Kucing. Aku selalu suka kucing. Meski mungkin ini cerita tak penting. Tapi diam-diam kujadikan pembanding.
Beberapa malam lalu, aku tak ingat persisnya, nyaris aku tak bisa dibuat terpejam oleh suara gaduh. Bukan ramai manusia. Tapi dua ekor kucing yang sedang berkelahi. Kutajamkan pendengaran dan feelingku memastikan ada perkelahian tak imbang. Suara kucing yang terdengar keras itu nyata-nyata adalah kucing kecil. Kucing yang ketika aku pulang sore hari itu tengah meraung seakan minta tolong diatas atap. Tak ada yang bisa kulakukan, bahkan wujudnya saja tak nampak. Hanya suara kecil yang mencari induknya. Dan malamnya, sekitar setengah tiga dini hari kudengar suara itu meraung, bukan mencari sang ibu, aku meyakini ia tengah diterkam kucing yang lebih besar darinya. Lagi-lagi aku tak mampu berbuat apapun. Hati ingin, tapi gila saja, setengah tiga pagi keluar dalam gelap gulita berhalusinasikan makhluk-makhluk gentayangan yang menjadi ciri khas kos-kosan ini, aku belum gila! Antara terjaga dan terpejam, akhirnya penghitung waktu menunjuk pertengahan angka empat dan lima. Bertemankan suara adzan, aku keluar mencari suara yang merintih lemah. Suara itu berasal dari rerimbunan daun dekat tempat sampah. Masih gulita dan sepi. Penghuni kos lain belum menampakkan tanda-tanda kehidupan. Aku kembali ke kamar meraih ponsel sebagai penerang seadanya. Kucing kecil itu mendesis galak ketika aku mendekat.
"Kucing liar rupanya," desisku sambil coba mengelus menjinakkan. Nihil. Ia tetap tak bersahabat. Pandanganku kemudian tertumbuk pada dua ekor kucing besar tak jauh dari tempatku. Keduanya langsung tunggang langgang ketika kuangkat tangan mengusirnya. Aku menyerah pada penglihatanku yang terbatas. Aku kembali ke kamar. Namun sejam kemudian keresahanku membawa kakiku menengok si kecil.
Mentari masih mengintip, namun pagi menyingsing membuatku dapat mengamati kondisi kucing kecil itu seutuhnya. Lukanya cukup parah. Dua kakinya kaku. Dan... Lengan kanannya berdarah. Meski demikian ia masih tak bersahabat meski berkali-kali pula aku mencoba mengelusnya. Aku bergerak mengambil air kemudian meninggalkannya. Maksudku memberi jeda waktu, seolah ia akan mengerti dan meminum air tsb. Memperlakukan kucing seperti manusia, tolol kedengarannya bukan? Ya, mungkin. Sejak dulu aku tak bisa melihat kucing menderita.
Melihat kondisinya, hal yang paling dibutuhkannya kini adalah betadine atau obat merah. Aku tak punya! Meminjam dari penghuni kos untuk seekor kucing, hah aku akan ditertawakan! Sedang merogoh kocek sendiri, aku seketika teringat bahwa kondisi keuanganku sendiri sedang sangat tak sehat. Paling tidak jika tak ada antiseptik, kucing itu kuberi makan. Meski dalam hati aku sangsi, ia tak akan mau makan! Tapi ah, aku tetap mengayuh sepedaku ke warung membelikannya dua ikan kecil. Ia tetap tak bersahabat. Bahkan air tadi ditumpahkannya. Entah saat minum atau tersenggol gerak tubuhnya. Aku mengambilkannya lagi dalam wadah datar yang lebih lebar beserta makannya. Aku meninggalkannya ke tempat kerja. Saat pulang, ia yang pertama kutengok. Entah tidur, entah menahan sakit, ia menelungkup. Desisan yang keluar dari mulutnya melemah. Yang kuyakini ia sedang bertahan hidup. Dan aku juga meyakini umurnya takkan sampai esok hari.
Aku menghempaskan tubuh di kamar. Kucing kecil itu tak ubahnya sepertiku. Bibirku mungkin menyungging senyuman, bahkan desisan sepertinya, tapi jauh di palung terdalamku pun mendesis pilu. Hidup memang berpindah dari satu masalah ke masalah lain. Tuhan sedang sayang padaku, meski aku menyikapi rasa sayangNya padaku dengan kemarahan. Kemanusiawian manusia. Layaknya si kucing kecil, aku pun sedang mempertahankan dentuman nafasku agar tak terkalahkan oleh gema di otakku yang mendelegasikan untuk memotong aliran oksigen ke seluruh tubuh.
Pagi-pagi sekali aku melihat kondisi kucing kecil itu dan mendapati perutnya tak lagi kembang kempis. Ia bersandar damai dalam posisi membelakangiku. Ia telah pergi. Aku mendadak teringat sorot mata lemahnya kemarin. Kini, mata itu takkan pernah kulihat lagi.
Seekor kucing kecil liar mati. Kucing yang hanya hadir dua hari ini, tetapi seakan ia telah menghiasi hari-hariku sebelumnya. Bagiku ia adalah pembanding. Ia telah berjuang hidup ketika ketidakadilan alam hadir dalam garis takdirnya. Dan ia kemudian tak lagi bernyawa meski telah sekuat tenaga dan seorang diri hadapi. Jikalau kematian kini paling tidak membawanya dalam kedamaian, akankah kematian pula yang akan menjadi tolak ukurku mengakhiri jalan Tuhan yang seharusnya kulalui? Mungkin jika itu cara termudah, terasa menggiurkan. Tapi kenyataannya beruntung tak mudah karena rentetan yang berkesinambungan kemudian akan mengiring ketiadaanku, meski aku tak lagi akan merasa tapi beban itu seolah akan turut menjadi catatan yang membelenggu.
"Alvi, apa kamu masih ingat sholat?"
Pertanyaan itu ditohokkan padaku dengan menyebut namaku secara lengkap.Sungguh terasa asing di telingaku mengingat ia terbiasa memanggilku dengan sebutan aneh2. Ia kemudian bercerita. Membuka mataku. Mata hati dan batinku.
"Ketegaran seorang perempuan selalu memukau"
Akan kuingat itu selalu!
Friday, June 19, 2009 @ 21:26 pm.
Saturday, June 20, 2009
Tuesday, June 2, 2009
Kenapa Susah Sekali?
Ini sebenarnya adalah pertanyaan atau klaimku pada Tuhan...
Kenapa sepertinya susah sekali Engkau memudahkan jalanku untuk membahagiakan orangtuaku? Padahal Engkau hanya tau, itu adalah puncak tujuan hidupku. Aku bukan ingin mengeluh, tapi aku sebagai manusia, hambaMU yang mungkin Engkau kira tak tahu terima kasih ini, kurasa telah cukup berusaha dan terus berusaha serta selalu berusaha agar aku mampu mengubahnya menjadi dan meraih apa yang lebih baik. Dan kenyataannya, aku malah tak mendapat apa-apa selain diombang-ambing seperti bola, memantul kesana kemari.
Manusia tak boleh mengeluh. Ya memang, tapi...(dan akan selalu ada kata tapi) kupikir aku tak sedang mengeluh. Aku hanya ingin memaparkan fakta, bahwa ketika apa yang kuingini telah kuselipkan niat baik lantas kulakukan dengan segenap pikiran, tenaga dan waktu, tapi kenapa aku tak pernah bisa meraihnya?
Jawabannya -MUNGKIN-, TUHAN punya rencana lain yang lebih indah untukku. Rencana apa lagi? Aku memang tak akan pernah tahu. Tugasku memang hanya menjalani. Dan selalu meyakini bahwa TUHAN tak akan pernah memberi garis kehidupan diluar batas kemampuanku, meski kuakui kadang keyakinan tsb luntur. Maka, semoga Engkau selalu memberiku kelapangan agar keyakinan itu cepat-cepat kuwarnai ulang dan tak akan memudar.
Aku selalu menunggu rencana indahMU untukku...
05:49 Thursday, 21 May 2009
Kenapa sepertinya susah sekali Engkau memudahkan jalanku untuk membahagiakan orangtuaku? Padahal Engkau hanya tau, itu adalah puncak tujuan hidupku. Aku bukan ingin mengeluh, tapi aku sebagai manusia, hambaMU yang mungkin Engkau kira tak tahu terima kasih ini, kurasa telah cukup berusaha dan terus berusaha serta selalu berusaha agar aku mampu mengubahnya menjadi dan meraih apa yang lebih baik. Dan kenyataannya, aku malah tak mendapat apa-apa selain diombang-ambing seperti bola, memantul kesana kemari.
Manusia tak boleh mengeluh. Ya memang, tapi...(dan akan selalu ada kata tapi) kupikir aku tak sedang mengeluh. Aku hanya ingin memaparkan fakta, bahwa ketika apa yang kuingini telah kuselipkan niat baik lantas kulakukan dengan segenap pikiran, tenaga dan waktu, tapi kenapa aku tak pernah bisa meraihnya?
Jawabannya -MUNGKIN-, TUHAN punya rencana lain yang lebih indah untukku. Rencana apa lagi? Aku memang tak akan pernah tahu. Tugasku memang hanya menjalani. Dan selalu meyakini bahwa TUHAN tak akan pernah memberi garis kehidupan diluar batas kemampuanku, meski kuakui kadang keyakinan tsb luntur. Maka, semoga Engkau selalu memberiku kelapangan agar keyakinan itu cepat-cepat kuwarnai ulang dan tak akan memudar.
Aku selalu menunggu rencana indahMU untukku...
05:49 Thursday, 21 May 2009
Aku Benar-Benar Sendirian!
Aku tengah berada dalam alam bawah sadarku yang kurasa amat nyata. Lalu perlahan bergeser satu hingga meloading seratus persen ke alam nyataku. Dan tiba-tiba aliran air menitik dan jatuh ke pipiku untuk kemudian mengalir rintik-rintik dan dalam hitungan detik beralih deras. Tak terbendung oleh sekaan tanganku. Ini untuk yang kesekian, seakan tak terhitung.
Kamuflase. Aku rasa itu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan hidup yang tengah kujalani selama aku menginjak kota ini. Sepertinya aku bahagia, sepertinya bibirku tak henti-hentinya membentangkan garis lengkung membentuk senyuman indah. Tapi kurasa hati kecilku berteriak sebaliknya. Dan sekali lagi, tapi aku seakan tak berdaya. Aku bukan sedang bermain rupa. Sungguh! Hanya ketika aku berada dalam ruangan 3x3 ini semuanya terputar tanpa bisa kuhentikan. Tentang hidup. Tentang masa depan. Semuanya. Mengalir secara otomatis. Tak terkontrol. Meski rekaman otakku adalah fakta.
Realita logika dan perasaan. Bahwa aku benar-benar sendirian!
Miris. Gaduh diluar. Gaduh ramai manusia. Tapi ketika satu persatu track kehidupanku kucermati dari waktu ke waktu. Aku benar-benar merasa seorang diri.
Airmata itu selalu menemaniku ketika aku seorang diri mendekam di kamar 3x3 ini. Akankah ia setia menemani? Meski airmata itu tak kuingini. Kata orang, butchi tak boleh menangis, seperti halnya lelaki. Akankah sebuah kamuflase lagi kulakukan? Tertawa, ketika batin menjerit perih. Ah, aku sungguh tak tahu hidup ini akan terbawa kemana!
I'm so tired! (Mengeluh, -lagi-)
16:09 Tuesday 2 June 2009.
Kamuflase. Aku rasa itu adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan hidup yang tengah kujalani selama aku menginjak kota ini. Sepertinya aku bahagia, sepertinya bibirku tak henti-hentinya membentangkan garis lengkung membentuk senyuman indah. Tapi kurasa hati kecilku berteriak sebaliknya. Dan sekali lagi, tapi aku seakan tak berdaya. Aku bukan sedang bermain rupa. Sungguh! Hanya ketika aku berada dalam ruangan 3x3 ini semuanya terputar tanpa bisa kuhentikan. Tentang hidup. Tentang masa depan. Semuanya. Mengalir secara otomatis. Tak terkontrol. Meski rekaman otakku adalah fakta.
Realita logika dan perasaan. Bahwa aku benar-benar sendirian!
Miris. Gaduh diluar. Gaduh ramai manusia. Tapi ketika satu persatu track kehidupanku kucermati dari waktu ke waktu. Aku benar-benar merasa seorang diri.
Airmata itu selalu menemaniku ketika aku seorang diri mendekam di kamar 3x3 ini. Akankah ia setia menemani? Meski airmata itu tak kuingini. Kata orang, butchi tak boleh menangis, seperti halnya lelaki. Akankah sebuah kamuflase lagi kulakukan? Tertawa, ketika batin menjerit perih. Ah, aku sungguh tak tahu hidup ini akan terbawa kemana!
I'm so tired! (Mengeluh, -lagi-)
16:09 Tuesday 2 June 2009.
Sunday, May 17, 2009
I M A J I
All thru your life,
I'll be by your side,
Till death do us part
I'll be your friend
My love will never end
Till death do us part
There'll be good times
And there'll be bad
But I will stand beside you
All the way...
Sayup kudengar suara Mike Tramp mengalunkan lagu diatas menemaniku bermalas-malasan Sabtu pagi ini. Capek! Capek badan dan pikiran! Lho kok jadi curhat! Tapi bukan masalah capeknya yang ingin kucurhatkan!
Mendalami satu demi satu kata bait lagu mellow diatas, ingatanku seakan otomatis me-rewind pemikiran-pemikiran yang memenuhi otakku akhir-akhir ini. Tentang masa depan hubungan yang kujalani kini, akankah berakhir till the death do us part -yang pastinya so sweet ending- atau bagaimana? Semua memang masih misteri dan bukan wilayah kekuasaanku sebagai manusia. Hanya sang Pencipta lah yang mengetahui semua. Aku hanya bisa melewati apa yang telah digariskan untukku. Tapi... Akhir-akhir ini tak jarang kemisteriusan Illahi itu menghinggapi otakku.
Disaat semua kini telah terjalani dalam hitungan tahun, dan aku yakini sungguh tak mudah untuk dihapus karena telah ada ikatan batin diantara kita. Ya, ikatan batin! Mungkin kau tak menyadarinya, atau tak pernah merasakannya, tapi bagiku, ketika aku merunut waktu, mengeja lembaran kisah yang telah kita tulis, lantas aku menyimpulkan setelah terlebih dulu menyadari bahwa ikatan batin itu telah tumbuh bersemi dengan sendirinya di hatiku. Bukan hanya denganmu, tapi juga pada bocah perempuan hampir dua tahun itu.
Pun sepertinya bukan aku saja yang merasa, ia juga. Aku bisa merasakannya, contohnya ketika naik busway kemarin, ia duduk dan tak menemukan sosokku, ia lantas memanggil dan mencariku dengan panggilan khasnya padaku. "Buyek..."(Bentuk cadel dari kata BU LEK yang artinya sama dengan TANTE). Yah, itu memang hal kecil dan sepele, tapi besar artinya buatku! Benakku seketika berpacu untuk mencari jawab, apa yang akan terjadi ketika usianya, juga usiaku dan usiamu, terus bertambah. Akankah kebersamaan ini selamanya? Pernahkah hal ini juga menghinggapi benakmu? Atau hanya aku saja yang terlalu sentimentil?
Makanya aku kadang tak habis pikir jika kecemburuanmu lantas membuatmu bertindak semaunya. Apalagi yang kau cemburu kan? Kurasa bukan saatnya lagi bercemburu, tapi sudah waktunya memikirkan dan menjalani sisa waktu yang telah Ia berikan pada kita untuk dirangkai menjadi cerita indah.
Maka cobalah untuk berimaji tentang kita. Apa yang kau buat jika kau takkan pernah berpisah dari suamimu? Apa yang akan kau rasakan jika di rahimmu kemudian bersemayam seorang janin lagi?
Apa yang kau lakukan jika aku hanyalah aku seperti saat ini, esok dan selamanya mencintamu? Pernahkah kau merasa?
Mulailah berimaji!
I'll be by your side,
Till death do us part
I'll be your friend
My love will never end
Till death do us part
There'll be good times
And there'll be bad
But I will stand beside you
All the way...
Sayup kudengar suara Mike Tramp mengalunkan lagu diatas menemaniku bermalas-malasan Sabtu pagi ini. Capek! Capek badan dan pikiran! Lho kok jadi curhat! Tapi bukan masalah capeknya yang ingin kucurhatkan!
Mendalami satu demi satu kata bait lagu mellow diatas, ingatanku seakan otomatis me-rewind pemikiran-pemikiran yang memenuhi otakku akhir-akhir ini. Tentang masa depan hubungan yang kujalani kini, akankah berakhir till the death do us part -yang pastinya so sweet ending- atau bagaimana? Semua memang masih misteri dan bukan wilayah kekuasaanku sebagai manusia. Hanya sang Pencipta lah yang mengetahui semua. Aku hanya bisa melewati apa yang telah digariskan untukku. Tapi... Akhir-akhir ini tak jarang kemisteriusan Illahi itu menghinggapi otakku.
Disaat semua kini telah terjalani dalam hitungan tahun, dan aku yakini sungguh tak mudah untuk dihapus karena telah ada ikatan batin diantara kita. Ya, ikatan batin! Mungkin kau tak menyadarinya, atau tak pernah merasakannya, tapi bagiku, ketika aku merunut waktu, mengeja lembaran kisah yang telah kita tulis, lantas aku menyimpulkan setelah terlebih dulu menyadari bahwa ikatan batin itu telah tumbuh bersemi dengan sendirinya di hatiku. Bukan hanya denganmu, tapi juga pada bocah perempuan hampir dua tahun itu.
Pun sepertinya bukan aku saja yang merasa, ia juga. Aku bisa merasakannya, contohnya ketika naik busway kemarin, ia duduk dan tak menemukan sosokku, ia lantas memanggil dan mencariku dengan panggilan khasnya padaku. "Buyek..."(Bentuk cadel dari kata BU LEK yang artinya sama dengan TANTE). Yah, itu memang hal kecil dan sepele, tapi besar artinya buatku! Benakku seketika berpacu untuk mencari jawab, apa yang akan terjadi ketika usianya, juga usiaku dan usiamu, terus bertambah. Akankah kebersamaan ini selamanya? Pernahkah hal ini juga menghinggapi benakmu? Atau hanya aku saja yang terlalu sentimentil?
Makanya aku kadang tak habis pikir jika kecemburuanmu lantas membuatmu bertindak semaunya. Apalagi yang kau cemburu kan? Kurasa bukan saatnya lagi bercemburu, tapi sudah waktunya memikirkan dan menjalani sisa waktu yang telah Ia berikan pada kita untuk dirangkai menjadi cerita indah.
Maka cobalah untuk berimaji tentang kita. Apa yang kau buat jika kau takkan pernah berpisah dari suamimu? Apa yang akan kau rasakan jika di rahimmu kemudian bersemayam seorang janin lagi?
Apa yang kau lakukan jika aku hanyalah aku seperti saat ini, esok dan selamanya mencintamu? Pernahkah kau merasa?
Mulailah berimaji!
IDAHO: Jangan Lagi Cuma Gerakan Bawah Tanah!
Aku selalu tergelitik jika teringat komentar yang pernah mampir ketika pembaca tersebut membuka blogku. Begini katanya: "Dari sekian banyak blog lesbian yang aku kunjungi, SEPERTINYA cuma blogmu yang memajang foto si penulis blog, entah itu memang benar fotomu yang asli atau tidak!"
Dan itu selalu terngiang di telingaku. Bukan karena kegeeran dipuji-puji, tapi SEPERTINYA analisa si penikmat blog-blog lesbian itu benar adanya. Aku juga terkadang mampir ke blog-blog tetangga, dan memang sama sepertinya, aku tak pernah menemukan blog lesbian yang memajang foto si penulis blog.
Terlepas dari narsis atau tidaknya, barangkali bersamaan dengan momentum IDAHO kali ini, aku ingin menyerukan bahwa gerakan LGBTIQ, dalam hal ini lesbian khususnya, agar tak lagi menjadi gerakan bawah tanah saja! Aku juga bukan sok kepedean, mengingat aku pun belum coming out pada keluarga, namun jika upaya perjuangan teman-teman penulis atau pemilik blog lesbian ingin terdengar di alam semesta ini dan tak lagi hanya menggema layaknya suara-suara bawa tanah, maka seyogyianya hal tersebut dimulai dengan hal-hal kecil seperti open ID dari pemilik blog-blog lesbian yang aku rasa sudah menjamur dan tumbuh pesat di jagat alam maya ini.
Tentu saja, masing-masing punya pemikiran dan pertimbangan sendiri. Tulisanku hanya sekedar seruan, jika kita ingin memulai kemajuan, tak ada salahnya kita yang memulainya terlebih dahulu.
Wish all the best for this International Day Against Homophobia 2009!
Dan itu selalu terngiang di telingaku. Bukan karena kegeeran dipuji-puji, tapi SEPERTINYA analisa si penikmat blog-blog lesbian itu benar adanya. Aku juga terkadang mampir ke blog-blog tetangga, dan memang sama sepertinya, aku tak pernah menemukan blog lesbian yang memajang foto si penulis blog.
Terlepas dari narsis atau tidaknya, barangkali bersamaan dengan momentum IDAHO kali ini, aku ingin menyerukan bahwa gerakan LGBTIQ, dalam hal ini lesbian khususnya, agar tak lagi menjadi gerakan bawah tanah saja! Aku juga bukan sok kepedean, mengingat aku pun belum coming out pada keluarga, namun jika upaya perjuangan teman-teman penulis atau pemilik blog lesbian ingin terdengar di alam semesta ini dan tak lagi hanya menggema layaknya suara-suara bawa tanah, maka seyogyianya hal tersebut dimulai dengan hal-hal kecil seperti open ID dari pemilik blog-blog lesbian yang aku rasa sudah menjamur dan tumbuh pesat di jagat alam maya ini.
Tentu saja, masing-masing punya pemikiran dan pertimbangan sendiri. Tulisanku hanya sekedar seruan, jika kita ingin memulai kemajuan, tak ada salahnya kita yang memulainya terlebih dahulu.
Wish all the best for this International Day Against Homophobia 2009!
Thursday, May 14, 2009
COSMIC SOULMATE
Pernah ada yang menanyakan dan mungkin ada diantara para (ciee kayak yang ngunjungin blogku banyak gitu hehe narsis mode on) pembaca yang juga bertanya-tanya, kenapa sih blogmu kok diberi nama Cosmic Soulmate? Apakah artinya?
Jawabanku: Ndak tahu! Lho kok bisa ndak tau? Karena kalau dicari artinya di kamus atau ditanyain ama mr. Gugle juga susah untuk diejawantahkan (ceile bahasa apalagi itu?)
Tapi jawaban ndak tau itu tak lantas mengisyaratkan bahwa Cosmic Soulmate itu hanya sekedar judul-judulan, tentu saja tidak! Hanya, aku akan mencoba mendeskripsikan menurut translatorku sendiri -yang tak akan Anda dapatkan di toko-toko terdekat di kota Anda, tentunya hehe-
Cosmic Soulmate. Sejak awal aku begitu menyukai dua kata yang kugabungkan sendiri ini. Sepertinya enak saja untuk dilafalkan. Dan orang yang membaca mungkin tak ingin hanya sekedar pelafalan, tapi definisi. Ya, definisi Cosmic Soulmate, apa gerangan? Apakah aku terdengar berbelit-belit? Upps, semuanya langsung mengangguk dengan muka ditekuk, and upps... Ada yang mulai tak sabar ingin meng-klik tombol CLOSE di pojok kanan atas, tapi tunggu dulu...
Pengertian Cosmic Soulmate ala Alvi adalah; Cosmic sendiri kuartikan segala sesuatu yang maya/abstrak. Sedang Soulmate tentu saja belahan jiwa. Jadi, jika digabung Cosmic Soulmate dapat berarti Belahan Jiwa Di Dunia Maya/Abstrak.
Tapi bukan lantas diartikan sebagai belahan jiwa dapet dari hasil chatting atau YM an, abstrak disini adalah pengejahwantahan dari kondisi lesbian yang belum dapat diterima oleh masyarakat. Memiliki kekasih tapi tak dapat dimiliki. Sekaligus mungkin dijadikan pemacu bahwa suatu hari mungkin semua akan terdobrak hingga tak ada lagi halangan-halangan untuk memiliki kekasih seutuhnya.
Jawabanku: Ndak tahu! Lho kok bisa ndak tau? Karena kalau dicari artinya di kamus atau ditanyain ama mr. Gugle juga susah untuk diejawantahkan (ceile bahasa apalagi itu?)
Tapi jawaban ndak tau itu tak lantas mengisyaratkan bahwa Cosmic Soulmate itu hanya sekedar judul-judulan, tentu saja tidak! Hanya, aku akan mencoba mendeskripsikan menurut translatorku sendiri -yang tak akan Anda dapatkan di toko-toko terdekat di kota Anda, tentunya hehe-
Cosmic Soulmate. Sejak awal aku begitu menyukai dua kata yang kugabungkan sendiri ini. Sepertinya enak saja untuk dilafalkan. Dan orang yang membaca mungkin tak ingin hanya sekedar pelafalan, tapi definisi. Ya, definisi Cosmic Soulmate, apa gerangan? Apakah aku terdengar berbelit-belit? Upps, semuanya langsung mengangguk dengan muka ditekuk, and upps... Ada yang mulai tak sabar ingin meng-klik tombol CLOSE di pojok kanan atas, tapi tunggu dulu...
Pengertian Cosmic Soulmate ala Alvi adalah; Cosmic sendiri kuartikan segala sesuatu yang maya/abstrak. Sedang Soulmate tentu saja belahan jiwa. Jadi, jika digabung Cosmic Soulmate dapat berarti Belahan Jiwa Di Dunia Maya/Abstrak.
Tapi bukan lantas diartikan sebagai belahan jiwa dapet dari hasil chatting atau YM an, abstrak disini adalah pengejahwantahan dari kondisi lesbian yang belum dapat diterima oleh masyarakat. Memiliki kekasih tapi tak dapat dimiliki. Sekaligus mungkin dijadikan pemacu bahwa suatu hari mungkin semua akan terdobrak hingga tak ada lagi halangan-halangan untuk memiliki kekasih seutuhnya.
Tuesday, May 12, 2009
"Buyek..."
Ah, memulai menuliskannya saja aku sudah dibuat senyum-senyum sendiri. Eits, eits, jangan negatif thinking dulu, I'm not crazy yet! Hanya saja garis bibirku memang selalu mengembang ketika teringat bocah perempuan yang Juli nanti genap berusia dua tahun itu melafalkan kata "Buyek" sebagai panggilannya padaku.
Buyek, jikalau merunut arti kata dalam kamus bahasa bocah perempuan itu, maka arti Buyek adalah Bulek, atau Tante dalam bahasa kerennya. Memang tak ada yang istimewa, mengingat harus dimaklumi anak seusia demikian lumrah jika tak bisa mengucap L, lalu menggantinya dengan Y, hingga terbentuklah kata Buyek tersebut. Hanya saja, ketika bocah perempuan itu kutanya: "Ini siapa?" sembari menunjuk ke diriku sendiri, maka ia akan dengan seringaian khasnya menjawab: "Buyek...". Beda ketika ia mengucap "Ibu" pada kekasihku atau "Kakak" pada tiap orang lebih tua yang ia temui. Tapi mengucap kata "Buyek", selalu ia barengi dengan senyuman sambil malu-malu khas anak kecil.
Awalnya, aku tak setuju kamu menyuruhnya memanggilku Bulek. Ndak keren sama sekali tho? Kalau aku baca blog tetangga malah ada yang memanggil Tante Mami, terdengar lebih keren kan? Tapi lama kelamaan, panggilan Buyek lebih enak sampai di telingaku, apalagi jika selalu diiringi seringaian malu-malunya, sepertinya kata yang ia ucap bagus saja. Dan aku pun telah terbiasa. Dan biasanya, apa yang terbiasa anak kecil panggil/julukkan akan terbawa hingga ia dewasa nanti. Yang artinya, ia akan tetap memanggilku "Buyek", akan kah? Kita tunggu saja kelak!
NB: Karena panggilan Buyek ini aku jadi terinspirasi sebuah ide cerita. Thanks my cute daughter!
Buyek, jikalau merunut arti kata dalam kamus bahasa bocah perempuan itu, maka arti Buyek adalah Bulek, atau Tante dalam bahasa kerennya. Memang tak ada yang istimewa, mengingat harus dimaklumi anak seusia demikian lumrah jika tak bisa mengucap L, lalu menggantinya dengan Y, hingga terbentuklah kata Buyek tersebut. Hanya saja, ketika bocah perempuan itu kutanya: "Ini siapa?" sembari menunjuk ke diriku sendiri, maka ia akan dengan seringaian khasnya menjawab: "Buyek...". Beda ketika ia mengucap "Ibu" pada kekasihku atau "Kakak" pada tiap orang lebih tua yang ia temui. Tapi mengucap kata "Buyek", selalu ia barengi dengan senyuman sambil malu-malu khas anak kecil.
Awalnya, aku tak setuju kamu menyuruhnya memanggilku Bulek. Ndak keren sama sekali tho? Kalau aku baca blog tetangga malah ada yang memanggil Tante Mami, terdengar lebih keren kan? Tapi lama kelamaan, panggilan Buyek lebih enak sampai di telingaku, apalagi jika selalu diiringi seringaian malu-malunya, sepertinya kata yang ia ucap bagus saja. Dan aku pun telah terbiasa. Dan biasanya, apa yang terbiasa anak kecil panggil/julukkan akan terbawa hingga ia dewasa nanti. Yang artinya, ia akan tetap memanggilku "Buyek", akan kah? Kita tunggu saja kelak!
NB: Karena panggilan Buyek ini aku jadi terinspirasi sebuah ide cerita. Thanks my cute daughter!
Subscribe to:
Posts (Atom)