Monday, August 10, 2009

TELEPON IBU

Hari Minggu aku menelepon ibu. Ibu mengadu sedang sakit. Habis dari dokter tiga hari lalu. Hipertensi dan gula darahnya juga tinggi. Bagaimana bisa? Itu pertanyaan yang seketika hinggap di otakku. Ya, ibu memang telah lama mengidap diabetes, namun selama ini terkontrol. Ibu tak pernah aneh-aneh. Maksudnya, yang tak sesuai takaran atau yang mengandung banyak gula. Selain itu, ibu memang juga tak suka makan banyak dan yang neko-neko. Perutnya tak terbiasa. Apalagi, hipertensi, sejak kapan ia mulai mengidapnya? Faktor makanan, atau kopi, ya ibu kadang ngopi, tapi teramat jarang dan hanya encer2 saja dengan gula seujung sendok.
"Ema, mikir apa?" (Ema= panggilanku pada ibu. Bukan Emak, bukan pula Mama. Sewaktu kecil kakak laki2ku terlalu cadel hingga tak bisa mendengungkan kata Mama dengan benar dan melafalkannya dengan kata Ema, kemudian diwariskannya padaku sampai kami dewasa sekarang.)
"Ya, banyak lah! Namanya juga orangtua! Bla bla bla..." sahutnya dengan embel2 lain seperti biasa. Aku pernah tau, diabet bukan hanya disebabkan faktor makanan, tetapi juga pikiran. Bahkan pikiran lah yang lebih jahat meningkatkan kadar gula dalam darah.
"Lha kok bisa darah tinggi juga? Sering makan sate kambing ta?" godaku sambil menahan tawa.
"Sate kambing gundulmu!" jawabnya medhok membuatku ngakak. "Itu lho, si Gileh!"
Si Gileh, adalah sebutan ibu untuk sepupuku, anak sulung adiknya, yang tinggal satu rumah dengan ibu dan memang agak2 gileh (Gila). Katanya, si Gileh selalu berulah dan membuatnya uring2an. Mana ia sendiri di rumah, sementara adiknya hampir tak pernah di rumah. Praktis hanya ibu lah yang harus menghadapi si Gileh dan itu yang menguras energi, emosi mungkin tepatnya.
"Ya, jangan dipikiri, diakali aja!" saranku. Seperti biasa jika aku sedang tak ingin menghadapi sesuatu dengan cara frontal, maka aku mengakalinya, dalam artian mengalihkannya agar uring2an tak hinggap dan menghinggapiku.

Ibu kemudian bercerita tentang kakak lelakiku dan sindrom insomnianya. Sejak dulu ia memang susah tidur, tapi sejak ayah meninggal, ia semakin susah tidur. Seringkali terjaga seperti ada yang membangunkan. Mungkin itu salah satu penyebab hipertensinya.

Satu hal lagi, ia bertanya soal vitamin untuk orang tua. Tumben banget, pikirku.
"Kata dokter, aku disuruh mengonsumsi vitamin. Tak hanya obat2an." terangnya. Ibu memang harus rutin mengonsumsi obat untuk diabet sebelum makan. Tapi vitamin... Ibu tak pernah berujar sebelumnya. Benakku bertanya-tanya. Sejak kematian ayah, aku merasa ibu lebih menghargai kesehatannya. Kalau dulu uang dialokasikannya ke dapur, kupikir ibu lebih memprioritaskan kesehatannya kini. Obrolan kemudian melantur kemana-mana hingga tak terasa satu jam bergulir cepat.

Setelah telepon terputus aku merenung dan tercenung. Campur aduk. Kegelisahan yang bercampur dan pikiran yang teraduk. Terlalu rumit tuk dideskripsikan, apalagi dilisankan. Hanya tersimpan. Dan menjadi rasa bersalah yang selalu dan terus tertahan.

Sunday, August 9, 2009

Film India: Ga Melulu Termehek-Mehek!

Sejak malam mulai beranjak naik, satu persatu tivi sibuk menggelar Breaking News dengan headline hampir sama: Pengepungan Teroris di sebuah rumah di Kedu, Temanggung. Sampe eneg denger berita yang diucapkan berulang-ulang kayak penyiarnya kagak punya kosakata laen aja. Akhirnya, setelah memencet2 remote dari mulai sinetron2 sampe the master show di rcti, aku kemudian terpaku di salah satu stasiun tivi. TPI. Lagi muter film india. Pretty Zinta yang kulihat di layar. Lalu Saif Ali Khan. Aktor yang tidak kugemari. Tapi ketika hendak kualihkan, wajah Shah Rukh Khan muncul, menahan tanganku memindahkan channel. Dalam hati mikir, film apa ini ya? Karena beberapa waktu lalu aku juga nonton film Shah Rukh dengan judul lumayan panjang dan tidak familiar tapi ceritanya sangat-sangat menyentuh, makanya ketika melihat Shah Rukh tanganku ngerem mendadak. Dan akhirnya aku tau judulnya, Kal Ho Naa Ho, judul yang ternyata pernah kudengar meski bukan film baru tapi tak pernah kulihat sebelumnya, maklum dah lama tidak bercengkrama dengan televisi dan tak lagi up 2 date ama film, terutama film india.

Cerita demi cerita pun mengalir. Sama seperti film india yang lalu, film ini juga mengajarkan cinta dengan cara yang indah dan tidak termehek-mehek. Dan satu hal lagi, di film ini tak disangka tak dinyana ada special appearance dari aktris India favoritku, Sonali Bendre. Mmm... Rasanya seperti kembali ke masa ketika aku begitu "tergila-gila" pada aktris itu sekitar 7-8 tahun yang lalu. Semua filmnya kulahap habis. Bahkan aku mengoleksi foto2nya -yang sayang sekali kutaruh di beberapa disket dan kini disketnya entah dimana-.

Balik ke film tadi, meski endingnya tak sesuai yang kuinginkan, tapi sekali lagi selalu mengesankanku satu hal: cinta penuh ketulusan dengan cara yang unik. Dan seperti reuni masa lalu dengan aktris idola yang menurutku sudah tampak agak menua. Maklum, ia lahir tahun 74 sementara aku menggandrunginya ketika usianya sama seperti usiaku sekarang. Hah, film india kayaknya emang gak selalu termehek-mehek deh! Yah, at least mendingan lah daripada nonton peliputan pengepungan teroris yang terlalu dibesar-besarkan dan diulang-ulang, capek deh!

01:13 am Saturday, August 8, 2009

Monday, July 6, 2009

P E R T A N D A

Cinta... Biar saja ada
Yang terjadi biar saja terjadi
Bagaimanapun hidup tetap hanya cerita
Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan
Cinta...

Aku menuliskan bait terakhir dari lagu duet Melly feat Krisdayanti berjudul Cinta itu di status facebookku beberapa hari sebelum aku dibangunkan oleh dering telepon kala fajar yang mengabarkan bahwa ayahku berpulang ke haribaanNYA karena serangan jantung. Penyakit yang dideritanya kurang lebih 4-5 tahun ini.

Sebelah mataku memicing menengok angka-angka digital di kanan atas layar ketika mendengar ponsel di sebelahku berdering. Baru kemudian kuarahkan mata menengok nomor si penelepon. Nomor xl yang tak kukenali.
"Siapa nelpon subuh2 gini!" rutukku setengah hati menekan tombol hijau di sebelah kiri. Ujung telingaku mengenali suara itu. Suara adik ibuku. Perasaanku mulai tak enak. Dan tak menunggu sampai ia menjabarkan kabar apa yang hendak ia utarakan disela kalimat2nya agar aku tabah, aku telah bisa menerka ini pasti soal ayah. Pasalnya, sejak kematian adik kandungnya yang belum menginjak 40 hari, aku mendengar kabar bahwa penyakit jantungnya kian sering kambuh. Dari mulai nafas yang tersengal dan batuk-batuk. Kemudian aku hanya bisa bengong sekian lama, sebelum akhirnya perutku berkontraksi hebat. Diare. Aku selalu mendadak diare ketika terkejut. Alamiah. Selebihnya, aku masih diselimuti alam pikiran yang kian mengacaukan. Bersandar di dinding tanpa tau harus apa! Pikiran seakan kosong.

Dan entah kenapa sejak beberapa hari itu aku begitu menyenangi lagu yang sebelumnya teramat tak kusuka. Namun ketika kucermati satu demi satu bait lagu, khususnya bait terakhir yang mempunyai pola berbeda dengan isi lagu, bagian yang paling kugemari.

Selain lagu, entah kenapa aku juga teramat sangat ingin pulang. Bukan karena disaat yang sama aku juga sedang kalut oleh kemelut hidup hingga sempat menorehkan sebuah garis tipis yang boleh kugarisbawahi sebagai sebuah tempat terendah selama hidup. Aku benar-benar ingin pulang. Agar tak kurasakan kesendirian dalam tekanan pikiran di ruangan 3x3 yang harus serta wajib kulewati di tiap malam-malamku. Firasat kah?

Dan memang, aku sungguh pulang. Mendapati ibu penuh linang airmata dan meneguk kenyataan bahwa aku tak sempat melihat jenazah ayah sebelum disemayamkan di pembaringan terakhirnya karena waktu... Ya, waktu yang seakan terlalu kejam menjadikan jarak Jogja dan kota kelahiran ibu sedemikian jauhnya hingga tak lagi bisa terkejar olehku. Sungguh, kepulangan yang tak pernah kuharapkan. Kepulangan yang juga menyisakan bilur-bilur pemikiran yang terus-menerus terngiang dalam benakku.

Sehari sebelum berpulang, ayah bercerita pada adik perempuannya bahwa ia bermimpi didatangi oleh adik laki-lakinya yang baru meninggal itu dan menyuruhnya tanda tangan. Ayahku pun membubuhkan tanda tangan. Jikalau mimpi adalah sebuah pertanda, maka mimpi ayah adalah pertanda buruk bahwa ia akan menyusul adiknya tsb.

"Nggak, aku nggak mau mati dulu," sergah ayah ketika adik perempuannya beropini perihal mimpinya. "Aku masih punya tanggungan! Anak perempuanku belum kawin!" imbuhnya.
Cerita yang menohokku telak. Tanggungan yang ia maksud jelas2 adalah aku! Sebuah perasaan bersalah seketika menyelusup dalam nuraniku. Diatas semua kekurangan ayah, tapi akulah yang selalu menjadi kesayangan ayah sejak dulu. Sedang kakak laki2ku adalah kesayangan ibu. Memang tak terlihat secara langsung, hanya saja konstruksi pemikiranku mengatakan demikian.

Dan ketika beliau pergi untuk selama-lamanya, ganjalan pemikirannya kini sepenuhnya beralih padaku. Meski ibu pun mulai kasak-kusuk menanyaiku perihal kapan akan membina rumah tangga. Ibu yang dulu-dulu tak pernah bertanya apalagi mendesak, kini seakan ikut tren adik perempuannya bertanya-tanya hal tabu untuk diusikkan padaku.

Aku kembali ke Jogja bukan untuk lari, meski tak kupungkiri sedikit mengatasi kejengahanku atas perasaan bersalah yang hinggap disela-sela pikiranku. Tapi tak lantas aku bisa sebegitu enaknya terlepas dari himpitan perasaan itu, karena kemelut pikiranku kian berputar cepat di otakku.

Ayah memang telah pergi, tapi terkadang bayangan dan memori kebaikan-kebaikannya padaku serta perilaku kekurangan-kekuranganku padanya silih berganti memenuhi fikiranku.

Sedih jika teringat aku belum dapat menyenangkan dan memberi imbalan yang memang tak pernah ia minta atas segala peluh yang ia cucurkan hingga aku menjadi seperti sekarang. Kesedihan yang tak akan pernah terbayar olehku selain doa dan harapan agar aku selalu digariskan untuk tak pernah lupa mengirim lafazh Alquran penyejuk di pembaringan abadinya.

Tetes airmata yang akan terus mengaliri sungai nuraniku untuk terus mengubur penyesalan yang takkan terbayar.

Sunday, July 5, 2009

Life Begin @ 27+

Sebuah tulisan di bulan Juni yang baru sekarang sempat ter-publish...

Judul yang lantas kujadikan kutipan diatas memang termasuk tak lazim karena kutipan yang lebih familiar umumnya adalah Life Begin @ 40! Tak masalah, karena bagiku bukan masalah usia. "Hidup" bisa dimulai kapan pun!

Sedikit kilas balik, ketika aku mem-publish tulisan sebelumnya, hal pertama yang aku terima seperti biasa adalah cercaanmu. Kadang aku fikir, kamu itu sebenarnya baca blogku seutuhnya atau sekedar meneliti bagian mana yang akan kau cercakan padaku? Karena bukan sekali dua kali ini saja, kau melakukannya tiap kali aku habis mem-posting tulisan baru di blogku. Ada saja cercaan yang kau pedaskan padaku. Malah kufikir, kau memang tak baca blogku, hanya mencari kesalahan untuk kau jadikan umpatan dan jika kau tak menemukannya maka jalan pintasnya adalah mengarangnya sendiri. Menciptakan imajinasi, membalik fakta dan memutar kata, yah apalah yang penting marah-marah. Menuduhkan sesuatu yang tak pernah kulakonkan. Hah, jika kukupas satu-satu nanti kau akan berfikir -seperti biasa- bahwa aku selalu menjatuhkanmu lewat tulisan-tulisanku.


Aku tak ingin bicara fakta atau bukan realita, aku juga tak sedang ber-pro kontra. Kurasa sudah terlampau cukup tiap hari terbuang dengan cacian, makian dan marah-marah. Kadang (baca: sering) pertanyaan ini malang melintang di benakku, apa yang sebenarnya kau cari dan kau ingini dariku? Setiap detik dalam 7 hari seminggu kau mengabsen kekuranganku seolah aku ini bukan makhluk berperasaan. Kau selalu berfikir tentang perempuan lainku, perempuan selingkuhanku, dan perempuan-perempuan yang entah apalagi sebutannya. Hei, apa kau tak mengerti juga, aku sedang bertarung demi kelangsungan hidupku, tapi kenapa kau malah konyol berhalusinasi hal-hal yang bahkan tak terlintas di otakku di saat-saat genting ini? Apa kau tak cukup faham? Sepertinya hampir tiap hari aku mendentingkan apa yang menjadi beban pikiranku. Kemana telingamu? Aku yakin kau tak tuli, bahkan kau yang memvonisku tuli karena hanya ber-ha he ho saat bicara. Apa kau tak cukup peka hidup sedang menggempurku jatuh saat ini?

Aku bisa merasakan kau menjadi orang yang berbeda akhir-akhir ini, tapi aku tak akan menyalahkan. Bagiku kau telah cukup banyak berarti. Itulah sebab beberapa waktu lalu aku pernah berkata: Apapun yang terjadi pada hubungan kita kelak, aku tetap ingin menjadi bagian hidupmu. Karena apa yang telah dan pernah kau beri serta lakukan padaku takkan pernah bisa terbayar oleh apapun. Aku diam karena aku teramat menghargaimu. Aku mungkin terlalu sulit untuk kau mengerti dan aku tak akan meyakinkanmu untuk mengerti apalagi mempercayaiku. Waktu dua tahun kurasa cukup untuk membuatmu tahu segalanya tentang aku tanpa perlu kujabarkan detil pemikiranku. Hanya saja, jika kau selalu meminum air laut ketika bersamaku, maka kau akan selalu haus karena yang kau lihat adalah selalu kekuranganku.

Hidupku mungkin dimulai di usia 27+. Semoga tak terlalu tua mengawali babak kedewasaan baru yang disodorkan dunia padaku untuk dilakoni!

Saturday, June 20, 2009

I N S P I R A S I

Kucing. Aku selalu suka kucing. Meski mungkin ini cerita tak penting. Tapi diam-diam kujadikan pembanding.

Beberapa malam lalu, aku tak ingat persisnya, nyaris aku tak bisa dibuat terpejam oleh suara gaduh. Bukan ramai manusia. Tapi dua ekor kucing yang sedang berkelahi. Kutajamkan pendengaran dan feelingku memastikan ada perkelahian tak imbang. Suara kucing yang terdengar keras itu nyata-nyata adalah kucing kecil. Kucing yang ketika aku pulang sore hari itu tengah meraung seakan minta tolong diatas atap. Tak ada yang bisa kulakukan, bahkan wujudnya saja tak nampak. Hanya suara kecil yang mencari induknya. Dan malamnya, sekitar setengah tiga dini hari kudengar suara itu meraung, bukan mencari sang ibu, aku meyakini ia tengah diterkam kucing yang lebih besar darinya. Lagi-lagi aku tak mampu berbuat apapun. Hati ingin, tapi gila saja, setengah tiga pagi keluar dalam gelap gulita berhalusinasikan makhluk-makhluk gentayangan yang menjadi ciri khas kos-kosan ini, aku belum gila! Antara terjaga dan terpejam, akhirnya penghitung waktu menunjuk pertengahan angka empat dan lima. Bertemankan suara adzan, aku keluar mencari suara yang merintih lemah. Suara itu berasal dari rerimbunan daun dekat tempat sampah. Masih gulita dan sepi. Penghuni kos lain belum menampakkan tanda-tanda kehidupan. Aku kembali ke kamar meraih ponsel sebagai penerang seadanya. Kucing kecil itu mendesis galak ketika aku mendekat.
"Kucing liar rupanya," desisku sambil coba mengelus menjinakkan. Nihil. Ia tetap tak bersahabat. Pandanganku kemudian tertumbuk pada dua ekor kucing besar tak jauh dari tempatku. Keduanya langsung tunggang langgang ketika kuangkat tangan mengusirnya. Aku menyerah pada penglihatanku yang terbatas. Aku kembali ke kamar. Namun sejam kemudian keresahanku membawa kakiku menengok si kecil.
Mentari masih mengintip, namun pagi menyingsing membuatku dapat mengamati kondisi kucing kecil itu seutuhnya. Lukanya cukup parah. Dua kakinya kaku. Dan... Lengan kanannya berdarah. Meski demikian ia masih tak bersahabat meski berkali-kali pula aku mencoba mengelusnya. Aku bergerak mengambil air kemudian meninggalkannya. Maksudku memberi jeda waktu, seolah ia akan mengerti dan meminum air tsb. Memperlakukan kucing seperti manusia, tolol kedengarannya bukan? Ya, mungkin. Sejak dulu aku tak bisa melihat kucing menderita.
Melihat kondisinya, hal yang paling dibutuhkannya kini adalah betadine atau obat merah. Aku tak punya! Meminjam dari penghuni kos untuk seekor kucing, hah aku akan ditertawakan! Sedang merogoh kocek sendiri, aku seketika teringat bahwa kondisi keuanganku sendiri sedang sangat tak sehat. Paling tidak jika tak ada antiseptik, kucing itu kuberi makan. Meski dalam hati aku sangsi, ia tak akan mau makan! Tapi ah, aku tetap mengayuh sepedaku ke warung membelikannya dua ikan kecil. Ia tetap tak bersahabat. Bahkan air tadi ditumpahkannya. Entah saat minum atau tersenggol gerak tubuhnya. Aku mengambilkannya lagi dalam wadah datar yang lebih lebar beserta makannya. Aku meninggalkannya ke tempat kerja. Saat pulang, ia yang pertama kutengok. Entah tidur, entah menahan sakit, ia menelungkup. Desisan yang keluar dari mulutnya melemah. Yang kuyakini ia sedang bertahan hidup. Dan aku juga meyakini umurnya takkan sampai esok hari.
Aku menghempaskan tubuh di kamar. Kucing kecil itu tak ubahnya sepertiku. Bibirku mungkin menyungging senyuman, bahkan desisan sepertinya, tapi jauh di palung terdalamku pun mendesis pilu. Hidup memang berpindah dari satu masalah ke masalah lain. Tuhan sedang sayang padaku, meski aku menyikapi rasa sayangNya padaku dengan kemarahan. Kemanusiawian manusia. Layaknya si kucing kecil, aku pun sedang mempertahankan dentuman nafasku agar tak terkalahkan oleh gema di otakku yang mendelegasikan untuk memotong aliran oksigen ke seluruh tubuh.
Pagi-pagi sekali aku melihat kondisi kucing kecil itu dan mendapati perutnya tak lagi kembang kempis. Ia bersandar damai dalam posisi membelakangiku. Ia telah pergi. Aku mendadak teringat sorot mata lemahnya kemarin. Kini, mata itu takkan pernah kulihat lagi.
Seekor kucing kecil liar mati. Kucing yang hanya hadir dua hari ini, tetapi seakan ia telah menghiasi hari-hariku sebelumnya. Bagiku ia adalah pembanding. Ia telah berjuang hidup ketika ketidakadilan alam hadir dalam garis takdirnya. Dan ia kemudian tak lagi bernyawa meski telah sekuat tenaga dan seorang diri hadapi. Jikalau kematian kini paling tidak membawanya dalam kedamaian, akankah kematian pula yang akan menjadi tolak ukurku mengakhiri jalan Tuhan yang seharusnya kulalui? Mungkin jika itu cara termudah, terasa menggiurkan. Tapi kenyataannya beruntung tak mudah karena rentetan yang berkesinambungan kemudian akan mengiring ketiadaanku, meski aku tak lagi akan merasa tapi beban itu seolah akan turut menjadi catatan yang membelenggu.

"Alvi, apa kamu masih ingat sholat?"
Pertanyaan itu ditohokkan padaku dengan menyebut namaku secara lengkap.Sungguh terasa asing di telingaku mengingat ia terbiasa memanggilku dengan sebutan aneh2. Ia kemudian bercerita. Membuka mataku. Mata hati dan batinku.

"Ketegaran seorang perempuan selalu memukau"

Akan kuingat itu selalu!

Friday, June 19, 2009 @ 21:26 pm.

Tuesday, June 2, 2009

Kenapa Susah Sekali?

Ini sebenarnya adalah pertanyaan atau klaimku pada Tuhan...

Kenapa sepertinya susah sekali Engkau memudahkan jalanku untuk membahagiakan orangtuaku? Padahal Engkau hanya tau, itu adalah puncak tujuan hidupku. Aku bukan ingin mengeluh, tapi aku sebagai manusia, hambaMU yang mungkin Engkau kira tak tahu terima kasih ini, kurasa telah cukup berusaha dan terus berusaha serta selalu berusaha agar aku mampu mengubahnya menjadi dan meraih apa yang lebih baik. Dan kenyataannya, aku malah tak mendapat apa-apa selain diombang-ambing seperti bola, memantul kesana kemari.

Manusia tak boleh mengeluh. Ya memang, tapi...(dan akan selalu ada kata tapi) kupikir aku tak sedang mengeluh. Aku hanya ingin memaparkan fakta, bahwa ketika apa yang kuingini telah kuselipkan niat baik lantas kulakukan dengan segenap pikiran, tenaga dan waktu, tapi kenapa aku tak pernah bisa meraihnya?

Jawabannya -MUNGKIN-, TUHAN punya rencana lain yang lebih indah untukku. Rencana apa lagi? Aku memang tak akan pernah tahu. Tugasku memang hanya menjalani. Dan selalu meyakini bahwa TUHAN tak akan pernah memberi garis kehidupan diluar batas kemampuanku, meski kuakui kadang keyakinan tsb luntur. Maka, semoga Engkau selalu memberiku kelapangan agar keyakinan itu cepat-cepat kuwarnai ulang dan tak akan memudar.

Aku selalu menunggu rencana indahMU untukku...

05:49 Thursday, 21 May 2009

Aku Benar-Benar Sendirian!

Aku tengah berada dalam alam bawah sadarku yang kurasa amat nyata. Lalu perlahan bergeser satu hingga meloading seratus persen ke alam nyataku. Dan tiba-tiba aliran air menitik dan jatuh ke pipiku untuk kemudian mengalir rintik-rintik dan dalam hitungan detik beralih deras. Tak terbendung oleh sekaan tanganku. Ini untuk yang kesekian, seakan tak terhitung.

Kamuflase. Aku rasa itu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan hidup yang tengah kujalani selama aku menginjak kota ini. Sepertinya aku bahagia, sepertinya bibirku tak henti-hentinya membentangkan garis lengkung membentuk senyuman indah. Tapi kurasa hati kecilku berteriak sebaliknya. Dan sekali lagi, tapi aku seakan tak berdaya. Aku bukan sedang bermain rupa. Sungguh! Hanya ketika aku berada dalam ruangan 3x3 ini semuanya terputar tanpa bisa kuhentikan. Tentang hidup. Tentang masa depan. Semuanya. Mengalir secara otomatis. Tak terkontrol. Meski rekaman otakku adalah fakta.

Realita logika dan perasaan. Bahwa aku benar-benar sendirian!

Miris. Gaduh diluar. Gaduh ramai manusia. Tapi ketika satu persatu track kehidupanku kucermati dari waktu ke waktu. Aku benar-benar merasa seorang diri.

Airmata itu selalu menemaniku ketika aku seorang diri mendekam di kamar 3x3 ini. Akankah ia setia menemani? Meski airmata itu tak kuingini. Kata orang, butchi tak boleh menangis, seperti halnya lelaki. Akankah sebuah kamuflase lagi kulakukan? Tertawa, ketika batin menjerit perih. Ah, aku sungguh tak tahu hidup ini akan terbawa kemana!

I'm so tired! (Mengeluh, -lagi-)

16:09 Tuesday 2 June 2009.