Tuesday, August 5, 2008

ARRGGHHH!!!

Pernah ada rasa cinta antara kita kini tinggal kenangan ....

“Arrgghhh!!! Kenapa aku jadi mellow begini!” gerutuku kesal. “Kenapa harus perasaan ini lagi?” umpatku dalam-dalam. Aku pernah mengalami perasaan ini sekitar dua tahun lalu dan sekarang aku terjebak dalam perasaan yang sama. “Ah, bodoh atau tolol aku ini!!” makiku tak henti-henti.

PUTUS! Aku mengambil keputusan ini sebagai jalan terakhir untuk lepas dari perbedaan dan konflik tak berujung ini. Dan kondisi sesudahnya lah yang membuatku mengecap kembali pahitnya menjalani waktu yang seakan lamban bergulir. Meski untuk yang sekarang ini tidak separah waktu itu tapi tetap saja, mau tak mau, suka tak suka, aku seolah dibawa kebali ke masa lalu. Beruntung rasa sesak, insomnia mendadak dan kelakuan seperti orang “kurang waras” selama berbulan-bulan gak masuk itungan kali ini. Hanya rasa kehilangan, dari yang tadinya ada menjadi tiada, yang tadinya biasa menjadi tak biasa, itu yang harus kulewati.

Meski sudah dikategorikan sayang, tak terlalu sayang memang, paling tidak tak sebesar rasa sayangku waktu itu, tapi dengan jangka waktu setahun sudah lebih dari cukup untuk membekaskan ragam memori aku dengannya yang sekarang harus kukubur dalam-dalam. Dan bagiku itu butuh waktu. Mau seberapapun berartinya ia dalam hidupku, sayang atau tidak kek, tapi semua yang tadinya ada menjadi tidak ada, hadir jadi tidak hadir, biasa menjadi tidak biasa, semuanya emang butuh proses.

Tapi kenapa perasaan ini muncul? Bukankah ini yang kuinginkan? Lepas dari kurungan tuduhan, fitnahan dan situasi yang selalu memojokkanku. Ah, mungkin hanya masalah waktu, aku akan bisa melaluinya, toh aku yang menginginkannya tapi kenapa ada rasa tak senang menghinggapiku ketika mendengar selentingan ia sudah menemukan penggantiku. Cemburukah aku?

Ah, mana mungkin kan kamu cemburu untuk orang yang dengan mudahnya berpaling darimu setelah tak lagi bersamamu? Sisi hatiku berkata demikian.

Telepon dia karena kamu masih sayang padanya, jangan gengsi! Timpal sudut hatiku yang lain.

Ngapain juga telepon, masih ingat kan ketika kamu terakhir kali meneleponnya ia sedang bersama orang lain. Apa kau akan jatuh ke lubang yang sama? Lupakan dia! Ingat saja semua kejelekannya padamu!

Yah ... cara paling jitu untuk cepat melupakan seseorang kan dengan mengingat kejelekan-kejelekan orang tersebut?

Yah, ingatlah kejelekan-kejelekannya! Dia tak mau dikekang, tapi dia mengekangmu. Dia tau semua teman-temanmu, tapi kau tak pernah tau siapa teman-teman ngobrolnya di dunia maya. Dia menyuruhmu untuk selalu terbuka, tapi ia selalu berahasia. Kalo itu yang dikatakannya serius, apa yang begitu itu yang dinamakan hubungan serius?

Arrgghhh ... tidakkk!!! Otakku teracuni suara-suara yang bersahutan dari dalam diriku sendiri.
* # * # *

Baru saja akan kutekan tombol send di hapeku ketika tepat bersamaan benda elektronik itu berdering. Kamu.

“Hallo, apa kabar?” sapamu ramah seolah tak ada apa-apa sebelumnya.
Tuh kan, liat saja, nada suaranya sok innocent begitu. Mending putus! Putus! Putus!
“Hei, kok malah diam?” teguranmu membuyarkan lamunanku.
“Kamu nggak salah pencet nomer kan?” godaku padanya. Terus terang aku masih agak gondok.
“Kok gitu sih ngomongnya!” Nada suaramu terdengar tak senang. “Di telpon baik-baik malah nyolot”

Pasti dia salah pencet nomer atau kalo gak dia gak diperhatiin tuh ama gebetan barunya, makanya dia hubungi kamu lagi. Beberapa hari ini kan dia sudah nggak hubungi kamu gara-gara orang baru itu, tapi sekarang dia mulai hubungi kamu lagi pasti ada udang dibalik rempeyek!

Sudah, hilangkan gengsimu!


Suara-suara itu beradu dalam benakku.

Arrgghhh ... pusing! Kututup telingaku dengan kedua tangan. Suara-suara itu lenyap.

“Tau ga, tadi tepat sebelum kamu telpon, aku mau kirim sms juga lho ke kamu!”
“Benarkah?” tanyamu tak percaya.
“Iya, kok kita sehati ya, aku mau telpon, kamu mau sms,”
“Tapi kenapa kita sehatinya setelah status kita sudah bukan sepasang kekasih?”

Arrgghhh!!!!!

Dua manusia.
Dua hati.
Dua pikiran.
Dua karakter.
Kalau tidak tanpa perbedaan, apa kata dunia???

Sunday, August 3, 2008

Tentang Dia

SEMUA TAK SAMA
By PADI

Dalam benakku lama tertanam
Sejuta bayangan dirimu
Redup terasa cahaya hati
Mengingat apa yang t'lah kau berikan

Waktu berjalan lamban mengiring
Dalam titian takdir hidupku
Cukup sudah, aku tertahan
Dalam persimpangan masa silamku

Coba tuk melawan
Getir yang harus kukecap
Meresap ke dalam relung sukmaku
Coba tuk singkirkan
Aroma nafas tubuhmu
Mengalir mengisi laju darahku

Semua tak sama, tak pernah sama
Apa yang kusentuh, apa yang kukecup
Sehangat pelukmu, selembut belaimu
Tak ada satu pun yang mampu menjadi sepertimu

Apalah arti hidupku ini
Memapahku dalam ketiadaan
Segalanya luruh
Lemah tak bertumpu
Hanya bersandar pada dirimu
Tak bisa, sungguh tak bisa
Mengganti dirimu dengan dirinya

Sampai kapan ku harus bertahan
Sampai kapan ku tetap tenggelam
Sampai kapan harus ku terlepas
Buka mata dan hatiku relakan semua...

Hmm...mendengar lagu ini aku jadi teringat si ida, teman kerjaku dulu waktu aq di Jakarta. Ia menjadikan lagu ini sebagai lagu wajib dengarnya setelah patah hati dari laki-laki yang teramat sangat dicintainya. Bahkan sampai kini pun ia "menghindari" lagu ini dengan alasan tak ingin teringat kenangan yang masih membekas erat dalam benaknya meski tlah hadir laki-laki lain silih ganti.

Kalo dipikir-pikir terdengar konyol memang, cuma lagu aja
kok bisa sampe segitunya, tapi yah..apa sih yang tidak bisa dilakuin dalam hidup. Kadang hanya dengan lagu aja sudah bisa bikin hati arti yang dalem banget bagi seseorang

Beberapa hari lalu entah kenapa aku tiba-tiba mimpiin kamu.
"Tumben!' pekikku esok paginya ketika kuputar rekaman alam bawah sadarku semalam. Pasalnya, sudah lama aku tak ada kontak lagi dengan kamu.

Untukmu... Moga mimpiku itu hanya sebatas bunga tidurku... Hope u fine there, hahh!!

Hanya Inginku

Miris kutatapmu berbalut duka
Sendu tiada daya
Kau tegarkan saat ingin sapa
Tanpa ekspresi, tanpa kata
Ku tak tau kan berujar apa

Terpekur sendiri berjubah sepi
Gugah emosi raba simpati
Manik mata itu ... Sunyi
Tak berisi
Bersandar di dinding kering, pucat pasi

Meski naluri ingin berkata:
Kan kuberikan dada tuk hapus lara
Bila sanggup ingin kurasakan jua
Bagikanku lara yang sama
Namun aku bukan siapa-siapa
Hanya pemuja cinta berkelana

Kutinggalkanmu
Kendati tak rela kalbuku
Ekor mataku menatapmu...
Menatap kehampaan di wajah kecil itu
Menatap kekosongan matamu
Dan harap angin kan hembuskan pesanku
Jabarkan wewangian yang mati bisu
Tak pernah terucap kelu lidahku
Aku menyayangimu...

Kan kutanam setumpuk impian asa
Moga kelak berbuah nyata
Mengapit pagi dan malam bersama
Walau untuk sehari saja

Sebuah Gengsi

Bercerita...
Bercengkrama dalam perhelatan aura
Diriku dengan kemelut jiwa
Menanti gema pantul untaian nada
Nyanyikan bait kalbu semestinya

Ingkari nurani memang tak mudah
Kini kucoba melampauinya
Menantang dunia, aku tak punya rasa
Dada sesak terbelit cinta

Mainkan peran bintang layar kaca
Tutupi kehendak angan manipulasi kata
Menahan himpitan berjuta rasa
Ingin lari tuk kata sejujurnya

Aku tak bisa ...
Separuh hatiku melarangnya
Karang es menjulang menengadah
Meraung-raung melilit raga
Kaku... Berlaku bertutur kata
Sajikan kepalsuan kala bersua
Kebisuan jadi alternatifnya

Kulepas merpati di hati
Jawaban tuk tentramkan diri

Saturday, August 2, 2008

Impian Semu

Tatkala kuterpaku sepi
Terlintas bayangmu temani diri
Menjelma bak pujaan hati
Yang t'lah lama kurindui
Oh Tuhan ... Benarkah rasa hati ini
Benarkah aku telah jatuh hati?

Oh sang pecinta...
Kini kurasa gelora kalbuku
Namun lidahku kelu bila dekatmu
Aku tak tau kenapa begitu
Apakah pertanda aku menyayangmu?

Kala sosokmu di depan wajah
Getar di dada kian membara
Meronta tuk berkata
Oh ... Aku telah jatuh cinta!

Oh hujan .. Bantulah aku tuk buatnya mengerti
Bentangkan pelangi berukir rahasia diri
Tentang rasa hati yang bersemi
Tentang penantian tuk lewati waktu berganti
Dengan senyum tawa sepanjang hari
Bersama makhluk Tuhan paling sensi
Yang slama ini kusayangi

Sembilu tertancap di kalbu
Mengharapmu dalam satu
Menyayang yang bukan milikku
Hanya asaku ingin bersamamu
Menatapmu jauh kendati kau di hadapku
Menikmati senyum dan semua tentangmu
Hanya berbatas impianku yang semu

Ketika Rindu...

Ketika rindu menyapa raga
Jalinkan mimpi bertautan tiara
Rajut cerita bermuara bahagia
Jejali hari bak mantra guna-guna
Tuk songsong penantian tak bermakna

Ketika rindu menuai sepi
Kunanti pelangi di terik mentari
Tinggalkan sebongkah obsesi
Terombang-ambing dalam ilusi

Kulihat kunang-kunang
Dalam bentuk semu tak berjenjang
Memukau bercahaya terang
Dan kuminta tuk datang
Saat langit penuh bintang
Ditengah kemelut bersimpang
Oleh seorang yg kurindu terbayang
Tuk sejenak lupakan, riang-riang

Dambamu tuk dekat di sanubari
Impikanmu tuk bunuh sepi
Abadikan rasa hati yang takkan pernah mati
Nobatkan kisah cinta yang tak berpengganti

Friday, August 1, 2008

Just A Memory

Jika dawai bukanlah gitar,
Lalu apa bunyi sang gitar?
Jika cintamu tlah tak berpijar,
Lalu apa hati ini nak kejar?

Bukan raga yang nak kau gerogoti
Bukan lelah jiwa
Tak juga hati yang tlah mati
Benak akanmu yang tak bercelah

Kau senyumkanku sesaat sebelum layu
Aku terlanjur mencintamu
Mendamba dalam keharuman semu
Luruh...