"Ntar sore aku maen tempatmu ya?"
Aku tertegun membaca pesan singkat di ponselku kemarin. Dari seseorang yang baru beberapa hari kukenal, tepatnya dikenalkan seorang teman. Jemariku bergerak menuliskan balasan.
"Maaf. Jangan dulu deh kayaknya."
Tak berapa lama aku mendapat sms balasan. Mutung, istilah jawanya. Alias ngambek-ngambek gak jelas. Namun bagiku itu jalan tengah dari ketakutanku.
Mungkin terdengar lucu ketika aku menggolongkan bertemu orang-orang baru sebagai sebuah ketakutan. Beberapa tahun lalu, ketika aku merasa masih muda, adalah mudah untuk mengenal orang-orang baru dengan tangan terbuka. Patah tumbuh hilang berganti. Tetapi kini aku merasa umurku sudah terlampau tak muda untuk mengulangnya. Karena itu aku menamakannya sebuah ketakutan.
Logikanya, menemukan perempuan yang click tanpa mengenal, adakah mungkin? Nah, itu yang hendak kucari jawab.
Thursday, December 10, 2009
Sunday, November 15, 2009
Menanti Sebuah Jawaban
Layaknya judul sebuah lagu, kini aku juga tengah risau. Menanti jawab akan sesuatu yang belum pasti dan teramat kuragukan akan terkisah dalam kehidupanku.
Kapan, kapan dan kapan? Aku selalu melantangkan kata itu. Kata yang tak pernah -dan semoga saja hanya belum- kutuai jawab. Aku sedang meracau, ya aku memang tengah kacau oleh pertanyaan yang tak pernah -dan sekali lagi semoga saja belum- kudapatkan jawabnya.
Jawaban pertautan hati. Untuk siapa hati ini akan berlabuh. Kapan, kapan dan kapan? Karena hati ini sudah letih. Hati sedang menunggu sesuatu yang pasti. Kapan, kapan dan kapan? Haruskah aku terus dan selalu bertanya -berharap-.
Terapi berpikir positif. Aku sedang menyelami buku itu. Bahwa pikiran mempengaruhi perasaan, sikap, hasil dan segala sesuatu yang merefleksikan apapun dari diri kita. Tergantung kemana kita membawa arah pikiran kita. Negatif dan positif.
Aku bukan tengah menahkodakan balutan pikiran dengan berburuk sangka pada Tuhan bahwa ia tak menciptakan seseorang yang terbaik untuk menemani dan menyempurnakan hidupku, tapi pertanyaan kapan, kapan dan kapan? terasa salahkah jika aku memenuhi pikiranku dengan tanya yang tak kunjung kupetik jawab itu?
Tanyaku adalah sangka positif agar jawab itu lekas-lekas kureguk. Aku percaya segala sesuatu telah digariskan, dibentangkan dan dipamerkan dengan cara yang kadang unik untuk ditelusur dengan nalar dan logika. Semoga...
Kapan, kapan dan kapan? Aku selalu melantangkan kata itu. Kata yang tak pernah -dan semoga saja hanya belum- kutuai jawab. Aku sedang meracau, ya aku memang tengah kacau oleh pertanyaan yang tak pernah -dan sekali lagi semoga saja belum- kudapatkan jawabnya.
Jawaban pertautan hati. Untuk siapa hati ini akan berlabuh. Kapan, kapan dan kapan? Karena hati ini sudah letih. Hati sedang menunggu sesuatu yang pasti. Kapan, kapan dan kapan? Haruskah aku terus dan selalu bertanya -berharap-.
Terapi berpikir positif. Aku sedang menyelami buku itu. Bahwa pikiran mempengaruhi perasaan, sikap, hasil dan segala sesuatu yang merefleksikan apapun dari diri kita. Tergantung kemana kita membawa arah pikiran kita. Negatif dan positif.
Aku bukan tengah menahkodakan balutan pikiran dengan berburuk sangka pada Tuhan bahwa ia tak menciptakan seseorang yang terbaik untuk menemani dan menyempurnakan hidupku, tapi pertanyaan kapan, kapan dan kapan? terasa salahkah jika aku memenuhi pikiranku dengan tanya yang tak kunjung kupetik jawab itu?
Tanyaku adalah sangka positif agar jawab itu lekas-lekas kureguk. Aku percaya segala sesuatu telah digariskan, dibentangkan dan dipamerkan dengan cara yang kadang unik untuk ditelusur dengan nalar dan logika. Semoga...
K A M U F L A S E
Seolah-olah...
Seakan-akan...
Pretend that...
Sepertinya...
Look like...
Nampaknya...
Padahal,
Sesungguhnya...
Sebenarnya...
Actually...
Exactly...
Sejatinya...
Tak ada.
It's nothing.
Apakah anda bingung?
So do I
Seakan-akan...
Pretend that...
Sepertinya...
Look like...
Nampaknya...
Padahal,
Sesungguhnya...
Sebenarnya...
Actually...
Exactly...
Sejatinya...
Tak ada.
It's nothing.
Apakah anda bingung?
So do I
Friday, November 13, 2009
Thank God I Found You
Thank God I found you
I was lost without you
My every wish and every dream
Somehow became reality
When you brought the sunlight
Completed my whole life
I'm overwhelmed with gratitude
Cause baby I'm so thankful
I found you
Ia menyukai lagu ini
Kerap mendengungkannya
Aku pun menyukai lagu ini
Namun tak pernah tau judulnya
"Apa judul lagu ini?" tanyaku.
"Thank God," jawabnya.
And thank's God I found u then .... :)
I was lost without you
My every wish and every dream
Somehow became reality
When you brought the sunlight
Completed my whole life
I'm overwhelmed with gratitude
Cause baby I'm so thankful
I found you
Ia menyukai lagu ini
Kerap mendengungkannya
Aku pun menyukai lagu ini
Namun tak pernah tau judulnya
"Apa judul lagu ini?" tanyaku.
"Thank God," jawabnya.
And thank's God I found u then .... :)
Wajahmu Mengalihkan Duniaku
Ketika kau lewat di bumi tempat ku berdiri
Kedua mata ini tak berkedip menatapi
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu
Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku
Hey .. Hey .. Hey.. Pesonamu
Dan wajahmu mengalihkanku
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu
Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku
Hidupku penuh warna
Ku selalu mendekatimu memberi tanda cinta hooo ooo..
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku
Kedua mata ini tak berkedip menatapi
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu
Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku
Hey .. Hey .. Hey.. Pesonamu
Dan wajahmu mengalihkanku
Pesona indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkanmu terganggu oleh cantikmu
Tujuh hari dalam seminggu
Hidup penuh warna ku coba mendekatimu
Memberi tanda cinta
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku
Hidupku penuh warna
Ku selalu mendekatimu memberi tanda cinta hooo ooo..
Engkau wanita tercantikku yang pernah ku temukan
Wajahmu mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku
Mengalihkan duniaku
Sunday, November 1, 2009
KOS-KOS-AN BELOG!
Perempuan belia itu awalnya hanya mondar-mandir sembari senyam-senyum ketika aku ngobrol bersama tiga penghuni kos lain. Bahkan ketika ia ikut nimbrung, ia masih sibuk dengan dunianya sendiri bergelut dengan hape dan pikiran yang kadang melayang. Tetapi ketika satu demi satu penghuni kos berhamburan dengan urusan masing-masing, menyisakan perempuan itu dan aku yang juga akan beranjak, perempuan itu lekas-lekas membuka mulut menahan langkahku. Ia berubah seratus delapan puluh derajat dari yang tadinya cuma diam aja, tiba-tiba langsung nyerocos. Memperkenalkan diri. Menanyai aktivitasku. Dan sebuah pertanyaan yang membuatku sangat tercengang.
"Mbak, mbak tau kan temenku yang kayak cowok itu?"
Aku mengangguk. Beberapa malam lalu aku mendengar suara gaduh diluar. Ketika menengok ke depan, ternyata ada penghuni kos baru. Dua diantara mereka berambut pendek.
"Kemarin temenku itu nyuruh aku nanya-nanya apakah mbak dan mbak yang itu (perempuan itu menunjuk perempuan berambut pendek di dalam kamar) adalah butchy?"
Kontan aku terperangah. Perempuan itu tanpa tedeng aling-aling bertanya.
Awalnya, aku cukup kebingungan menjawab, namun perlahan kujelaskan sekaligus memberi pengertian bahwa di lingkungan sini masih belum terbuka soal hal itu. Ia mengangguk-angguk mengerti. Dan sejak obrolan itu, hampir tiap aktivitasku tak pernah luput dari pantauan dan komentarnya.
Sebuah realita yang membuatku tertawa. Bagaimana tidak, dulu aku pernah bercerita anak ibu kos ternyata belok. Lalu ada seorang perempuan berambut cepak lagi yang kadang kugiring mengakui kelesbianannya. Ditambah seorang penghuni lagi yang juga belum mau mengakui. Lah, terakhir perempuan yang masih duduk di bangku SMU ini yang jelas-jelas mengungkap orientasi seksual sang teman namun menampik dirinya mempunyai orientasi seksual yang sama. Wah, kos-kos-an kok makin banyak anak-anak beloknya, selain perempuan-perempuan berjilbab nan pendiam di lantai atas.
"Mbak, mbak tau kan temenku yang kayak cowok itu?"
Aku mengangguk. Beberapa malam lalu aku mendengar suara gaduh diluar. Ketika menengok ke depan, ternyata ada penghuni kos baru. Dua diantara mereka berambut pendek.
"Kemarin temenku itu nyuruh aku nanya-nanya apakah mbak dan mbak yang itu (perempuan itu menunjuk perempuan berambut pendek di dalam kamar) adalah butchy?"
Kontan aku terperangah. Perempuan itu tanpa tedeng aling-aling bertanya.
Awalnya, aku cukup kebingungan menjawab, namun perlahan kujelaskan sekaligus memberi pengertian bahwa di lingkungan sini masih belum terbuka soal hal itu. Ia mengangguk-angguk mengerti. Dan sejak obrolan itu, hampir tiap aktivitasku tak pernah luput dari pantauan dan komentarnya.
Sebuah realita yang membuatku tertawa. Bagaimana tidak, dulu aku pernah bercerita anak ibu kos ternyata belok. Lalu ada seorang perempuan berambut cepak lagi yang kadang kugiring mengakui kelesbianannya. Ditambah seorang penghuni lagi yang juga belum mau mengakui. Lah, terakhir perempuan yang masih duduk di bangku SMU ini yang jelas-jelas mengungkap orientasi seksual sang teman namun menampik dirinya mempunyai orientasi seksual yang sama. Wah, kos-kos-an kok makin banyak anak-anak beloknya, selain perempuan-perempuan berjilbab nan pendiam di lantai atas.
Friday, October 30, 2009
RE-FRESH HEART
Membuka hati, mencoba tepatnya. Karena aku sendiri tidak terlalu yakin hati yang mana yang hendak kubuka, malahan kalau boleh kupertentangkan dan memang kerap terjadi dialektika diantara pikiran, aku masih punya hati kah? Itu mungkin pertanyaan besarnya. Tapi tentu saja jangan diartikan dalam definisi denotatif. Tiap makhluk tentu punya hati.
Fokus hidupku saat ini hanyalah berusaha mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bukan untukku sendiri karena dipundakku kini tertulis tanggung jawab orangtua semata wayang, perempuan yang mengandung dan melahirkanku. Otakku hanya terperas untuk itu. Cukup bikin mumet. Dan rasanya sudah terlampau penuh untuk memikirkan hal lain. Mencari cinta maksudnya, karena mempertahankan jelas tak mungkin. Hari-hari yang selalu dan selalu begitu jelas-jelas tak untuk diperlama, meski jeda waktu untuk mulai terbiasa juga tak singkat. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya.
Berulang aku berkata; tak ada waktu mencari cinta. Aku berpikir bahwa ketika kehidupanku sudah tak disibukkan meraih dan menggapai buliran rupiah dengan susah payah, pendamping akan mengikut dengan sendirinya. Tapi tak bisa kunafikan bahwa keinginan untuk ditemani, atau paling tidak disemangati -dan bukannya dimarahi dan di curigai- untuk meraih sesuatu dalam hidup oleh orang terkasih kadang terbersit. Meski kemudian ada ketakutan mengiring.
Ya, aku menyebut itu sebuah ketakutan. Dan sekali lagi jangan diartikan sebagai makna sebenarnya. Sejak aku membuka diri mencari pasangan perempuan kurang lebih empat tahun lalu, perempuan yang pernah tersemat di hatiku boleh dibilang bisa dihitung dengan jari. Meski sebuah pengecualian ketika untuk pertama kali hatiku terobek aku mencari tambalannya dengan begitu banyak penambal. Walhasil, tangan-tangan yang mungkin sengaja kubiarkan merogoh tempat paling sensitif -kata Ari Lasso- itu malah compang-camping. Aku kapok!
"Suatu saat kau akan menemukan orang yang lebih baik!" seru si pembuat lubang di hatiku itu dengan nada tenang seolah tak menyadari bahwa hati yang masih bersemi oleh sosoknya ini sontak beku seketika.
"Kapan itu akan terjadi?" Aku merutuk karena entah kenapa sejak itu hari-hari sepanjang hidupku hanya beralih dari satu kenalan ke kenalan lain.
"Aku yakin suatu saat kau akan menemukannya. Dan jikalau sekarang begini, mungkin waktu tsb belum datang kepadamu!"
Ucapannya doeloe kini terngiang di kupingku.
"Shit!" Aku mengumpat dalam-dalam. Waktu tsb sampai detik ini belum datang padaku.
Berelasi dengan orang-orang baru, ya dulu aku mulai melakukannya. Bahkan sampai tak hafal nama mereka satu persatu. Tapi untuk sekarang ini, kurasa umurku sudah tak lagi muda melakoninya. Lagian, malas!
Mengenal sosok yang tak pernah kutemui, dalam dunia maya pula, malas! Membahas umur, kegiatan sehari-hari dan basa-basi lainnya. Hah, makin malas saja.
Aku sudah setahun di jogja, dari selentingan aku tahu beberapa tempat kumpul lesbian di kota ini, tapi lagi-lagi, malas!
Ah, kurasa aku juga mulai muter-muter. Apa mauku sebenarnya? Mungkin dibilang sederhana tapi susah direalisasikan. Bisa tidak menemukan seseorang yang klop tanpa perlu kenalan sana-sini, mulai dari facebook sampai Mirc, paling tidak, untuk berbagi? Karena jujur, aku sudah terlampau malas menjajaki seseorang dengan basa-basi sampai basi.
Ya mungkin jawabannya memang cuma satu, aku memang belum waktunya menemukan orang yang tepat! Ah pusing juga mikirin begituan ya! Anyone can help? Just rescue me!
Fokus hidupku saat ini hanyalah berusaha mewujudkan kehidupan yang lebih baik, bukan untukku sendiri karena dipundakku kini tertulis tanggung jawab orangtua semata wayang, perempuan yang mengandung dan melahirkanku. Otakku hanya terperas untuk itu. Cukup bikin mumet. Dan rasanya sudah terlampau penuh untuk memikirkan hal lain. Mencari cinta maksudnya, karena mempertahankan jelas tak mungkin. Hari-hari yang selalu dan selalu begitu jelas-jelas tak untuk diperlama, meski jeda waktu untuk mulai terbiasa juga tak singkat. Ah, aku sedang tak ingin membahasnya.
Berulang aku berkata; tak ada waktu mencari cinta. Aku berpikir bahwa ketika kehidupanku sudah tak disibukkan meraih dan menggapai buliran rupiah dengan susah payah, pendamping akan mengikut dengan sendirinya. Tapi tak bisa kunafikan bahwa keinginan untuk ditemani, atau paling tidak disemangati -dan bukannya dimarahi dan di curigai- untuk meraih sesuatu dalam hidup oleh orang terkasih kadang terbersit. Meski kemudian ada ketakutan mengiring.
Ya, aku menyebut itu sebuah ketakutan. Dan sekali lagi jangan diartikan sebagai makna sebenarnya. Sejak aku membuka diri mencari pasangan perempuan kurang lebih empat tahun lalu, perempuan yang pernah tersemat di hatiku boleh dibilang bisa dihitung dengan jari. Meski sebuah pengecualian ketika untuk pertama kali hatiku terobek aku mencari tambalannya dengan begitu banyak penambal. Walhasil, tangan-tangan yang mungkin sengaja kubiarkan merogoh tempat paling sensitif -kata Ari Lasso- itu malah compang-camping. Aku kapok!
"Suatu saat kau akan menemukan orang yang lebih baik!" seru si pembuat lubang di hatiku itu dengan nada tenang seolah tak menyadari bahwa hati yang masih bersemi oleh sosoknya ini sontak beku seketika.
"Kapan itu akan terjadi?" Aku merutuk karena entah kenapa sejak itu hari-hari sepanjang hidupku hanya beralih dari satu kenalan ke kenalan lain.
"Aku yakin suatu saat kau akan menemukannya. Dan jikalau sekarang begini, mungkin waktu tsb belum datang kepadamu!"
Ucapannya doeloe kini terngiang di kupingku.
"Shit!" Aku mengumpat dalam-dalam. Waktu tsb sampai detik ini belum datang padaku.
Berelasi dengan orang-orang baru, ya dulu aku mulai melakukannya. Bahkan sampai tak hafal nama mereka satu persatu. Tapi untuk sekarang ini, kurasa umurku sudah tak lagi muda melakoninya. Lagian, malas!
Mengenal sosok yang tak pernah kutemui, dalam dunia maya pula, malas! Membahas umur, kegiatan sehari-hari dan basa-basi lainnya. Hah, makin malas saja.
Aku sudah setahun di jogja, dari selentingan aku tahu beberapa tempat kumpul lesbian di kota ini, tapi lagi-lagi, malas!
Ah, kurasa aku juga mulai muter-muter. Apa mauku sebenarnya? Mungkin dibilang sederhana tapi susah direalisasikan. Bisa tidak menemukan seseorang yang klop tanpa perlu kenalan sana-sini, mulai dari facebook sampai Mirc, paling tidak, untuk berbagi? Karena jujur, aku sudah terlampau malas menjajaki seseorang dengan basa-basi sampai basi.
Ya mungkin jawabannya memang cuma satu, aku memang belum waktunya menemukan orang yang tepat! Ah pusing juga mikirin begituan ya! Anyone can help? Just rescue me!
Subscribe to:
Posts (Atom)