Monday, May 25, 2015

Jeles dan Posesif -Jilid Kesekian-

Gak jeles? Gak posesif?

Kalau jawabannya Nggak, maka alisku akan terangkat Tumben! Karena jeles dan posesif adalah saudara kembar dan merupakan my middle name. Apalagi dengan mata kepala sendiri bagaimana tuh hape clang clung clang clung bunyi mayoritas dari para lelaki. Ya meski ia selalu menjelaskan semuanya teman dan tak ada yang ia coba tutupi dari yang mulai basa-basi, kegatelan bahkan straight to the point mau ngelamar. Lalu bagaimana sikap saya?

Waa kalau jawaban pencitraan akan bilang I'm okay kok atau jawaban player She's not the only one, atau jawaban penghiburan lainnya. Tetapi jeles dan posesif itu masih menjadi darah dan daging saya, meski menjadi lesson learn hubungan empat tahun lalu dan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mengelola, tetapi seperti pelajaran tentang Forgiving, untuk jeles dan posesif saya pun tak lulus.

Tarik ulur di otak dan hati kerap terjadi. Bagaimana pun ego di kepala masih selalu jadi pemenang. Saya pernah memintanya memilih antara KL atau Jogja adalah bagian dari ego, meski kemudian ia ke Jogja tapi demi alasan yang lain, namun waktu itu saya ditampar satu hal oleh seorang teman bahwa rasa sayang bukan berarti menggenggamnya erat. Karena cerita aktivitas masing-masing itu yang membuat kami dulu saling tertarik. Lalu kenapa sekarang aku harus membatasinya? Dulu ketika keluar kota beberapa hari dan aku hanya menebak-nebak apa sebenarnya aktivitasnya, tak menjadi masalah buatku ia akan pergi berapa lama, tetapi kenapa kini menjadi masalah dengan beribu pertanyaan pelengkap ia pergi dengan siapa, urusan apa bla bla bla? *be careful jeles dan posesif itu bisa serupa udara yang kita hirup.

Begitu pula para lelaki yang namanya kerap mampir di ponsel, baik media sosial maupun telepon, otakku setengah mati menghibur hati bahwa para lelaki itu ada dan menjadi bagian hidup perempuan itu jauh sebelum aku ada. Jadi... Apa mau dikata?

Lantas, apakah dengan begitu tak jeles dan posesif lagi? Well, ada seorang Barbie di hidupmu dan kamu gak posesif dan jeles itu jelas.... Mustahil! Pe - eR besar buat diri sendiri sebenarnya yang dibantu oleh yang bersangkutan tentunya. Itulah kenapa aku menulis ini jilid kesekian... Karena topik ini belum dan tak akan selesai.

Cemburu dan posesif bukan lagi soal tanda sayang atau gak sayang, tapi kemauan dua orang untuk saling membuat ruang terbuka yang kadang terisi setan-setan olah logika manusia.

1 comment:

Anonymous said...

Dibalik posesif ada jeles yang terselip :p

Semangat om Cosmic !!!