh hahaha. Dan terlewatkan begitu saja, ketika aku ke depan ia sudah tak ada.

Baiklah, kalau jodoh tak lari kemana, bukan?

*Alasannya, aku belum hendak selesai bersenggama ingatan dan hati dengan perempuan bermata "nakal" yang masih menetap seksi di bilik hati.

Thursday, March 17, 2011

BERSETIA HATI

Sudah lama tidak menulis, ketika hendak menulis yang terbayang di ingatan masih kamu dan tetap kamu. *Pertanyaannya: kamu yang mana?

Pertanyaan bagus! Sebelumnya aku telah menuang 3 rindu. Rindu yang tercecer. Namun yang melekat di ingatan hati adalah kau yang kata seorang teman kantor memiliki mata "nakal". Walau -sepertinya- tak menyatu, tapi tetap detil tentangmu menyatu di otakku. Bahkan kelebat sedikit polahmu tertangkap ekor hatiku. Kau seperti berdaya magis!

Dan kita cukup "dekat", meski kadang aku tak kesampaian membacamu. Dan tetap aku tak menagih untuk membuat ini harus bertahap seperti yang semestinya. Menikmati fluktuasi hati ibarat mengembara di taman bunga. Separuh hati kemudian mengungkap bahwa aku tak boleh terlalu larut untuk bersetia hati padamu, karena aku tak akan menemukan soulmate yang sesungguhnya jika aku tak membuka celah lain.

Nampaknya aku masih ingin tersenyum usai menikmati setiap teks pendekmu. Memburamkan celah lain karena aku masih ingin bersetia hati untuk perempuan yang bahkan aku tak sanggup membaca tentangnya...

Cinta datang dengan sebegitu sederhananya... Begitu juga perasaan ini...

*Untuk seorang perempuan bermata "nakal"

Tuesday, March 1, 2011

3 Rindu

Hujan seperti malam-malam lalu menitik usai kumandang Maghrib. Seperti biasa pula aku terpaku menatap layar digital sembari jemari berolah dan senyuman terpilah. Ada yang berbeda malam ini. Aku sedang merindu...

3 Rindu. Sepertinya terdengar terlalu serakah. Tidak, aku bukan sedang mengumbar ke-player-an (sebutan yang diberikan seseorang padaku, namun buru-buru kubantah), perjalanan waktu lah yang mengubah dan mengganti dengan sedemikian cepat. Belum usai, terganti, begitu berulang.

Perempuan yang beberapa hari lalu kutonton. Ya, aku merindunya! Malam itu, juga hujan sedemikian lebat, tubuh ringkih yang malam sebelumnya mencapai suhu 40 derajat lebih, menembus deras air langit dengan kepala yang mendadak pening tak tertahan. Entah kekuatan apa (baca: setan apa) yang merasukiku, aku begitu ingin menyaksikan karyamu. Melihatmu.
"Aku yakin meski sampai badanmu sakit mau mati pun kamu akan tetap bela-belain datang!" ketus sohibku tempat berbagi cerita soal perempuan satu ini.
Aku tersenyum, membenarkan. Dan begitu tiba di gedung, hilang semua pening kepala, flu dan segala tetek bengeknya. Melihatmu dalam kasual balutan ala orang gila,... Hilang sakit di badan.

Urusan hatiku sudah selesai dengannya. Andai urusan lisan ini pun terselesaikan aku yakin tak begini ujungnya. Tapi kulihat kau lebih dewasa dalam bersikap. Dan aku yakin akan ada saat yang tepat ketika lisan dan canda kita bersatu seperti tiga minggu penuh warna itu. Malam ini aku merindumu untuk menagih sang waktu kapan momen itu akan tersaji untukmu juga untukku...

Rindu kedua. Aku tak semestinya merindu! Hanya akan menambah deretan sebutan pemain cinta untukku. Padahal perasaan itu bersemi tanpa pernah bisa diduga. Andai bisa tentu pun bisa kuprediksi kapan kutanam kapan kutuai. Sama juga perasaan ini padamu... Aku meyakini ini bukan cinta! Sebuah kebersamaan sesaat yang menghadirkan getar-getar tak wajar. Pertanda cinta, mungkin. Tapi logikaku teramat bermain disini. Dan aku cukup menghargai perasaan yang tercipta. Aku mungkin mudah akrab dengan orang dan kau pun demikian. Pun kita punya beberapa kesamaan.

Sebuah perjalanan yang bukan pertama kali bagiku tapi tetap tak menyurutkan mataku untuk terlelap. Pun kau demikian. Dan obrolan panjang tergelar, meski kadang bahasanya tak kumengerti fasih.
"Kenapa kau tak tidur?" tanyaku.
"Aku sedang berpikir?" jawabnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Ia lalu bercerita. Aku terketuk. Perempuan di sebelahku sungguh teramat empatik.
"Dan kenapa kau tak tidur?" tanyanya balik.
"Aku suka menikmati perjalanan, meski sudah berulang kali lewat sini. Aku juga berpikir, tapi tak seperti yang kau pikir. Perjalanan biasanya memberiku ide untuk menulis. Mengembarakan pikiran saja!"
Dan kesamaan lain kami adalah kami sama-sama suka ketika bicara kemudian terhenti, menjawab sendiri pertanyaan kami dan kemudian tak jadi bertanya. Aku tertawa melihat tingkah perempuan itu, jadi mungkin begitu ekspresi mukaku ketika melakukan hal yang sama.

Satu lagi, ia tak suka tubuhnya dijamah, sama sepertiku. Untuk sebuah kebersamaan singkat, kami banyak bertukar kisah. Ia bilang ia bukan tipe orang ceroboh, itu tak sama sepertiku. Dan kebiasaanya menyedot batang nikotin minimal 2 bungkus sehari ditambah bergelas-gelas kopi, hmm kami sungguh berbeda. Dan jika malam ini aku merindunya, adalah tentang keceriaan dan sebuah ingatan tentangnya saat kami harus terpisah. Ya, adegan itu yang teramat melekat di otakku dan selalu membuatku tersenyum usai mengingatnya.

Ada sebuah gambar aku dan perempuan di wallpaper hapeku. Sejak berada di mobil, dengan jarak yang sangat berdekatan, tepatnya lengannya pun menyatu dengan lenganku, aku amat yakin tiap kali aku membuka ponsel ia pasti bisa melihat potret itu. Dan aku jujur mengakui, di awal-awal aku SENGAJA membiarkan hape mengarah padanya -berharap- agar dia bertanya atau paling tidak menggodaku tentang siapa perempuan di ponselku. Tapi, ternyata tidak, ia tak berkomentar. Oke lah! Meski aku tak mengerti kenapa ia berkomentar tiap hapeku bunyi dan sms2 berdatangan.
"Berapa sms per hari kau habiskan?" tanyamu.
"Ribuan!" candaku yang membuatnya terperangah. "Karena smsku gratis unlimited seharian!"
Ia terkejut. Awal yang baik ia menguatirkan arus smsku yang cukup deras, padahal asal tahu saja, aku sedang meng-sms jaringan LSM yang besok diundang rapat oleh lembaga tempatku bekerja. Bahkan ketika turun dari daerah "tak bersinyal" dan aku buru-buru menghidupkan hape, perempuan itu langsung komentar:
"Ya, cepatlah hidupkan hapemu dan berkirim sms!"
Nada cemburu terkesan hahay. Kurasa aku perlu menjelaskan.
"Hmm, aku dari tadi meng-sms teman2 LSM lain karena besok ada rapat di kantor."
"Oh ya, rapat apa?"
Dan perbincangan berlanjut. Satu demi satu momen tercipta. Hingga momen itu...

Aku merasakan kedekatan kami. Ia pun demikian. "Time 2 say gudbye..." kubilang, dan ia tak mau kata-kata itu karena yakin kami akan bertemu lagi suatu saat nanti. Dan tiba-tiba aku merasakan tangannya sudah berada di tanganku... Dan kemudian ia meraih ponselku... Aku bertanda tanya apa yang sedang ia lakukan, belum dapat kucari jawab, dengan wajah serius ia bertanya: "Who's this?" sembari menyorongkan gambar aku dan seorang perempuan dalam screensaver hapeku. Hal yang ingin kulakukan sebenarnya adalah tertawa, merayakan kemenanganku bahwa ia pada akhirnya menanyakan sosok dalam ponsel itu, tapi melihat ekspresi muka seriusnya aku kemudian menjawab: "She's my friend. In another town." Lalu kau hanya ber O panjang dan aku tak berhenti tertawa -dalam hati-. Aku tak akan pernah lupa caramu menyentuh tanganku untuk meraih hapeku dan bertanya, sungguh, aku masih sulit percaya. Dan aku merindumu kini...

Rindu ketiga adalah penyambung rindu barusan. Tentang perempuan dalam screen saver ponselku. Perempuan ini selalu menyedot ingatanku untuk menyuruh jemariku mengetahui apa yang sedang ia lakukan, menikmati sosoknya. Dan membiarkan rindu melayang-layang. Hanya ia satu-satunya perempuan yang tau tentang perasaanku. Aku telah mengungkap semuanya. Kata yang tak sempat kuucap ketika ia menjejak kota yang kutinggali kini karena ada yang menahanku. Namun ia harus tau, hatiku ngotot ngalahin logika. Ketika tau hanya lega yang tersisa, selebihnya aku bisa berdamai. Setiap detik aku bisa melihat gambarnya. Namun merindunya diantara logika dan asumsi yang selalu bertumbuh, aku telah terbiasa...

3 Rindu yang istimewa. Ketiganya punya keunikan dan rasa yang berbeda. Aku tak membandingkan mana yang terhebat pun yang terdahsyat karena ketiganya punya cerita...

Jika hujan tak berhenti menitik malam ini, maka seperti itu pula tetesan rinduku pada ketiganya...